Tampilkan postingan dengan label Catatan Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juni 2023

Mengapa Kami Memilih Kuttab Al-Fatih?

Setelah kegalauan tentang proses menyusui, disusul soal MP-ASI, lalu tentang sembelit berulang yang sungguh menguji kesabaran, dan ratusan kegalauan lainnya, tiba juga saatnya kami galau memilih sekolah untuk Faza. Hehe, kayaknya jadi orangtua emang rasanya akan galau terus soal anak sih ya.

Sebenarnya, obrolan tentang pilihan sekolah untuk Faza sudah sering sekali kami angkat dan diskusikan. Dan meski sejak awal kami sudah mengerucutkan pilihan, tetap saja saat masanya tiba, masih ada saja bongkar-pasang pertimbangan yang membuat kami galau.

Saat Faza masuk usia 4 tahun, kami mulai serius sekali memilih sekolah tingkat dasar untuk Faza. Kenapa 4 tahun? Karena salah satu sekolah yang menjadi opsi kami adalah Kuttab Al-Fatih, yang mana sudah bisa mulai masuk saat anak usia 5 tahun.

Apakah ada pilihan lain selain Kuttab Al-Fatih? Ya, ada. Yaitu SDIT Bina Insani, yang mana sekolah dengan basis seperti umumnya Sekola Dasar Islam Terpadu lainnya. Beda dengan Kuttab Al-Fatih yang bisa dibilang sangat 'unik dan berbeda' dengan sekolah dasar lain pada umumnya.

Jujur saja, perbedaan dan keunikan itulah yang membuat saya dan suami sempat ragu dan maju-mundur. Soal hal-hal yang sempat membuat kami maju-mundur ini, semoga lain waktu bisa saya ceritakan lebih panjang.

Namun setelah berbagai pertimbangan, istikharoh dan doa, dengan berbekal Bismillah, akhirnya kami mantap memasukkan Faza untuk belajar di Kuttab Al-Fatih.

Beberapa hal ini lah yang akhirnya membuat kami mantap:

Kurikulum Utama: Iman & Al Qur'an

Melihat berbagai kejadian yang mencerminkan kondisi generasi hari-hari ini, jujur kami resah. Kenapa ya, sekolah sepertinya makin banyak yang bagus dan keren, tapi kok gak berbanding lurus dengan kualitas generasi kita?

Emm, terutama jika dilihat dari kacamata Islam, ya. Kalau dari kacamata duniawi sih mungkin bisa dibilang generasi hari ini semakin cemerlang otak dan kemampuannya.

Keresahan kedua, saat mencoba merefleksikan diri dengan apa saja yang saya pelajari selama sekolah, rasa-rasanya kok pelajaran-pelajaran yang dulu saya hafalkan tiap hari di buku paket, banyak yang gak terpakai atau gak signifikan manfaatnya untuk bekal hidup, ya?

Keresahan berikutnya, tentang kurikulum sekolah di Indonesia, yang sering banget ganti, tiap pejabatnya ganti. Saya sering dengar guru kebingungan tiap harus adaptasi dengan kurikulum baru. Nah lho, kalo gurunya saja bingung, gimana muridnya?

Keresahan-keresahan tersebutlah yang mengantarkan kami untuk akhirnya mantap memilih Kuttab Al-Fatih.

Di Kuttab Al-Fatih, kurikulum utamanya hanya ada 2. Yaitu, Iman dan Al-Qur'an. Mata pelajarannya tiap hari ya terbagi menjadi dua, kelas iman dan kelas Al Qur'an.

Apapun yang dipelajari anak di kelas iman, akan dikaitkan dengan keimanan pada Allah. Misal, anak diajak belajar tentang tema tata surya, maka ustadz atau ustadzah akan menunjukkan ayat-ayat Al Qur'an tentang tata surya dan mengajak mentadabburinya, dengan bahasa ringan sesuai dengan usia anak di kelas tersebut.

Adab Sebelum Ilmu, Iman Sebelum Al Qur'an

Di Kuttab Al-Fatih, saya pribadi merasakan 'adab sebelum ilmu, iman sebelum Al Qur'an' ini benar-benar diterapkan, dan bukan sekedar slogan.

Adab adalah aspek yang sangat diperhatikan, melebihi aspek lainnya, termasuk aspek akademik. Mau sepintar apapun, kalau adabnya belum baik, maka sangat memungkinkan anak tersebut tidak bisa naik kelas.

Saat pertama kali bertemu ustadzah untuk menerima raport pertama Faza 6 bulan lalu, salah satu hal utama yang disampaikan ustadzah adalah ada adabnya yang belum baik, yaitu memotong pembicaraan ustadzah dan  asyik ngobrol sendiri saat ustadzah sedang memberikan pelajaran.

 Dan gak hanya santri (murid) yang ditekankan untuk mengutamakan adab. Para guru pun juga memperlakukan santri dengan adab sebagaimana seorang guru pada muridnya. Saya sering trenyuh melihat para ustadz dan ustadzah yang tampak sayang dan tulus sekali pada para santri. Begitu juga kami orangtua juga dihimbau untuk berinteraksi dengan adab yang baik, baik kepada ustadz dan ustadzahnya anak kita, pada sesama orangtua santri atau pada anak kita sendiri.

Di Kuttab, goal utama bukan soal seberapa banyak hafalan Al Qur'an. Yang lebih utama adalah iman sebelum Al Qur'an. Jadi penekanan utamanya adalah pada penanaman iman, adapun hafalan Al Qur'an, Insyaa Allah akan mengikuti.

Goal Utama: Akhirat

Kuttab Al-Fatih merupakan lembaga sekolah non-formal. Lulus dari Kuttab Al-Fatih gak akan dapat selembar ijazah yang diakui negara.

Jujur, hal ini sempat menjadi salah satu faktor yang bikin maju mundur. Gimana nanti kalo Faza gak punya ijazah SD? Gimana masa depannya? Bisa kerja gak ya? Dan lain sebagainya.

Sampai akhirnya saya dengar kajian ustadz Budi Ashari, dan ditampar dengan sebuah hadist.

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

"Barangsiapa yang memperlajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat" (HR. Abu Daud)
Sempet ada bantahan dari kepala saya sendiri. "tapi kan wajar sebagai manusia mikirin masa depan? mikirin dunia?"

Lalu, lagi-lagi saya kembali ingat sebuah hadist.

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ (HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih)
Dari situ lah hati kami Insyaa Allah mantap mengantarkan anak kami belajar di lembaga ini.

Sudah banyak sekali tanda-tanda akhir zaman yang bermunculan. Faza adalah termasuk generasi akhir zaman. Maka, menyekolahkan dia di Kuttab Al-Fatih ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar kami untuk membekalinya menghadapi akhir zaman yang pasti akan semakin berat jika dihadapi tanpa pondasi akidah dan keimanan yang kuat.

