Tampilkan postingan dengan label #CeritaFaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CeritaFaza. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juni 2023

Mengapa Kami Memilih Kuttab Al-Fatih?

Setelah kegalauan tentang proses menyusui, disusul soal MP-ASI, lalu tentang sembelit berulang yang sungguh menguji kesabaran, dan ratusan kegalauan lainnya, tiba juga saatnya kami galau memilih sekolah untuk Faza. Hehe, kayaknya jadi orangtua emang rasanya akan galau terus soal anak sih ya.

Sebenarnya, obrolan tentang pilihan sekolah untuk Faza sudah sering sekali kami angkat dan diskusikan. Dan meski sejak awal kami sudah mengerucutkan pilihan, tetap saja saat masanya tiba, masih ada saja bongkar-pasang pertimbangan yang membuat kami galau.

Saat Faza masuk usia 4 tahun, kami mulai serius sekali memilih sekolah tingkat dasar untuk Faza. Kenapa 4 tahun? Karena salah satu sekolah yang menjadi opsi kami adalah Kuttab Al-Fatih, yang mana sudah bisa mulai masuk saat anak usia 5 tahun.

Apakah ada pilihan lain selain Kuttab Al-Fatih? Ya, ada. Yaitu SDIT Bina Insani, yang mana sekolah dengan basis seperti umumnya Sekola Dasar Islam Terpadu lainnya. Beda dengan Kuttab Al-Fatih yang bisa dibilang sangat 'unik dan berbeda' dengan sekolah dasar lain pada umumnya.

Jujur saja, perbedaan dan keunikan itulah yang membuat saya dan suami sempat ragu dan maju-mundur. Soal hal-hal yang sempat membuat kami maju-mundur ini, semoga lain waktu bisa saya ceritakan lebih panjang.

Namun setelah berbagai pertimbangan, istikharoh dan doa, dengan berbekal Bismillah, akhirnya kami mantap memasukkan Faza untuk belajar di Kuttab Al-Fatih.

Beberapa hal ini lah yang akhirnya membuat kami mantap:

Kurikulum Utama: Iman & Al Qur'an

Melihat berbagai kejadian yang mencerminkan kondisi generasi hari-hari ini, jujur kami resah. Kenapa ya, sekolah sepertinya makin banyak yang bagus dan keren, tapi kok gak berbanding lurus dengan kualitas generasi kita?

Emm, terutama jika dilihat dari kacamata Islam, ya. Kalau dari kacamata duniawi sih mungkin bisa dibilang generasi hari ini semakin cemerlang otak dan kemampuannya.

Keresahan kedua, saat mencoba merefleksikan diri dengan apa saja yang saya pelajari selama sekolah, rasa-rasanya kok pelajaran-pelajaran yang dulu saya hafalkan tiap hari di buku paket, banyak yang gak terpakai atau gak signifikan manfaatnya untuk bekal hidup, ya?

Keresahan berikutnya, tentang kurikulum sekolah di Indonesia, yang sering banget ganti, tiap pejabatnya ganti. Saya sering dengar guru kebingungan tiap harus adaptasi dengan kurikulum baru. Nah lho, kalo gurunya saja bingung, gimana muridnya?

Keresahan-keresahan tersebutlah yang mengantarkan kami untuk akhirnya mantap memilih Kuttab Al-Fatih.

Di Kuttab Al-Fatih, kurikulum utamanya hanya ada 2. Yaitu, Iman dan Al-Qur'an. Mata pelajarannya tiap hari ya terbagi menjadi dua, kelas iman dan kelas Al Qur'an.

Apapun yang dipelajari anak di kelas iman, akan dikaitkan dengan keimanan pada Allah. Misal, anak diajak belajar tentang tema tata surya, maka ustadz atau ustadzah akan menunjukkan ayat-ayat Al Qur'an tentang tata surya dan mengajak mentadabburinya, dengan bahasa ringan sesuai dengan usia anak di kelas tersebut.

Adab Sebelum Ilmu, Iman Sebelum Al Qur'an

Di Kuttab Al-Fatih, saya pribadi merasakan 'adab sebelum ilmu, iman sebelum Al Qur'an' ini benar-benar diterapkan, dan bukan sekedar slogan.

Adab adalah aspek yang sangat diperhatikan, melebihi aspek lainnya, termasuk aspek akademik. Mau sepintar apapun, kalau adabnya belum baik, maka sangat memungkinkan anak tersebut tidak bisa naik kelas.

Saat pertama kali bertemu ustadzah untuk menerima raport pertama Faza 6 bulan lalu, salah satu hal utama yang disampaikan ustadzah adalah ada adabnya yang belum baik, yaitu memotong pembicaraan ustadzah dan  asyik ngobrol sendiri saat ustadzah sedang memberikan pelajaran.

 Dan gak hanya santri (murid) yang ditekankan untuk mengutamakan adab. Para guru pun juga memperlakukan santri dengan adab sebagaimana seorang guru pada muridnya. Saya sering trenyuh melihat para ustadz dan ustadzah yang tampak sayang dan tulus sekali pada para santri. Begitu juga kami orangtua juga dihimbau untuk berinteraksi dengan adab yang baik, baik kepada ustadz dan ustadzahnya anak kita, pada sesama orangtua santri atau pada anak kita sendiri.

Di Kuttab, goal utama bukan soal seberapa banyak hafalan Al Qur'an. Yang lebih utama adalah iman sebelum Al Qur'an. Jadi penekanan utamanya adalah pada penanaman iman, adapun hafalan Al Qur'an, Insyaa Allah akan mengikuti.

Goal Utama: Akhirat

Kuttab Al-Fatih merupakan lembaga sekolah non-formal. Lulus dari Kuttab Al-Fatih gak akan dapat selembar ijazah yang diakui negara.

Jujur, hal ini sempat menjadi salah satu faktor yang bikin maju mundur. Gimana nanti kalo Faza gak punya ijazah SD? Gimana masa depannya? Bisa kerja gak ya? Dan lain sebagainya.

Sampai akhirnya saya dengar kajian ustadz Budi Ashari, dan ditampar dengan sebuah hadist.

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

"Barangsiapa yang memperlajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat" (HR. Abu Daud)
Sempet ada bantahan dari kepala saya sendiri. "tapi kan wajar sebagai manusia mikirin masa depan? mikirin dunia?"

Lalu, lagi-lagi saya kembali ingat sebuah hadist.

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ (HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih)
Dari situ lah hati kami Insyaa Allah mantap mengantarkan anak kami belajar di lembaga ini.

Sudah banyak sekali tanda-tanda akhir zaman yang bermunculan. Faza adalah termasuk generasi akhir zaman. Maka, menyekolahkan dia di Kuttab Al-Fatih ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar kami untuk membekalinya menghadapi akhir zaman yang pasti akan semakin berat jika dihadapi tanpa pondasi akidah dan keimanan yang kuat.

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if dan syawahidnya atau penguatnya pun dho’if. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7: 139)

Sumber https://rumaysho.com/3335-jangan-lupakan-nasib-kalian-di-dunia.html

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

Orangtua juga Ikut Belajar

Di Kuttab Al-Fatih, peran orangtua santri besar sekali porsinya. Jangan harap bisa berharap kita bisa lepas tangan dan menyerahkan tugas mendidik sepenuhnya pada guru dan sekolah.

Sejak awal mendaftar, komitmen orangtua sudah sangat diuji. Dari proses sebelum mendaftar, ada stadium general yang wajib dihadiri berdua -- ayah maupun ibu calon santri. Ada proses interview yang juga harus dihadiri berdua.

Setelah masuk, orangtua santri juga ada kewajiban menghadiri kajian bulanan. Jika ijin 3x atau lebih, sebelum menerima raport orangtua akan diminta menghadap salah satu ustadz untuk diingatkan. Dan jika hal yang sama terulang, Kuttab Al-Fatih akan mengembalikan anak pada orangtuanya, karena dianggap tidak bersedia bekerjasama dengan sekolah dalam mendidik anak. Begitu pun saat ambil raport, tidak boleh hanya ayah atau ibunya saja yang datang, melainkan harus berdua.

Ada juga lembar BBO (Belajar Bersama Orangtua) yang harus diisi oleh orangtua tiap pekannya. BBO berisi laporan orangtua tentang aktivitas belajar anak saat di rumah. Saat awal Faza masuk Kuttab Al-Fatih, qodarullah bersamaan dengan saya melahirkan anak kedua. Jujur saat itu saya sempat ingin menyerah dengan berbagai kewajiban orangtua ini karena merasa kewalahan (karna punya newborn), huhu. Tapi Alhamdulillah keinginan menyerah itu bisa saya pupus.

Oh ya, selain itu orangtua santri juga ada kewajiban untuk menyimak kajian online pekanan melalui aplikasi khusus orangtua santri Kuttab Al-Fatih, dan ada soal ujiannya setiap usai menyimak kajian.

Masyaa Allah, jadi gak cuma anak yang harus belajar, orangtua pun harus terus belajar juga.

Yah, itulah beberapa point yang membuat kami yakin dan mantap menyekolahkan anak kami di Kuttab Al-Fatih. Saya gak bilang Kuttab Al-Fatih pasti lebih baik dari sekolah lainnya. Isi pikiran saya di atas juga bisa jadi kontra dengan pikiran teman-teman yang lain.

Wallahu a'lam bishawab. Kami hanya berikhtiar sebaik yang kami mampu dalam mendidik anak-anak kami. Semoga Allah menerima ikhtiar kami, dan memberikan kami keberkahan atasnya.

Minggu, 30 Oktober 2022

Proses Adaptasi Punya Adik Baru

Punya anak kedua di saat anak pertama saya usia 5 tahun awalnya bikin saya lumayan pesimis. Ah, pasti akan minim drama lah. Si kakak pasti gak akan ada cemburu-cemburuan, karena kan sudah besar. Apalagi kehadiran si adek ini sangat dia nanti-nantikan selama ini. Begitu pikir saya.

Eh ternyata, tidak seindah itu, ferguso! πŸ˜‚

Saya seolah 'lupa' bahwa Kakak Faza hanyalah seorang anak berusia 5 tahun, yang terlihat sedewasa apapun, ya tetap saja anak 5 tahun.

5 tahun menjadi satu-satunya pusat dunia saya dan ayahnya, membuat si Kakak oleng ketika tiba-tiba ada anggota baru yang menyedot perhatian kami besar-besaran. Dulu, selama saya ada di radius pandangan dia, maka kapanpun dia butuh, saya siap grak selalu gercep memenuhinya. Setelah adiknya lahir, dia harus menerima berbagai jawaban yang mungkin membuat dia kaget.

