Jumat, 21 Desember 2018

Stimulus yang Tepat Untuk Perkembangan Motorik yang Optimal

Ah, membesarkan anak sih gak perlu teori. Nanti malah pusing sendiri. Pake feeling aja.

Pernah dengar pernyataan semacam ini? Saya pernah.

Yang saya pengen tanya, yakin feeling-nya akan selalu benar?

Yaiya sih, membesarkan dan mendidik anak kalau harus selalu sama plek sama teori pasti bakal pusing banget. Tapi bukan berarti kita gak perlu belajar tentang teori-teori pengasuhan.

Apalagi anak-anak kita akan hidup di dunia yang serba cepat, canggih dan persaingan semakin ketat. Gak aa pilihan lain selain membesarkan dan mendidik mereka sesuai jamannya agar mereka bisa survive menghadapi dunia kelak.

Termasuk salah satunya dengan memberikan berbagai stimulus yang tepat, agar motoriknya berkembang dengan optimal. Terutama di masa-masa periode emasnya, yang tidak akan bisa diulang.

Orangtua jaman dulu gak pake teori macam-macam juga baik-baik aja, tetap bisa membesarkan dan mendidik kita dengan baik?!

Ya karna mereka belum punya kemudahan akses informasi seperti yang hari ini kita nikmati 😊 Lagipula, pastilah kita tidak ingin anak-anak kita memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari kita hari ini kan?!



Menggunakan KPSP sebagai Acuan

Dulu, saya juga termasuk cenderung cuek dan gak peduli dengan berbagai teori tentang tumbuh kembang anak. Akibatnya, saat ada masalah pada tumbuh kembang Faza, saya blank. Bahkan sedihnya, saya terlambat menyadari, sampai masalahnya cenderung sudah agak telat tertangani. Soal ini, nanti saya ceritakan di bawah ya.

Sejak saat itu, saya mengubah pola pikir. Jika ada teori yang bisa saya gunakan sebagai guide saya dalam mengawal tumbuh kembang Faza, kenapa gak saya manfaatkan sebaik mungkin?

Selama ini, saya menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) sebagai pedoman dalam memantau perkembangan berbagai motorik Faza, baik motorik kasar maupun motorik halus.

KPSP memberikan panduan tentang indikator-indokator perkembangan sesuai usia anak, yang disajikan melalui sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua secara jujur sesuai kondisi anak. Dari situ, kita akan bisa melihat indikator perkembangan mana yang belum sesuai/dicapai oleh anak.

Setelah tau indikator perkembangan apa yang belum dicapai anak, otomatis kita jadi bisa mencari tau stimulus apa yang tepat untuk diberikan, agar anak bisa mengejar indikator tersebut.

Melalui KPSP, saya juga jadi tau ada beberapa kemampuan yang tadinya saya pikir kecil dan gak penting, ternyata menjadi salah satu indikator perkembangan anak. Contohnya, kemampuan anak mengambil benda berukuran kecil (misal kismis) dengan dua jarinya (telunjuk dan ibu jari). Kemampuan itu menjadi indikator perkembangan di usia 9-21 bulan.

dari tumbuhkembang.info


Kurangnya Stimulus yang Berujung Keterlambatan Perkembangan Motorik Pada Faza




Sekali lagi, sebenarnya saya merasa menjadi salah satu orangtua yang agak terlambat menyadari tentang pentingnya memperhatikan teori tumbuh kembang pada anak. Dari dulu saya baca sih sebenernya, tapi hanya sambil lalu gitu. Tidak merasa harus menerapkan.

Sampai akhirnya, saya seperti merasa tertampar, ketika mendapati kenyataan bahwa Faza mengalami beberapa keterlambatan perkembangan motorik.

Pertama, yang sempat bikin saya sedih sekali, adalah Faza yang terlambat merangkak. Faza baru bisa memajukan tubuh dengan dada saat posisi tengkurap (apa ya istilahnya?) baru di usia 11 bulan. Dan bisa merangkak di usia satu tahun. Terlambat sekali kan?

Penyebabnya karna saya kurang memberi stimulus yang tepat. Faza bayi jarang sekali saya kasih waktu untuk tummy time.

Yang kedua adalah keterlambatan yang hingga saat ini saya masih berusaha untuk menanggulanginya. Faza belum pandai mengunyah.

Penyebabnya cukup complicated. Awalnya, karna sejak bayi Faza termasuk sering muntah. Kedua, yangti dan budhe yang menemani dia saat saya kerja kompak berpemahaman bahwa hingga satu tahun, anak masih harus diberi bubur yang teksturnya lembut. Ketiga, kesalahan teknik menyuapi -- dengan cara memberi minum tiap satu suapan.

Tapi saya tidak hendak menyalahkan siapapun. Gimanapun, saya ibunya. Jika ada yang gak beres dari anak saya, maka artinya saya lah yang lalai.

Lagipula gak ada gunanya kan menyalahkan. Yang lebih penting adalah mengambil langkah-langkah koreksi untuk mengatasi masalah tersebut.

Membiasakan Faza Makan Makanan Padat

Salah satu efek dari kemampuan mengunyah Faza yang masih lemah adalah dia jadi malas makan makanan padat. Sekalinya dikasih makanan padat, seringnya dia telan padahal belum dikunyah dengan benar. Akibatnya ya tersedak, lalu muntah 😭

Lama-lama, dia makin malas makan makanan padat. Maunya tiap lapar minta minum susu. Dan gara-gara itu, berat badannya sempat mendekati obesitas. Untungnya belum.

Huhu, jangan ditanya kayak apa saya galaunya mikirin masalah ini 😕

Akhirnya saya konsultasi ke dokter anak. Oleh dokter, kami dijelaskan panjang lebar tentang kebutuhan gizi anak dan pemenuhannya. Untuk anak seusia Faza, seharusnya presentasenya adalah 70% makanan padat, 30% makanan cair. Artinya, susunya gak boleh lebih dari 400 ml sehari.

Padahal selama ini dalam sehari, Faza bisa minum susu hampir 800 ml -___-

Dokter menekankan, Faza harus dilatih makan makanan padat. Meski tetap harus bertahap.

Gak boleh lagi makan bubur. Makan buah gak boleh terus-terusan dalam bentuk jus. Dokter juga meminta saya sering melatih dia makan dengan memberi cemilan yang bisa merangsang Faza untuk mengunyah, tapi harus memilih cemilan mudah hancur/lumer sebagai awal latihan. Agar Faza gak putus asa dan malas duluan.

Akhirnya, saya mencari-cari cemilan yang tepat untuk Faza. Semesta sepertinya mendukung, ketika akhirnya saya menemukan Monde Boromon Cookies.



