Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2020

Pelajaran Tentang Keluarga Dari Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Akhirnya nulis lagi di sini!

Saya bukan termasuk orang yang hobi nonton. Tapi adakalanya ada film-film tertentu yang saya merasa 'wah, kayaknya harus nonton nih!'. Dan entah kenapa, seringnya yang saya pengen banget nonton adalah film-film bertema keluarga.

Kemarin akhirnya nonton lagi, setelah setahun lalu (di bulan Januari juga) nonton Film Keluarga Cemara. Yang saya tonton, apalagi kalau bukan film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Tadinya bingung sih mau nulis tentang film ini di blog ini, atau di rosasusan.com. Tapi karna yang pengen saya tulis adalah pelajaran tentang keluarga yang bisa diambil dari film ini, kayaknya lebih cocok saya tulis di blog ini :)

Ohya, mungkin sedikit banyak tulisan ini akan mengandung spoiler. Mohon maaf. Kalau yang nggak berkenan, jangan lanjut baca ya. Sampai sini aja :)



Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini bercerita tentang sebuah keluarga. Terdiri dari ayah ibu dan tiga anaknya. Konflik yang disajikan adalah seputar hubungan antar anggota keluarga. Terutama hubungan ayah dan anak-anaknya.

Sepanjang nonton, benak saya penuh dengan kilasan-kilasan wajah keluarga saya. Karna kebetulan, semua tokoh utama di film NKCTHI ada semua cerminannya dalam diri orang-orang terdekat saya. Lihat ayahnya ingat bapak dan mertua. Lihat Angkasa ingat kakak sulung dan anak sulung saya. Lihat Aurora ingat kakak laki-laki dan suami saya. Lihat Awan, ingat diri saya sendiri. Hehehe.

Maka, nggak bisa dipungkiri, selama nonton, otak saya juga sambil terus berpikir. Apa yaa pelajaran yang bisa saya ambil dari film ini? Dan berikut ini, adalah beberapa pelajaran yang akhirnya berhasil saya dapatkan, setelah merenung dan meresapi cerita film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok orangtua

Saya percaya, (hampir) gak ada orangtua dengan anak lebih dari satu yang dengan sengaja ingin membeda-bedakan kasih sayangnya ke masing-masing anak. Pengennya mah pokoknya sayang ke semua anak.

Tapi bagaimanapun, orangtua kan tetap manusia biasa. Saat lihat ada satu anak yang jauh lebih menonjol dari anak lain, secara manusiawi biasanya akan jadi lebih condong ke si anak tersebut. Dan saya pernah baca soal ini, katanya itu wajar

Begitulah yang terjadi pada sosok Ayah dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini, dalam memperlakukan 3 anaknya. Angkasa, Aurora dan Awan. Sosok ayah dalam film ini digambarkan punya kecenderungan hati yang jauh lebih besar pada salah satu anaknya.

Intinya, kecenderungan hati ke salah satu anak itu wajar dan manusiawi. Tapi tetap usahakan nggak terlalu mencolok agar anak yang lain tidak jadi merasa dibedakan atau diabaikan. Apalagi jika 'lebih sayang'nya hanya karna urutan lahir. Jauh lebih sayang dan perhatian ke anak bungsu, misalnya. Rasanya itu jauh lebih nggak adil untuk anak dibanding jika lebih sayangnya karna prestasi yang lebih menonjol.

Salah satu dampak buruk dari 'perbedaan' sayang ke masing-masing anak ini adalah hubungan antara kakak beradik yang kadang jadi tidak harmonis. Karna dipicu perasaan cemburu. Kan pasti sedih ya kalau lihat anak-anak kita nggak akur. Apalagi kalau penyebabnya adalah kita sendiri :(

Pelajaran kedua yang saya ambil adalah tentang cara kita sebagai orangtua untuk menunjukkan rasa sayang. Kadang kita sebagai orangtua tuh maunya cuma menunjukkan rasa sayang, tanpa mau tau apakah cara sayang kita itu berkenan atau enggak ke anak.

Seperti si ayah dalam film NKCTHI, yang selalu menjawab segala keluhan anaknya tentang sikap si ayah dengan kalimat, "Ayah kayak gini kan karna sayang sama kamu!"

Sounds familiar?

Ego sebagai orangtua yang merasa lebih tau kadang bikin orangtua jadi enggan mendengarkan keluh kesah anak tentang cara kita memperlakukan mereka. Karna bisa jadi, cara kita menyayangi anak justru diartikan lain dan negatif oleh anak. Jadi, jangan segan mendengarkan mereka.
 
Pelajaran ketiga tentang zona nyaman. Saking sayangnya sama anak-anaknya, sosok Ayah dalam film NKCTHI berusaha sekuat tenaga untuk membuat anaknya ada di kondisi nyaman. Ia berusaha keras agar istri dan anak-anaknya tidak perlu merasakan perasaan sedih. Bahkan pada salah satu anaknya, ia selalu turut campur di segala sisi kehidupan si anak. Termasuk, selalu mencarikan solusi untuk segala permasalahannya.

Akhirnya, anaknya tumbuh jadi anak yang merasa tidak utuh. Karena tidak pernah merasakan mengambil keputusan. Tidak pernah merasakan gimana caranya mencari solusi untuk masalahnya sendiri, dll.

Pelajaran yang saya ambil sebagai orangtua, sayang boleh. Tapi bukan berarti kita harus selalu menempatkan anak di zona nyaman terus-terusan. Adakalanya dia perlu merasakan sedih. Merasakan gagal. Merasakan kecewa. Karna semua itulah yang justru akan membuat mereka tumbuh menjadi sosok tangguh.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok anak

Dari sisi sebagai seorang anak, pelajaran yang diambil cuma dikit sih, cuma satu. Tapi dalem. Dan bikin saya jadi lebih paham perasaan Bapak saya.

