Tampilkan postingan dengan label Diary Calon Pengantin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Calon Pengantin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2016

WHAT, Tinggal Sama Mertua???



Tau gak, selain pertanyaan 'kapan nikah?' untuk para single, dan pertanyaan 'sudah isi apa belum?' bagi para penganti baru, ada satu lagi pertanyaan basa-basi yang berbondong-bondong ditanyain pada seseorang yang hendak menikah. Pertanyaan apakah itu?

Nanti tinggal dimana setelah nikah?
  
Iya, saat hendak menikah, pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan setiap ketemu orang yang tau rencana pernikahan saya adalah pertanyaan di atas itu. Terus nanti setelah nikah rencana mau tinggal dimana?
  
Sebenarnya kadar sensitivitas pertanyaan tersebut ga setinggi pertanyaan 'kapan nikah?' dan 'sudah isi belum?' sih. Tapi, komentar-komentar di belakangnya yang mengikuti setelah saya memberi jawaban itu yang kadang lumayan mengganggu.

Setiap ada yang tanya akan tinggal dimana saya setelah menikah, saya jawab Insya Allah akan tinggal di rumah orangtua si mas dulu. Lalu mereka -- para si penanya -- memberikan respon bermacam-macam yang mungkin intinya kurang lebih sama. Dan -- sekali lagi -- lumayan mengganggu perasaan saya waktu itu. Ah, mungkin saya aja ya yang terlalu sensi.

Memangnya apa aja komentarnya?

Macam-macam. Ada yang bilang kenapa gak langsung belajar mandiri, ada yang bertanya sudah beneran siap mental apa belum tinggal sama mertua, ada yang dengan 'baik hati' memberi 'nasehat' bahwa tinggal mertua itu harus gini gitu gini gitu, ada juga yang langsung mringis dengan ekspresi seolah mau bilang: WHAT, tinggal sama mertua??!!

Kenapa komentar-komentar tersebut terasa mengganggu bagi saya? Yang sudah menikah pasti tau, bahwa hari-hari menjelang pernikahan merupakan hari dimana hati diwarnai berbagai macam perasaan. Tanpa dengar macam-macam komentar seperti di atas pun sebenernya hati sudah sangat sibuk menenangkan diri sendiri. Apalagi jika ditambah lagi!
Mendengar berbagai komentar tanggapan saat saya mengatakan akan tinggal sama mertua itu, sejujurnya saat itu saya menjadi resah luar biasa. Bertanya-tanya. Menerka-nerka. Kenapa memangnya jika tinggal dengan mertua? Ada apa sebenarnya? Semenakutkan apa tinggal sama mertua? Dan puluhan teror pertanyaan lain.

Oke, saya mungkin memang sudah punya sedikit gambaran tentang hubungan antara menantu wanita dan ibu mertua yang konon amat rawan konflik, tapi haruskan menambah beban pikiran saya dengan komentar semacam itu? Tapi saya tau, gak seharusnya saya membiarkan diri saya sebegitu terpengaruhnya sama komentar orang. Seharusnya saya tetap fokus untuk mempersiapkan diri menjadi istri dan menantu yang baik. Itu saja.


Satu lagi. Jika ada yang bertanya kenapa gak hidup mandiri saja dengan nada menyayangkan, Ah, Dear... Yang harus kita ingat adalah, setiap orang PASTI punya berbagai pertimbangan (yang gak kita tau) sebelum akhirnya mengambil keputusan. Jadi, jika saya dan si mas memutuskan untuk tinggal sama orangtua sementara waktu, adalah bukan lantaran kami tak ingin hidup mandiri sesegera mungkin setelah menikah. Melainkan karna pilihan tersebutlah yang kami rasa paling bijak.

Sepertinya, image mertua di mata kebanyakan orang Indonesia terutama wanita sudah terlanjur menyeramkan. Bisa jadi, itu justru salah satu pemantik konfliknya. Karna pikiran sudah terlanjur meng-image-kan buruk, maka apapun yang terlihat jadi buruk. Gitu kan, ya? Kalau kita punya niat untuk berusaha membangun hubungan yang baik dengan mertua, Insya Allah pastilah ada caranya. Kita yang muda, sudah selayaknya kita yang jauh lebih berusaha mengerti mereka (mertua). Bukan sebaliknya, menuntut mereka mengerti kita.