Monde Boromon Cookies menjadi pilihan yang tepat untuk Faza karna beberapa alasan:

  • Monde Boromon Cookies merupakan makanan padat yang akan merangsang Faza untuk belajar mengunyah, tapi memiliki teksturnya yang mudah meleleh saat terkena air liur. Jadi aman untuk Faza yang belum terlalu pintar mengunyah dan gampang tersedak.
  • Bentuk Monde Boromon Cookies kecil-kecil, sehingga cocok juga untuk melatih motorik halusnya. Terutama kemampuan mengambil benda kecil dengan dua jari yang menjadi salah satu indikator di KPSP seperti yang saya tulis di atas. Selain itu, karna bentuknya kecil, jadi gak perlu khawatir Faza gak habis. Kalau biskuit, baru dua gigit Faza udah mogok, ya terpaksa ibunya yang menghabiskan. Nah, kalau Monde Boromon Cookies gak ada cerita kayak gitu.
  • Gluten Free. Ini menurut saya istimewa sekali. Monde Boromon Cookies gluten free karna terbuat dari sari pati kentang. Masih jarang banget kan cemilan bayi yang gluten free dengan harga bersahabat?!
  • Memiliki kandungan-kandungan yang baik untuk anak, seperti madu dan DHA.

Sejauh ini, sudah tampak sedikit kemajuan, Alhamdulillah. Faza sudah jarang sekali tersedak dan muntah. Mengunyah makanan padat sudah semakin lancar.


Ngemil juga sudah mulai mau. Meski saya harus cari moment yang tepat. Biasanya saya kasih dia Monde Boromon Cookies saat sedang enjoy. Contohnya saat sedang happy main di taman, biasanya dia akan senang hati disuruh ngemil. Karna kalau momentnya gak tepat, disuruh ngemil pasti kayak ngajak berantem 😂


Semoga dari cerita saya soal beberapa keterlambatan perkembangan motorik yang dialami Faza di atas, ibu-ibu lain bisa mengambil pelajaran. Bahwa stimulus yang tepat sangat dibutuhkan oleh anak, agar perkembangan motoriknya optimal.

Gak ada males-malesan lagi mulai sekarang. Golden moment-nya dalam bertumbuh dan berkembang gak akan terulang seumur hidup. Jangan sampai kita menyesal setelah menyadari semuanya sudah terlambat.

Senin, 17 Desember 2018

#CeritaFaza: Faza 22 Bulan, Menjelang Berakhirnya Periode Emas



Faza sudah 22 bulan. Artinya, periode emas 1000 hari pertamanya akan segera berakhir. Huhu, kok sedih yaa.

Sedih karna mungkin periode super berharga itu banyaaakkkk sekali saya sia-siakan. Banyak stimulus yang harusnya saya kasih, tapi saya lewatkan begitu saja. Banyak gizi yang harusnya Faza dapat, tapi gak saya usahakan dengan maksimal. Belum lagi kuantitas ASI yang harusnya ia dapat, jauh lebih sedikit dari yang seharusnya.

Tapi yasudahlah. Yang jelas, saya sudah berusaha. Meski usaha saya tentu saja belum maksimal. Semoga apa yang didapat Faza di 1000 hari pertamanya, cukup mumpuni sebagai bekalnya tumbuh di ribuan hari berikutnya. Aamiin.

22 bulan, Faza udah bisa apa aja?

Baca juga: Faza 18 bulan

Banyak tentu saja, Alhamdulillah.

Jalan udah bisa sejak umur 15 bulan, dan sekarang makin lancar. Meski setelah sekian lama mengamati cara jalan Faza yang agak 'beda', akhirnya kami tau ternyata Faza flat feet 😭 Saya udah curiga sejak lama, tapi selama saya selalu berusaha denial.

Sedih sih. Tapi saya yakin, sedikit kekurangan fisik Faza ini gak akan berdampak banyak untuk masa depannya, dan semoga tertutupi dengan kelebihan-kelebihan Faza yang lain. Aamiin.

Kemampuan komunikasi Faza juga makin bagus. Meski kemampuan merangkai kalimatnya mentok baru 3 kata, itupun masih jarang. Kosakata sih udah banyak.

Diajak komunikasi dua arah juga udah bisa banget. Yang paling bikin saya seneng, Faza berani jawab ketika diajak ngobrol sama orang asing.

Pernah suatu hari saat sedang di apotik nunggu ayahnya beli sesuatu, tiba-tiba ada seorang laki-laki menyapa.

Pak X: "Namanya siapa?"

Faza: "Adja" (Faza)

Pak X: "Sudah sekolah belum?"

Faza: "Elum..."

Pak X: "Pinternya... gendhong yuk..."

Faza: "Angan... Elhad!" (Jangan, berat) 😂😂

Saya ketawa-ketiwi di sebelahnya, sekaligus senang. Tau gak, ini salah satu goals saya loh. Saya pengen Faza supel dan berani ngomong. Gak kayak saya yang dulu tiap diajak ngomong sama orang asing, langsung mendadak gagu -___-

Perkembangan emosi juga Alhamdulillah terus berkembang. Sudah bisa nungkapin keinginan tanpa menangis, meski dengan kosakata yang masih terbatas. Sudah bisa ngambek kayak ABG 😂 Dan... sudah bisa mengalihkan perhatian kalo ayah-ibu lagi ngomelin dia 😅

Faza udah bisa berhitung dari 1-10 tanpa dibantu. Meskipun tiap ditanya ini berapa, itu berapa, jawabannya pasti selalu DUA. Sama seperti warna. Semua-mua dia sebut HIJO alias hijau. Kalo diajarin huruf hijaiyah, sukanya nerusin. Misal saya bilang ALIF, dia bukannya niruin bilang ALIF, eh malah langsung bilang BA' dengan semangat 45. Zzzzz.

Persiapan Menyapih

Menyapih akan jadi goals terdekat saya. Ini sih masih tahap sounding terus-menerus. Tapi yagitudehhh, belum keliatan dampaknya, karna tiap lihat muka saya dia pasti langsung inget nenen.
Kalau saya bilang, "Faza sudah besar. Sebentar lagi sudah enggak perlu nenen", dia sih dengan meyakinkan bilang, "iyah". Tapi kalo mau bobok ya tetep aja ngamuk kalo gak dikasih.

Tapi sudah mulai disiplin. Nenen hanya kalau di kamar. Ini strategi awal menyapih yang saya susun. Pengennya ini udah masuk fase berikutnya, yaitu hanya saat di kamar, dan hanya saat malam. Tapi kalo weekend masih belum bisa. Mau tidur siang, masih minta 😑

Yang jelas, saya pengen banget Faza berhenti nenen tanpa tipuan apapun. Saya gak pengen bohongin dia dengan cara oles-oles puting pakai lipstik, atau apapun.