Ayahnya Angkasa, Aurora dan Awan mungkin awalnya punya kesan buruk di mata anak-anaknya. Tapi satu yang mereka akhirnya tau. Alasan dari semua sikap ayah mereka adalah karna rasa sayang yang terlampau besar pada mereka.

Pelajaran yang saya ambil, orangtua - terutama ayah - seringkali menjadi orang yang sebenarnya paling keras berusaha untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya, tapi sekaligus sering tidak bisa menginterpretasikan rasa sayang tersebut dengan cara yang benar. Salah satu sebabnya mungkin karna kurang mendengarkan istri dan anak-anaknya.

Saya jadi inget Bapak. Kasihan ya mereka itu. Berusaha keras, tapi malah diartikan negatif sama anak-anaknya. Huhu.

Ada yang sudah nonton Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini juga? Cerita dong, pelajaran apa yang kalian ambil dari film ini?

Rabu, 25 September 2019

Review Balance Bike Maynine

Pertama kali tau tentang balance bike itu saat masih hamil Faza. Taunya kalo gak salah dari artikel di the asian parent dan dari blognya Mbak Annisast tentu saja.

Reaksi saya pertama saat tau balance bike -- gak jauh berbeda -- dari reaksi pertamanya kebanyakan orang sih. Idih, sepeda kok nggak ada pedalnya? Kok aneh? Biar apa coba?


Tapi Alhamdulillahnya, saya enggak lantas berhenti mencari tau lebih lanjut meski kesan pertamanya terasa agak aneh. Saya baca beberapa artikel tentang balance bike. Setelah tau manfaatnya, saya langsung pengen banget beliin Faza balance bike.

Sejak Faza bisa jalan, saya beberapa kali survey harga balance bike secara online. Pas tau gambaran harganya, jujur aja saya agak pesimis bisa beliin Faza, karna belum ada gambaran anggarannya. Jadi sempet yang, udahlah kayaknya gak bakal beliin balance bike Faza.

Tapi Qodarullah, menjelang Ramadhan tahun ini, ada teman di grup kuliah WA Bengkel Diri yang saya ikuti, yang menawarkan PO balance bike Maynine, dengan harga enam ratus ribu rupiah saja. WOW!

Langsung deh gerak cepat diskusi sama paksu. Dan akhirnya kami mengambil keputusan untuk ikut PO-nya. Pas banget momentnya kami terima THR soalnya. Hihi.

Balance bike dikirim langsung dari Maynine Jakarta, dan kami terima kayaknya pas bulan Ramadhan, menjelang libur lebaran.

Sampai saat ini, balance bike merupakan mainan termahalnya Faza yang kedua setelah Hafidz Doll. Kenapa akhirnya memutuskan beli? Ya karna menurut saya sebanding dengan manfaatnya.

Baca: Kriteria Mainan yang Saya Belikan Untuk Faza

Review Balance Bike Maynine

Foto detail Maynine Insya Allah menyusul
Setahu saya, balance bike merk lokal masih sangat terbatas pilihannya. Dan Maynine merupakan satu dari yang sedikit itu. Itu alasan utama kenapa Maynine tergolong murah meriah. Karna dia produk lokal.
Saat barang datang, ayahnya Faza sempet agak bingung ngrakitnya. Karna di dalam kardus, nggak ada manual perakitannya. Tapi setelah otak-atik ya akhirnya bisa sih.

Dalam waktu seminggu kalo nggak salah, sadel bagian belakangnya  udah ngelupas. Haha.

Gara-garanya, karna Faza masih agak takut (karna masih awal-awal), jadi sadelnya sengaja dibikin ayahnya di posisi paling rendah, Eh ternyata saat dipake jalan, sadel bagian belakangnya tuh bergesekan sama roda sepeda. Padahal itu cuma beberapa kali pake lho. Artinya, bahan sadelnya kurang kuat sepertinya.

Rodanya sendiri merupakan tipe roda tubeless, alias roda tanpa ban dalam. Konon roda ini anti kempes ya kalo gak salah. Tapi ya kalo udah licin gak ada geriginya itu, ya artinya harus beli baru rodanya.

Bahan kerangka sepeda maynine ini terbuat dari besi. Kuat sih, tapi bukan yang besi anti karat. Jadi sepedanya Faza, sudah berkarat di beberapa bagian.

TAPI, semua kekurangan di atas bagi saya sangat bisa dimaafkan, mengingat harganya yang sangat ramah di kantong saya pribadi. Yang penting gak mengurangi manfaat utama dari balance bike. Itu prinsip saya. Nanti kalo pas Faza punya adek, terus balance bike-nya ternyata udah rusak, ya udah beli lagi aja. Hehehe.

Bagi kalian yang punya budget lebih dan berprinsip mahal gak papa asal awet sih sepertinya mending pilih merk lain seperti london taxi atau strider.

Manfaat Balance Bike 


Meski di atas saya sudah sedikit menyinggung tentang manfaat balance bike, yaitu untuk melatih keseimbangan, saya pengen memaparkan lagi manfaat yang saya lihat sendiri dari Faza sejak dia sering pakai balance bike.

Di daerah tempat tinggal saya, kayaknya Faza anak pertama yang pakai balance bike. Jadi gak heran banyak banget yang komentar dan tanya soal balance bike ke saya. Dari pertanyaan yang paling awam seperti; kok sepeda gak ada genjotannya?, sampai pertanyaan yang lebih spesifik; apa manfaatnya?

