Tampilkan postingan dengan label Proses Memantapkan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proses Memantapkan Hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Bismillah...


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sesungguhnya segala puji mutlak hanya untuk Allah
Sholawat dan salam semoga tertetapkan untuk penyampai risalah

 Ketika akad terucap, menyatukan jiwa-jiwa pencinta
Tak lagi sekedar mainan, pun kepuraan
Namun sebuah perjanjian, ikatan batin
Tulus menggapai tujuan suci, sakinah, mawaddah, warahmah

Pernikahan telah menuntun kapal itu berlabuh ke dermaga, dari kelelahan mengembara
Pernikahan telah meletakkan hati itu bersandar ke penyangga, dari kerapuhan akan hakikat penciptaan
Pernikahan telah mengokohkan pondasi itu, dengan segala kedayaan rasa
Pernikahan telah menyempurnakan separuh agama, mengejawantahkan asa bahagia
Pernikahan telah menafikan keakuan menjadi kekitaan

Suami telah memilihmu dari bidadari-bidadari dunia, sebagai perilaku adami
Suami telah memilihmu sebagai bidadari di syurga, dengan segala rahmat-Nya

Meski suami tak semulia Muhammad, tak setakwa Ibrahim, tak setabah Ayyub, pun tak segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi imam, mengikuti sunnah, membangun keturunan yang shalih

Istri telah memilihmu dari wajah-wajah pencinta
Istri telah memilihmu sebagai pasangan di syurga, dengan segala rahmat-Nya
Meski istri tak semulia Khadijah, tak setakwa A’isyah, tak setabah Fatimah, pun tak setegar Hajar, apalagi secantik Zulaikhah
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi istri sholihah, penjaga kehormatan keluarga

(diambil dari undangan pernikahan Mas Ahmad Nasirul Ulum & Mbak Firoh)

Minggu, 07 Februari 2016

Apakah Ini Yang Disebut Pre Marriage Syndrome?

Dr. Tumblr

Mau menikah? Yakin?

Pertanyaan itu berputar-putar di benak saya semingguan lalu. Pertanyaan yang kemudian menjelma pikiran-pikiran negatif, prasangka, dan puncaknya menjadi sebuah ketakutan yang terasa mencengkeram. Ya, saya sempat amat merasa ketakutan. Hingga pada suatu pagi, saat saya terbangun dari tidur saya, lalu tiba-tiba menangis seketika... Tanpa saya tau sebabnya. Yang saya tau, saya takut.

Menikah berarti siap melepaskan dan meninggalkan segala atribut masa lalu. Sebagai anak bungus bapak-ibu yang amat wajar jika manja, misalnya. Tentu saja gak tepat jika atribut itu tetap saya kenakan. Menikah berarti harus siap memasuki kehidupan baru yang totally berbeda. Menikah berarti harus siap mempersembahkan sebaik-baik bakti pada seorang laki-laki yang belum lama kita kenal dan elum seluruhnya kita tau sifatnya. Bukankah banyak fakta yang menunjukkan bahwa sikap seorang laki-laki antara sebelum dan setelah menikah berbeda bagai bumi dan langit? Hari ini dia amat sempurna menunjukkan kesungguhannya... Bagaimana jika semua itu tak terbukti setelah menikah nanti? Bukankah tak boleh ada kata mundur? Bukankah ini amat menakutkan?

Saya kemudian meminta nasehat pada seorang sahabat tentang apa yang saya rasakan. Ia mengatakan, mungkin itu bagian dari Pre-Merried Syndrom atau Sindrom Pra-Nikah. Saya gak tau persis sih apakah benar apa yang saya rasakan itu merupakan Pre-Merried Syndrom jika dilihat secara teori keilmuan. Tapi konon, perasaan seperti itu sering menyerang orang yang hendak menikah.

Lalu sahabat saya menyarankan agar saya mengambil jeda sejenak. Jeda dari pikiran apapun soal persiapan pernikahan saya. Jeda dari buku-buku pernikahan yang tengah saya baca sebagai bekal mengarungi pernikahan kelak. Karna pikiran yang terus-menerus terpancang pada tema itu, mungkin akhirnya membuat merasa tertekan, lalu memantik berbagai perasaan negatif seperti di atas. Saya menyetujui ide sahabat saya tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk menonton film Ketika Mas Gagah Pergi malam harinya.

Esoknya, saya mencoba lebih rileks. Saya tonton beberapa film pendek di YouTube. Film-film sederhana, tapi inspiratif. Membuat saya tersipu, tersenyum, tertawa, juga menangis.