"Sebentar ya kak, adek sedang nenen"

"Sebentar ya kak, ibu sendawa-in adek dulu"

"Nanti ya kak, ibu capeeekkk sekali"

Dan lain sebagainya.

Perubahan kondisi itu, membuat Kakak juga tiba-tiba 'berubah'. Saya dan ayahnya sempat merasa Faza benar-benar berubah dan bukan lagi Faza yang kami kenal.

Faza yang kami kenal, meski adakalanya membuat kami jengkel, tetaplah bagi kami anak yang manis. Anak yang cukup mudah diarahkan dan dinasehati. Begitu adiknya lahir, duaarrr! Faza berubah jadi anak yang seolah selalu ingin menguji kesabaran ayah ibunya. Apapun yang ayah ibu katakan, maka dia akan mencari cara gimana caranya untuk mengingkarinya.

Dia juga jadi gak kerasan sekali di rumah. Kapanpun ada kesempatan untuk keluar dari rumah, maka dia akan melakukannya. Tanpa pamit! 😭 Ini bikin kami shock sekali, karena kami paham betul Faza bukan tipe anak yang seperti itu sebelumnya.

Malangnya, kami tidak langsung menyadari bahwa perubahan itu merupakan akibat dan bagian dari proses adaptasi punya adik baru. Apalagi saat itu saya dan ayahnya juga sama-sama sedang beradaptasi juga dengan tambahan tanggung jawab baru. Belum lagi di sebulan pertama, si adek boboknya selalu di atas jam 12 malam, bahkan seringnya masuk jam 2 malam baru bisa tidur. Sedangkan siang hari, saya juga hampir gak pernah bisa tidur siang.

Lengkaplah sudah. Faza yang kebingungan menghadapi kondisi baru. Ayah-ibunya yang kebingungan menghadapi dia sekaligus kehabisan energi untuk menelaah dengan kepala dingin apa sebenarnya penyebab Faza tiba-tiba berubah.

Bisa ditebak, tiap hari isinya kami yang marah-marah ke Faza, dan Faza yang marah balik. Kami yang menangis, dan kami yang semakin marah. Duh ya Allah, kalau inget masa itu 2 bulan lalu, rasanya hari-hari gelap banget 😭

Pernah suatu malam, Faza gak pulang ke rumah sejak habis sholat magrib di masjid hingga menjelang pukul 8 malam. Saya resah sekali tentu saja, mencoba minta tolong ayahnya untuk memanggil Faza untuk pulang. Fyi, sebelumnya Faza hanya kami ijinkan main di luar rumah saat malam pada malam minggu saja. Sedangkan saat itu hari sekolah.

Ayahnya menolak, karena sedang merasa capek. Capek mental terutama. Faza sudah berkali-kali melakukan hal yang serupa sejak adiknya lahir. Saya juga bisa menerima dan memaklumi penolakan ayahnya saat itu. Dia lelah fisik, lelah mental. Kalau dia manggil Faza untuk pulang saat itu, pasti gak akan  mulus-mulus saja. Seperti yang sudah-sudah, harus ada adu urat dulu, Faza menolak sambil marah, ayahnya ikut marah, lalu Faza manangis meraung-raung. 

Saya sendiri juga saat itu dalam kondisi yang gak memungkinkan untuk memanggil Faza, karena adeknya sedang kembung dan rewel tiap diletakkan di kasur. Selain itu, ayahnya juga minta saya untuk menunggu sampai Faza pulang sendiri.

Pikiran saya ke mana-mana. Gimana kalau Faza tetep gak pulang? Apa kata tetangga nanti lihat Faza seperti gak terurus? Dll. Alhasil, saya cuma bisa berurai air mata sambil gendong si adek. Bingung harus gimana ngadepi Faza. Hhh, begitulah. Cerita flashback gini aja rasanya inget banget gimana capeknya saat itu.

Alhamdulillahnya, Faza punya kemampuan mengungkapkan perasaan dengan cukup baik. Meskipun kadang caranya masih kurang tepat -- karna sekali lagi, dia tetaplah masih seorang anak 5 tahun.

Dia berkali-kali bilang, "ibu sekarang gak pernah urusin aku, urusinnya adek terus."

Kalimat itu menjadi semacam clue untuk kami. Ternyata segala ulahnya selama ini memanglah karena dia sedang 'cemburu'. Adakalanya, hati saya sebagai ibu serasa diremas-remas mendengar ungkapan hatinya.

Seperti suatu saat sepulang sekolah, saat ia marah tidak jelas dan saya mulai terpancing emosi, saya tanya dengan nada tinggi, "Kakak tu kenapa sih, kaaakk? Ibu harus gimana? Kok ibu salah terus di mata kakak?!"

Lalu dengan berurai airmata ia berkata, "aku tu kangen, Buuuu... aku kangen ngomong-ngomong sama ayah sama ibu lagi kayak dulu pas habis sholat magrib (kami sering quality time dengan bercanda dan ngobrol seusai sholat magrib memang), Tapi sekarang udah gak bisa lagi, kan sekarang sudah ada adek..."

Dia mengatakan itu dengan perasaan sedih yang tergambar jelas di wajahnya. Saya cuma bisa memeluk dan menjelaskan, bahwa kehadiran adek sama sekali bukan penghalang untuk kita bisa seperti dulu lagi.

Pernah juga suatu saat, saat saya dan ayahnya sedang tersenyum-senyum memandangi adeknya. Ternyata si kakak mencuri pandang dari kejauhan. Saat saya menyadari dan memanggilnya, dia bilang, "ayah ibu kok kalau lihat adek kayak seneng gitu ya, senyum-senyum terus... tapi kalau lihat kakak kok enggak". Duh Ya Allah...

Tapi Alhamdulillah semua itu sudah berlalu. Di usia adiknya yang kurang lebih 2 bulan, Kakak sudah mulai bisa beradaptasi dan menerima kehadiran adiknya, sejalan dengan saya dan ayahnya yang juga sudah mulai bisa menata diri dengan kondisi baru.

 

 

Proses Adaptasi Punya Adik Baru

 

Kakak Faza sekarang sudah kembali menjadi Kakak Faza yang kami kenal. Alhamdulillah...

Meskipun tentu saja bukan berarti tantangan sudah selesai. Setelah ini pasti akan ada tantangan-tantangan baru.

Semoga kami bisa terus bertumbuh bersama dan saling menguatkan. Aamiin.

Kamis, 23 Juni 2022

Surat Cinta Untuk Anak Pertamaku

Assalamu'alaikum. Hai, Nak...

Hehe, akhir-akhir ini kamu sering protes yaa kalau ibu panggil 'nak'. Karena kamu merasa panggilan 'nak' itu untuk anak yang masih kecil, sedangkan kamu merasa sudah besar.

"Kakak bu, bukan nak..." begitu katamu. Ah iya ya... anak kesayangannya ibu sebentar lagi jadi kakak. Masyaa Allah tabarakallah.

Maafkan ibu yaa, yang sampai sekarang belum juga terbiasa manggil kamu dengan sebutan 'Kakak'. Masih sering keceplosan panggil nama langsung. Tapi ibu akan berusaha.

Akhirnya yaa, Kak... setelah ratusan doa yang kita langitkan bersama, Insyaa Allah sebentar lagi akan hadir seorang adik bayi di tengah-tengah kita. Seorang adik bayi yang pasti akan menjadi fasilitator untuk kita bertumbuh menjadi pribadi baru, yang semoga jauh lebih baik.

Dulu Kak, hati ibu serasa diremas-remas tiap mendengar kamu berdoa.

"Ya Allah, berikan Faza adek, biar Faza nggak kesepian. Adeknya Faza jangan lama-lama disimpan di langit ya Ya Allah..."

Harus ibu akui, doa-doamu itulah yang menjadi pemantik semangat ayah dan ibu untuk terus berikhtiar dan berdoa lebih kuat lagi agar Allah berkenan menitipkan amanah itu pada kita.

Dan Alhamdulillah, Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim, mengabulkan doa-doa kita.

Maka dari itu Kak, betapa ibu kaget ketika kemarin, kamu tiba-tiba berucap, "Aku harusnya nggak punya adek aja. Nanti kalau aku punya adek, pas lagi mainan, ibu suruh aku 'Zaaa, bikinin adek susu', terus 'Zaaa, jagain adeknya"

Deg!

Ya Allah, nak... maafkan ibu. Maafkan jika selama ini, usaha ibu untuk sounding ke kamu tentang peran seorang kakak, justru membuat kamu merasa terintimidasi oleh bayangan betapa beratnya peran itu bagimu.

Akhir-akhir ini, jujur saja ibu agak kewalahan menghadapi kamu. Ibu sampai merasa, yang dua mingguan ini ibu hadapi sama sekali bukanlah Faza yang ibu kenal. Emosimu sangat labil. Meledak-ledak. Dan sangat menguji kesabaran ayah-ibu, yang sayangnya masih lebih sering tidak sabarnya :'(

Tapi akhirnya ibu sedikit menemukan 'clue', nak. Tentang apa sebab dari labilnya kamu akhir-akhir ini. Mungkin ini akumulasi dari gejolak perasaanmu selama beberapa bulan terakhir ini, sejak kita tau di dalam perut ibu sedang tumbuh adek janin.

Seringkali sepulang ibu kerja, kamu sering minta ditemani mainan, dan sering pula ibu menjawab, "ya Allah, nak... punggungnya ibu sakit sekali, kan ibu sedang hamil..."

Tanpa ibu sadar, ibu terlalu sering menuntut kamu memahami ibu, memahami apa yang ibu rasakan. Dan di saat bersamaan, ibu seolah lupa bahwa kamu juga punya perasaan yang butuh dipahami.

Berkali-kali kamu mengungkapkan kekecewaanmu tentang ibu yang sekarang jarang sekali menemani kamu main karena alasan hamil. Tapi ibu bebal sekali tetap gak mau mengerti perasaanmu. Maafkan ibu ya, nak...

Akhirnya pelan-pelan ibu memahami, bahwa bukan cuma ayah dan ibu yang sedang kerepotan menghandle hati dan pikiran menjelang hadirnya anggota keluarga baru, tapi kamu pun juga merasakan hal yang sama.

Beberapa kali kamu tampak memikirkan sesuatu, lalu mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hangat hati ibu. Seperti kemarin, tiba-tiba kamu bilang, "Yaudah Bu, nanti kalau adek sudah lahir, kalau ayah capek cuci baju, Faza aja yang jemur. Nanti Faza bantu cuci botol susu adek juga."