Oh, satu lagi. Banyak juga yang ngira, balance bike ini dikhususkan untuk anak dengan kondisi khusus seperti Faza yang flat foot. Jadi sekalian di sini saya tegaskan, TIDAK ya. Balance bike itu sama seperti sepeda pada umumnya, yang bisa dipake dan bermanfaat untuk semua anak -- tanpa kondisi tertentu sekalipun.

Baca: Tentang Flat Foot-nya Faza

Setelah Faza intens pake balance bike, beberapa manfaat yang saya lihat adalah:

1. Keseimbangannya jadi jauh lebih terlatih. Dia udah sampe pada fase ngebut, lalu dua kakinya diangkat gitu. Duh, susah jelasinnya. Pokoknya kayak naik sepeda biasa gitu, cuma nggak genjot aja.

2. Lebih mandiri. Balance bike tuh ringan. Jadi kalau mau sepedaan, dia bisa ambil sepedanya sendiri, parkir sendiri. Terus kalo ikut saya belanja, saya suruh dia naik sepeda. Ini bikin dia gak bergantung sama saya. Karna saya jalan kaki, terus dia pengen ngebut, dia gak merasa harus nungguin saya.

3. Membangun kepercayaan diri. Yang saya lihat, Faza terlihat jadi jauh lebih percaya diri sejak pake balance bike. Teman-temannya kebanyakan kan pake sepeda roda 3. Itu kan susah banget ya kalo digenjot. Gak bisa ngebut. Nah, Fazanya jadi terlihat pede gitu, 'kok aku bisa lebih cepet ya', gitu. Karna balance bike mudah banget di-handle anak. Itu bikin dia makin percaya diri.

Semoga review dan cerita saya soal balance bike bermanfaat yaaa, Bu. Semoga bisa jadi lebih yakin bagi yang sedang mempertimbangkan mau beli atau enggak :)

Kamis, 29 Agustus 2019

#BincangKeluarga: Rekomendasi Buku Anak (Favorit Faza)

Orangtua mana di era ini yang nggak merasa membaca buku sebagai suatu hal yang harus ditanamkan pada anak-anak mereka sedini mungkin?

Bahkan bayinya baru brojol aja udah semangat banget beliin buku 😂 Ini lagi ngomongin diri sendiri sih sebenernya. Hihi.

Iya, saya pengen banget Faza punya minat baca yang jauh lebih baik dari kami orangtuanya. Dan kayaknya gak ada cara lain untuk mewujudkan itu selain dengan mengenalkan buku ke dia sedini mungkin.

Bahkan dari sebuah kulwa saya tau, ada sebuah challenge yang hits akhir-akhir ini untuk para orangtua, yaitu 1000 buku dalam 3 tahun buat anak. Artinya, saat anak usia3 tahun, dia telah membaca minimal 1000 buku.

WOW, banyak bangettt?? Tekor dong beli 1000 buku??

Tenang, Bu. Ternyata, 1000 buku itu tidak berarti harus 1000 buku yang berbeda. Satu buku yang sama, yang di baca(kan) 10 kali, ya artinya anak telah membaca 10 buku. Gitu.

Kayaknya berat dan gak mungkin banget yaa kalo lihat angka 1000? Padahal, 1000 buku sebelum 3 tahun itu artinya, cukup membacakan sehari 1 buku untuk anak. Kan bisa yaaa harusnya?

Baca punya Ade:



Yang berat istiqomahnya sih. Zzzzz -___-

Sayangnya, saya juga bukan termasuk ibu yang berhasil memenuhi challenge tersebut. Tapi ya gak boleh nyerah dong!

Sejauh ini, ketertarikan Faza sama buku cukup baik. Dan di usia 2,5 tahun ini, saya mencatat beberapa buku favoritnya Faza. Siapa tau bisa jadi rekomendasi untuk para ibu yang sedang ingin membelikan buku untuk ananda tercinta 😊



1. Cilukba!, Rabbit Hole (Devi Raisusa & Guntur G.)

Rabbit Hole merupakan salah satu produsen buku anak lokal yang sangat berkualitas. Sayangnya, mereka sempat memutuskan untuk vakum dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.



Sebelum mereka vakum, Alhamdulillah saya sempat membelikan beberapa buku dari Rabbit Hole untuk Faza. Salah satunya adalah Cilukba!

Saya belinya sebelum Faza usia setahun kalo gak salah. Dan dari awal dia antusias banget tiap dibacain buku ini. Apalagi bentuknya kecil, jadi bersahabat buat tangan mungilnya bayi.

Buku Cilukba! ini teksnya dikit banget, sehingga membuat kita yang membacakan lebih bebas berekspresi.

2. Hijaiyah Animal Series (Trisa Dini Daswan & Evieriel N. Primadani)



Buku ini saya beli melalui sistem PO di sebuah online bookstore di IG. Isinya adalah huruf hijaiyah yang di cetak dalam ukuran besar per lembarnya, di sertai dengan nama hewan dalam bahasa arab yang diawali oleh masing-masing huruf hijaiyah tersebut.

Untuk seumur Faza, dia belum fokus sama huruf hijaiyahnya sih. Masih lebih tertarik dengan gambarnya. Gak masalah buat saya.

3. Saatnya Pup! (Irmalia Sutanto)

Faza itu sempat mengalami trauma pup yang cukup lama dan cukup menguras perasaan saya dan ayahnya. Oh iya, satu lagi, cukup menguras dompet.