Saat pikiran saya mulai jernih, saya bisa kembali merenungi semuanya. Saya ingat pada cerita Kakak mentoring mingguan saya -- bernama Mbak Surya -- beberapa tahun lalu, saat ia baru saja menikah. Saat itu Mbak Surya cerita tentang prosesnya menuju pernikahan, hingga pernikahan berlangsung. Cerita yang sekaligus bermuatan nasehat.

Mbak Surya bercerita bahwa ia berkali-kali dihinggapi keraguan yang teramat sangat, juga ketakutan. Ia lalu bercerita pada guru ngajinya, dan mendapatkan sebuah nasehat -- yang harusnya saya pakai hari ini.

Guru ngaji Mbak Surya mengatakan bahwa was-was, ragu, takut, itu asalnya dari syetan. Tentu saja syetan akan berusaha menggoyahkan hati seseorang yang akan menikah.. Karna bukankah menikah adalah bagian dari ibadah? Kalau muncul rasa was-was, takut, cemas, dll... Langsung ngaji saja, biar hatinya tenang.

Ah, iya, ya... Ternyata masih sedangkal itu iman saya. Bahkan untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif pun saya masih kewalahan, padahal saya tau ilmunya. Tapi terjangan ketakutan luar biasa yang menimpa saya minggu lalu membuat saya semakin sadar untuk kembali meluruskan dan menancapkan niat sekuat-kuatnya.

Bahwa menikah merupakan cara yang Allah tentukan sebagai penyempurna separuh dien saya. Bahwa menikah merupakan sunnah Rasulullah, dan barangsiapa tak mencintai sunnahnya, maka bukanlah termasuk dari golongannya.

Doakan saya, ya, teman :)

Rabu, 16 Desember 2015

Bagaimana Memantapkan Hati Untuk Menerima Pinangannya?


Dicintai dan diinginkan oleh seseorang, tentulah merupakan salah satu kebahagiaan. Apalagi jika ia juga merupakan orang yang kita cintai dan inginkan. Tapi bagaimana jika seseorang yang mencintai dan menginginkan tersebut adalah orang yang sebelumnya kita anggap sebagai teman biasa? Sedangkan ia menunjukkan kesungguhan yang teramat, dan kita pun menyadari bahwa ia merupakan laki-laki baik yang patut dipertimbangkan?

Ya, memantapkan hati memang bukan urusan sederhana bagi sebagian orang, termasuk bagi saya. Saat seorang teman datang menawarkan niat baik untuk meminang, dengan pembuktian yang terasa amat sungguh-sungguh sebelumnya.

Bagaimana memantapkan hati untuk menerima pinangannya? Sementara hati masih bertarung. Satu sisi amat menyadari bahwa ia laki-laki baik yang tidak patut ditolak. Sebelahnya lagi melawan dengan menyodorkan berbagai keragu-raguan tentang hal-hal remeh yang seolah menjelma menjadi besar. Ya, saya mengalami pergulatan itu. Pergulatan yang cukup menyiksa, karna saya tidak tau harus berpihak pada sisi hati yang mana.

Namun keragu-raguan tidak boleh dibiarkan merajai kita. Bisa jadi ia datangnya dari syetan, yang tengah berusaha menghalangi kita menuju kebaikan. Lalu bagaimana akhirnya saya mengakhiri pergulatan batin dan memantapkan diri untuk menerima pinangannya?

Sederhana saja. Dengan berdoa. Berdoa dengan amat sungguh-sungguh setelah istikharoh. Berdoa memohon pertolongan Allah untuk menentramkan hati kita jika perkara tersebut memang baik bagi urusan dunia dan agama kita. Dan sungguh luar biasa. Saat itu hati saya perlahan menjadi damai. Pergulatan batun yang sebelumnya selalu menghantui saya sedikit demi sedikit semakin samar gaduhnya.

Selain berdoa, tentu saja harus ada ikhtiar sebagai manusia yanh dikaruniai akal. Saat tengah menimbang untuk menerima pinangannya, coba hitung dengan otak matematis kita sebagai manusia. Bandingkan antara kelebihan dan kekurangannya yang bisa ditangkap mata kita. Meskipun ini akan cukup sulit dilakulan dengan objektif saat cinta sudah tumbuh. Karena kita semua pasti tahu, akan sangat sulit bagi orang yang sudah dilanda perasaan cinta untuk melihat semuanya dengan jernih. Semua keburukan bisa seketika menjelma menjadi kebaikan.

Begitupun sebaliknya. Saat ada laki-laki datang dan berniat untuk meminang, sedangkan perasaan cinta belum ada di hati, jangan serta-merta menolaknya.  Percayalah, cinta bisa diupayakan.

Jangan buru-buru menolak saat ada yang datang meminang. Karena bisa jadi ia merupakan laki-laki baik yang Allah kirimkan, dan akan kau sesali saat kau telah memutuskan untuk mengabaikannya :)