Satu lagi, saya gak pengen dia berhenti nenen, tapi beralih ke dot. Ya sami mawon. Nyapih dot jauh lebih susah setau saya. Saat ini kalau di rumah sih emang gak pernah pakai dot sama sekali ya. Minum susu pakai gelas, udah lancar. Sambil setengah tidur pun tetep mau duduk dan minum pakai gelas.

Cuma budhe yang momong belum disiplin soal ini. Kalau mau tidur siang, masih dikasih dot sama beliaunya 😕

PR Besarnya: Faza masih sering banget sembelit. Saya bingung harus gimana. Tapi saya lagi males cerita soal ini, karna bakal panjang banget 😣

Ohya, satu lagi. Saya dan mas suami sudah sempat rasan-rasan tentang rencana anak kedua. hihi. Tapiii, kok Faza kayak belum ada suka-sukanya sama sekali kalau lihat bayi ya. Dia malah kayak males gitu. Huhu. Yaudah deh, nunggu beberapa bulan lagi, Insya Allah 😊

Senin, 10 Desember 2018

Pengalaman Pertama Pap Smear, Gimana Rasanya?



Saya adalah salah satu orang yang cukup parno tiap baca artikel tentang macem-macem penyakit berbahaya. Rasanya kok makin hari makin macem-macem banget jenisnya 😖

Apalagi ada beberapa penyakit ganas yang kebanyakan penderitanya adalah perempuan. Sebuat saja kanker payudara (walaupun konon laki-laki juga bisa kena) dan kanker serviks. Makin menjadi-jadi deh parnonya.

Semakin banyaknya perempuan yang terserang kanker payudara dan kanker serviks, semakin banyak pula yang gencar berkampanye untuk mewanti-wanti para perempuan agar lebih waspada dan peduli pada diri sendiri.

Karna pada dasarnya, dua penyakit ini sebenernya bisa banget dideteksi dini. Dan dengan dideteksi sedini mungkin, Insya Allah kesempatan sembuhnya pun akan jauh lebih besar. Jadi salah satu yang harus sangat diperhatikan oleh para perempuan adalah mari kita peduli dan aware pada tubuh kita sendiri.

Untuk kanker payudara, kita bisa melakukan SADARI alias perikSA payuDAra sendiRI sebulan sekali, setelah kira-kira seminggu masa menstruasi lewat.

Sedangkan untuk kanker serviks kita bisa melakukan deteksi dini dengan cara melakukan Pap Smear secara rutin, minimal setahun sekali, terutama untuk perempuan yang sudah aktif secara seksual -- alias sudah menikah.
Pemeriksaan pap smear adalah prosedur pengambilan sampel sel dari leher rahim untuk memastikan ada atau tidak adanya ketidaknormalan yang dapat mengarah kepada kanker serviks pada wanita. (dikutip dari alodokter.com)
Pengalaman pertama Pap Smear, gimana rasanya?

Bulan lalu, untuk pertama kalinya akhirnya saya memberanikan diri untuk melakukan Pap Smear. Setelah sekian lama hanya pengen, pengen, pengen, tapi gak kunjung direalisasi.

Akhirnya Pap Smear, karna pertama, saya sempat merasakan sebuah keluhan yang membuat dokter faskes saya menganjurkan saya untuk melakukan Pap Smear. Kedua, saya dapat info dari seorang tetangga yang kerja di Lab Cito, bahwa BPJS sedang mengadakan program Pap Smear gratis bekerjasama dengan Lab Cito.

Alhamdulillah, sepertinya alam berkonspirasi mendukung saya untuk Pap Smear 😊

Sepulang kerja, saya mampir Lab Cito. Alhamdulillah kuota Pap Smear gratis masih ada, dan semua pra syarat untuk Pap Smear sudah terpenuhi.

Jadi, kalau mau Pap Smear, pastikan pra syarat berikut terpenuhi ya:

1. Minimal seminggu setelah menstruasi
2. Tidak melakukan hubungan minimal 2x24 jam
3. Tidak menggunakan pembersih kewanitaan apapun selama sebulan ke belakang

Di Lab Cito, saya hanya diminta untuk menyerahkan fotocopy kartu BPJS dan fotocopy KTP. Setelah menunggu beberapa saat, nama saya dipanggil dan dipersilakan masuk ke ruang tindakan.

Gimana rasanya Pap Smear?

Gak gimana-gimana 😂

Serius. Ternyata sama sekali gak sakit. Seluruh bayangan saya tentang seramnya proses Pap Smear ternyata sama sekali gak terbukti.

Saya pengen ketawa sendiri setelah Pap Smear. Prosesnya bentaarrr banget, gak ada 5 menit. Sama sekali gak imbang sama betapa deg-degannya saya selama berhari-hari menjelang Pap Smear 😂

Prosesnya: Kita disuruh duduk di kursi khusus (gak tau nama kursinya apa), dua kaki di angkat ke atas diletakkan ke tempat kaki yang tersedia, vagina kita dibuka dengan alat (nama laatnyacocor bebek kalo gak salah), lalu petugas akan mengambil sampel cairan dari mulut rahim kita.

Idiiihh, apa gak malu? Apa gak risih? -- banyak yang tanya seperti itu ke saya.

Saya jawab, ya malu sih, dikiiittt tapi. Soalnya saya sudah pernah ngalami kondisi yang menurut jauh lebih memalukan. Yaitu waktu melahirkan. Sampai sekarang kadang malu sendiri. Padahal semua petugas medis yang nolong saya perempuan 😅

Jadi buibuuu yang belum pernah Pap Smear dan pengen Pap Smear tapi masih takut, ayoooo jangan ragu untuk Pap Smear.

Ohya, kata mbak petugas medisnya sih kalo sudah pernah melahirkan dengan pervaginam, biasanya gak sakit. Dan jika belum pernah melahirkan pervaginam, cenderung agak sakit. Tapi saya percaya deh sakitnya tetep gak seberapa.

Gak perlu nunggu ada keluhan untuk melakukan pemeriksaan 😊

Rabu, 21 November 2018

Review Baju Menyusui dari Mooimom

Hamil dan menyusui konon merupakan fase yang akan mengubah perempuan secara besar-besaran. Sikap, kedewasaan, prioritas, atau bahkan penampilan.


Yah, kasarnya sih, hamil dan menyusui seringkali bikin perempuan jadi lebih menurun tingkat kemodisannya. Jika saat masih single yang jadi prioritas adalah warna yang matching, enak di lihat, bla bla bla, setelah punya anak sih itu semua jadi nomor sekian.

Yang penting apa? Tentu saja yang penting nyaman dan ada bukaan depannya alias akses untuk menyusuinya. Yaiyalah, mau semodis apapun, lalu tiba-tiba anak crancky, emak bisa kelimpungan kalau gak bisa ngeluarin jimat alias nenen 😂 Bisa-bisa emaknya bisa ikutan cranky.