Jadi, dia pernah sembelit sekali, sampe berdarah gitu. Setelah itu, dia selalu ketakutan tiap mau pup. Dia selalu berusaha menahan sekuat tenaga, hingga sensasi pengen pupnya hilang. Setelah itu, pupnya akan tertunda, dan akibatnya jadi keras.

Kalo dipaksa ke kamar mandi, beuh nangisnya kayak lagi disiksa 😭 Dipriksain ke dokter pun sama sekali gak ngaruh, karna yang utama ada di mindsetnya yang udah buruk banget soal pup.

Jadi jalan satu-satunya adalah dengan terus-menerus sounding. Salah satunya lewat buku.

Saya seneng banget waktu nemuin buku Saatnya Pup! ini di Gramedia. Karna bener-bener paaassss banget dengan apa yang saya inginkan.

Dan Alhamdulillahnya lagi, Faza suka sama buku ini. Tiap mau pup tapi dia gak mau ke kamar mandi, saya akan bilang, "Eh, Tito (tokoh dalam buku ini) tu kalau mau pup ke mana ya, Za?", terus dia akan jawab, "kamar mandi". Terus saya nyaut deh, "Naaahh, Faza juga berarti harus ke kamar mandi yaaa?". Hehehehe.

4. The Farm (Tanah Pertanian), Tony Wolf

Kalo ini belinya belum lama sih. Setelah dia usia 2 tahun, gara-gara rekomendasi teman.


Bukunya full gambar banget, yang menggambarkan suasana di daerah pertanian. Ada ceritanya sih, tapi Faza bener-bener gak tertarik dibacain ceritanya, karna sibuk mengamati gambar-gambarnya dan terus-menerus bertanya ini apa, itu apa. Hihi.

5. Adab Makan & Minum (Oky E. Noorsari & Ahmad Saba)

Yang ini saya beli sekitar 3 minggu lalu. Sebenernya belinya asal comot aja waktu itu. Tapi ternyata bagus! Dan yang penting, Faza suka banget.


Jujur aja saya masih struggling untuk menanamkan adab makan pada Faza, khususnya soal makan sambil duduk. Salah saya sih karna agak cuek awalnya kalo Faza makan sambil mainan atau jalan-jalan, yang penting dia mau makan. Huhu.

Nah, buku ini cukup membantu saya saat mengingatkan dia tentang adab makan. Cerita dalam buku ini singkat, padat dan mudah dipahami anak. Jadi kayak langsung masuk gitu di memori Faza, meski pengamalannya mah masih angin-anginan. Hiks.

Oke. 5 dulu aja kali yaaa biar gak kepanjangan 😊 Sebenarnya sih masih banyak buku favorit Faza, karna kebanyakan buku yang saya beliin, dia pasti suka. KECUALI, buku-buku bertajuk ensiklopedia. Dia kayak belum ada tertarik-tertariknya sama sekali. Mungkin belum masuk fase sensitifnya kali yaa.
Tapi pada dasarnya, menarik-enggaknya sebuah buku bagi anak tu salah satu faktor terbesarnya adalah gimana cara kita orangtuanya saat membacakannya. Semenarik apa kita membacakannya, seantusias itu pula anak akan menyimaknya. Iya gak, Bu?

Nah, kalo buibu ada yang mau share buku favorit anak-anaknya di rumah boleh bangeettt lho. Siapa tau bisa jadi rekomendasi juga buat saya 😊

Minggu, 27 Januari 2019

Review Murottal Box Bubby

Sebenernya saya janji mau posting review murottal box bubby ini minggu lalu sama teman. Tapi apa daya, gimana mau posting kalo nyicil nulis pun belum. Hihi.

Baiqlah, mari kita mulai cerita tentang murottal box Bubby ini.



Saya membeli murottal box Bubby ini melalui sistem menabung, yang ditawarkan sama ownernya. Jadi bukan arisan ya. Kalo arisan kan setelah daftar, akan ditentukan bulan apa kita dapet barang. Bergilir.

Kalo menabung, kapanpun kita lunas, ya barang akan dikirim.

Nabungnya dengan cara transfer ke rekening yang ditentukan toko bubby. Harga barangnya pun sama dengan jika kita membeli cash.

Kenapa gak nabung sendiri aja di rumah? Yeahh, tau sendiri lah kalo nabung di rumah itu banyak godaannya.

Pertama tau Murottal Box Bubby ini karna saya follow ibunya, atau sering disapa dengan Umami @damayantiku. Awalnya beliau ini sering sharing tentang segalaaaaa macem soal dunia parenting. Dan sharingnya pun mayan anti-mainstream. Jadi dulu hampir tiap hari saya mantengin IGS beliau. Sekarang mah enggak, lelaaahhh aku lelaaaah. Haha.

Nah, berawal dari sharing soal dunia parenting itu, lama-lama si Umami menjual juga segala perlengkapan pendukung dalam pengasuhannya. Mulai buku, baju, mainan, flash card, sampai Murottal Box ini.

Sebenarnya, mas suami agak keberatan waktu tau saya mau beli murottal box ini. Karna Faza sudah punya Hafidz Doll. Kan ya sama aja, katanya. Iya sih, secara garis besar memang sama. Tapi tetep ada bedanya.

Langsung aja yuk ah bahas fitur-fitur yang ada di Murottal Box Bubby ini.

Murottal dari Banyak sekali Qori' yang berbeda-beda

Jadii, qori'-nya gak cuma satu. Sepuluh aja lebih. Jadi kita akan dengar beragam cengkok ngaji yang semuanya indah dari bermacam-macam qori' tersebut.