Masyaa Allah, nak... Kepikiran sekali yaa sama peran baru sebagai kakak yang sebentar lagi akan kamu sandang?

Faza, anakku sayang... percaya sama Ibu, meski nanti sudah ada adek, sama sekali bukan berarti sayangnya ibu untuk kamu akan terbagi apalagi terkurangi. Sayangnya ibu justru akan berkali-lipat lebih besar sehingga tetap cukup dan rata untuk kalian berdua.

Jika nanti dalam perjalanannya kamu merasa ada sikap ayah atau ibu yang seolah berat sebelah, semoga kamu selalu punya hati yang lapang untuk memaafkan kami ya, Nak. Semoga kamu akan selalu paham bahwa itu bukan tolok ukur bahwa sayang kami ke kamu berkurang sejak ada adek.

Faza, anak pertamaku sayang... Ibu tau kamu tidak pernah memilih dilahirkan sebagai anak pertama.

Meski begitu, kamu mungkin akan menanggung beberapa konsekuensi atas sesuatu yang tidak pernah kamu pilih itu, nak. Konsekuensi yang mungkin adakalanya terasa berat.

Mungkin, ayah-ibu akan adakalanya secara tidak langsung 'menuntutmu' untuk bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adikmu. Atau membebankan tanggung jawab yang jauh lebih berat dari yang diterima adik-adikmu. Maafkan, ya nak.

Tidak apa-apa ya, nak. Karena menjadi anak pertama adalah takdir ya telah Allah gariskan untukmu, ayah-ibu yakin, Allah pun juga akan memberikan pundak yang kokoh untuk menanggung itu.

Yang pasti, meski kamu anak pertama, bukan berarti kamu harus selalu kuat, nak. Adakalanya kamu merasa lemah atau ingin menangis. Dan itu boleh. Sesekali merasa lemah justru menunjukkan sifat kemanusiawianmu. Karena sejatinya manusia memang lemah, dan justru itu kita selalu perlu meminta kekuatan dari Allah yang Maha kuat.

Dan, ingat satu hal ini, nak. Sampai kapanpun, sudah sejauh apapun langkahmu kelak, ibu akan selalu siap menjadi tempatmu pulang, saat kamu merasa butuh pelukan untuk menguatkan.

Dear Faza, anak pertamaku... frasa terima kasih rasanya tidak akan cukup untuk mewakili apa yang ingin ibu ungkapkan padamu.

Tapi apa daya, bahasa manusia terbatas, dan terima kasih memang rasanya masih jadi yang paling tepat.

Terima kasih ya, Nak. Terima kasih karena kamu adalah Guru Besar pertama dalam sejarah kehidupan ibu. Guru besar yang menemani ibu bermetamorfosis menjadi manusia baru.

Karena kamu, ibu jadi tau rasanya bertahan dari rasa sakit luar biasa lebih dari 12 jam -- yang ajaibnya langsung hilang begitu saja ketika kamu keluar.

Karena kamu, ibu jadi paham arti berjuang mati-matian untuk bisa memberimu ASI full selama 6 bulan, meski 24 jam hidup ibu rasanya jadi hanya tentang pumping pumping dan pumping.

Karena kamu, ibu jadi bisa sedikit mengalahkan ego untuk tetap bangkit dari rebahan ketika kamu mengeluh lapar. Padahal dulu, ibu akan selalu lebih memilih kelaparan daripada harus bergerak, sampai Mbahbuk harus mengalah menyuapi ibu demia tidak ingin melihat ibu telat makan.

Ya, karena kamu nak... kamu mendobrak zona nyaman yang selama berpuluh tahun ibu pertahankan.

Tapi apakah artinya ibu sudah banyak berkorban untukmu? Tidak, nak. Sama sekali tidak.

Kenapa ibu harus menyebutnya sebagai perngorbanan seolah ibu adalah 'korban'? Padahal kehadiranmu selain karena atas kehendak Allah juga karena ayah-ibu sendiri yang menginginkan.

Artinya, apapun yang ayah-ibu lakukan untukmu adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya ayah-ibu lakukan, sebagai tanggungjawab telah menjadi perantara hadirmu di dunia.

Sepertinya surat ibu sudah terlalu panjang. Semoga suatu hari kelak, entah masih ada ibu di dunia ataupun tidak, kamu punya kesempatan untuk membaca ini ya.

Sekali lagi, tanamkan di benakmu baik-baik, ibu sayang kamu tanpa syarat. Selama ibu ada di dunia, ibu berjanji akan berusaha untuk menjadi tempat paling nyaman untukmu beristirahat dari segala lelah dan bisingnya dunia.


Dari ibu yang penuh kekurangan,

tapi selalu ingin mencintaimu tanpa batasan.

Selasa, 20 April 2021

Akhirnya Faza Sekolah!

 Awal Maret lalu, Budhe Hana (orang yang sejak bayi menjaga Faza saat saya kerja) terpapar Covid-19 dan harus dirawat di Rumah Sakit kurang lebih dua minggu. Jelas kami kalang kabut memikirkan Faza sama siapa saat saya dan ayahnya kerja? Yangtitinya masih aktif bekerja, sementara akungnya meski sudah pensiun, tapi tergolong orang yang masih aktif di beberapa lembaga pemerintah. Jadi gak setiap hari di rumah. Lagipula, saya gak tega minta tolong akungnya untuk jaga Faza sendirian dari pagi sampai sore.

Alhamdulillahnya, kantor tempat saya dan suami kerja, aturannya super duper santai. Ijin untuk gak masuk kerja sangat mudah. Jadi kami ijin gantian. Sehari saya yang ijin, besoknya suami yang ijin. Ohya, sebelumnya saya juga udah swab-in Faza dan Alhamdulillah negatif. Makanya kami masih berani beraktivitas seperti biasa.

Selama di rumah saya Faza, saya jadi sadar. Intensitas Faza nonton TV sudah mulai berlebihan. Dari mana saya tau? Lha tiap kami nonton TV bareng, dia hafal semua jingle iklan, cobaaaa *CRY*. Udahlah emang saya nya kalo malem udah mager mau belajarin dia macem-macem, mentok paling baca buku, siangnya kegiatan dia kebanyakan nonton TV. Hiks.

Tapi saya gak menyalahkan budhe Hana sama sekali ya. Sedikit pun enggak. Gimanapun, beliau itu tugasnya hanya menjaga Faza selama saya kerja. Beliau gak punya jobdesc untuk mendidik.

Setelah berpikir tentang gimana caranya Faza gak terlalu sering nonton TV lagi, akhirnya saya WA teman saya yang dulu pernah kasih info soal PAUD sekaligus daycare. Apakah bisa menerima peserta didik baru atau enggak. Alhamdulillahnya, kata teman saya bisa kalau mau daftar sekarang!

Gak pakai mikir lama, saya langsung WA miss-nya, bilang bahwa hari Senin tanggal 22 Maret lalu saya akan datang ke sekolah untuk mendaftarkan Faza. Selasanya, Faza langsung masuk hari pertama.

Ohya, FYI, saya udah pernah survey daycare ini setahun lalu. Niatnya tahun lalu saya ingin mendaftarkan Faza. Tapiii, jeng jeng... tiba-tiba pandemi. Bubar jalan semua rencana. Makanya ketika kali ini akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan, bisa dibilang saya udah punya gambaran tentang daycare tersebut.

Kan masih pandemi, emang gak khawatir?

Enggak sih, Bismillah. Saya yakin aja.

Toh pas masih di Budhe Hana juga dia gak ada jaminan terlindungi dari virus. Malah interaksinya sama jauh lebih banyak orang. Sedangkan daycarenya ini, sejak pandemi, hanya ada satu anak yang fullday. Peserta didik yang lain pada halfday, itupun yang halfday diberlakukan seperti sekolah-sekolah yang lainnya, yaitu masing-masing anak masuk sekolahnya hanya sepekan sekali. Dengan jadwal yang diatur sedemikian rupa. Jadi masuknya enggak barengan semua anak.

Sekolahnya pun punya aturan tentang protokol kesehatan. Jadi, Insyaa Allah akan jauh lebih terkontrol.

Proses Adaptasinya Gimana?

Agak menguji kesabaran sih. Padahal awalnya saya dan ayahnya agak ketinggian eskpektasi sama dia. Kirain dia akan semudah itu adaptasi, ujug-ujug enjoy di sekolah baru gitu. Haha. Jangan mimpi, Marimar!

Tentu saja tidak.

Hari pertama pas saya antar, dia kelihatan nahan nangis (tapi gak nangis). Kata missnya, mau mainan tapi belum mau gabung sama teman yang lain. Maunya sendiri. Oke, mungkin karena belum kenal.

Siangnya missnya ngabari, Faza nangis heboh minta pulang. Waduh, saya panik. Tapi lalu ingat dulu ponakan saya juga gitu awal masuk sekolah. Inhale-exhale, saya mulai tenang, lalu saya video call Faza lewat missnya. Lihat wajah saya, makin keras dia nangisnya. Haha. Saya beri semangat dan afirmasi positif secukupnya. Apakah dia langsung tenang? Ya jelas tidak. Tetap nangis. Tapi kata missnya, meski sedang menangis, Faza tetap mau diajak berkomunikasi, tetap jawab setiap ditanya.

 

ekspresi di minggu kedua sekolah, saat diantar

Hari berikutnya, drama semakin menjadi. Udah rewel sejak mau berangkat. Dirayu dengan diajak jajan ke indomaret, mau. Sampe sekolah, ya tetep aja nangis. Gitu terus sampe seminggu ke depan. Tapi Alhamdulillah nangisnya maksimal cuma sampai jam 10 sih. Haha.

Seminggu pertama sekolah, mainan barunya ada 4! Itu rekor banget. Dalam rangka untuk 'hadiah', dan biar dia semangat sekolah. Hihi. Lepas seminggu, udah mulai stabil. Tapi masih ada agak rewel-rewelnya dikit. Masuk minggu ketiga, Alhamdulillah sudah aman suraman. Alhamdulillah!

Gimana Faza setelah sekolah?

Sedihnya, dia gak mau banyak cerita tentang kegiatannya di sekolah. Cerita sih, tapi sepengennya dia. Kalau ditanyain, dia malah jadi males cerita. Hih. Saya juga awalnya tanyanya salah sih. Saya tanya, 'Faza di sekolah belajar apa atadi?', Faza jawabnya, 'Faza gak belajar kok, Faza mainan'. Ahahaha, lhaiyaaa... kan di PAUD sih isinya memang mainan, cuma mainannya lebih terarah dan ada goals-nya aja.