Yup, bagi saya pribadi, hal utama yang harus ada di semua baju yang saya pakai adalah ada akses menyusuinya. Pun baju yang saya pakai ketika lagi gak sama Faza (saat kerja, misalnya), karna saya harus tetap pumping, dan ini susah banget kalau bajunya gak ada akses menyusuinya.

Bahkan kebiasaan untuk menyiapkan akses menyusui di baju-baju saya ini sudah saya lakukan sejak sebelum nikah lho. Haha. Waktu itu mikirnya untuk persiapan, dan jika nanti punya anak biar bajunya tetap bisa dipakai 😀 Sungguh visioner ya saya ternyata.

Tapi, adakalanya saya bosan dengan model baju yang gitu-gitu saja. Kalo gak kancing depan, ya resleting depan. Lagipula jika bajunya berkancing depan, saya kadang merasa kerepotan saat Faza sedang gak sabaran minta nenennya. Bukanya kan satu-satu dan kadang susah ya. Suka gemes sendiri.

Sedangkan jika pakainya resleting depan, dan bajunya saya pakai ketika bepergian, saya sering kasihan mendapati bekas tonjolan resleting yang lumayan runcing di dahi Faza setelah dia tidur dengan bersandar di dada saya. Kasihan, pasti dia gak nyaman.

Saya bukan tipe orang yang modis soal berpakaian. Jadi sama sekali gak pernah ngikuti macam-macam model baju. Makanya sesempit itu pengetahuan saya soal model pakaian. Yang saya tau, baju untuk ibu menyusui ya kalau gak kancing depan, berarti resleting depan.

Eh ternyata enggak ya 😂 Mooimom ternyata punya baju menyusui yang gak pakai kancing maupun resleting.

Review Baju Menyusui dari Mooimom



 
Saya takjub (dan agak norak) ketika pertama kali memiliki Navy Striped Long Sleeves Nursing Shirt Baju Hamil Menyusui dari Mooimom. Takjub karna menurut saya modelnya brilian banget. Simpel sih, tapi kok saya gak pernah kepikiran yaa baju menyusui bisa kayak gitu modelnya. Haha. Jadi ketika Faza minta nenen, langsung aja deh singkap, tanpa ribet buka kancing atau resleting.


Akses menyusui
 
Dan bahan kaosnya itu lhooo, nyaman sekali Masyaa Allah. Adem, lembut dan menyerap keringat.

Bahan yang nyaman juga salah satu kunci untuk sebuah baju menyusui. Karna masa menyusui, artinya sama dengan masa ke mana-mana riweuh gendhong anak. Jadi pastilah rawan keringetan banget. Apa kabar kalau baju menyusui yang kita pakai gak menyerap keringat dan bahannya gak nyaman dipakai? Yah kecuali kalo satu anak satu nanny mungkin beda cerita ya 😆

Kualitas jahitan, jangan ditanya deh. Rapi jali. Setelah dicuci, bahannya juga gak jadi melar. Tapi saya nyucinya gak pakai mesin cuci sih kalo yang tipe bahan seperti mooimom ini. Baju bagus mah disayang-sayang. Hehe.

Kayaknya baju ini akan jadi baju CKP sih, alias Cuci-Kering-Pakai. Habis baju menyusui saya yang lain belum ada yang senyaman ini. Semoga kapan-kapan ada rejeki lagi biar koleksi baju menyusui dari Mooimom bisa nambah 😍

Duh, maapin yaaa siang-siang tebar racun. Hahaha.

Kalau buibu mau ngintipin juga koleksi baju menyusui Mooimom yang lain, langsung aja deh cuuss meluncur ke website-nya Mooimom, atau akun FB dan akun IG-nya mereka. Gak cuma baju menyusui sih, segala perlengkapan perang untuk ibu-ibu lengkap di sana. Tinggal siapain M-Banking aja 😂

Kamis, 08 November 2018

Demam Naik Turun Selama 10 Hari, Faza Sakit Apa?



Demam naik turun terus selama sepuluh hari, Faza sakit apa?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya sepulu hari ke belakang kemarin. Pertanyaan yang bikin saya galau maksimal, gak tenang sepanjang hari, dan gak bisa kerja selama di kantor. Bener-bener blank. Huhu.

Jadi ceritanya, sehari setelah pulang berkunjung dari rumah Pakdhenya Faza alias kakak saya di Purworejo, Faza badannya anget. Tapi kami masih santai. Oh, paling karna kecapekan. Kami pantau demamnya dengan termometer. Dan karna panasnya sempat nyentuh angka 39 derajat, akhirnya kami memberinya parasetamol.

Demamnya sempet turun sebentar, tapi kemudian naik lagi. Sampai pagi Faza gak membaik. Sampai akhirnya saya memutuskan gak masuk kantor, dan memeriksakan Faza ke dokter keluarga (Faskes 1 BPJS).

Hasilnya standar aja sih. Batuk pilek. Saya juga nganggepnya juga gitu. Masih santai. Dikasih parasetamol dan antibiotik aja.

Tapi sampai obat habis, masih gak menunjukkan tanda-tanda Faza sehat. Panasnya naik-turun terus. Saya pun mulai was-was.

Yang perlu diingat, demam bukanlah penyakit, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang gak beres di dalam tubuh. Demam merupakan respon alami tubuh untuk melawan virus/bakteri yang sedang menyerang tubuh.  Makanya saya was-was memikirkan, ini virus/bakteri apaaa yang sedang bercokol di dalam tubuh Faza.

Hari Senin saya minta tolong ke akungnya untuk membawa Faza lagi ke dokter keluarga. Saya gak bisa ijin karna ada deadline kerjaan 😭

Oleh dokter, akhirnya Faza diminta untuk cek lab. Saya dikabari akungnya siang hari, langsung deh seketika nangis sesenggukan. Pertama bayangin Faza diambil darahnya, kedua parno bayangin hasil lab-nya. Saya takut banget Faza positif DB atau typhus 😭

Sepulang kerja, saya melihat hasil labnya, dan keparnoan saya makin menjadi-jadi. Karna beberapa angka menunjukkan ketidaknormalan. Contohnya, trombosit yang ada di bawah angka normal. Hemoglobin yang justru lebih tinggi dari angka normal, dll.

Sebagai emak milenial, tentu saja saya langsung googling cari tau itu kenapaaa bisa gitu angkanya. Dan seperti biasa, bukannya dapat pencerahan, saya malah makin parno. Hasil googlingnya serem-serem amat 😭

Ditambah lagi, paginya kami bawa Faza ke DSA di Hermina Banyumanik untuk mengonsultasikan hasil lab tersebut. Kebetulan, DSA yang biasa kami kunjungi kebetulan lagi gak praktek. Dengan pertimbangan biar Faza dapet penanganan secepat mungkin, akhirnya kami pindah ke DSA lain, yang belum kami tau sama sekali seperti apa track recordnya.