Murottalnya Gak Hanya dari 1-30 Juz

Lhaahh... kan Al Qur'an memang hanya terdiri dari 1-30 Juz?

Hihi. Maksudnyaaa... Selain murottal yang urut dari Al Fatihah sampai An-Naas, di Murottal Box Bubby ini juga ada Murottal per surat yang dibacakan oleh beberapa qori berbeda, murottal per halaman dan murottal anak juz 'amma.

Ada juga murottal surah-surah pilihan semacam Al Khafi, Al Waqi'ah, dll. Qori'-nya juga qori-qori pilihan semacam Fatih Seferagic, Muzammil Hasbalah, dll. Untuk yang sedang menghafal Qur'an, disediakan juga murottal per ayat yang dibacakan oleh Misyari Rasyid Al-Afasy.

Ada Dzikir Pagi-Petang dan Ayat-ayat Ruqyah

Nah, ini nih justru yang jadi motivasi utama saya pengen banget beli Murottal Box Bubby ini.

Kan bisa download?

Iya sih bisa banget. Tapi sini anaknya emang kebangetan malesnya kalo suruh download-mendownload gitu.

Ada 12 Kompilasi Adzan

Ini suka bikin kaget sih 😂 Jadi kan kalo malem biasanya saya hidupin, terus stel di bagian ayat-ayat ruqyah. Nahh, kompilasi adzan ini letaknya beberapa sesion setelah ayat ruqyah ini.

Pernah nih, saya buru-buru bangun gara-gara kaget denger adzan. Kirain adzan subuh. Ehhh ternyata masih jam dua malem. Adzannya dari Murottal Box itu. Haha.

Ada Hadist Arba'in

Ada Kompilasi Doa Sehari-hari

Ada Ratusan Kajian Islami dan Tanya-Jawabnya

Ini sih yang paling WOW. Daripada dengerin kajian selalu pakai youtube kan?

Atau mau download sendiri segitu banyak? Saya sih NO ya. Hihi.

Yang paling penting, Ada Daftar Isi-nya LENGKAP

Jadi, gak bakal bingung kalo mau milih pengen dengerin apa.


--------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari ulasan fitur apa saja yang ada di Murottal Box Bubby, yang udah tau fitrunya Hafdiz Doll pasti langsung tau yaa apa bedanya.

Kalo disingkat, kelebihan hafidz doll selain murottal adalah kisah-kisah nabi dan lagu anak-anaknya. Sedangkan murottal box punya kelebihan di dzikir pagi-petang, ayat-ayat ruqyah syar'iyah dan ratusan kajian dengan berbagai tema.

Padahal mereka punya harga yang jauuuhhhh banget selisihnya. Murottal Box Bubby ini saya beli dengan harga 350.000 belum ongkirnya.

Tapi ya gak adil juga sih kalo bandingin sama Hafidz Doll. Hafidz Doll kan produk eksklusif ya. Kalo Murottal Box Bubby ini sebenernya produk speaker partablenya Advance. Terus dikasih sticker sama pihak Bubby yang jadi terkesan eksklusif.

Lalu untuk isi-isinya ditaruh di sebuah Memory Card. Dan itupun hasil download-download di internet. Tau sendiri lah ya yang namanya hasil download kan kualitasnya kadang beda-beda. Terutama di bagian kajiannya.

Kalo untuk kualitas suara yang dihasilkan speakernya sih oke banget menurut saya.

Gimana caranya beli murottal box Bubby ini?

Pantengin IG @inibubby aja yaaa.

Jadi pilih mana murottal box atau hafidz doll?

Kalo saya sih pilih dua-duanya. Haha.

Sekian.

Jumat, 04 Januari 2019

Review Macam-Macam Tipe Gendongan

Jaman sekarang yaa, apa aja ada teorinya. Tidak terkecuali soal cara menggendong anak. Jaman orangtua kita, mana ada sih. Gendong ya gendong aja. Model gendongannyapun ya itu-itu aja. Paling populer tentu saja kain panjang alias jarik itu.

Sekarang?

Wuih, model gendongan banyak bangetttt! Ada hipseat, carrier, wrap, geos, sling, dll. Apalagi merk gendongan, jauuhh lebih banyak lagi. Yang harganya sampai jutaan pun ada.

Berbagai model gendongan itu kemudian diiringi dengan menyebarnya ilmu menggendong baru yang membuat beberapa orang terperangah. Karna cara menggendong yang katanya paling sesuai dengan teori kesehatan ternyata beda jauh dengan yang selama ini hampir semua orang tua kita praktekkan dulu. Bahkan, cara menggendong seperti itu justru dikecam oleh mereka selama ini.

Yup, jangan salah, menggendong ternyata juga ada ilmunya. Sesuatu yang gak pernah sekalipun terlintas di benak saya sebelum menikah dulu.

Sebagai mamak milenial, jelas dong saya merasa harus belajar tentang ilmu menggendong. Jadi, menurut teori, menggendong yang benar itu kaki anak harus berposisi M-Shape. Biar jelas, lihat gambar di bawah ini aja ya:



Nah, dari teori M-Shape itu, maka berlomba-lombalah para produsen gendongan untuk menciptakan gendongan-gendongan dengan embel-embel M-Shape. Padahal, sebenernya sih pake kain jarik panjang itu aja juga bisa bangettt gendong dengan posisi M-Shape. Kalau mau belajar lebih detail soal menggendong, silakan kepoin tentang komunitas Indonesia Babywears yang udah terkenal banget.