Pelajaran yang saya ambil adalah, ternyata berkomentar yang sepertinya biasa saja juga berpotensi mengusik perasaan orang. Kita gak pernah benar-benar tau kondisi seseorang dan pertimbangan apa saja yang ia pakai untuk mengambil sebuah keputusan. Maka, marilah lebih bijak dan hati-hati mengomentari keputusan yang telah orang lain buat. Mengeluarkan komentar bernada dukungan, saya rasa salah satu sikap bijak :)

Selasa, 12 April 2016

Hal-Hal Yang Terjadi Pada Tubuh Saya Menjelang Pernikahan

Hari-hari menjelang pernikahan kata banyak orang merupakan hari-hari yang amat rawan stress. Ya wajar sih, karna menjelang pernikahan pasti banyak banget yang harus diurus dan dipikir. Gak cuma memikirkan tentang printilan yang berkaitan sama terselenggaranya acara, tapi juga kepikiran nanti gimana setelah nikah, bisa jadi istri yang baik gak, bisa adaptasi di keluarga baru gak, dll. Iya, kan?!

Saya sebenarnya gak merasa bahwa saya stress sih. Biasa aja, santai. Emm, ya kadang kepikiran sih iya. Kadang mewek sendiri inget bentar lagi harus jadi istri yang nurut sama apa kata suami juga iya. Haha. Tapi, apa tanda bahwa saya sedang stress? Saya sih merasa enggak.

Konon, saat sedang stress, tubuh kita akan memperlihatkan beberapa respon. Dan beberapa ciri yang terjadi pada tubuh, yang disinyalir sebagai tanda-tanda stress ternyata saya rasakan. Hal-hal berikut inilah yang terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan:

Jerawatan
Dari awal masa puber (menstruasi pertama) sampai SMA, bisa dibilang saya jaraaaang banget jerawatan. Malah pernah pengen punya jerawat satu dua seperti teman-teman remaja saya yang lain. Bahkan, suatu hari saat muncul satu jerawat kecil di muka saya, dengan bangga saya memamerkannya. Hihi.

Setelah dewasa (yakin udah dewasa? :D), baru deh nyesel pernah punya keinginan seperti itu. Sekarang sih kalau muncul jerawat rasanya nyesek. Tapi saya masih cenderung jarang berjerawat. paling jerawatan kalau pas menjelang menstruasi, itu pun paling satu. Tapi beda dengan sebulan terakhir ini :( Jerawan saya amit-amit, banyak banget. Hiks. Cuma di dahi sih, dan kalau pakai jilba gak terlalu kelihatan. Tapi ya tetep aja sediiiih.

Apalagi, tiap ketemu orang pasti yang dikomentarin pertama kali selalu jerawat. "Lho, tumben jerawat kamu banyak?", "Kok jerawatmu banyak", dan di akhir kalimat pasti dibubuhi, "Waaahh, pasti gara-gara stress mau nikah nih!". Plis plis, pura-pura gak lihat jerawat saya bisa gak? :(

Selain berkomentar, orang-orang juga memberi saya tips untuk mengatasi jerawat tersebut, atau kadang saya yang minta tips terlebih dahulu. Dan akhirnya saya kebingungan sendiri tips mana yang harus saya coba lebih dulu. Haha. Pake jeruk nipis sudah, timun sudah, obat jerawat ina inu sudah, tapi belum ada yang menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tapi saya sadar diri sih, usaha yang saya lakukan belum maksimal. Saya masih kurang istiqomah menjalani tips-tips yang saya dapatkan. Padahal kan gak bisa ya dicoba sekali langsung CLINK berhasil. Emangnya sulap! -_-

Menstruasi Yang Kacau
Selama ini, Alhamdulillah saya dianugerahi Allah siklus menstruasi yang teratur. Saya hampir selalu bisa menghitung kapan saya akan kedatangan tamu dengan tepat. Yah, meleset sehari-dua hari sih kadang. Pokoknya masa suci saya seringnya adalah 21 hari.

Nahh, bulan ini, kalau menurut perhitungan saya, saya bakal dapet mens tanggal 16. Eeeeh, lha kok kemarin tanggal 10 si tamu tiba-tiba sudah muncul, dan bikin saya kaget. Maju 6 hari!
 