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if dan syawahidnya atau penguatnya pun dho’if. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7: 139)

Sumber https://rumaysho.com/3335-jangan-lupakan-nasib-kalian-di-dunia.html

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

Orangtua juga Ikut Belajar

Di Kuttab Al-Fatih, peran orangtua santri besar sekali porsinya. Jangan harap bisa berharap kita bisa lepas tangan dan menyerahkan tugas mendidik sepenuhnya pada guru dan sekolah.

Sejak awal mendaftar, komitmen orangtua sudah sangat diuji. Dari proses sebelum mendaftar, ada stadium general yang wajib dihadiri berdua -- ayah maupun ibu calon santri. Ada proses interview yang juga harus dihadiri berdua.

Setelah masuk, orangtua santri juga ada kewajiban menghadiri kajian bulanan. Jika ijin 3x atau lebih, sebelum menerima raport orangtua akan diminta menghadap salah satu ustadz untuk diingatkan. Dan jika hal yang sama terulang, Kuttab Al-Fatih akan mengembalikan anak pada orangtuanya, karena dianggap tidak bersedia bekerjasama dengan sekolah dalam mendidik anak. Begitu pun saat ambil raport, tidak boleh hanya ayah atau ibunya saja yang datang, melainkan harus berdua.

Ada juga lembar BBO (Belajar Bersama Orangtua) yang harus diisi oleh orangtua tiap pekannya. BBO berisi laporan orangtua tentang aktivitas belajar anak saat di rumah. Saat awal Faza masuk Kuttab Al-Fatih, qodarullah bersamaan dengan saya melahirkan anak kedua. Jujur saat itu saya sempat ingin menyerah dengan berbagai kewajiban orangtua ini karena merasa kewalahan (karna punya newborn), huhu. Tapi Alhamdulillah keinginan menyerah itu bisa saya pupus.

Oh ya, selain itu orangtua santri juga ada kewajiban untuk menyimak kajian online pekanan melalui aplikasi khusus orangtua santri Kuttab Al-Fatih, dan ada soal ujiannya setiap usai menyimak kajian.

Masyaa Allah, jadi gak cuma anak yang harus belajar, orangtua pun harus terus belajar juga.

Yah, itulah beberapa point yang membuat kami yakin dan mantap menyekolahkan anak kami di Kuttab Al-Fatih. Saya gak bilang Kuttab Al-Fatih pasti lebih baik dari sekolah lainnya. Isi pikiran saya di atas juga bisa jadi kontra dengan pikiran teman-teman yang lain.

Wallahu a'lam bishawab. Kami hanya berikhtiar sebaik yang kami mampu dalam mendidik anak-anak kami. Semoga Allah menerima ikhtiar kami, dan memberikan kami keberkahan atasnya.

Senin, 06 Februari 2023

Ahsan, 0-6 Bulan

 Setiap anak punya cerita.

Gak peduli mau anak ke berapapun, ternyata tetap aja hampir setiap jengkal hal tentang masing-masing anak adalah hal baru.

Begitulah yang aku rasakan ketika mengurus Ahsan. Meski tentunya, mengurus anak kedua saya sudah lebih siap dan gak blank banget. Seenggaknya, saya sudah punya gambaran tentang gimana struggle-nya satu sampai dua minggu pertama menyusui, sudah lebih ngeh membaca berbagai macam arti tangisan bayi (dulu tiap Faza nangis aku nawarinnya neneeeenn terus, padahal nangis itu gak selalu artinya minta nenen, hehe).

Tapi ya tetap aja balik lagi, banyaaakkk sekali kejutan dan cerita tentang mengasuh Ahsan di 6 bulan pertama kehidupannya.

Ahsan

 

Selalu Begadang di 2 Bulan Pertama

Dulu tantangannya Faza adalah mengalami pengalaman baru sebagai ibu yang serba pertama, dan serba masih belajar. Alhamdulillahnya, aku dapat sekali banyak bantuan, terutama di 2 bulan pertama, karena aku melahirkan di rumah orangtuaku. Sempat begadang, itupun kalo gak salah hanya sebulanan pertama, dan gak tiap hari Faza ngajak begadang.

Sedangkan Ahsan, hampir setiap hari selama 2 bulan, ngajakin begadang 😭 Engga rewel sih seringnya (pernah juga rewel), tapi tetep aja ngebiarin anak bayik melek sendirian itu tetep ga akan bisa bikin kita tidur nyenyak kan?

Dulu Faza pagi-sore tidurnya bentar-bentar banget. Maunya neneeeen terus, sampai saya gak bisa ngapa-ngapain sama sekali. Nah, ahsan ini siangnya tiduuuurrr terus (meski tetep nenen 2 jam sekali). Malam, melek :(

Dia bisa tidur hampir selalu di atas jam 1 malam. Ini yang bikin saya beberapa kali sempat limbung baik secara fisik, maupun secara psikologis.

Mas Suami bantuin sih, kadang dia yang jagain, akunya tidur. Tapi ya tetep aja kalo cari nenen yang yang dicari ibunya kan?

Masuk RS di Usia 5 Bulan

Dulu saat Faza usia 5 bulan, saya masuk rumah sakit. Eh sekarang saat Ahsan usia 5 bulan, Ahsannya yang masuk RS. Sedih banget ya ternyata lihat anak harus dirawat di Rumah Sakit tuh. Lihat anak sakit di rumah juga sedih, tapi sampai harus dirawat tuh sakitnya another level :(

Lihat Ahsan harus ditusuk berkali-kali saat memasang infus dan saat infusnya lepas tuh... ah, gak bisa dijelasin rasanya.

Ahsan dirawat karena didiagnosa Bronco Pneumonia. Awalnya dia kami ajak ke Losari, Cirebon -- rumah kerabat. Sepulang dari sana, paginya tiba-tiba dia batuk, dan batuknya gak biasa. Seperti ada banyak sekali lendir di dadanya. Dua hari di rumah, kondisinya makin bikin gak tega. Nafasnya cepat sekali dan terlihat sesak. Disuruh nenen susah banget, karena saat nenen dia kesulitan nafas, dan ada restraksi dada (ada cekungan antara dada dan perut saat bernafas).

Alhamdulillah setelah 4 hari, Ahsan diijinkan pulang, meski kondisinya belum 100% baik.

Sampai hari ini, Ahsan masih sering grok-grok, seperti ada lendir di dada dan tenggorokannya. Jujur bikin saya lumayan worry :(

Lulus ASI Eksklusif Tanpa Drama

 

Setelah dulu gagal memberikan ASi eksklusif untuk Faza, Alhamdulillah di anak kedua saya diberi kemudahan untuk memberi ASi eksklusif. Saya gak pernah berani membayangkan punya stok ASI se-freezer penuh, tapi qodarullah Allah ijinkan saya mampu untuk itu :')

Tumbuh Kembang Ahsan

BB Ahsan di usia 6 bulan 8,6 Kg. termasuk ideal. Semoga seperti itu terus. Aamiin.