 


Tapi Alhamdulillah missnya kooperatif sekali. Sering ngirim foto-fotonya Faza selama berkegiatan di sekolah, dan update informasi apapun.

Yang paling bikin saya senang setelah Faza sekolah sih satu: saya gak perlu masak buat bekal makan siangnya dia, karena makan siangnya sudah disediakan oleh sekolah, YEAY!

Selasa, 09 Februari 2021

Cerita Khitan Faza: Masih Kecil kok Sunat?

Saat masih hamil Faza, saya pernah nggak sengaja membaca postingan Instagram (lupa instagram-nya siapa), yang mengatakan bahwa, dari segi medis, waktu terbaik khitan/sunat seorang anak laki-laki adalah di bawah satu tahun. Lumayan kaget, karena selama ini yang lazim di lingkungan saya, anak laki-laki dikhitan rata-rata usia di atas tujuh tahun. Ada sih beberapa yang sunah dikhitan ketika masih kecil, tapi seringnya karena ada penyebab yang memang mengharuskan di baliknya. Setiap ada anak usia di bawah 7 tahun sunat, rata-rata orang akan bertanya: masih kecil kok sunat?


Ketika Faza lahir, ingatan tentang postingan usia terbaik anak laki-laki khitan itu kembali lagi. Lalu terbersit keinginan untuk mengkhitankan Faza saat bayi. Karena selain ternyata memang direkomendasikan oleh kacamata medis, kalau dipikir-pikir khitan saat masih bayi rasanya akan jauh lebih simpel.


Kenapa simpel? Yah, kalau misal setelah khitan jadi rewel kan tinggal dinenenin. Gendong juga masih enteng. Toh enggak karena dikhitan pun, adakalanya bayi rewel semalaman kan. Jadi sekalian gitu repot dan begadangnya. Hehehe.


Tentu saja niatan itu ditolak oleh keluarga saya, terutama Ibu. Karena, ya nggak lazim di mata mereka. Jadi yawis akhirnya niatan itu saya urungkan. Tapi keinginan untuk mengkhitankan Faza sesegera mungkin masih selalu ada dalam benak saya dan mas suami.


Sejak Faza sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah -- kurang lebih usia 1,5 tahun, kami mulai intens mensounding Faza untuk dikhitan. Kami menjelaskan ke dia bahwa Faza anak laki-laki, dan anak laki-laki harus dikhitan.


Nah, karena kami sudah sounding dari jauh-jauh hari, kami jadi tinggal nunggu dia siap saja. Jadi prosesnya mirip saat menyapih. Tinggal nunggu moment 'aha'-nya dia, cepat atau lambat dia akan bilang mau dan siap.

 

Baca juga: Menyapih dengan Cinta


Dan benar ternyata. Faza menemukan moment 'aha'-nya ketika kakak sepupunya dikhitan. Dia tiba-tiba bilang, "Ibu, aku mau dikhitan juga seperti Mas Danish"


Wow, tentu saja saya dan ayahnya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.Kami segera mengatur rencana: kapan, mau sunat di mana, dll. Setelah berunding dengan Akung dan Yangtinya Faza, akhirnya kami sepakat mengkhitankan Faza pada tanggal 4 Desember 2020 lalu. Selang lama banget yaaa dengan saat cerita ini ditulis, hehe. 


Saat itu, kami sempat galau mau menggunakan metode sunat apa. Awalnya saya berniat memakai metode clamp. Sudah sempat menghubungi Rumah Khitan yang bersedia Home Service juga. Tapi setelah berunding lagi, kami akhirnya memutuskan agar Faza disunat oleh tetangga kami yang seorang dokter dan memang sudah terbiasa mengkhitan anak, dengan metode laser.


Saat Proses Khitan


Saat proses khitan berlangsung, tentu saja kami semua tegang. Bisa jadi kami yang mendampingi yang jauh lebih tegang dibanding Faza, Fazanya manempatkan dirinya sendiri di tempat tidur malah. Hehe.


Yang membuat lebih tegang adalah, saat dokter sudah memotong kulit ujung penisnya, dan akan melanjutkan proses selanjutnya, tiba-tiba dokter bilang, "Lho..." dengan nada agak kaget. Jangan tanya saya paniknya seperti apa, meski tentu saja harus berusaha tetap tenang.


Ternyata, kulit penis Faza yang harus dipotong agak banyak, dan pemotongan yang pertama masih kurang. Jadi harus dipotong lagi. Setelah dipotong kedua kali, baru ketauan bahwa ternyata sudah mulai ada perlengketan antara kulit dan kepala penisnya, atau bisa dibilang sudah mulai gejala fimosis. Jadi kata dokter, keputusan untuk mengkhitankan Faza sekarang adalah keputusan yang sangat tepat. Alhamdulillah.


Nah tapi, karena ada perlengketan, tentu saja hal ini membuat proses khitan jadi makin lama. Di tengah-tengah proses menjahit, efek obat bius lokalnya sepertinya sudah mulai hilang, jadi Faza bisa merasakan saat dia dijahit, Hiks. Jelas saja dia nangis teriak-teriak. Tapi Alhamdulillah masih sangat terkendali.


Setelah Khitan Rewel Nggak?


Hampir semua orang juga bertanya seperti ini.

 

Kurang Lebih 3 Jam Setelah Sunat

 

Setelah proses khitan selesai, jelas Faza sempat menangis heboh. Mungkin sekitar setengah jam. Sempat muntah juga gara-gara oleh dokter kami disuruh langsung meminumkan obat pereda nyeri, dan Faza masih sambil nangis.


Alhamdulillahnya, proses khitannya dilakukan siang hari. BErte[atan dengan jam tidur siang Faza, Jadi, setelah capek nangis dan minum obat, dia langsung bobok. Puleeeess banget.


Setelah bobok, ya udah. Nggak ada rewel-rewel lagi. Alhamdulillah. Nangisnya paling kalau mau dioles salep, karena dia parno duluan. Hehe.


Berapa Hari Proses Pemulihannya?


Tepat seminggu, Alhamdulillah Faza sudah pulih total. Meskipun dalam seminggu itu, sempat diwarnai bengkak, karena Faza nggak bisa disuruh diem.

 

Hari ke-3 udah bisa gaya, LOL

 

Saat bengkak itu, saya sempat agak panik. Karena (maaf), bentuk penisnya jadi nggak beraturan. Saya khawatir nggak bisa balik lagi bentuknya, Huhu. Alhamdulillah kekhawatiran saya nggak terjadi.


Legaaaa banget rasanya, punya anak laki-laki dan sudah mengkhitankannya. Tinggal nunggu moment dia minta ijin untuk nikah. Huehehehe.


Jadi, bagi buibu pakbapak yang berniat mengkhitankan anaknya sedini mungkin, nggak usah khawatir yaaa. Semangat :)

Senin, 02 November 2020

Cerita Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Sebahagia-bahagianya punya anak, pasti ada titik di mana kita merasa 'ini kok menguji kesabaran banget ya?'. Iya, kan?

Anak Ibu A, perkembangan motoriknya oke banget. Tapi makannya susah setengah mati.

Anak Ibu B, makannya gampang banget, sama sekali nggak picky eater, tapi sering banget tantrum.

Anak Ibu C, anaknya manis, jarang tantrum, tapi beberapa perkembangan motoriknya butuh stimulasi khusus.

Dan masih banyak sekali kombinasi lain. Yang jelas, setiap anak itu unik. Dan setiap ibu punya ujiannya masing-masing.

Dalam setiap sesi obrolan dengan teman sesama ibu saya selalu bilang, ujian terberat saya dari punya anak adalah saat menghadapi trauma BAB Faza. Bukan tentang flat foot-nya.

Baca: Tentang Flat Foot-nya Faza

Yep, Faza sempat mengalami trauma BAB berkepanjangan, dan benar-benar menguras energi, air mata, kesabaran -- dan nggak ketinggalan, materi. Keinginan untuk menuliskan cerita tentang trauma BAB yang Faza alami sudah ada sejak lama. Tapi saya selalu merasa nggak siap. Karena, beneran deh, rasanya nyesek banget. Akhirnya saya memutuskan untuk bertekad menuliskannya saat Faza sudah bisa dikatakan pulih dari trauma tersebut.

 

trauma-BAB-berkepanjangan

 

Dan Bismillah, here we go!

Awal Mula Faza Trauma BAB

Sejak Faza masih hanya mengonsumsi ASI, BAB-nya memang cenderung jarang banget. Kalau banyak orang cerita bayi bisa BAB beberapa kali dalam sehari, Faza enggak. Pernah bahkan sampai seminggu lebih dia nggak BAB. Tapi karena saat itu dia hanya mengonsumsi ASI, dan dari hasil browsing sekaligus konsul dengan dokter katanya nggak masalah karna masih bayi ASI, ya sudah saya nggak merasa itu masalah.

Yang jadi masalah adalah ketika dia mulai MPASI, tentu saja. Dengan pengetahuan saya yang sangat minim saat itu tentang per-MPASI-an, tapi sok tau banget, siklus BAB Faza masih tetap nggak lancar. Tiga hari sekali itu sudah termasuk yang paling cepat. Tapi Faza nggak menunjukkan tanda-tanda dia merasa nggak nyaman dengan perutnya. Makan tetap banyak. Nggak pernah GTM sama sekali.

Sampai suatu hari, sepulang jalan-jalan dengan beberapa teman kuliah saya, Faza tiba-tiba rewel sekali. Saat itu, dia -- kalau nggak salah -- udah hampir seminggu nggak BAB. Iya, saya tau saya salah karena kok ya dibiarin aja anak seminggu nggak BAB.

Saat itu Faza usia 9 bulan. Untuk pertama kalinya dia sembelit. BAB-nya keras sekali. Nangisnya heboh dan seperti sangat kesakitan. Jelas saya ikut nangis.

Dan dari situlah trauma BAB faza bermula. Sejak hari itu, nggak pernah sekalipun Faza BAB tanpa menangis ketakutan.

Trauma BAB Berkepanjangan, bak Lingkaran Setan

Saya kira, sembelit saat itu nggak akan berkepanjangan. Sayangnya, perkiraan saya salah besar.

Tadinya, saya selalu berharap, semakin besar Faza akan semakin paham bahwa BAB itu bukan hal menakutkan. Kenyataannya, semakin besar dia justru semakin pandai menahan BAB-nya, yang akhirnya menjadi lingkaran setan.

Trauma BAB --> nahan BAB --> BAB jadi keras dan sakit --> makin trauma lagi

Muter gitu aja terus, dan bikin saya berkali-kali merasa kehilangan harapan.