Dan gak cuma itu yang bikin saya merasa aneh pada tubuh saya sendiri. Biasanya saya menstruasi selalu lancar. Hari pertama sampai ke-tiga bahkan seringnya banjir. Tapi kali ini enggak :( Yang bikin saya sempat resah banget adalah, saya kedatangan tamu sore, cuma berupa flek coklat. Magrib keluar darah dikit. Tapi setelah itu, hingga pagi gak ada darah yang keluar lagi. Saya kan jadi panik, ada apaaa ini?! Saya sempet browsing -- lupa pakai kata kunci apa -- dan kalian tau hasilnya apa? itu tanda-tanda kehamilan!! Weehh, kalau hamil itu bisa lewat bluetooth sih mungkin saya bakal khawatir banget jangan-jangan saya beneran hamil :D

Lalu saya coba tanya lewat chatt ke seorang teman yang dokter, bidan dan perawat. Haha, biar mantep. Dan ketiganya bilang, gak papa, santai aja, itu mungkin efek kelelahan dan stress menjelang pernikahan! Alhamdulillah.

Berat Badan Bertambah
Saya gak tau sih ini salah satu tanda stress atau bukan. Yang jelas ini terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan. Berat badan saya yang biasanya alot banget kalau disuruh nambah, kali ini malah nambah beberapa kilogram. Parahnya lagi, kebaya resepsi yang dipesankan kakak perempuan saya dan baru jadi minggu lalu ternyata sesak saat saya coba! Huhu. Padahal dulu pas ngukur pertama kali gak ngepas banget gitu :(

Tapi Alhamdulillah masih bisa dipaksa masuk sih. Hehe.

Memang hari-hari menuju pernikahan adalah saat yang penuh dengan warna-warni, ya. Gak cuma yang bisa bikin senyum-senyum, tapi banyak juga yang bikin hati mendung. Kalau gak pinter-pinter me-manage emosi ya gini akhirnya, stress! Hal-hal yang terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan ini, membuat saya sadar bahwa saya harus semakin banyak istrighfar biar lebih tenang :)

Senin, 07 Maret 2016

Apa Ini Syndrom Pra-Nikah?

Beberapa hari ini perasaan saya luar biasa campur aduk. Mood saya amat labil. Lagi-lagi, kata teman saya, saya sedang mengalami syndrom pra-nikah. Aneh sekali, karna gak biasanya perasaan saya begini banget, kecuali jika sedang dalam masa PMS.

Saya gak tau saya harus gimana. Tapi saya ingat, katanya, menulis itu bisa menjadi sarana self-healing yang ampuh. Maka saya memutuskan menuliskannya di sini.

Saya seperti dihantu pikiran tentang 'berganti status' yang Insya Allah akan segera saya alami. Berganti status dari anak bungsu nan manjanya Bapak-Ibuk, menjadi seorang istri. Ada semacam perasaan gak rela.. mengingat nanti setelah jadi istri rasanya agak gak pantes lagi manja-manjaan sama Ibuk, gelendotan sama Ibuk, minta disuapin Ibuk, dipijitin Ibuk kalo lagi capek, atau dikelonin Ibuk kalo lagi gak enak badan.

Berganti status dari adik kesayangannya Mbak dan Mas, menjadi seorang istri. Saya memang bisa dibilang sangat dekat dengan dua kakak saya. Kakak perempuan saya -- meskipun kalo galaknya keluar serem banget -- seperti belahan jiwa saya. Tiap saya pulang, hampir selalu pasti kami pergi berdua -- meskipun sekedar menjemput anak pertamanya sekolah. Tiap saya pulang, ia selalu menumpahkan segala kecamuk pikiran dan perasaannya. Ya, saya bisa dibilang satu-satunya tempat curhat Mbak Saya. Beda sama saya yang punya beberapa alternatif tempat curhat. Bahkan Mas Ipar saya (suami kakak pertama saya) sangat mengerti akan hal ini. Ia yang dulu awal tau kedekatan kami sempet agak cemburu dan bete, kini bahkan seperti sengaja memberi kami kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua. Dengan kakak kedua yang biasa saya panggil Mas juga saya deket banget. Dia dari dulu manjain saya banget. Dulu, jaman masih tinggal serumah, ke mana-mana kami berdua. Waktu dia nikah, saya nangis berhari-hari seperti orang patah hati. Sering kirimin saya pulsa dan kasih uang jajan meskipun saya udah kerja. Buka, bukan soal nominalnya -- karna toh saya sudah punya gaji kan?! Tapi soal... apa ya... seneng aja pokoknya. Merasa masih 'dimanjakan' dengan pemberian-pemberian semacam itu. Dan siang ini saya tiba-tiba jadi amat sensi gara-gara Mas saya habis telfon dan bilang gak mau kasih saya uang makan lagi, karna bentar lagi saya nikah. Jleb! Saya ngrasa kakak saya merasa 'sudah harus' melepaskan saya sebagai adik tersayangnya. Dan asli, saya jadi mellow banget :(