Ahsan baru lancar tengkurep bolak balik usia 5 bulan, sedangkan tengkurep pertama kali usia 4 bulan. Tapi di usia 6 bulan 2 minggu, Alhamdulillah dia udah bisa ngangkat bokongnya (jadi posisi seperti mau merangkak gitu). Masyaa Allah, seneng banget... karna dulu Faza terlambat di fase ini. Pun dengan loncat-loncat. Dulu Faza gak ada fase suka loncat-loncat saat kami pegangi dia, sedangkan Ahsan sudah suka loncat-loncat di pangkuan ketika usia menjelang 6 bulan. Mungkin karena kondisi kaki Faza yang spesial.


Alhamdulillah akhirnya kesampaian nulis rekap tentang Ahsn 0-6 bulan. Meski seadanya dan gak sedetail Kakak dulu. Semoga Ahsan tidak menganggap ibu membeda-bedakan yaaa.


Minggu, 30 Oktober 2022

Proses Adaptasi Punya Adik Baru

Punya anak kedua di saat anak pertama saya usia 5 tahun awalnya bikin saya lumayan pesimis. Ah, pasti akan minim drama lah. Si kakak pasti gak akan ada cemburu-cemburuan, karena kan sudah besar. Apalagi kehadiran si adek ini sangat dia nanti-nantikan selama ini. Begitu pikir saya.

Eh ternyata, tidak seindah itu, ferguso! 😂

Saya seolah 'lupa' bahwa Kakak Faza hanyalah seorang anak berusia 5 tahun, yang terlihat sedewasa apapun, ya tetap saja anak 5 tahun.

5 tahun menjadi satu-satunya pusat dunia saya dan ayahnya, membuat si Kakak oleng ketika tiba-tiba ada anggota baru yang menyedot perhatian kami besar-besaran. Dulu, selama saya ada di radius pandangan dia, maka kapanpun dia butuh, saya siap grak selalu gercep memenuhinya. Setelah adiknya lahir, dia harus menerima berbagai jawaban yang mungkin membuat dia kaget.

"Sebentar ya kak, adek sedang nenen"

"Sebentar ya kak, ibu sendawa-in adek dulu"

"Nanti ya kak, ibu capeeekkk sekali"

Dan lain sebagainya.

Perubahan kondisi itu, membuat Kakak juga tiba-tiba 'berubah'. Saya dan ayahnya sempat merasa Faza benar-benar berubah dan bukan lagi Faza yang kami kenal.

Faza yang kami kenal, meski adakalanya membuat kami jengkel, tetaplah bagi kami anak yang manis. Anak yang cukup mudah diarahkan dan dinasehati. Begitu adiknya lahir, duaarrr! Faza berubah jadi anak yang seolah selalu ingin menguji kesabaran ayah ibunya. Apapun yang ayah ibu katakan, maka dia akan mencari cara gimana caranya untuk mengingkarinya.

Dia juga jadi gak kerasan sekali di rumah. Kapanpun ada kesempatan untuk keluar dari rumah, maka dia akan melakukannya. Tanpa pamit! 😭 Ini bikin kami shock sekali, karena kami paham betul Faza bukan tipe anak yang seperti itu sebelumnya.

Malangnya, kami tidak langsung menyadari bahwa perubahan itu merupakan akibat dan bagian dari proses adaptasi punya adik baru. Apalagi saat itu saya dan ayahnya juga sama-sama sedang beradaptasi juga dengan tambahan tanggung jawab baru. Belum lagi di sebulan pertama, si adek boboknya selalu di atas jam 12 malam, bahkan seringnya masuk jam 2 malam baru bisa tidur. Sedangkan siang hari, saya juga hampir gak pernah bisa tidur siang.

Lengkaplah sudah. Faza yang kebingungan menghadapi kondisi baru. Ayah-ibunya yang kebingungan menghadapi dia sekaligus kehabisan energi untuk menelaah dengan kepala dingin apa sebenarnya penyebab Faza tiba-tiba berubah.

Bisa ditebak, tiap hari isinya kami yang marah-marah ke Faza, dan Faza yang marah balik. Kami yang menangis, dan kami yang semakin marah. Duh ya Allah, kalau inget masa itu 2 bulan lalu, rasanya hari-hari gelap banget 😭

Pernah suatu malam, Faza gak pulang ke rumah sejak habis sholat magrib di masjid hingga menjelang pukul 8 malam. Saya resah sekali tentu saja, mencoba minta tolong ayahnya untuk memanggil Faza untuk pulang. Fyi, sebelumnya Faza hanya kami ijinkan main di luar rumah saat malam pada malam minggu saja. Sedangkan saat itu hari sekolah.

Ayahnya menolak, karena sedang merasa capek. Capek mental terutama. Faza sudah berkali-kali melakukan hal yang serupa sejak adiknya lahir. Saya juga bisa menerima dan memaklumi penolakan ayahnya saat itu. Dia lelah fisik, lelah mental. Kalau dia manggil Faza untuk pulang saat itu, pasti gak akan  mulus-mulus saja. Seperti yang sudah-sudah, harus ada adu urat dulu, Faza menolak sambil marah, ayahnya ikut marah, lalu Faza manangis meraung-raung. 

Saya sendiri juga saat itu dalam kondisi yang gak memungkinkan untuk memanggil Faza, karena adeknya sedang kembung dan rewel tiap diletakkan di kasur. Selain itu, ayahnya juga minta saya untuk menunggu sampai Faza pulang sendiri.

Pikiran saya ke mana-mana. Gimana kalau Faza tetep gak pulang? Apa kata tetangga nanti lihat Faza seperti gak terurus? Dll. Alhasil, saya cuma bisa berurai air mata sambil gendong si adek. Bingung harus gimana ngadepi Faza. Hhh, begitulah. Cerita flashback gini aja rasanya inget banget gimana capeknya saat itu.

Alhamdulillahnya, Faza punya kemampuan mengungkapkan perasaan dengan cukup baik. Meskipun kadang caranya masih kurang tepat -- karna sekali lagi, dia tetaplah masih seorang anak 5 tahun.

Dia berkali-kali bilang, "ibu sekarang gak pernah urusin aku, urusinnya adek terus."

Kalimat itu menjadi semacam clue untuk kami. Ternyata segala ulahnya selama ini memanglah karena dia sedang 'cemburu'. Adakalanya, hati saya sebagai ibu serasa diremas-remas mendengar ungkapan hatinya.