Saya nggak berlebihan ketika bilang merasa seperti kehilangan harapan, padahal 'cuma' soal trauma BAB. Kalian nggak akan bilang 'cuma', jika tau seperti apa Faza setiap hendak BAB.

Nangisnya seperti anak yang sedang disiksa oleh ayah-ibunya. Meraung-raung. Setiap BAB, kamar mandi rasanya seperti neraka. Dan lagi-lagi, seperti lingkaran setan.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya -->> dan seterusnya. Bahkan beberapa kali dia sampe gloseran di lantai kamar mandi *CRY*.
Ya Allah, nyeritain ini aja rasanya bikin saya capek banget karena masih merasakan betapa terkurasnya emosi saya saat itu :(

Perjalanan Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Hampir setiap orang yang tau cerita soal Faza yang BAB-nya susah alias selalu sembelit, pasti akan bilang: dikasih sayur dan buah dong!

Padahal ya, berani taruhan, Faza makan JAUH LEBIH BANYAK sayur dan buah dibanding anak mereka-mereka semua yang bilang seperti itu!

Yang bikin saya bingung, beberapa artikel bilang bahwa anak batita justru tidak disarankan makan terlalu banyak buah dan sayur. Tapi ketika datang ke dokter spesialis anak, ada dokter yang setuju dengan isi artikel tersebut, namun ada pula yang tidak setuju dan tetap menyarankan memperbanyak sayur dan buah. Pusing!

Apa saja cara yang kami tempuh untuk menyembuhkan trauma BAB Faza?

Rasanya hampir semua cara yang kami tau, sudah pernah kami coba.

Pergi ke dokter, tentu saja. Oleh mereka dikasih resep prebiotik dan obat pengencer poop yang cukup menguras kantong. Apakah ada hasilnya? Nope. Nggak ada hasil signifikan.

Oleh tetangga yang bekerja di sebuah klinik dokter, pernah menyarankan sebuah obat pencahar. Yang konon manjur banget, karena ibunya yang sempat sembelit parah, minum obat itu sekali, poop-nya langsung lancar jaya. Bahkan kata beliau, saat minum agak kebanyakan dikit, poop-nya malah jadi 'terlalu lancar'.

Jelas saya langsung beli obat yang sama. Hasilnya? Nihil. Bahkan saya sempat nekat memberi Faza lebih banyak dari takaran sebenarnya, dan tetap nggak ngaruh sedikit pun!

Betapa sakti mandragunanya anak saya dalam hal menahan hasrat BAB-nya -_____-

Yogurt dari yang mahal sampai yang biasa saja? Sudah.

Yakult? Hampir tiap hari.

Pernah juga saya sengaja ngasih makanan pedas. Dengan harapan dia diare. Bayangkan, ibu macam apa yang bisa-bisanya pernah sangat berharap anaknya diare?! Ya itu, saking hopeless-nya. Saya pikir, kalau Faza diare, mungkin akan mengubah pola pikir dia tentang betapa susah dan sakitnya mengeluarkan poop.

Sayangnya, lagi-lagi harapan saya nggak terkabul. Faza hampir nggak pernah diare, malah sejak saat itu dia jadi doyan makan pedas. Saat itu saya bahkan bingung harus bersyukur atau nggak untuk hal ini. Haha!

Cara terakhir yang kami andalkan dalam setiap sesi per-BAB-an Faza adalah: microlax.

Pakai Microlax, hampir selalu berhasil membuat pup Faza keluar, meski pernah juga beberapa kali tetap nggak keluar, atau butuh 2 microlax sekali BAB. makanya saya bilang, nggak cuma menguras emosi, air mata, dan kesabaran. Kantong pun ikut terkuras. Bayangkan, tiap dia BAB, kami harus mengeluarkan uang minimal dua puluh lima ribu. Mewah sekali BAB anak saya. Hihi.

Sayangnya, di mata Faza, cara pakai Microlax itu menakutkan. Dia nangis makin-makin heboh tiap kami akan member dia Microlax. jadi tambah satu lagi kan lingkaran setannya.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya --> kami memberi microlax --> nangis makin-makin-makin heboh --> Faza makin-makin trauma --> dan seterusnya.
Tapi ya gimana lagi, hanya Microlax yang bisa kami andalkan agar poop Faza keluar. Meski sedih luar biasa melihat dia ketakutan saat dikasih Microlax, kami lebih nggak mau membuat dia harus masuk Rumah Sakit karena poop-nya nggak keluar :((

Sounding? Hampir setiap hari. Saya bahkan membelikan dia buku bertema ajakan untuk poop, demi mengubah persepsinya tentang poop. Saya pernah berpikir ingin membawa Faza untuk hypno-therapy. Tapi belum kesampaian karena minim info tentang ini.

Baca juga: Rekomendasi Buku Favorit Faza

Dulu, setiap habis menemani Faza BAB, saya pasti selalu kehabisan energi. Lemes. Efek dari perasaan sedih, capek, marah, bercampur menjadi satu. Dan hampir pasti, saya pasti menangis. Sibuk menyalahkan diri sendiri kenapa Faza jadi seperti itu.

Saat itu, tiap melihat poop Faza keluar, rasanya saya seperti melihat emas! Rasa leganya bahkan mirip dengan saat saya berhasil mengeluarkan dia dari perut saya.

Butuh Hampir Tiga Tahun Untuk Bisa Melihat Faza BAB Tanpa Menangis

Harapan terbesar saya saat itu, betapa inginnya saya melihat Faza BAB tanpa menangis, seperti anak-anak pada umumnya. Harapan yang patah entah berapa ratus kali, lalu dengan susah payah saya tumbuhkan lagi.

Sounding yang biasanya selalu efektif saat saya menyapih dan mengajari dia untuk tidak pipis di diapers pun rasanya tidak kunjung menuai hasil.

Doa seusai sholat pun yang utama adalah 'sembuhkan Faza dari trauma BAB-nya, Ya Rabb'. Ya, doa adalah senjata terakhir saya. Saat saya benar-benar nggak tau lagi harus gimana.

Ternyata, semua itu bukan tidak membuahkan hasil. Hanya saja, butuh waktu hampir tiga tahun untuk saya akhirnya bisa melihat Faza bisa BAB tanpa menangis heboh. Saya lupa bagaimana persisnya awal mula Faza mulai pulih.

Sepertinya memang karena dia sudah mulai bisa mencerna pengertian, bahwa setiap orang BAB, BAB itu harus, kalau BAB ditahan nanti semakin sakit karena keras, dll. Kalimat yang sudah saya ulang hampir ribuan kali.

Alhamdulillah, di usia 3,5 tahun Faza perlahan mulai pulih dari trauma BAB-nya. Meski masih harus merayu untuk BAB, setidaknya dia tidak lagi histeris mendengar kata 'ayo BAB'.

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.

Trauma BAB Faza, mungkin meninggalkan luka batin pada diri Faza. Karena dalam perjalanan panjang menyembuhkan trauma BAB-nya, entah berapa kali kami -- ayah-ibunya -- membentaknya, membuatnya ketakutan. Ya Tuhan, sedih banget tiap ingat masa-masa itu. Sediiiih banget.

Mungkin, trauma ini akan membekas pada diri Faza sebagai luka pengasuhan. Mungkin akan membekas pada diri faza sebagai inner child. Saya janji pada diri saya sendiri, kelak saat Faza dewasa, saya akan meminta maaf secara khusus atas masa-masa itu. Saya menulis ini pun, salah satunya agar semoga kelak dia bisa membacanya.

Terima kasih untuk siapa saja yang telah bersedia membaca cerita saya ini :)

Sabtu, 15 Agustus 2020

#CeritaFaza: Fase Threenager

Selamat tinggal masa tantrum, selamat datang masa drama. Hihihi.

Konon, masa-masa anak usia dua tahun itu seringkali diisi dengan seringnya si anak tantrum. Hampir tiap hari. Dulu saya ingin mengingkari teori itu. Ah, enggak. Anakku pasti manis. No tantrum-tantrum club.

Ternyata? HAHAHA. Bye-bye impian, selamat datang kenyataan. Faza tantrum hampir setiap hari di masa dua tahunnya. Dan itu bikin capek. Banget.

 


Sejak saat itu, saya memilih untuk percaya sama teori selanjutnya, yaitu tentang fase tiga tahun yang sering diberi istilah threenager, dan berharap fase itu segera datang, hihihi.

Kenapa disebut threenager? Karna anak usia tiga tahun konon polah tingkahnya bakal mirip seperti anak Teenager. Suka berargumen, mau coba melakukan segala sesuatunya sendiri, suka ngambek, dll. Wow, kayaknya akan jauh lebih ringan ya dibanding fase terible two.

Dan ternyata bener!

Semua yang dikatakan teori tentang threenager itu terjadi pada Faza. Sejak masuk usia dua tahun, dia udah hampir nggak pernah tantrum. Udah lebih bisa dikasih pengertian. Di fase terible two, saat ada yang nggak sesuai keinginannya, respon yang dia tunjukkan adalah dengan nangis teriak-teriak. Kadang ditambah pukul-pukul nggak karuan.

Di fase threenager, saat ada yang nggak sesuai dengan keinginannya, dia akan berargumen saat kami memberi pengertian. Saat argumentasinya nggak bisa kami terima, dia akan ngambek. Ngambeknya beneran mirip sama anak teenager. Hihihi.

Setelah masuk usia tiga tahun, Alhamdulillah Faza tergolong sudah bisa mengelola emosi dengan sangat baik. Mungkin karna di usia 2 tahun, saya memang cenderung fokus mengenalkan beragam emosi ke dia, dan cara mengelolanya.

Jadi catatan penting yang harus saya garisbawahi adalah, jika ingin masa tantrum tidak berkepanjangan, fokus mengenalkan emosi ke anak di masa tantrumnya. Tentang senang, sedih, marah, kecewa. Beri label untuk semua emosinya, dan beri tahu dia gimana cara menyalurkan emosinya itu dengan benar.

Soalnya ada juga anak teman saya yang sudah masuk usia tiga tahun tapi masih struggling sama masalah emosi anaknya yang meledak-ledak. Yah meskipun mungkin ada faktor karakter tiap anak memang beda.

Di usia tiga tahun ini, kemampuan Faza mengolah kata semakin luar biasa, Masyaa Allah. Berbanding lurus dengan kemampuan berargumennya, eerrrrr -_-

Tidak jarang, saya dan ayahnya kadang harus terdiam lamaaa untuk mikirin harus jawab apa. Saking masuk akalnya argumentasinya dia.