Dan bener aja. Kami keluar dari ruang praktek DSA dengan sangat tidak puas dan tanda tanya yang makin memenuhi kepala. Ya gimana enggak, dokternya ga jelasin apa-apa soal hasil lab-nya Faza. Waktu saya tanya, beliau malah menunjukkan raut bingung seolah berkata, "Iya ya, kok gini ya hasilnya, ini kenapa ya?" 😭

Sebelum keluar saya tanya lagi, "Terus ini diagnosanya apa ya, dok?"

Jawabnya, "Kayaknya radang sih". KAYAKNYA loh! *mulai emosi*

Beliaunya bilang, kalo 3 hari masih demam naik-turun, maka harus cek lab ulang. Huaaa, makin gak karuan rasanya hati ini.

Dan beneran aja, 3 hari berikutnya, demamnya Faza masih aweetttt banget. Batuknya aja yang lumayan berkurang.

Akhirnya ya lab lagi. Alhamdulillah kali ini angkanya sudah normal semua 😭😭😭

Malemnya kami konsultasi ke Hermina. Puji syukur sebanyak-banyaknya, karna saat itu dokter anak yang sebelumnya gak praktek, jadi kami diijinin ganti dokter. Akhirnya kami kembali ke DSA awal-nya Faza. Huhu, terharuu... ini namanya rejeki.

Kali ini kami mendapatkan penjelasan panjang lebar. Dokter bilang, diagnosa sementara memang radang. Tapi kalo seminggu ke depan masih demam, maka harus observasi lebih lanjut.

Faza diperiksa penisnya, takutnya ada kotoran yang bikin infeksi. Tenggorokan juga dilihat. Lalu dokter juga memeriksa perutnya Faza yang saat itu kencang sekali dan kembung. Setelah melihat resep obat sebelumnya, beliau bilang ada obat yang salah satu efek sampingnya bikin perut melilit dan kembung.

Pantesan beberapa kali Faza ngeluh perutnya sakit 😢

Gak cuma itu, kami juga dijelasin panjang lebar soal kebutuhan kalori anak seusia Faza. Berapa persen yang harusnya terdiri dari makanan padat, dan berapa persen cair, Yang kesimpulannya, konsumsi susu Faza harus dikurangi.

Diet yaaa, Nak 😁

Setelah itu kami dikasih rujukan agar Faza di nebul karna dahaknya Faza banyaakk banget dan bikin grok-grok. Nebul beres, kami ke apotek rumah sakit. Eh ternyata resep kali ini obatnya gak ada yang bisa dicover BPJS 😂

Gakpapa yang penting Faza sembuh Ya Allah.

Dan ALHAMDULILLAH, setelah dua hari minum obat, demamnya Faza pergiiii 😭

Ini bener-bener pengalaman Faza demam pertama kali. Udah pernah demam sih sebelumnya, tapi karna imunisasi yang paling lama 2 hari udah sehat lagi.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, kalo anak sakit gak usah kebanyakan googling buibuuu. Bikin stress 😅

Udah sih gitu aja ceritanya. Maaf yaaa kalo kurang berfaedah 😅

Jumat, 02 November 2018

Bijak Ketika Anak Sakit

Postingan di awal bulan November yang (sayangnya) harus bermuatan kelabu. Huhu.

Dan 90% akan berisi curhatan emak yang lagi galau anaknya sakit 😂

Ini ceritanya ilustrasi saya yg seminggu ini gak pernah bisa tidur nyenyak karna Faza sakit 😂 Ambil dr Pixabay.

Iya, sudah seminggu ini Faza sakit. Demamnya naik-turun. Batuknya, haduuhhh... bikin ngilu. Batuk berdahak.

Faza termasuk jaraaang sekali sakit, Alhamdulillah. Makanya sekalinya sakit, saya dan masuami bawannya galau terus. Apalagi kemarin Faza akhirnya harus cek lab juga, dan hasilnya makin bikin galau. Angka hasil lab-nya mengindikasinya Faza terinfeksi virus. Sampai sekarang masih observasi, dan hari ini harus cek lab ulang.

Saya lalu menarik mundur beberapa hari sebelum Faza sakit. Kebetulan kami baru saja berkunjung ke rumah seorang kerabat. Kerabat tersebut juga punya anak yang sedikit lebih tua dari Faza.

Faza tentu saja girang sekali punya teman main. Nah, kebetulan pula, anak si kerabat tersebut sedang sakit batuk lumayan parah. Batuk berdahak.

Saya melihat beberapa kali, ketika tengah bermain bersama, si anak kerabat batuk-batuk tepat di depan Faza tanpa menutupi mulutnya.

Miriiiiis sekali rasanya hati saya saat itu, Bu 😭

Ingin sekali rasanya saya mengingatkan, "Kak, mulutnya ditutup yaa kalau batuk"

Atau ingin sekali saya menarik Faza dan bilang, "Faza, siniii sama Ibu"

Tapi saya gak punya cukup keberanian 😭 Saya takut ibu si anak tersinggung, karna saya tau beliaunya tipe yang cukup sensitif soal ginian. Huhu.

Saya gak menyalahkan si kerabat saya beserta anaknya atas sakitnya Faza.

Tapi saya mengambil pelajaran untuk diri saya sendiri melalui kasus ini.

Bahwa ketika anak sakit dan sakitnya mudah menular ke anak lain, mari menjadi bijak. Bijak untuk berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga anak kita agar jangan sampai menularkan sakitnya ke anak lain.

Misalnya dengan mengisolasi anak sementara dari teman-temannya, sembari memberi pengertian. Atau dengan mengajari, misal anak batuk, ajari dia untuk menutup mulutnya saat batuk atau dengan menjauh sebentar dari teman-temannya.

Atau misalnya saya sedang lalai, dan ada orangtua lain yang mengingatkan, "Dek Faza lagi pilek, jangan dekat-dekat temannya dulu ya", harusnya saya gak perlu tersinggung. Semoga saya inget terus soal ini.

Saya sadar diri, sebagai ibu, sayang saya pada anak kadang gak proporsional. Misal, saat anak salah dan diingatkan orang lain, kita tersinggung. Marah. Saking sayangnya sama anak. (Emm atau jangan-jangan saking tingginya ego kita ya?)

Gitu lah pokoknya. Intinya saya belajar banyak dari sakitnya Faza kali ini.

Ending postingan ini benar-benar anti-klimaks 😂

Senin, 22 Oktober 2018

#MelawanMitos: Tentang Mitos (Jahat) yang Dipercaya



Minggu kemarin, saya mendapat kabar bahagia yang kemudia disusul dengan kabar menyedihkan.