Seperti suatu saat sepulang sekolah, saat ia marah tidak jelas dan saya mulai terpancing emosi, saya tanya dengan nada tinggi, "Kakak tu kenapa sih, kaaakk? Ibu harus gimana? Kok ibu salah terus di mata kakak?!"

Lalu dengan berurai airmata ia berkata, "aku tu kangen, Buuuu... aku kangen ngomong-ngomong sama ayah sama ibu lagi kayak dulu pas habis sholat magrib (kami sering quality time dengan bercanda dan ngobrol seusai sholat magrib memang), Tapi sekarang udah gak bisa lagi, kan sekarang sudah ada adek..."

Dia mengatakan itu dengan perasaan sedih yang tergambar jelas di wajahnya. Saya cuma bisa memeluk dan menjelaskan, bahwa kehadiran adek sama sekali bukan penghalang untuk kita bisa seperti dulu lagi.

Pernah juga suatu saat, saat saya dan ayahnya sedang tersenyum-senyum memandangi adeknya. Ternyata si kakak mencuri pandang dari kejauhan. Saat saya menyadari dan memanggilnya, dia bilang, "ayah ibu kok kalau lihat adek kayak seneng gitu ya, senyum-senyum terus... tapi kalau lihat kakak kok enggak". Duh Ya Allah...

Tapi Alhamdulillah semua itu sudah berlalu. Di usia adiknya yang kurang lebih 2 bulan, Kakak sudah mulai bisa beradaptasi dan menerima kehadiran adiknya, sejalan dengan saya dan ayahnya yang juga sudah mulai bisa menata diri dengan kondisi baru.

 

 

Proses Adaptasi Punya Adik Baru

 

Kakak Faza sekarang sudah kembali menjadi Kakak Faza yang kami kenal. Alhamdulillah...

Meskipun tentu saja bukan berarti tantangan sudah selesai. Setelah ini pasti akan ada tantangan-tantangan baru.

Semoga kami bisa terus bertumbuh bersama dan saling menguatkan. Aamiin.

Selasa, 09 Februari 2021

Cerita Khitan Faza: Masih Kecil kok Sunat?

Saat masih hamil Faza, saya pernah nggak sengaja membaca postingan Instagram (lupa instagram-nya siapa), yang mengatakan bahwa, dari segi medis, waktu terbaik khitan/sunat seorang anak laki-laki adalah di bawah satu tahun. Lumayan kaget, karena selama ini yang lazim di lingkungan saya, anak laki-laki dikhitan rata-rata usia di atas tujuh tahun. Ada sih beberapa yang sunah dikhitan ketika masih kecil, tapi seringnya karena ada penyebab yang memang mengharuskan di baliknya. Setiap ada anak usia di bawah 7 tahun sunat, rata-rata orang akan bertanya: masih kecil kok sunat?


Ketika Faza lahir, ingatan tentang postingan usia terbaik anak laki-laki khitan itu kembali lagi. Lalu terbersit keinginan untuk mengkhitankan Faza saat bayi. Karena selain ternyata memang direkomendasikan oleh kacamata medis, kalau dipikir-pikir khitan saat masih bayi rasanya akan jauh lebih simpel.


Kenapa simpel? Yah, kalau misal setelah khitan jadi rewel kan tinggal dinenenin. Gendong juga masih enteng. Toh enggak karena dikhitan pun, adakalanya bayi rewel semalaman kan. Jadi sekalian gitu repot dan begadangnya. Hehehe.


Tentu saja niatan itu ditolak oleh keluarga saya, terutama Ibu. Karena, ya nggak lazim di mata mereka. Jadi yawis akhirnya niatan itu saya urungkan. Tapi keinginan untuk mengkhitankan Faza sesegera mungkin masih selalu ada dalam benak saya dan mas suami.


Sejak Faza sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah -- kurang lebih usia 1,5 tahun, kami mulai intens mensounding Faza untuk dikhitan. Kami menjelaskan ke dia bahwa Faza anak laki-laki, dan anak laki-laki harus dikhitan.


Nah, karena kami sudah sounding dari jauh-jauh hari, kami jadi tinggal nunggu dia siap saja. Jadi prosesnya mirip saat menyapih. Tinggal nunggu moment 'aha'-nya dia, cepat atau lambat dia akan bilang mau dan siap.

 

Baca juga: Menyapih dengan Cinta


Dan benar ternyata. Faza menemukan moment 'aha'-nya ketika kakak sepupunya dikhitan. Dia tiba-tiba bilang, "Ibu, aku mau dikhitan juga seperti Mas Danish"


Wow, tentu saja saya dan ayahnya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.Kami segera mengatur rencana: kapan, mau sunat di mana, dll. Setelah berunding dengan Akung dan Yangtinya Faza, akhirnya kami sepakat mengkhitankan Faza pada tanggal 4 Desember 2020 lalu. Selang lama banget yaaa dengan saat cerita ini ditulis, hehe. 


Saat itu, kami sempat galau mau menggunakan metode sunat apa. Awalnya saya berniat memakai metode clamp. Sudah sempat menghubungi Rumah Khitan yang bersedia Home Service juga. Tapi setelah berunding lagi, kami akhirnya memutuskan agar Faza disunat oleh tetangga kami yang seorang dokter dan memang sudah terbiasa mengkhitan anak, dengan metode laser.


Saat Proses Khitan


Saat proses khitan berlangsung, tentu saja kami semua tegang. Bisa jadi kami yang mendampingi yang jauh lebih tegang dibanding Faza, Fazanya manempatkan dirinya sendiri di tempat tidur malah. Hehe.


Yang membuat lebih tegang adalah, saat dokter sudah memotong kulit ujung penisnya, dan akan melanjutkan proses selanjutnya, tiba-tiba dokter bilang, "Lho..." dengan nada agak kaget. Jangan tanya saya paniknya seperti apa, meski tentu saja harus berusaha tetap tenang.


Ternyata, kulit penis Faza yang harus dipotong agak banyak, dan pemotongan yang pertama masih kurang. Jadi harus dipotong lagi. Setelah dipotong kedua kali, baru ketauan bahwa ternyata sudah mulai ada perlengketan antara kulit dan kepala penisnya, atau bisa dibilang sudah mulai gejala fimosis. Jadi kata dokter, keputusan untuk mengkhitankan Faza sekarang adalah keputusan yang sangat tepat. Alhamdulillah.


Nah tapi, karena ada perlengketan, tentu saja hal ini membuat proses khitan jadi makin lama. Di tengah-tengah proses menjahit, efek obat bius lokalnya sepertinya sudah mulai hilang, jadi Faza bisa merasakan saat dia dijahit, Hiks. Jelas saja dia nangis teriak-teriak. Tapi Alhamdulillah masih sangat terkendali.


Setelah Khitan Rewel Nggak?