Tapi lagi-lagi, karna mamak impulsif, ya terpancinglah untuk membeli beberapa model gendongan. Sebenarnya, fokus utama saya saat membeli gendongan justru bukan tentang M-Shape atau enggak sih -- karna sejujurnya, saya kurang punya nyali untuk menggendong Faza (sebelum usia setahun) dengan posisi seperti itu. Takut disambit mbah-mbahnya 😂

Fokus utama saya adalah pada gendongan yang ngasih iming-iming gak bikin capek! *mamak lemah* 😅

Nah, langsung aja yaa review macam-macam tipe gendongan yang dulu saya beli. Semoga bermanfaat untuk yang lagi galau milih tipe gendongan 😊

1. Gendongan Tipe Jarik

Ini saya gak beli sih. Melainkan sudah dipersiapkan oleh Mbahnya Faza tentu saja. Bagi orang kampung saya, hukumnya seolah wajib punya gendongan jarik 😂

Jujur ya, saya paling gak bisa pake gendongan jarik ini. Baik pakai cara konvensional seperti yang selama ini dipraktekkan sesepuh-sesepuhku, maupun pakai cara seperti yang diajarkan para emak-emak Indonesia Babywear.

Entah ya, mlorot-mlorot gak jelas gitu. Yang paling bikin grogi, kalau pergi-pergi sama bocah dengan gendongan ini, terus sempet nglepas gendongannya, grogi bangetttt pas mau pakai ulang. Apalagi kalau gak ada yang bantuin.

Seingat saya, keberhasilan saya makai gendongan jarik ini tanpa bantuan dari orang lain, angkanya gak lebih dari jumlah jari sebelah tangan.😂

Kelebihan gendongan tiper jarik:

Bisa sekalian buat selimut untuk anak, terutama kalau pas bepergian. Bisa M-Shape

Kekurangan gendongan tiper jarik:

Ribet, ofkors.

2. Gendongan Tipe Ring Sling

Ini gendongan yang paling sering saya pakai untuk menggendong Faza. Karena paling simpel, dan saya bisa makai sendiri tanpa bantuan. Itupun setelah usia Faza 6 bulanan. Sebelumnya tetep aja butuh bantuan. Betapa dodolnya hamba 😂

Cumaaa, kalo gendongnya dalam jangka waktu lumayan lama, misa pas jalan-jalan di mall gitu, dijamin, pundak kayak mau patah. Dan yang bikin gak enak banget, cuma pundak sebelah. Apalagi kalo nempatin ring-nya gak pas, wuih, bikin sakit banget itu.

Kelebihan gendongan tipe ring sling:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe ring sling:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit.

3. Gendongan Tipe Wrap (Hanaro Baby Wrap)

Hanaroo Baby Wrap ini merupakan gendongan impian saya, sejak sebelum nikah 😂

Jadi ceritanya, suatu hari saya melihat foto teman kuliah saya yang udah lebih dulu nikah dan punya anak di medsos. Di foto itu, dia lagi gendong anaknya pakai baby wrap. Saya langsung searching dengan keyword "gendongan kaos yang seperti kangguru" 😁 Mana tau saya saat itu kalau namanya ternyata wrap.

Sejak saat itu saya bertekad, besok kalau punya anak, saya harus punya gendongan tipe wrap. Kayaknya nyaman banget gitu.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saya dibeliin ibu mertua saya 😍

Tapi baru berani makainya saat Faza sudah usia 7 bulanan kalau gak salah. Karna kalau dipakai sesuai aturan, para sesepuh pada mencak-mencak. Huft.

nyari foto saya gak nemu, akhirnya pasang foto paksu aja deh 😂

Beneran enak sih gendong pakai gendongan tipe wrap ini. Nyaman dan gak terlalu capek karna bebannya dibagi di tiga titik, yaitu dua pundak dan pinggang. Cuma kalau gendongnya lama ya tetep aja capek sih 😅

Cuma, ribetnya gak nahaaan. Harus diubet-ubet gitu kan. Dan kalau pas ngubet-ubetnya gak pas juga akan gak nyaman seterusnya selama gendong.

Tapi sekarang udah ada gendongan tipe wrap yang instan yaa. Ntar deh kalo anak kedua, Insya Allah 😊
Kelebihan gendongan tipe wrap:

Beban dibagi di tiga titik, jadi gak capek. Bisa M-Shape.

Kekurangan gendongan tipe wrap:

Ribet banget pakainya. Dan bikin bentuk badan bagian belakang terekspos banget.

4. Gendongan Tipe Geos/Gendongan Kaos (My Baby Pouch)

Ini gendongan terakhir yang saya beli di era Faza. Laper mata dan impulsif, gara-gara beberapa teman posting foto dan mention akunnya My Baby Pouch. Langsung deh, kepo berujung khilaf 😂

Lagi-lagi saya kepincut karna kesan 'mudah' yang ditawarkan. Ini kan mirip ring sling ya, cuma dari kaos. Jadi bayangan saya akan nyaman sekali, karna gak ada ring yang akan bikin sakit.

Ternyata memang enak sih. Jauh lebih nyaman untuk pundah. Tapi ya lagi-lagi, bebannya hanya tertumpu pada pundak sebelah. Dan karna Faza gendut, jadi agak sesak gitu sih rasanya.

Itu Fazanya lagi tidur. Tuu kan saya gak berani M-Shape makainya 😅

Gendongan Tipe geos ini merupakan gendongan kedua yang paling sering saya pakai setelah ring sling.

Kelebihan gendongan tipe geos:

Simpel. Gampang makainya.