Kabar bahagianya, sahabat dekat saya sejak SMP Alhamdulillah telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dengan selamat. Proses melahirkannya sempat membuat saya iri karna terbilang sangat lancar dan cepat. Dia juga dengan enteng bilang, "ternyata melahirkan gak sesakit yang saya bayangkan".

Huaaa, iri sekali, jika mengingat proses melahirkan saya dulu yang Masyaa Allah, susah dijelaskan dengan kata-kata. Lebih iri lagi ketika dia bilang, ASI-nya sudah keluar. Gak perlu nunggu 10 hari seperti saya dulu.

Tapi sepulangnyadari rumah sakit, dia mengabarkan lagi sebuah berita pada saya melalui WA. Kabar yang bikin saya seketika bikin hati saya perih.

"Aku gak diijinin ngasih ASI ke dedek", begitu katanya.

Seketika saya ingat hari-hari pertama saya menjadi ibu, yang penuh dengan air mata saking inginnya saya memberi ASI untuk Faza. Tapi apa kuasa saya saat itu? Nyatanya ASI saya memang belum keluar sama sekali hingga 10 hari ke depan. Yang saya bisa hanya berusaha berusaha berusaha.

Sedangkan teman saya ini? ASI-nya sudah keluar, tapi TIDAK DIIJINKAN memberikan ASI itu pada anaknya. Bayangkan betapa sedihnya.

Gimana bisa sih ngasih ASI ke anak sendiri kok gak diijinin?

Oh, tentu saja bisa. Kalian mau tau apa sebabnya?

Karna MITOS lah. Apalagi!

Mitos yang jahat sekali kan?

Jadi, di daerah saya ada sebuah mitos yang dipercaya banyak orang, bahwa jika seorang perempuan bentuk putingnya (seperti) terbelah di tengah gitu, maka saat perempuan tersebut punya anak, ia gak boleh memberikan ASI untuk anaknya. Karna ASI-nya dipercaya tidak bagus. Jika memaksa diberikan, maka si anak akan 'kenapa-napa'.

Pernah ada kejadian (masih di daerah saya). Seorang ibu 3 anak yang juga punya puting terbelah, memberi 3 anaknya sufor. Karna saat anak pertamanya lahir, dan dia memberikan ASI-nya pada anaknya yang pertama, gak lama kemudian (entah karna sebab apa), anaknya meninggal.

Maka, makin KUAT dan DIPERCAYALAH mitos itu.

Padahal, mitos itu terjadi ya karna dipercaya!

Yang muslim pasti pernah dengar tentang hadist 'Allah sesuai persangkaan hamba-Nya'. Ya termasuk dalam hal mitos ini. Kita percaya jika melakukan A, sesuatu yang buruk akan terjadi. Yaudah sama Allah dikabulkanlah persangkaan kita tersebut.

Aku bersama sangkaan hambaku padaku, jika sangkaannya baik maka baiklah baginya, dan jika sangkaannya buruk maka buruklah baginya (HR Ahmad)

Ada yang nyebut itu dengan hukum LoA. Law of Attraction. Bahwa apapun yang kita pikirkan dan kita yakini, maka secara gak langsung akan otomatis 'menarik' hal itu untuk terjadi dalam hidup kita. Lebih jelasnya, baca artikel ini aja deh.

Termasuk soal mitos ini. Apalagi kalo yang percaya sama mitos itu adalah orangtua kita -- yang mana dikasih kelebihan sama Allah ucapan dan doanya itu makbul. Ya gimana engga serem kalo yang dipercaya mitos-mitos jahat macam yang di atas 😭

Orangtua saya sendiri termasuk yang masih percaya banyak mitos, termasuk mitos yang berhubungan dengan perbayian. Dulu saat hamil saya banyak dikasih wejangan tentang jangan ini, jangan itu, nanti begini, nanti begitu, yang tentu saja semuanya mitos.

Lalu apakah saya menaatinya? Tidak.

Lalu apakah saya terkena dampak karna saya membangkang? Mari saya ceritakan.

Salah satu yang ibu saya pesankan pada saya sejak saya dinyatakan hamil adalah: JANGAN MAKAN CUMI. NANTI ANAK SAYA KAKINYA LEMAH, ATAU BISA JADI LUMPUH/GAK BISA JALAN.

😭😭😭

Dimana letak masuk akalnya sodara-sodara? Padahal cumi kan enak bangettt, bergizi pula ya kan. Gimana bisa dilarang makan selama 9 bulan hamil. Dengan alasan gak masuk akal pula. Kecuali kalo saya alergi seafood.

Tapi saya IYA-kan saja atas perintah paksu. Yang penting ibu tenang, kata beliau. Tapi nyatanya, kalo saya lagi di Semarang (ibu saya di Jepara), ya saya tetep makan cumi kalo lagi pengen. Yang jelas ibu saya gak tau kalo saya makan cumi.

Waktu Faza usia 8 bulan dan kakinya belum terlalu kuat menjejak ketika diberdirikan, ibu saya langsung panas-dingin. Beliau mengintrogasi saya: kamu makan cumi ya dulu waktu hamil?!

Akhirnya saya ngaku. Tapi plus penjelasan, bahwa itu semua gak ada hubungannya. Saya mengingatkan ibu untuk ayolah jangan percaya. Doakan saja Faza gakpapa. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, ternyata Faza kurang stimulus aja. Alhamdulillah dia bisa jalan sesuai usianya.

Dan mbahnya tentu saja bilang, "Alhamdulillah, mbahbuk lega akhirnya Faza bisa jalan. Mbahbuk deg-degan soalnya ibumu waktu hamil makan cumi" 😂

Begitulah. Mitos-mitos yang gak masuk akan seringkali membuat kita ragu-ragu atau takut melakukan sesuatu yang sebenernya sangat bermanfaat. Padahal semakin dipercaya dan terus didengungkan, mitos-mitos itu akan semakin kejadian.

Sedangkan jarang banget ada edukasi untuk meluruskan soal mitos ini. Akhirnya, yasudah terus mengakar dan mendarahdaging dalam kepercayaan.

Saya pengen banget deh bikin gerakan #melawanmitos dengan cara menulis mitos-mitos yang pernah kita langgar dan Alhamdulillah kita gak kena dampak buruk dari hal itu, di blog atau instagram. Biar makin banyak yang berani untuk #melawanmitos.

Biar semakin banyak orang yang tau bahwa percaya pada mitos hanya akan membuat kita sibuk sama prasangka buruk yang akhirnya justru bikin hal buruk itu benar-benar terjadi. 

Adakah teman-teman yang bersedia membantu saya?