Hampir semua orang juga bertanya seperti ini.

 

Kurang Lebih 3 Jam Setelah Sunat

 

Setelah proses khitan selesai, jelas Faza sempat menangis heboh. Mungkin sekitar setengah jam. Sempat muntah juga gara-gara oleh dokter kami disuruh langsung meminumkan obat pereda nyeri, dan Faza masih sambil nangis.


Alhamdulillahnya, proses khitannya dilakukan siang hari. BErte[atan dengan jam tidur siang Faza, Jadi, setelah capek nangis dan minum obat, dia langsung bobok. Puleeeess banget.


Setelah bobok, ya udah. Nggak ada rewel-rewel lagi. Alhamdulillah. Nangisnya paling kalau mau dioles salep, karena dia parno duluan. Hehe.


Berapa Hari Proses Pemulihannya?


Tepat seminggu, Alhamdulillah Faza sudah pulih total. Meskipun dalam seminggu itu, sempat diwarnai bengkak, karena Faza nggak bisa disuruh diem.

 

Hari ke-3 udah bisa gaya, LOL

 

Saat bengkak itu, saya sempat agak panik. Karena (maaf), bentuk penisnya jadi nggak beraturan. Saya khawatir nggak bisa balik lagi bentuknya, Huhu. Alhamdulillah kekhawatiran saya nggak terjadi.


Legaaaa banget rasanya, punya anak laki-laki dan sudah mengkhitankannya. Tinggal nunggu moment dia minta ijin untuk nikah. Huehehehe.


Jadi, bagi buibu pakbapak yang berniat mengkhitankan anaknya sedini mungkin, nggak usah khawatir yaaa. Semangat :)

Senin, 21 Desember 2020

Gut-Brain Axis, Tiga Kecerdasan yang Tidak Terpisahkan

 Pernahkah kalian merasa stress, yang kemudian berimbas pada masalah pencernaan? Perut terasa tidak nyaman, atau kadang disertai diare. Kenapa ya kok pikiran bisa berimbas pada pencernaan?


Atau, pernahkah kita melihat anak kita atau bahkan kita sendiri, yang ketika lapar, mood menjadi sangat buruk? Pasti pernah kan?!


Saya sempat penasaran dan bertanya-tanya tentaang hal tersebut. Hingga akhirnya kini saya telah menemukan jawaban dan penjelasannya.


Ternyata, antara otak, pencernaan dan hati memang ada hubungannya lho. Mereka bisa saling ngobrol dan saling mempengaruhi. Atau sering disebut dengan istilah Gut-Brain Axis.


Jujur ya, hampir empat tahun menjadi ibu, saya baru tau tentang apa itu Gut-Brain Axis, melalui webinar yang diadakan oleh Bebelac pada tanggal 11 Desember 2020 lalu, yang bertajuk “Pentingnya Gut-Brain Axis Untuk Menumbuhkan Anak Hebat”.

 

gut-brain-axis

 

Gut-Brain Axis merupakan sebuah sebuah koneksi yang menghubungkan otak dengan pencernaan. Melalui gut-brain axis, saluran cerna akan memengaruhiotak untuk memproduksi neurotransmitter yang berkaitan dengan sosial emosional anak, salah satunya hormon serotonin yang menghasilkan perasaan senang dan nyaman (Wang, Y., & Kasper, L. H. (2014) Brain, Behaviour, and Immunity.)


Menurut penjelasan dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes yang merupakan seorang ahli gizi dan penulis buku tentang gizi, yang kemarin  menjadi narasumber di acara webinar yang diselenggarakan Bebelac, saluran cerna mampu mempengaruhi otak untuk emosi, perilaku dan logika. Sedangkan otak mempengaruhi saluran cerna untuk menyerap nutrisi dengan baik, atau istilahnya adalah Gut-Brain Axis.
Wow, betapa ajaib pencernaan manusia ya.

 
Saya tercengang dengan pengetahuan baru ini. Karena dari penjelasan dr. Rita saya jadi paham bahwa ternyata, nutrisi yang baik bagi anak turut mempengaruhi perilaku dan kebaikan hati anak. Selama ini saya kira, perilaku hanyaa dipengaruhi oleh pola asuh dan keteladanan orangtua dan lingkungan. Sedangkan nutrisi hanya berpengaruh pada perkembangan fisik serta kecerdasannya. Ternyata saya salah besar.


Maka dari itulah, Ibu Ye Vian Quah – head of Bebelac – yang kemarin juga sempat mengisi acara webinar mengatakan, bahwa Bebelac percaya anak yang anak yang hebat adalah anak yang memiliki happy trio, yaitu happy tummy, happy brain dan happy heart. Happy trio ini tidak bisa saling terpisahkan, karena pada dasarnya mereka saling terhubung. Happy tummy atau pencernaan yang baik akan mempengaruhi happy brain atau kemampuan berpikir yang baik. Sedangkan happy brain akan mempengaruhi happy heart atau hati yang baik.


Menurut penjelasan dr. Rita, nutrisi yang memungkinkan terjadinya Gut-Brain Axis adalah prebiotik yang berperan untuk memberi makan mikrobiota pada saluran cernaseperti bifidobacterialyang menstimulasi pertumbuhan spesies Bifidobacteriumdan lactobacillus tertentu, dan mengurangi bakteri patogen. 


Mikrobiota ini juga bertugas untuk berkomunikasi dengan otak, termasuk meminta otak untuk mengatur emosi dan perilaku anak.


Salah satu perbiotik yang memiliki fungsi tersebut adalah prebiotic yang terkandung dalam Bebelac, yaitu FOS:GOS dengan perbandingan 1:9. Selain mengandung FOS:GOS 1:9, Bebelac juga mengandung omega 3, Omega 6, vitamin dan mineral yang mendukung pencernaan dan pertumbuhan anak kita.


Menjadi ibu di era yang semakin maju seperti saat ini memang menuntut kita untuk terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak kita. Agar anak kita bisa tumbuh dengan optimal, dan kelak bisa menjadi anak hebat yang mampu bersaing. Seperti yang dikatakan oleh artis Putri Titian yang kemarin turut mengisi webinar. Ia mengatakan bahwa sebagai ibu, dia sadar bahwa perkembangan dunia sangat dinamis. Apa yang menjadi tantangan buat kita sekarang, belum tentu sama dengan tantangan yang dihadapi akan dihadapi anak-anak kita di masa depan. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana anak-anak bisa tumbuh menjadi anak hebat yang dapat membawa kebaikan untuk sekitarnya.


Seusai mengikuti acara webinar Bebelac tersebut, saya jadi semakin terpacu untuk memberikan nutrisi terbaik untuk Faza, agar ia tumbuh menjadi anak yang happy tummy, happy brain dan happy heart.