Kekurangan gendongan tipe geos:

Beban hanya tertumpu pada satu pundak, dan ringnya sering bikin sakit. Bisa sekalian buat selimut.

Sebenernya, saya ngebet satu tipe gendongan lagi. Yaitu tipe Carrier. Tapi gak dibolehin sama pak suami dengan beberapa alasan. Pertama, saya jarang banget gendong Faza, karna lebih milih stroller. Kedua, saat itu Faza udah hampir jalan. Jadi menurut beliau gak perlu deh beli gendongan lagi karna pasti akan jarang terpakai.

Yasudah sebagai istri sholihah tentu saja saya nurut 😂

Tapi tetep menyimpan impian untuk beli carrier kalau anak kedua nanti sih. Hehehe.

Kesimpulan saya soal berbagai tipe gendongan yang saya beli adalah: gak ada gendongan yang bener-bener gak bikin capek. Mau semahal apa, sebagus apa, kalau gendongnya dua jam ya tetep aja bakal capek lah. Apalagi kalau anaknya montok kayak Faza 😂

Kalau kalian paling suka gendongan tipe apa buibuuu??

Rabu, 21 November 2018

Review Baju Menyusui dari Mooimom

Hamil dan menyusui konon merupakan fase yang akan mengubah perempuan secara besar-besaran. Sikap, kedewasaan, prioritas, atau bahkan penampilan.


Yah, kasarnya sih, hamil dan menyusui seringkali bikin perempuan jadi lebih menurun tingkat kemodisannya. Jika saat masih single yang jadi prioritas adalah warna yang matching, enak di lihat, bla bla bla, setelah punya anak sih itu semua jadi nomor sekian.

Yang penting apa? Tentu saja yang penting nyaman dan ada bukaan depannya alias akses untuk menyusuinya. Yaiyalah, mau semodis apapun, lalu tiba-tiba anak crancky, emak bisa kelimpungan kalau gak bisa ngeluarin jimat alias nenen 😂 Bisa-bisa emaknya bisa ikutan cranky.

Yup, bagi saya pribadi, hal utama yang harus ada di semua baju yang saya pakai adalah ada akses menyusuinya. Pun baju yang saya pakai ketika lagi gak sama Faza (saat kerja, misalnya), karna saya harus tetap pumping, dan ini susah banget kalau bajunya gak ada akses menyusuinya.

Bahkan kebiasaan untuk menyiapkan akses menyusui di baju-baju saya ini sudah saya lakukan sejak sebelum nikah lho. Haha. Waktu itu mikirnya untuk persiapan, dan jika nanti punya anak biar bajunya tetap bisa dipakai 😀 Sungguh visioner ya saya ternyata.

Tapi, adakalanya saya bosan dengan model baju yang gitu-gitu saja. Kalo gak kancing depan, ya resleting depan. Lagipula jika bajunya berkancing depan, saya kadang merasa kerepotan saat Faza sedang gak sabaran minta nenennya. Bukanya kan satu-satu dan kadang susah ya. Suka gemes sendiri.

Sedangkan jika pakainya resleting depan, dan bajunya saya pakai ketika bepergian, saya sering kasihan mendapati bekas tonjolan resleting yang lumayan runcing di dahi Faza setelah dia tidur dengan bersandar di dada saya. Kasihan, pasti dia gak nyaman.

Saya bukan tipe orang yang modis soal berpakaian. Jadi sama sekali gak pernah ngikuti macam-macam model baju. Makanya sesempit itu pengetahuan saya soal model pakaian. Yang saya tau, baju untuk ibu menyusui ya kalau gak kancing depan, berarti resleting depan.

Eh ternyata enggak ya 😂 Mooimom ternyata punya baju menyusui yang gak pakai kancing maupun resleting.

Review Baju Menyusui dari Mooimom



 
Saya takjub (dan agak norak) ketika pertama kali memiliki Navy Striped Long Sleeves Nursing Shirt Baju Hamil Menyusui dari Mooimom. Takjub karna menurut saya modelnya brilian banget. Simpel sih, tapi kok saya gak pernah kepikiran yaa baju menyusui bisa kayak gitu modelnya. Haha. Jadi ketika Faza minta nenen, langsung aja deh singkap, tanpa ribet buka kancing atau resleting.


Akses menyusui
 
Dan bahan kaosnya itu lhooo, nyaman sekali Masyaa Allah. Adem, lembut dan menyerap keringat.

Bahan yang nyaman juga salah satu kunci untuk sebuah baju menyusui. Karna masa menyusui, artinya sama dengan masa ke mana-mana riweuh gendhong anak. Jadi pastilah rawan keringetan banget. Apa kabar kalau baju menyusui yang kita pakai gak menyerap keringat dan bahannya gak nyaman dipakai? Yah kecuali kalo satu anak satu nanny mungkin beda cerita ya 😆

Kualitas jahitan, jangan ditanya deh. Rapi jali. Setelah dicuci, bahannya juga gak jadi melar. Tapi saya nyucinya gak pakai mesin cuci sih kalo yang tipe bahan seperti mooimom ini. Baju bagus mah disayang-sayang. Hehe.

Kayaknya baju ini akan jadi baju CKP sih, alias Cuci-Kering-Pakai. Habis baju menyusui saya yang lain belum ada yang senyaman ini. Semoga kapan-kapan ada rejeki lagi biar koleksi baju menyusui dari Mooimom bisa nambah 😍

Duh, maapin yaaa siang-siang tebar racun. Hahaha.