Kamis, 18 Oktober 2018

#BincangKeluarga: Cemburunya Suami

Katanya, cemburu merupakan bumbu dalam sebuah hubungan. Yah meskipun yang namanya bumbu, kalo kebanyakan juga bisa bikin eneg ya kan? Pada dasarnya, segala sesuatu memang harus diletakkan sesuai porsinya sih. Jangan sampai kurang apalagi gak ada sama sekali, jangan pula berlebihan.

Saya termasuk orang yang cemburuan. Dulu adakalanya saya berlebihan soal cemburu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya makin sadar bahwa cemburu yang berlebihan hanya akan membuat pasangan gak nyaman.

Sekian lama, hampir gak ada obrolan atau konflik yang berhubungan dengan cemburu antara saya dan mas suami. Hingga beberapa hari lalu, Ade mengajak saya untuk nulis soal cemburu, khususnya cemburunya suami. Saya iyakan, tapi saya juga mikir. Kok kayaknya mas suami gak pernah cemburu ya sama saya?


Baca punya Ade:


Sesaat setelah mengiyakan ide Ade, saya langsung tanya ke mas suami.

"Yah, kok kayaknya ayah gak pernah cemburu sih sama aku? Padahal katanya cemburu tanda cinta lhooo"

Mas suami ketawa. Lalu jawab, "Soalnya sinok (panggilan sayang beliau ke saya) pandai jaga hatinya ayah"

Saya auto-ngakak denger jawaban beliau. Ya soalnya saya tau jawabannya tu setengah ngegombal 😂

Tapi kalo dipikir-pikir, iya juga sih #eeaaa. Lha gimana mau cemburu coba? Saya dan mas suami kerja di lembaga yang sama. Pulang-pergi bareng. Teman beliau adalah teman saya. Semua aktivitas saya bisa beliau pantau langsung.

Lagipula ya, kami bekerja di lembaga Islam yang memantau banget pergaulan antar-karyawannya, terutama lawa jenis. Jadi gak pernah ada cerita di kantor ada pria-wanita ngobrol asyik dan cekikikan bareng. Ya ngobrol sih tetep, tapi ada batasnya banget.

Jadi, di bagian mana suami saya harus cemburu?

Anehnya, sampai malam pun saya masih kepikiran soal ini 😅

Saya mikir, masa sih mas suami gak pernah cemburu? Kok hati saya semacam gak terima yaa kalo beliaunya gak pernah cemburu 😂

Yang saya lakukan berikutnya tentu saja berusaha sekuat tenaga untuk mengorek ingatan, apakah mas suami pernah cemburu hanya mungkin saya lupa?! *ini semua gara-gara Ade!* 😂

Dan... berhasil nemu dong, YEAAYY!

Saya inget mas suami pernah cemburu sama driver gojek. Gara-gara saya memilih pulang duluan, dan naik gojeg, alih-alih ikut beliau naik mobil dan jemput ibu mertua dulu yang otomatis pulangnya akan jauh lebih sore.

Sampai rumah, beliau bilang, "Duh, istriku habis diboncengin orang lain ya tadi"

Saya melongo dong. Wajah beliau serius banget pula. Haha, berarti beliau cemburu.

Tiap saya dinas luar kantor dan di antar sopir, saya juga tau beliau cemburu. Beliau gak henti memantau saya melalui ponsel.

Cemburunya hanya semacam itu sih. Ya karna saya emang gak pernah lah sampai level chatt atau telfonan sama mantan. Hadeehh, jangan sampai lah.

Dari situ saya jadi menyimpulkan. Bukan hanya istri yang bisa cemburu. Suami pun pasti juga bisa cemburu. Tapi bentuk cemburunya biasanya beda.

Cemburunya suami cenderung masih pakai akal sehat. Beda sama cemburunya istri yang kadang kemana-mana gak jelas juntrungannya 😅

Jadi sebagai istri kita harus peka. Gak usah nunggu suami kita bilang 'aku cemburu' baru berusaha menjaga hati mereka.

Kalau suami buibu sekalian gimana, sering cemburu juga gak?

Senin, 01 Oktober 2018

Ibu Bekerja Tanpa ART, Gimana Caranya Agar Tidak Stress?



Saya pernah ditanya oleh seseorang. Jadi ibu bekerja dan tanpa ART di rumah, gimana caranya agar tidak stress? Gimana biar gak kepikiran kerjaan kantor saat di rumah dan kepikiran rumah saat di kantor? Gimana membagi waktunya untuk istirahat dan mengerjakan pekerjaan rumah?

Dan lain-lain, dan lain sebagainya. Macam wawancara saja.

Segala pertanyaan di atas juga pernah berputar-putar di kepala saya, terutama sebelum menikah. Masih mengurus diri sendiri saja saya merasa keteteran banget, sampai di kantor sering telat, lha gimana nanti saat sudah menikah dan punya anak ya?

Tapi nyatanya bisa kok 😍 Learning by doing.

Saya pernah sih merasa capeeekkk banget. Stress banget lah pokoknya menjalani peran sebagai ibu bekerja tanpa ART di rumah. Kok kayaknya kerjaan gak ada selasainya ya. Gak ada jeda sama sekali. Pulang kerja pengen leyeh-leyeh, harus nemenin Faza main. Setelah Faza tidur mau ikut tidur, ehh lihat setrikaan numpuk 😭

Tapi itu duluuu. Saat saya belum tau kunci agar tidak stress menjadi ibu bekerja tanpa ART.

Sekarang setelah saya tau kuncinya, Alhamdulillah perlahan-lahan hidup saya mulai tertata. Kerjaan kantor beres, kerjaan rumah stabil, kualitas istirahat oke. Kan katanya kalo ibu bahagia, suami dan anak juga pasti ikutan bahagia kan? 😊

Nah, di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang 3 kunci agar tidak stress menjalani peran sebagai ibu bekerja tanpa ART. Siapa tau di luar sana ada ibu bekerja tanpa ART yang sedang bingung harus gimana menata hidup, kayak saya dulu.

  • Bangun teamwork yang Oke dengan pasangan
Ini KUNCI UTAMA banget ya. Suami yang memutuskan untuk mengijinkan istrinya jadi ibu bekerja, dan memutuskan untuk sepakat gak pakai jasa ART, ya konsekuensinya harus siap bantu kerjaan rumah tangga

Lebih tepatnya bukan bantu sih. Kalau bantu kesannya kerjaan rumah tangga adalah kewajiban istri ya? Padahal sebenarnya ya kewajiban bersama kan 😊 

Intinya, jika kamu adalah seorang ibu bekerja tanpa ART di rumah, dan kamu ingin gak stress, maka tinggalkan jauh-jauh stigma 'kerjaan rumah tangga adalah kewajiban istri'. Bangun kerjasama dengan suami. Minta bantuan kalo emang gak sanggup ngerjain semuanya sendiri.