Senin, 02 November 2020

Cerita Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Sebahagia-bahagianya punya anak, pasti ada titik di mana kita merasa 'ini kok menguji kesabaran banget ya?'. Iya, kan?

Anak Ibu A, perkembangan motoriknya oke banget. Tapi makannya susah setengah mati.

Anak Ibu B, makannya gampang banget, sama sekali nggak picky eater, tapi sering banget tantrum.

Anak Ibu C, anaknya manis, jarang tantrum, tapi beberapa perkembangan motoriknya butuh stimulasi khusus.

Dan masih banyak sekali kombinasi lain. Yang jelas, setiap anak itu unik. Dan setiap ibu punya ujiannya masing-masing.

Dalam setiap sesi obrolan dengan teman sesama ibu saya selalu bilang, ujian terberat saya dari punya anak adalah saat menghadapi trauma BAB Faza. Bukan tentang flat foot-nya.

Baca: Tentang Flat Foot-nya Faza

Yep, Faza sempat mengalami trauma BAB berkepanjangan, dan benar-benar menguras energi, air mata, kesabaran -- dan nggak ketinggalan, materi. Keinginan untuk menuliskan cerita tentang trauma BAB yang Faza alami sudah ada sejak lama. Tapi saya selalu merasa nggak siap. Karena, beneran deh, rasanya nyesek banget. Akhirnya saya memutuskan untuk bertekad menuliskannya saat Faza sudah bisa dikatakan pulih dari trauma tersebut.

 

trauma-BAB-berkepanjangan

 

Dan Bismillah, here we go!

Awal Mula Faza Trauma BAB

Sejak Faza masih hanya mengonsumsi ASI, BAB-nya memang cenderung jarang banget. Kalau banyak orang cerita bayi bisa BAB beberapa kali dalam sehari, Faza enggak. Pernah bahkan sampai seminggu lebih dia nggak BAB. Tapi karena saat itu dia hanya mengonsumsi ASI, dan dari hasil browsing sekaligus konsul dengan dokter katanya nggak masalah karna masih bayi ASI, ya sudah saya nggak merasa itu masalah.

Yang jadi masalah adalah ketika dia mulai MPASI, tentu saja. Dengan pengetahuan saya yang sangat minim saat itu tentang per-MPASI-an, tapi sok tau banget, siklus BAB Faza masih tetap nggak lancar. Tiga hari sekali itu sudah termasuk yang paling cepat. Tapi Faza nggak menunjukkan tanda-tanda dia merasa nggak nyaman dengan perutnya. Makan tetap banyak. Nggak pernah GTM sama sekali.

Sampai suatu hari, sepulang jalan-jalan dengan beberapa teman kuliah saya, Faza tiba-tiba rewel sekali. Saat itu, dia -- kalau nggak salah -- udah hampir seminggu nggak BAB. Iya, saya tau saya salah karena kok ya dibiarin aja anak seminggu nggak BAB.

Saat itu Faza usia 9 bulan. Untuk pertama kalinya dia sembelit. BAB-nya keras sekali. Nangisnya heboh dan seperti sangat kesakitan. Jelas saya ikut nangis.

Dan dari situlah trauma BAB faza bermula. Sejak hari itu, nggak pernah sekalipun Faza BAB tanpa menangis ketakutan.

Trauma BAB Berkepanjangan, bak Lingkaran Setan

Saya kira, sembelit saat itu nggak akan berkepanjangan. Sayangnya, perkiraan saya salah besar.

Tadinya, saya selalu berharap, semakin besar Faza akan semakin paham bahwa BAB itu bukan hal menakutkan. Kenyataannya, semakin besar dia justru semakin pandai menahan BAB-nya, yang akhirnya menjadi lingkaran setan.

Trauma BAB --> nahan BAB --> BAB jadi keras dan sakit --> makin trauma lagi

Muter gitu aja terus, dan bikin saya berkali-kali merasa kehilangan harapan.

Saya nggak berlebihan ketika bilang merasa seperti kehilangan harapan, padahal 'cuma' soal trauma BAB. Kalian nggak akan bilang 'cuma', jika tau seperti apa Faza setiap hendak BAB.

Nangisnya seperti anak yang sedang disiksa oleh ayah-ibunya. Meraung-raung. Setiap BAB, kamar mandi rasanya seperti neraka. Dan lagi-lagi, seperti lingkaran setan.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya -->> dan seterusnya. Bahkan beberapa kali dia sampe gloseran di lantai kamar mandi *CRY*.
Ya Allah, nyeritain ini aja rasanya bikin saya capek banget karena masih merasakan betapa terkurasnya emosi saya saat itu :(

Perjalanan Panjang Menyembuhkan Trauma BAB Faza

Hampir setiap orang yang tau cerita soal Faza yang BAB-nya susah alias selalu sembelit, pasti akan bilang: dikasih sayur dan buah dong!

Padahal ya, berani taruhan, Faza makan JAUH LEBIH BANYAK sayur dan buah dibanding anak mereka-mereka semua yang bilang seperti itu!

Yang bikin saya bingung, beberapa artikel bilang bahwa anak batita justru tidak disarankan makan terlalu banyak buah dan sayur. Tapi ketika datang ke dokter spesialis anak, ada dokter yang setuju dengan isi artikel tersebut, namun ada pula yang tidak setuju dan tetap menyarankan memperbanyak sayur dan buah. Pusing!

Apa saja cara yang kami tempuh untuk menyembuhkan trauma BAB Faza?

Rasanya hampir semua cara yang kami tau, sudah pernah kami coba.

Pergi ke dokter, tentu saja. Oleh mereka dikasih resep prebiotik dan obat pengencer poop yang cukup menguras kantong. Apakah ada hasilnya? Nope. Nggak ada hasil signifikan.

Oleh tetangga yang bekerja di sebuah klinik dokter, pernah menyarankan sebuah obat pencahar. Yang konon manjur banget, karena ibunya yang sempat sembelit parah, minum obat itu sekali, poop-nya langsung lancar jaya. Bahkan kata beliau, saat minum agak kebanyakan dikit, poop-nya malah jadi 'terlalu lancar'.

Jelas saya langsung beli obat yang sama. Hasilnya? Nihil. Bahkan saya sempat nekat memberi Faza lebih banyak dari takaran sebenarnya, dan tetap nggak ngaruh sedikit pun!

Betapa sakti mandragunanya anak saya dalam hal menahan hasrat BAB-nya -_____-

Yogurt dari yang mahal sampai yang biasa saja? Sudah.

Yakult? Hampir tiap hari.

Pernah juga saya sengaja ngasih makanan pedas. Dengan harapan dia diare. Bayangkan, ibu macam apa yang bisa-bisanya pernah sangat berharap anaknya diare?! Ya itu, saking hopeless-nya. Saya pikir, kalau Faza diare, mungkin akan mengubah pola pikir dia tentang betapa susah dan sakitnya mengeluarkan poop.