Dari sisi kemandirian, sepertinya ayahnya punya perna yang jauh lebih besar dibanding saya. Gimana lagi, Faza kalo sama ibu pasti manja sekali, huhu. Disuruh belajar pakai dan lepas baju dan celana sendiri aja bisa nangis bombay kalo sama ibu. Padahal kalau sama ayah mau. Sekarang Alhamdulillah udah mulai lancar, meski masih butuh sedikit bantuan.

Ambil minum sendiri ke dispenser juga sudah pandai. Makan sendiri sudah tidak terlalu berantakan. Wow, anakku sudah besar!

Nah, tapi saya punya kegalauan di fase threenager ini. Saya bertanya-tanya, kenapa Faza belum punya ketertarikan sama kegiatan yang menggunakan alat tulis? Lalu kapan waktu yang tepat mengenalkan huruf dan angka ke dia? Karna di satu sisi, saya ingin segera mengenalkan, takut telat. Di sisi lain, saya nggak ingin maksa dan bikin dia jadi punya kesan pertama yang buruk dengan angka dan huruf.

Tadinya, saya berencana masukin dia ke PAUD kan tahun ini. Tapi apa daya, qodarullah ada pandemi Covid-19. Mau maksa didaftarin, yang ada paling ibunya yang ngerjain tugas. Sudahlah bayar, eh nggak maksimal dampaknya ke anak. Jadi ya sudah memutuskan untuk ditunda tahun depan. Semoga pandemi segera berakhir.

Huhu, galaw!

Senin, 02 Maret 2020

Rangkuman Usia 2 Tahun Faza

Beberapa saat lalu, saya tiba-tiba sadar. Saya minim sekali nulis satu tahun terakhir ini. Banyak sekali yang saya lewatkan untuk ditulis, tidak terkecuali cerita-cerita tentang tumbuh kembang Faza.

Saya hampir nggak nulis cerita tumbuh kembang faza di masa usia 2 tahunnya sama sekali. Sedih :(

Karna suatu saat, pasti adakalanya saya ingin memanggil ingatan saya tentang masa-masa Faza berusia 2 tahun.

Tapi karna sudah terlanjur lewat, yang bisa saya lakukan adalah melakukan perbaikan. Dalam hal ini, saya akan mencoba menulis rangkuman masa 2 tahun Faza. Berdasarkan beberapa ingatan, dan dokumen-dokumen pendukung. Halah.

Dokumen pendukungnya cuma data di Primaku, foto dan video, serta ingatan-ingatan yang masih berhasil tersimpan kuat di memori sih.



Oke deh, Bismillah, saya mulai.

Biar gampang, saya akan pake 5 aspek tumbuh kembang balita:

1. Aspek Fisik

Dari segi aspek fisik, Alhamdulillah Faza bisa dibilang tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan di usia 2 tahun ini. Berat  badannya naik kurang lebih 2 Kg dalam setahun terakhir, sesuai dengan kriteria. Begitu juga tinggi badannya yang Alhamdulillah masuk kategori ideal menurut aplikasi Primaku.


Bersyukur sekali meskipun saya alpa mencatat detail tumbuh kembang Faza di blog ini, seenggaknya di Primaku saya nggak lupa meng-update data tiap beberapa bulan sekali. Jadi saya bisa tracking pertumbuhannya.

2. Aspek Kognitif

Saya jujur agak bingung sih menjabarkan bagian aspek kognitif ini.

Ini aspek yang mungkin saya banyak alpa dalam menstimulus dan memantau perkembangannya secara serius. Tapi saya merasa perkembangannya sudah sesuai usia.

Dia sudah bisa memahami cerita dengan baik, sudah mulai paham tentang konsep sebab-akibat. Bahkan dia sudah bisa diminta untuk me-retelling sebuah gambar di buku ceritanya. Faza sudah hafal warna di usia 2 tahunnya, sudah paham konsep besar-kecil, atas-bawah, sekarang-nanti.

3. Aspek Bahasa

Ini sih udahlah... Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Faza dapet turunan gen dari ayah ibunya yang suka ngomong (meski kalo lagi mode diem ibunya suka males ngomong hehehe).

Aspek bahasanya Faza berkembang sangat pesat di rentang usia 2 tahunnya. Di awal-awal usia dua tahun, dia mulai bisa bicara satu kalimat utuh yang terdiri dari 3 kata. Contoh, "Adek mau maem" -- tadinya cuma "Maem... maem".

Kalau sekarang sih, hmmm... udah nyaingin ibunya. Udah bisa cerita panjang kali lebar. Kayaknya bisa cerita panjang itu baru beberapa bulan terakhir ini, alias 2,5 tahunan kurang lebih.

Sekarang Faza udah mulai bisa protes, udah mulai bisa berpendapat dan bernegosiasi.

Ohya, perkembangan yang kelihatan sekali adalah pelafalan per katanya yang makin sempurna. Tadinya, Faza cenderung 'males' melafalkan kata dengan pelafalan yang sempurna -- cenderung sering menghilangkan huruf konsonan. Misal, kata "dimana', dia akan melafalkannya dengan "diana". "Kuda, jadi "Uda". Dll. Sekarang (baru dua mingguan terakhir ini), dia udah mulai terbiasa melafalkannya kata per kata dengan lebih sempurna.

Thanks to Uwak Onang yang bikin kami aware soal ini. Tadinya saya nggak merasa harus mengoreksi, karna merasa 'sudah paham' meskipun dia nggak bener ngomongnya, dan merasa nanti juga lama-lama bener sendiri. Ternyata memang harus dikoreksi.

4. Aspek Sosial

Di awal usia 2 tahun, beuh Faza egosentrisnya luar biasa -- yang mana memang sangat wajar. Keakuannya sangat tinggi. Termasuk soal kepemilikan.

Saya sempet dibikin nggak enak kalo Faza nggak bersedia meminjamkan mainan ke teman seumurannya. Padahal si teman seumuran itu nggak pernah segan meminjamkan mainannya atau berbagi makanan dengan Faza. Mungkin karna si teman sepermainan itu punya kakak yang jeda umurnya sedikit sekali, jadi sudah terbiasa berbagi di rumah.

Kalau sama orang yang lebih tua, Faza dari dulu terkenal ramah. Makanya dia punya beberapa fans fanatik orang sepuh. Hihi. Tiap lewat, Faza sering nyapa. "Eyaaang...", atau "Budheee...", gitu. Hihi, Alhamdulillah sifat ibunya yang kadang suka males nyapa gak kebawa sama Faza. Kalau disapa atau diajak bicara juga Faza sering menjawab dengan baik. Alhamdulillah.

Kemampuannya beradaptasi di lingkungan baru juga Alhamdulillah gak sesusah yang saya kira dulu. Dia ternyata cenderung mudah akrab dan adaptasi. Pernah suatu hari saya ajak dia ke kantor, dan dia enjoy aja. Sama temen-temen kantor pun nggak segan salim, ngobrol, dll.

5. Aspek Emosional

Ini nih yang paling kerasa bangettt di usia 2 tahunnya Faza. Soalnya aspek ini menguji kesabaran saya dan mas suami sekali. Haha.

Kalau usia 2 tahun sering dibilang sebagai terrible two, saya setuju banget. Karna begitu yang terjadi di Faza. Sering tantrum? Beuh, sering banget. Terutama di setengah tahun pertama usia 2 tahunnya dia. Emosinya meledak-ledak sekali. Mulai agak kalem kayaknya 3 bulanan terakhir ini deh.

Saya sampe kadang mikir, ini kenapa masa tantrumnya awet banget, apa karna saya sering kalah? Apa karna ada yang nggak bener dari cara kami mengatasi tantrumnya dia?

Tapi setelah direnungi lagi, rasanya kami hampri nggak pernah kalah -- dalam artian akhirnya ngasih apa yang dia mau (yang tadinya nggak dibolehin) hanya gara-gara dia tantrum. Kami cenderung konsisten. Yang kami belepotan banget itu soal mengatasi emosi kami.

Jujur aja nggak jarang kalo Faza tantrum, saya atau ayahnya kadang suka ikut tantrum. Huhu, Padahal harusnya nggak boleh. Kalo dia tantrum, kitanya ikut tantrum, yang ada tantrumnya nggak bakal selesai-selesai. Kalo kita tantrum, harusnya kitanya stay cool. Tapi percayalah, menghadapi anak tantrum saat lelah raga dan pikiran itu sungguh ujian hidup.

Di luar ke-5 aspek di atas, ada beberapa point juga yang rasanya harus saya tulis dalam rangkuman ini.

  • Konsisten No Gadget

Ini salah satu hal yang saya syukuri dan apresiasi dari diri saya sendiri sebagai orangtua. Alhamdulillah di antara banyaknya wacana yang akhirnya nggak mampu saya realisasikan, konsisten no gadget menjadi satu dari sedikit hal yang bisa saya lakukan.

Enggak 100% no gadget sih. Karna memang bukan itu goal saya. Faza sesekali (jarang sekali) saya pinjami ponsel saya, tapi hanya untuk lihat video-videonya sejak bayi.

Sedangkan di ponsel ayahnya, memang sengaja kami menyiapkan video kesukaannya yang tersimpan di gallery, untuk pertolongan di kondisi-kondisi darurat. Misalnya sedang di luar rumah, dan dia bosan atau rewel. Kenapa harus disimpan di gallery? Biar pilihannya terbatas, jadi lama-lama dia akan bosan juga. Kalau di youtube kan pilihannya tak terbatas. Adaaaa terus video lain yang akan bikin pengen lagi, pengen lagi sampai akhirnya kecanduan.

Dia dikasih nonton youtube nggak? Dikasih kok. Tapi lewat komputer, dan hanya di hari sabtu/ahad. Lewat ponsel pernah nggak? Pernah, tapi bisa dihitung jari satu tangan.

  • Toilet Training

Faza mulai toilet training kalo nggak salah bulan Ramadhan 2019 lalu. Sudah berhasil? 50:50 sih.

Kalau soal pipis, selama dia nggak dalam kondisi tidur, dia pasti akan minta pipis ke kamar mandi. Bahkan misal saat pergi dan saya pakaikan diapers pun, dia sering merengek minta pipis di kamar mandi. Cumaaa, kalau pas tidur dia masih belum bisa. Jadi ya kalau tidur masih selalu pakai diapers.

Sebenernya ini salah saya sih. Dulu dia udah sempet lho minta ke kemar mandi saat malam tiap pengen pipis. Tapi dalam satu malam dia bisa sampe 3-4 kali pipisnya. Paginya, saya pusing banget mirip pas dia masih nenen dulu hiks. Akhirnya saya nyerah. Biarin deh kalo malem pake diapers aja. Haha. Dasar emak lemah.