Kalau buibu mau ngintipin juga koleksi baju menyusui Mooimom yang lain, langsung aja deh cuuss meluncur ke website-nya Mooimom, atau akun FB dan akun IG-nya mereka. Gak cuma baju menyusui sih, segala perlengkapan perang untuk ibu-ibu lengkap di sana. Tinggal siapain M-Banking aja 😂

Jumat, 11 Mei 2018

Review Botanina Immune Guard Baby Oil


Beberapa kali berkunjung ke baby shop, beberapa kali pula saya dan mas suami dihadang oleh mbak-mbak SPG dari beberapa merk Essential Oil. Dengan senyum tanggung kami memutuskan untuk mendengarkan penjelasan panjang lebar mbak SPG tersebut. Bagaimanapun, beliau sedang berusaha meyakinkan kami. Kami harus menghargai.

Meski jujur saja kami gak ada niatan beli ketika tau harganya ampuh sekali. Bayangin aja, untuk seukuran botol kecil dengan netto hanya beberapa mili, harganya hampir seratus ribu. Untuk sebuah barang yang manfaatnya masih absurd bagi kami, itu mahal sekali.

Iya, dalam benak kami Essential Oil itu masih absurd. Seperti hanya minyak, tapi bisa memperkuat daya tahan tubuh, memperbaiki pola tidur, nafsu makan, dll. Kok bisa? Gimana ceritanya? Kecuali kalo bilang bisa menyembuhkan ruam atau biang keringat. Nah itu masuk akal sekali.

Tapi suatu hari Mbak Annisast si blogger idola itu cerita tentang salah satu merk essential oil lokal di IG stories-nya, langsunglah klepek-klepek dan kebelet beli. Saya mudah terpengaruh memang 😁

Gak pake lama saya kepo-in akun IG Botanina. Dan gak pake lama juga, langsung memutuskan order.

Botanina terdiri dari banyak varian essential oil, di antaranya ada Immune guard yang konon salah satu manfaat utamanya adalah untuk menjaga daya tahan tubuh, cold and flu untuk menyembuhkan atau menghindarkan dari flu, bugs repelent spray yang berfungsi untuk menghindarkan dari gigitan serangga, dll. Essential Oil Botanina dibagi menjadi 3 kelompok usia, yaitu bayi, anak-anak dan dewasa.

Karna baru pertama kali dan masih belum yakin banget sama manfaatnya -- demi memuaskan rasa penasaran saya -- akhirnya saya order satu buat Faza, yang varian Immune Guard Baby Oil (untuk anak usia 6 bulan - 2 tahun) ukuran 30 ml. Harganya 55.000, dengan ongkir dari Bandung ke Semarang sebesar 17.000. Jadi total 72.000.

Ohya, saya ordernya dengan cara wapri ke nomor yang tertera di Bio akun IG-nya. Fast respon, dan mbaknya ramah.

Saya lupa barang sampai dalam waktu berapa hari. Yang jelas gak sampai seminggu deh kayaknya. Packingnya rapi 💙

Klaim yang tertera pada botolnya:

Mendukung sistem imun, melembabkan, mengatasi masalah kulit, meredakan sakit, meningkatkan nafsu makan, menenangkan.

Aromanya soft. Sedep. Mirip Bio Oil menurut saya. Hihi.

Teksturnya kayak minyak. Eh gimana, kan emang minyak ya 😅 Tapi gak bikin berminyak dan lengket ketika dioleskan. Cepat meresap gitu.

Tentang manfaatnya, apakah terbukti?

Antara terbukti dan tidak.

Kalau untuk klaim mengatasi permasalahan kulit, saya YES. Pernah suatu pagi pan*atnya Faza ruam. Merah-merah tebal menyedihkan. Saya oles sedikit Botanina Immune Guard Baby Oil ini. Sorenya, pan*atnya udah mulus lagi, WOW saya terharu 😍

Tapi untuk klaim soal menenangkan (saat tidur -- tambahan 'saat tidur' ini disampaikan oleh mbak admin yang balas wapri saya), saya masih ragu. Ohya, FYI, salah satu klaim yang paling saya harap akan beneran terbukti jujur aja adalah point ini. Karna Faza itu kalo di atas jam 10 malam, boboknya entah kenapa gak tenang banget, sering terbangun. Huhu, Ibu ngantuk, Za 😴

Masalahnya, pernah suatu hari saya pijitin dia pakai botanina immune guard ini menjelang tidur. EH beneran malemnya boboknya pules. Seneng banget dong 😍 Saya mendadak jatuh cinta pada Botanina.

Tapi malam berikutnya, saya pijitin lagi pakai Botanina seperti malam sebelumnya, dan FAILED. Boboknya gak tenang lagi kayak kemarin-kemarin. Patah hati 💔

Jadi soal bisa menenangkan (saat tidur), entahlah saya belum benar-benar membuktikannya.

Tentang Klaim bisa menjaga daya tahan tubuh, saya cukup membuktikan.

Tiga mingguan yang lalu ayahnya flu. Disuruh jaga jarak sama anaknya mana bisa. Nempel terus tetep. Sempet khawatir Faza ketularan kan, soalnya biasanya gitu. Eh Alhamdulillah kali itu enggak 😍

Tapi ini malah anaknya lagi flu. Saya udah semingguan libur mijitin dia pake Botanina sih 😅

Kesimpulan. Kalau disuruh ngasih nilai, saya akan kasih 3,5 dari 5 bintang.

Re-purchase? Yes, Insya Allah. Next pengen nyobain yang cold and flu. Karna lihat anak flu itu ga tega banget yaaa 😭

Kalian gimana, udah pernah nyoba pake essential oil?