Sayangnya, lagi-lagi harapan saya nggak terkabul. Faza hampir nggak pernah diare, malah sejak saat itu dia jadi doyan makan pedas. Saat itu saya bahkan bingung harus bersyukur atau nggak untuk hal ini. Haha!

Cara terakhir yang kami andalkan dalam setiap sesi per-BAB-an Faza adalah: microlax.

Pakai Microlax, hampir selalu berhasil membuat pup Faza keluar, meski pernah juga beberapa kali tetap nggak keluar, atau butuh 2 microlax sekali BAB. makanya saya bilang, nggak cuma menguras emosi, air mata, dan kesabaran. Kantong pun ikut terkuras. Bayangkan, tiap dia BAB, kami harus mengeluarkan uang minimal dua puluh lima ribu. Mewah sekali BAB anak saya. Hihi.

Sayangnya, di mata Faza, cara pakai Microlax itu menakutkan. Dia nangis makin-makin heboh tiap kami akan member dia Microlax. jadi tambah satu lagi kan lingkaran setannya.

Dia menangis meraung-raung --> ayah-ibunya berusaha membantu --> dia makin heboh nangisnya --> ayah-ibunya kehilangan kesabaran --> ayah-ibunya marah-marah --> Faza makin-makin heboh nangisnya --> kami memberi microlax --> nangis makin-makin-makin heboh --> Faza makin-makin trauma --> dan seterusnya.
Tapi ya gimana lagi, hanya Microlax yang bisa kami andalkan agar poop Faza keluar. Meski sedih luar biasa melihat dia ketakutan saat dikasih Microlax, kami lebih nggak mau membuat dia harus masuk Rumah Sakit karena poop-nya nggak keluar :((

Sounding? Hampir setiap hari. Saya bahkan membelikan dia buku bertema ajakan untuk poop, demi mengubah persepsinya tentang poop. Saya pernah berpikir ingin membawa Faza untuk hypno-therapy. Tapi belum kesampaian karena minim info tentang ini.

Baca juga: Rekomendasi Buku Favorit Faza

Dulu, setiap habis menemani Faza BAB, saya pasti selalu kehabisan energi. Lemes. Efek dari perasaan sedih, capek, marah, bercampur menjadi satu. Dan hampir pasti, saya pasti menangis. Sibuk menyalahkan diri sendiri kenapa Faza jadi seperti itu.

Saat itu, tiap melihat poop Faza keluar, rasanya saya seperti melihat emas! Rasa leganya bahkan mirip dengan saat saya berhasil mengeluarkan dia dari perut saya.

Butuh Hampir Tiga Tahun Untuk Bisa Melihat Faza BAB Tanpa Menangis

Harapan terbesar saya saat itu, betapa inginnya saya melihat Faza BAB tanpa menangis, seperti anak-anak pada umumnya. Harapan yang patah entah berapa ratus kali, lalu dengan susah payah saya tumbuhkan lagi.

Sounding yang biasanya selalu efektif saat saya menyapih dan mengajari dia untuk tidak pipis di diapers pun rasanya tidak kunjung menuai hasil.

Doa seusai sholat pun yang utama adalah 'sembuhkan Faza dari trauma BAB-nya, Ya Rabb'. Ya, doa adalah senjata terakhir saya. Saat saya benar-benar nggak tau lagi harus gimana.

Ternyata, semua itu bukan tidak membuahkan hasil. Hanya saja, butuh waktu hampir tiga tahun untuk saya akhirnya bisa melihat Faza bisa BAB tanpa menangis heboh. Saya lupa bagaimana persisnya awal mula Faza mulai pulih.

Sepertinya memang karena dia sudah mulai bisa mencerna pengertian, bahwa setiap orang BAB, BAB itu harus, kalau BAB ditahan nanti semakin sakit karena keras, dll. Kalimat yang sudah saya ulang hampir ribuan kali.

Alhamdulillah, di usia 3,5 tahun Faza perlahan mulai pulih dari trauma BAB-nya. Meski masih harus merayu untuk BAB, setidaknya dia tidak lagi histeris mendengar kata 'ayo BAB'.

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.

Trauma BAB Faza, mungkin meninggalkan luka batin pada diri Faza. Karena dalam perjalanan panjang menyembuhkan trauma BAB-nya, entah berapa kali kami -- ayah-ibunya -- membentaknya, membuatnya ketakutan. Ya Tuhan, sedih banget tiap ingat masa-masa itu. Sediiiih banget.

Mungkin, trauma ini akan membekas pada diri Faza sebagai luka pengasuhan. Mungkin akan membekas pada diri faza sebagai inner child. Saya janji pada diri saya sendiri, kelak saat Faza dewasa, saya akan meminta maaf secara khusus atas masa-masa itu. Saya menulis ini pun, salah satunya agar semoga kelak dia bisa membacanya.

Terima kasih untuk siapa saja yang telah bersedia membaca cerita saya ini :)

Jumat, 10 Januari 2020

Pelajaran Tentang Keluarga Dari Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Akhirnya nulis lagi di sini!

Saya bukan termasuk orang yang hobi nonton. Tapi adakalanya ada film-film tertentu yang saya merasa 'wah, kayaknya harus nonton nih!'. Dan entah kenapa, seringnya yang saya pengen banget nonton adalah film-film bertema keluarga.

Kemarin akhirnya nonton lagi, setelah setahun lalu (di bulan Januari juga) nonton Film Keluarga Cemara. Yang saya tonton, apalagi kalau bukan film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Tadinya bingung sih mau nulis tentang film ini di blog ini, atau di rosasusan.com. Tapi karna yang pengen saya tulis adalah pelajaran tentang keluarga yang bisa diambil dari film ini, kayaknya lebih cocok saya tulis di blog ini :)

Ohya, mungkin sedikit banyak tulisan ini akan mengandung spoiler. Mohon maaf. Kalau yang nggak berkenan, jangan lanjut baca ya. Sampai sini aja :)



Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini bercerita tentang sebuah keluarga. Terdiri dari ayah ibu dan tiga anaknya. Konflik yang disajikan adalah seputar hubungan antar anggota keluarga. Terutama hubungan ayah dan anak-anaknya.

Sepanjang nonton, benak saya penuh dengan kilasan-kilasan wajah keluarga saya. Karna kebetulan, semua tokoh utama di film NKCTHI ada semua cerminannya dalam diri orang-orang terdekat saya. Lihat ayahnya ingat bapak dan mertua. Lihat Angkasa ingat kakak sulung dan anak sulung saya. Lihat Aurora ingat kakak laki-laki dan suami saya. Lihat Awan, ingat diri saya sendiri. Hehehe.