Saya dan suami Alhamdulillah sudah beres urusan ini. Udah gak pernah lagi ada eyel-eyelan soal 'aku ngerjain ini-kamu ngerjain itu'. Seperti sudah otomatis, siapa yang sempat ya sudah langsung aja dikerjakan.

  • Rendahkan ekspektasi dan Sub-kontraktor
Dulu saya sering stress gara-gara melihat tumpukan baju bersih yang belum dilipat atau disetrika. Kok rasanya gak pernah habis ya padahal saya sudah nyetrika setiap malam? 😭

Dll.

Maka, mari rendahkan ekspektasi kita jika kita adalah ibu bekerja tanpa ART di rumah yang gak pengen stress.

Lihat baju belum disetrika menggunung, tapi kok ngantuk. Yasudah tidur saja dulu. Nanti bangun dini hari, baru deh nyetrika. Atau, jangan lupakan tetangga yang bersedia menawarkan jasanya untuk menyetrikakan baju.

Pengennya sih masak tiap hari untuk suami dan anak. Tapi kok capeekkk banget yaaa 😭  Ya sudah sesekali beli lauk jadi pun gak langsung bikin gizi buruk laaah.

Pokoknya, beri pemakluman pada diri sendiri. Gak perlu dikit-dikit merasa bersalah. Berusaha tetap melakukan tugas kita sebaik-baiknya, tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri 😊

  • Lakukan hal-hal yang menjadi hobi kita
Sesekali, luangkan waktu untuk melakukan hal-hal di luar rutinitas kita, yang sekaligus menjadi hobi kita. Jadi ibu bekerja bukan berarti sudah gak waktunya lagi melakukan hobi lho. Melakukan hobi bisa menjadi saran merefresh pikiran dari segala rutinitas.

Misal kita suka baca buku. Ya meski cuma 15 menit sebelum tidur, baca buku kesukaan dulu. Atau merajut. Tiap weekend saat anak tidur siang, bisa banget tuh diisi dengan merajut. Sesuaikan saja dengan apa hobi dan kesukaan kita.

Sejak menerapkan 3 point di atas dalam hidup saya, Alhamdulillah saya sudah hampir gak pernah lagi stress menjadi ibu bekerja tanpa ART. Ya kalo jenuh tetep ada sih kadang. Manusiawi. Tapi penyebabnya bukan lagi tentang peran saya sebagai ibu bekerja yang gak punya ART di rumah.

Jika kamu ibu bekerja tanpa ART juga, dan punya cara lain agar tidak stress, share di kolom komentar yaa 😊

Rabu, 12 September 2018

#CeritaFaza: Faza 18 Bulan

Berasa udah lamaaaa banget gak nulis #CeritaFaza. Ternyata baru 3 bulan kok. (((BARU))). Hahaha.

Faza susah bgt difoto sekarang, Jadi ga punya stok foto dia sendirian yg bagus. Blur semua :(


Seperti biasa tulisan ini rangkuman cerita perkembangan Faza sejak usia 16 hingga 18 bulan.

Tiap nulis #CeritaFaza, saya selalu berpikir, beneran yaa ternyata, time flies. Waktu kok kayaknya cepet banget larinya. Kayaknya baru kemarin saya belajar nenenin Faza sembari menahan perihnya puting lecet. 

Ehh lha kok sekarang tiba-tiba udah lari-lari main bola, udah bisa diajak ngobrol pula. Huhu sungguh kuterharuu 😭

18 bulan adalah usia yang cukup bikin saya deg-degan. Kenapa? Karna usia ini merupakan red flag kemampuan berjalan bagi seorang anak. Jadi, kalo belum 18 bulan belum jalan, berarti 'ada yang salah' dan sebaiknya datang ke tenaga profesional untuk konsultasi.

Saya dega-degan mengingat Faza bisa merangkaknya aja telat banget kan. Usia setahun baru bisa. Nah, takutnya jalannya juga telat.

Ternyata Faza bikin surpraise banget buat ayah-ibunya, karna tiba-tiba bisa jalan dan langsung lancar di awal usia 16 bulan! 😍 Saya bilang tiba-tiba, karna beneran tiba-tiba banget.

Kemarinnya dia masih takuuttt banget disuruh coba jalan sendiri beberapa langkah dari saya menuju ke ayahnya gitu. Lalu malem seperti biasa saya sounding dia. "Nak, ayooo belajar jalan. Deadlinenya September yaa... kalo September belum bisa jalan, kita ketemu dokter".

Eh paginya saya suruh coba jalan, dia langsung mau dan BISA dan langsung lancar 😍 Masyaa Allah tabarakallah.

Selain jalan, di usia ini Faza juga Alhamdulillah udah mulai lancar diajak berkomunikasi. Kosakatanya udah mayan banyak. Dan kalo diajak ngobrol sudah nyambung, meskipun kadang jawabannya nyleneh.

Sukaaa banget sama cara dia berekspresi kalo lagi ngomong. Iyalah, anak sendiri masa' gak suka. Haha. Pengen banget bisa video-in kalo dia lagi ngomong, macam ibuk Retno Hening gitu. Tapi apalah daya, anak hamba kalo divideo atau difoto malah langsung cranky dan bernafsu merebut HP. Zzzzz 😞

Di samping semua kelucuan itu, adakalanya Faza labil bak ABG lagi PMS. Ayah-ibu serba salah. Kadang pengen ngakak, tapi gak jarang juga pengen salto ngadepin dia 😂

Salah satu contoh kelabilan itu, adalah ketika dia minta masuk kamar. Begitu masuk kamar ya saya buka jilbab lah pasti, Semarang panasnya to the max gitu, bisa buka jilbab adalah hal pertama yang pasti saya lakukan dong kalo udah di kamar.

Eeehh lha kok Fazanya tiba-tiba nangis teriak-teriak. Saya bingung dong. Kenapa pula ini anak -___-. Dia nangis sambil nunjuk-nunjuk kepala saya dan berkata, "baakk... bakkk...". Maksudnya "jilbab". Barulah saya mudeng, ternyata dia minta saya pakai jilbabnya lagi 😂😂😂

Jujur selain seneng melihat berbagai perkembangan Faza, saya juga kadang resah. Aduuuhh jangan terlalu cepat besar dong, nakk... nanti gak lucu lagi. Nanti ibu kangen kamu hari ini T__T. Cuma ayahnya sewot tiap saya ngomong gitu.

Pikiran macam apa itu, kata blio. Kalo Faza gak lucu lagi, ya nanti kan ada adeknya yang lucu lagi. Eeerrr -___-. Tapi ya saya aminkan sih 😊

Baiklah. Sampai jumpa di #CeritaFaza berikutnya. Saya gak yakin sih ada yang minat baca tulisan ini 😂