Poopnya gimana?

Oh, kalo poop mah dari sebelum usia 2 tahun juga udah selalu ke toilet. Karna apa? Lha poopnya aja harus dirayu setengah mati dulu -___-

Iyap, trauma BAB-nya Faza masih berjalan sampai sekarang. Dan ini salah satu yang bikin saya sediiiih banget. Sedih tiap dia mau BAB nangis-nangis seolah kesakitan sekali. Padahal mah poopnya enggak keras dan saya yakin enggak sakit. Dia cuma trauma.

  • Terapi Flat Feet

Ohiya, di usia 2 tahun, Faza juga sempat menjalani terapi okupasi dan fisioterapi di RS Nasional Diponegoro Semarang.

Terapinya ngaruh nggak?

Kalau ke struktur tulang sih hampir nggak ada pengaruh sama sekali ya. Karna selain terapi, Faza kan harus pakai sepatu koreksi yang mana dia nggak konsisten pakai. Sekarang malah udah nggak dipakai sama sekali. Saya pun sebagai orangtua emang nggak terlalu serius maksa dia sih.

Tapi kalau ke keseimbangannya, terapinya membantu sekali sih. Terutama karna kami juga mendukungnya dengan ngasih dia balance bike.



Selengkapnya sudah saya ceritakan di postingan ini.

  • Kesukaan

Faza udah mulai punya idola. Siapa? Upin-Ipin. Haha.

Kayak nggak bosen-bosen. Tiba juga masanya saya hafal cerita Upin-Ipin karna tiap hari nemenin dia nonton. Haha.

Selain itu dia juga mulai tertarik sama beberapa tokoh Action Figure. Terutama Ultraman. Dulu saya punya keinginan agar anak-anak saya nggak kenal tokoh-tokoh Action Figure sih sebenernya. Yah, tapi apa daya. Saya kan enggak 24 jam sama dia.

Dia juga sekali mobil-mobilan. Terutama mobil pemadam kebakaran. Hihi.

  • Soal makan gimana?

Masyaa Allah, ini hal yang amat sangat saya syukuri. Faza tipe anak yang gampaaaaang sekali makannya. Sama sekali bukan picky eater. Makannya banyak. Bahkan seringkali saya yang harus memaksa dia berhenti. Tapi, makanan yang akan bikin dia makan dengan sangat lahap adalah: nasi, plus ayam goreng atau lele goreng dan sambal. Yup, Faza doyan makan sambal sejak usia 1 tahun. Hihi.

Udah sih, kayaknya hampir semua point masa 2 tahun Faza sudah terangkum di atas. Meski tetap saja saya kehilangan banyak detail kejadian atau perasaan yang alpa terabadikan lewat tulisan. Tapi nggak papa-lah. Seenggaknya tulisan ini nggak akan bikin saya clueless-clueless amat saat suatu hari nanti ingin mengingat masa 2 tahun Faza.

Mohon doa ya teman-teman, agar Faza selalu sehat dan selau dalam lindungan Allah yang terbatas perlindungannya :)

Rabu, 25 September 2019

Review Balance Bike Maynine

Pertama kali tau tentang balance bike itu saat masih hamil Faza. Taunya kalo gak salah dari artikel di the asian parent dan dari blognya Mbak Annisast tentu saja.

Reaksi saya pertama saat tau balance bike -- gak jauh berbeda -- dari reaksi pertamanya kebanyakan orang sih. Idih, sepeda kok nggak ada pedalnya? Kok aneh? Biar apa coba?


Tapi Alhamdulillahnya, saya enggak lantas berhenti mencari tau lebih lanjut meski kesan pertamanya terasa agak aneh. Saya baca beberapa artikel tentang balance bike. Setelah tau manfaatnya, saya langsung pengen banget beliin Faza balance bike.

Sejak Faza bisa jalan, saya beberapa kali survey harga balance bike secara online. Pas tau gambaran harganya, jujur aja saya agak pesimis bisa beliin Faza, karna belum ada gambaran anggarannya. Jadi sempet yang, udahlah kayaknya gak bakal beliin balance bike Faza.

Tapi Qodarullah, menjelang Ramadhan tahun ini, ada teman di grup kuliah WA Bengkel Diri yang saya ikuti, yang menawarkan PO balance bike Maynine, dengan harga enam ratus ribu rupiah saja. WOW!

Langsung deh gerak cepat diskusi sama paksu. Dan akhirnya kami mengambil keputusan untuk ikut PO-nya. Pas banget momentnya kami terima THR soalnya. Hihi.

Balance bike dikirim langsung dari Maynine Jakarta, dan kami terima kayaknya pas bulan Ramadhan, menjelang libur lebaran.

Sampai saat ini, balance bike merupakan mainan termahalnya Faza yang kedua setelah Hafidz Doll. Kenapa akhirnya memutuskan beli? Ya karna menurut saya sebanding dengan manfaatnya.

Baca: Kriteria Mainan yang Saya Belikan Untuk Faza

Review Balance Bike Maynine

Foto detail Maynine Insya Allah menyusul
Setahu saya, balance bike merk lokal masih sangat terbatas pilihannya. Dan Maynine merupakan satu dari yang sedikit itu. Itu alasan utama kenapa Maynine tergolong murah meriah. Karna dia produk lokal.
Saat barang datang, ayahnya Faza sempet agak bingung ngrakitnya. Karna di dalam kardus, nggak ada manual perakitannya. Tapi setelah otak-atik ya akhirnya bisa sih.

Dalam waktu seminggu kalo nggak salah, sadel bagian belakangnya  udah ngelupas. Haha.

Gara-garanya, karna Faza masih agak takut (karna masih awal-awal), jadi sadelnya sengaja dibikin ayahnya di posisi paling rendah, Eh ternyata saat dipake jalan, sadel bagian belakangnya tuh bergesekan sama roda sepeda. Padahal itu cuma beberapa kali pake lho. Artinya, bahan sadelnya kurang kuat sepertinya.

Rodanya sendiri merupakan tipe roda tubeless, alias roda tanpa ban dalam. Konon roda ini anti kempes ya kalo gak salah. Tapi ya kalo udah licin gak ada geriginya itu, ya artinya harus beli baru rodanya.

Bahan kerangka sepeda maynine ini terbuat dari besi. Kuat sih, tapi bukan yang besi anti karat. Jadi sepedanya Faza, sudah berkarat di beberapa bagian.

TAPI, semua kekurangan di atas bagi saya sangat bisa dimaafkan, mengingat harganya yang sangat ramah di kantong saya pribadi. Yang penting gak mengurangi manfaat utama dari balance bike. Itu prinsip saya. Nanti kalo pas Faza punya adek, terus balance bike-nya ternyata udah rusak, ya udah beli lagi aja. Hehehe.

Bagi kalian yang punya budget lebih dan berprinsip mahal gak papa asal awet sih sepertinya mending pilih merk lain seperti london taxi atau strider.

Manfaat Balance Bike 


Meski di atas saya sudah sedikit menyinggung tentang manfaat balance bike, yaitu untuk melatih keseimbangan, saya pengen memaparkan lagi manfaat yang saya lihat sendiri dari Faza sejak dia sering pakai balance bike.

Di daerah tempat tinggal saya, kayaknya Faza anak pertama yang pakai balance bike. Jadi gak heran banyak banget yang komentar dan tanya soal balance bike ke saya. Dari pertanyaan yang paling awam seperti; kok sepeda gak ada genjotannya?, sampai pertanyaan yang lebih spesifik; apa manfaatnya?

Oh, satu lagi. Banyak juga yang ngira, balance bike ini dikhususkan untuk anak dengan kondisi khusus seperti Faza yang flat foot. Jadi sekalian di sini saya tegaskan, TIDAK ya. Balance bike itu sama seperti sepeda pada umumnya, yang bisa dipake dan bermanfaat untuk semua anak -- tanpa kondisi tertentu sekalipun.

Baca: Tentang Flat Foot-nya Faza

Setelah Faza intens pake balance bike, beberapa manfaat yang saya lihat adalah:

1. Keseimbangannya jadi jauh lebih terlatih. Dia udah sampe pada fase ngebut, lalu dua kakinya diangkat gitu. Duh, susah jelasinnya. Pokoknya kayak naik sepeda biasa gitu, cuma nggak genjot aja.

2. Lebih mandiri. Balance bike tuh ringan. Jadi kalau mau sepedaan, dia bisa ambil sepedanya sendiri, parkir sendiri. Terus kalo ikut saya belanja, saya suruh dia naik sepeda. Ini bikin dia gak bergantung sama saya. Karna saya jalan kaki, terus dia pengen ngebut, dia gak merasa harus nungguin saya.

3. Membangun kepercayaan diri. Yang saya lihat, Faza terlihat jadi jauh lebih percaya diri sejak pake balance bike. Teman-temannya kebanyakan kan pake sepeda roda 3. Itu kan susah banget ya kalo digenjot. Gak bisa ngebut. Nah, Fazanya jadi terlihat pede gitu, 'kok aku bisa lebih cepet ya', gitu. Karna balance bike mudah banget di-handle anak. Itu bikin dia makin percaya diri.

Semoga review dan cerita saya soal balance bike bermanfaat yaaa, Bu. Semoga bisa jadi lebih yakin bagi yang sedang mempertimbangkan mau beli atau enggak :)

Kamis, 22 Agustus 2019

Tentang Flat Foot-nya Faza

Mau nulis ini kok, Ya Allah, gak kesampain teruusss.

Sebenernya sudah pernah cerita lumayan panjang di IG Story. Tapi kayaknya tetap harus ditulis di blog, sebagai arsip pribadi. Dan semoga bermanfaat jika ada yang baca.

Waktu cerita tentang flat foot-nya Faza di IG Story, saya baru tau, ternyata banyak banget yang belum pernah tau tentang apa sih itu flat foot?

Kaki rata atau flat foot adalah kondisi di mana lengkungan yang seharusnya terdapat di telapak kaki, menjadi rata. Pada bayi atau balita, kondisi ini tergolong normal karena tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang. Namun pada anak-anak yang sudah lebih besar dan orang dewasa, kaki rata dapat menjadi tanda adanya kelainan pada tulang atau jaringan tendon kaki, jaringan yang menempelkan otot ke tulang. (dikutip dari alodokter)

Kapan saya sadar Faza flat foot?