Maka, nggak bisa dipungkiri, selama nonton, otak saya juga sambil terus berpikir. Apa yaa pelajaran yang bisa saya ambil dari film ini? Dan berikut ini, adalah beberapa pelajaran yang akhirnya berhasil saya dapatkan, setelah merenung dan meresapi cerita film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok orangtua

Saya percaya, (hampir) gak ada orangtua dengan anak lebih dari satu yang dengan sengaja ingin membeda-bedakan kasih sayangnya ke masing-masing anak. Pengennya mah pokoknya sayang ke semua anak.

Tapi bagaimanapun, orangtua kan tetap manusia biasa. Saat lihat ada satu anak yang jauh lebih menonjol dari anak lain, secara manusiawi biasanya akan jadi lebih condong ke si anak tersebut. Dan saya pernah baca soal ini, katanya itu wajar

Begitulah yang terjadi pada sosok Ayah dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini, dalam memperlakukan 3 anaknya. Angkasa, Aurora dan Awan. Sosok ayah dalam film ini digambarkan punya kecenderungan hati yang jauh lebih besar pada salah satu anaknya.

Intinya, kecenderungan hati ke salah satu anak itu wajar dan manusiawi. Tapi tetap usahakan nggak terlalu mencolok agar anak yang lain tidak jadi merasa dibedakan atau diabaikan. Apalagi jika 'lebih sayang'nya hanya karna urutan lahir. Jauh lebih sayang dan perhatian ke anak bungsu, misalnya. Rasanya itu jauh lebih nggak adil untuk anak dibanding jika lebih sayangnya karna prestasi yang lebih menonjol.

Salah satu dampak buruk dari 'perbedaan' sayang ke masing-masing anak ini adalah hubungan antara kakak beradik yang kadang jadi tidak harmonis. Karna dipicu perasaan cemburu. Kan pasti sedih ya kalau lihat anak-anak kita nggak akur. Apalagi kalau penyebabnya adalah kita sendiri :(

Pelajaran kedua yang saya ambil adalah tentang cara kita sebagai orangtua untuk menunjukkan rasa sayang. Kadang kita sebagai orangtua tuh maunya cuma menunjukkan rasa sayang, tanpa mau tau apakah cara sayang kita itu berkenan atau enggak ke anak.

Seperti si ayah dalam film NKCTHI, yang selalu menjawab segala keluhan anaknya tentang sikap si ayah dengan kalimat, "Ayah kayak gini kan karna sayang sama kamu!"

Sounds familiar?

Ego sebagai orangtua yang merasa lebih tau kadang bikin orangtua jadi enggan mendengarkan keluh kesah anak tentang cara kita memperlakukan mereka. Karna bisa jadi, cara kita menyayangi anak justru diartikan lain dan negatif oleh anak. Jadi, jangan segan mendengarkan mereka.
 
Pelajaran ketiga tentang zona nyaman. Saking sayangnya sama anak-anaknya, sosok Ayah dalam film NKCTHI berusaha sekuat tenaga untuk membuat anaknya ada di kondisi nyaman. Ia berusaha keras agar istri dan anak-anaknya tidak perlu merasakan perasaan sedih. Bahkan pada salah satu anaknya, ia selalu turut campur di segala sisi kehidupan si anak. Termasuk, selalu mencarikan solusi untuk segala permasalahannya.

Akhirnya, anaknya tumbuh jadi anak yang merasa tidak utuh. Karena tidak pernah merasakan mengambil keputusan. Tidak pernah merasakan gimana caranya mencari solusi untuk masalahnya sendiri, dll.

Pelajaran yang saya ambil sebagai orangtua, sayang boleh. Tapi bukan berarti kita harus selalu menempatkan anak di zona nyaman terus-terusan. Adakalanya dia perlu merasakan sedih. Merasakan gagal. Merasakan kecewa. Karna semua itulah yang justru akan membuat mereka tumbuh menjadi sosok tangguh.

Pelajaran dari sisi sebagai sosok anak

Dari sisi sebagai seorang anak, pelajaran yang diambil cuma dikit sih, cuma satu. Tapi dalem. Dan bikin saya jadi lebih paham perasaan Bapak saya.

Ayahnya Angkasa, Aurora dan Awan mungkin awalnya punya kesan buruk di mata anak-anaknya. Tapi satu yang mereka akhirnya tau. Alasan dari semua sikap ayah mereka adalah karna rasa sayang yang terlampau besar pada mereka.

Pelajaran yang saya ambil, orangtua - terutama ayah - seringkali menjadi orang yang sebenarnya paling keras berusaha untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya, tapi sekaligus sering tidak bisa menginterpretasikan rasa sayang tersebut dengan cara yang benar. Salah satu sebabnya mungkin karna kurang mendengarkan istri dan anak-anaknya.

Saya jadi inget Bapak. Kasihan ya mereka itu. Berusaha keras, tapi malah diartikan negatif sama anak-anaknya. Huhu.

Ada yang sudah nonton Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini juga? Cerita dong, pelajaran apa yang kalian ambil dari film ini?

Jumat, 11 Oktober 2019

Mengajarkan Pada Anak Tentang 4 Area Sensitif Tubuhnya

Akhir-akhir ini, kita sering sekali dibuat miris oleh banyaknya berita tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Untuk kita yang punya anak balita di rumah, pasti selain miris juga akan dibikin semakin was-was. Iya kan, Bu?

Maka, selain menjaga anak kita sebaik-baiknya dari ancaman-ancaman bahaya tersebut, kita juga rasanya wajib mebekali mereka dengan bekal pengetahuan dan cara untuk melindungi diri. Rasa waspada mereka harus ditumbuhkan sedini mungkin.


Hal pertama yang harus kita ajarkan pada mereka dalam rangka melindungi mereka dari kejahatan seksual adalah tentang mengajarkan 4 area sensitif tubuhnya.

Tanamkan pada mereka bahwa 4 area sensitif di tubuhnya itu harus dijaga. Katakan pada mereka bahwa hanya keluarga dekatlah yang boleh menyentuhnya. Jika ada orang asing yang mencoba menyentuhnya, ajarkan mereka untuk berteriak, marah dan menghindar.

Apa saja sih 4 area sensitif di tubuh anak yang harus dijaga itu?

Yang pertama tentu saja alat kelamin.

Yang kedua adalah dubur.

Yang ketiga mulut.

Dan yang keempat adalah dada.

Dengan terus menerus sounding, semoga anak kita jadi punya sikap waspada dan bisa melindungi dirinya sendiri sebagai 'pertolongan pertama' saat ada bahaya mengancamnya.

Gimana lagi yaa, Bu... jaman kayak gini, memang harus serba waspada. Terutama waspada pada segala jenis ancaman kejahatan seksual yang menyasar anak-anak.