Ini nih bentuk telapak kaki Faza
Sejak dia bisa jalan, sebenernya. Saya langsung ngeh, kayaknya dia 'istimewa' nih. Tapi, seperti kebanyakan orangtua lainnya ketika melihat kekurangan pada diri anak, saya sempat mengalami masa denial. Ah, nggak pa-pa ah, kakinya Faza pasti nggak pa-pa, nanti pasti bagus sendiri, dan lain-lain, dan seterusnya.

Di masa-masa denial itu, saya terus mencari penjelasan. Saya baca artikel-artikel tentang flat foot, sampai suatu hari, saya membaca IG Story Mbak Brenda (penggiat #ReadAloud), tentang anak-anaknya yang juga punya flat foot.

Memangnya apa sih dampak buruk flat foot sehingga butuh perhatian khusus? Ternyata, soal ini masih banyaakk yang belum tau ya (dilihat dari respon teman-teman pada IG story saya).

Jadi, flat foot itu punya beberapa dampak kurang baik buat seseorang. Di antaranya:

1. Akan cepat capek, alias gak kuat jalan jauh. Faza tu kalo saya ajak jalan agak jauh, pasti malamnya ngeluh, 'ibu, kakinya sakit', gitu.

2. Pergerakan terganggu. Pada Faza, point ini terlihat dari dia yang jadi 'kurang lincah' untuk aktivitas-aktivitas semacam memanjat, berlari, dll. Keseimbangannya kurang bagus gitu. Agak mudah 'goyah', karna pondasinya gak kokoh.

3. Dll. Dampak jangka panjangnya banyak sih.

Dari situ, saya akhirnya bertekad, oke, kayaknya kaki flat foot-nya Faza butuh dikonsultasikan dengan dokter. Sayangnya, mungkin karna tekad kami (saya dan mas suami) yang kurang kuat, rencana konsultasi ke dokter terus tertunda, hingga akhirnya terealisasi di sekitar bulan April 2019.

Langkah pertama, saya dan mas suami datang ke dokter Faskes 1 kami. Ya, kami memakai fasilitas BPJS. Setelah menjelaskan dan menunjukkan kondisi kaki Faza pada dokter, akhirnya kami diberi rujukan ke dokter spesialis anak di RS. Hermina Banyumanik Semarang.

Ohya, ternyata, gak semua dokter 'ngeh' bahwa flat foot itu sebuah kondisi yang harus mendapat penanganan. Soalnya anak teman saya yang juga flat foot, ketika dibawa ke dokter (umum), dokternya bilang, itu bukan masalah, dan menolak memberikan rujukan.

Lanjut ya. Setelah mendapat rujukan, kami datang ke RS Hermina Banyumanik Semarang untuk bertemu dokter spesialis anak. Oleh dokter spesialis anak, kami kemudian dirujuk ke dokter rehabilitasi medik.

Oleh dokter rehabilitasi medik, Faza diberi rekomendasi untuk mendapatkan terapi, dan harus dibuatkan sepatu koreksi. Sayangnya, di RS. Hermina Banyumanik Semarang sendiri, tidak bisa memfasilitasi pemesanan sepatu koreksi tersebut, sehingga kami minta pindah rujukan ke RS Nasional Diponegoro (RSND) Tembalang Semarang.

Oleh dokter rehabilitasi medik RSND, Faza mendapat rekomendasi yang sama dengan saat di Hermina, yaitu dibuatkan sepatu koreksi, dan terapi rutin seminggu sekali.

Terapinya sendiri terdiri dari 2 macam terapi. Yaitu terapi okupasi (melatih keseimbangannya dengan macam-macam stimulus permainan), dan fisioterapi (dipijat).

Ini ruang terapinya

Ini waktu Fisioterapi. Terapi okupasinya kebanyakan video, upload di IG aja deh nanti.

Alhamdulillah sejauh ini Faza enjoy menjalani setiap sesi terapinya. Ini sudah masuk bulan kedua, dan kemarin dokter rehabilitasi medik menyarankan agar terapi dilanjutkan lagi hingga 1 paket (5x pertemuan) lagi.

Apakah sudah kelihatan hasilnya?

Ya enggak secepat kilat itu sih. Ada hasilnya, meski belum benar-benar signifikan. Keseimbangannya sudah cukup bagus. Naik turun tangga sudah lebih lincah. Tapi bentuk kakinya belum terkoreksi. Karna pakai sepatunya juga belum disiplin :(

Ini sepatu koreksinya Faza. Fokus yaa, fokus! =D


Kalo berdasarkan rekomendasi, sepatu koreksi dipake full-time kecuali saat tidur. Sedangkan Faza, kalo di dalam rumah masih belum mau pakai sepatu. Karna dia kan mindsetnya selama ini di dalam rumah ya nggak pakai alas kaki. Lagian sepatunya kan kotor yaa karna sering dipakai di luar rumah, saya galau kalau dipakai di dalam rumah, nanti takut banyak najis yang tersebar :(

Emm, apa lagi yaa yang mau diceritain? Segitu dulu sih.

Yang jelas, dari ujian keistimewaan Faza ini, saya belajar banyaaakk banget. Belajar lebih sabar lagi, belajar berlapang dada menerima kondisi apapun, belajar macem-macem deh pokoknya.

Baca juga: Menjadi Ibu, Menjadi Orangtua

Saya juga makin saluuttt sama para orangtua di luar sana yang juga dikasih ujian anak yang jauh lebih istimewa dari Faza, dan mau berjuang untuk putra-putrinya. Masyaa Allah tabarakallah :)

Rabu, 20 Maret 2019

#CeritaFaza: DUA TAHUN

Merasa gagal karna nulisnya gak tepat tanggal 9 Maret 2019. Huhuhu.

Tapi yaudahlahyaa. Terlalu sayang juga kalau gak ditulis.

Dulu tu kalau ada orang yang bilang, "duh gak kerasa yaaa anakku tiba-tiba sudah besar" -- saya suka gak habis pikir. Gimana bisa sih aaknya tumbuh gak kerasa?




Setelah mengalami punya anak sendiri, ternyata iya loh. Kayak gak terasa, tiba-tiba Faza udah dua tahun aja 😭 Mungkin ini indikasi saya gak bener-bener hadir untuk Faza ya *auto-mellow😭😭*

Tapi setelah dipikir-pikir, bisa bilang gak kerasa karna sekarang udah merasa enak aja. Tidur udah bisa nyenyak hampir semalaman, pundak udah gak pegel-pegel karna miring terus untuk menyusui, udah gak harus pumping siang-malam-pagi-sore, anaknya udah bisa jalan sendiri ke mana-mana gak harus digendhong terus-terusan.

Kalau dulu saat masa-masa itu belum terlewati mah ya kerasa bangetttt lah. Gimana bisa gak kerasa sih? Wong tiap bangun pagi punggung pundak pegel minta ampun. Mata sepet luar biasa karna sebelum dua tahun tidur malamnya Faza agak kacau. Dll.

Gak nyangka aku pernah melewati itu semua. Masyaa Allah.

Sekarang?

Alhamdulillah tidurnya Faza sudah jauh lebih berkualitas sejak gak nenen lagi. Dulu waktu masih nenen tu bawannya dia resah terus gitu kalau gak nempel nenen. Seolah takut saya pergi. Jadi pengennya neneeeen terus. Kalau nenennya lepas, nangis. Gitu lah pokoknya. Faza lelah, ibu apalagi!

Sekarang paling bangun sekali atau maksimal dua kali untuk minta susu. Habis itu bobok lagi. Minum susunya pakai gelas dong, bukan dot 😍

Jadi dia barengan tuh berhenti nenen sekaligus berhenti ngedot. Laafff πŸ’•

Alhamdulillah saya merasa berhasil banget sih soal ini. Diluar kegagalan Faza untuk bisa ASIX karna harus minum sufor di 10 hari pertamanya, saya tetep bersyukur dia gak bingung puting. Dia gak ketergantungan dot. Dia bisa lepas nenen karna paham memang sudah waktunya berhenti (bukan karna dibohongi macam-macam).


Kemampuan komunikasinya juga Alhamdulillah udah lancar bangett. Ngomongnya udah mulai membentuk sebuah kalimat, meskipun seringnya baru terdiri dari dua/tiga suku kata.

Dan... OMG, ternyata toodler kalau udah bisa ngomong tu lucuuuuu bettt yaa! *biarin lah muji-muji anak sendiri*

Gak sabar untuk bikin postingan blog yang isinya kalimat-kalimat lucu atau pertanyaan-pertanyaan tak terduga Faza. Hahaha.

Faza juga sudah makin mandiri. Sudah bisa lepas sandal atau sepatu sendiri. Sudah bisa makai sandal sendiri. Lepas celana sendiri. Lepas baju belum bisa sih. Pakai apalagi.

Soal emosi, juga Alhamdulillah Faza terkendali sekali. Gak sering tantrum. Pokoknya kunci utama, jangan telat bobok siang. Kalau udah waktunya bobok, terus gak bobok sih yaudah, siapin mental, hati dan kuping -____-

Ohya, jangan lupa, satu hal yang bikin saya seneng bangettt. Faza udah kelihatan seneng dan kerasan bangettt kalau diajak ke rumah mbahnya di Jepara. Kadang aja dia tiba-tiba merengek bilang, "Buk, mah mbah" (Ibuk, ke rumah mbah). Huhu. Terharuuu.

Anak siapa sih iniii, gemaassh! *maap, halu* πŸ˜‚

Tapi ya tetep di balik segala 'keindahan' di atas, ada setumpuk PR yang harus satu per satu saya selesaikan di usia Faza yang ke-2 tahun ini. Apa saja?

1. Pola BAB-nya yang masih belum teratur. Tapi Alhamdulillah sudah mulai titik temu sejak ikut lomba Yo! Yogurt. Tadinya beli memang niatnya cuma untuk lomba. Ternyata beneran ngaruh loh!


2. Toilet training. Iya, Faza belum toilet training. Karna saya memang belum mulai untuk itu. Haha. gak tau nih mau mulai belum bulat tekadnya. Masih pengen mnikmati masa-masa bisa tidur nyenyak. kalo toilet training pasti malem-malem harus bangun anter ke kamar mandi gitu kan? Haha. Emak macam apa!

3. Ngajarin makan sendiri. Ini juga sebenernya akunya aja yang males sih. Males berantakannya 😭 berarti intinya  ini PR untuk diriku sendiri.

4. Nah ini ni PR terbesarnya. Faza Insya Allah akan mulai untuk fisioterapi flat feetnya. Ceritanya akan panjang dan cukup membutuhkan hati yang lapang. Jadi next post aja Insya Allah.

Segitu dulu ah. Doakan Faza sehat dan main pintar yaaa om, Tante, Pakdhe, Budhe 😘😘