Jujur, saat perasaan saya gak menentu gini, pihak yang paling kasian adalah si Mas. Karena dia seriiiiing banget jadi 'korban' bad mood-nya saya. Saya tau dia sama sekali gak salah. Tapi gak tau kenapa kadang suka sebeeellll banget sama dia. Ya mungkin karna saya gak tau harus melimpahkan rasa jengkel saya ini pada siapa. Duh, ini jadi keliatan banget ya kalau manajemen emosi saya masih buruk banget :( Kadang saya mikir pengen ga usah bales chatt apapun si Mas dulu, atau nyuruh dia gak hubungin saya dulu -- karna ya itu, kasian dia kalo jadi 'korban' terus padahal dia gak salah apa-apa. Tapi ya gimana, ya... saya butuh dia sebagai pelampiasan kekesalan saya :D *bercanda*

Emm, satu nasehat sahabat saya: Banyakin istighfar!!! Iya, harusnya saya praktekkin itu :(

Yaudah saya cuma bisa berdoa, semoga Allah meluaskan kesabaran si Mas karna terus-terusan saya kambing-hitamkan di tengah situasi labil hati saya :')

Rabu, 02 Maret 2016

Mau Gak Diajak Hidup Susah?


Beberapa waktu lalu sempat ramai soal pembahasan 'mau gak wanita diajak hidup susah sama pasangannya'. Hihi, telat banget sih ya kalo saya baru mau bahas sekarang. Tapi tak apa, malah jadi antimainstream, kan? #ngeles

Di facebook, pembahasan soal ini sempat terbelah menjadi dua kubu *memang selalu gitu sih, ya!*. Kubu pertama mencemooh laki-laki yang menjadikan 'mau diajak susah' sebagai salah satu kriteria istri. Kubu ini menganggap laki-laki semacam itu tidak bertanggungjawab. Wanita dibesarkan oleh ayahnya, selalu berusaha dibahagiakan, dipenuhi kebutuhannya, disayang-sayang, eh lha kok dijadikan istri 'cuma' mau diajak susah. Plis deh! *itu kata mereka lho*

Lalu kubu kedua, mengatakan.. Laki-laki menjadikan itu sebagai 'jaga-jaga saja'. Kan hari esok gak ada yang tau. Laki-laki bisa jadi berusaha sangat kuat agar bisa menjamin segala kebutuhan keluarganya, tapi ternyata ada saja yang membuat mereka kekurangan a.k.a hidup susah. Nah, pada kondisi tak terduga seperti ini, mereka berharap sang istri siap dan tak lantas pergi meninggalkannya (baca: mau diajak hidup susah).

Saya teringat pada sepotong percakapan antara Cakra dan ibunya dalam novel Sabtu Bersama Bapak. Saat itu -- dalam rangka meyakinkan Cakra agar segera menikah -- si Ibu berkata, 'istri yang baik gak akan keberatan diajak hidup susah'. Lalu Cakra menjawab dengan santun, 'tapi laki-laki yang baik gak akan tega mengajak istrinya hidup susah, Bu'.

Nah! Ketemu, kan, jalan tengahnya?! Istri yang baik (meskipun kata 'baik' luaaasss sekali pemaknaannya) tentu gak akan keberatan setia pada suaminya dalam kondisi apapun, termasuk dalam kondisi susah. Sedangkan suami yang baik tentu akan berusaha sekuat yang dia bisa untuk memastikan keluarganya selalu falam kecukupan. Gitu, kan, seharusnya?

Ya menurut saya sangat wajar sih kalau laki-laki mensyaratkan 'mau diajak susah' sebagai salah satu kriteria istri. Pernah dengar kalimat 'wanita diuji saat suaminya tak punya apa-apa'? Nah, mungkin itu sebabnya. Sedangkan kenapa wanita sering mensyaratkan 'SETIA' sebagai kriteria, karna konon 'laki-laki diuji saat ia punya segalanya'.

Lagian kenapa kita harus gusar menganggap laki-laki itu gak adil kalo menggunakan 'mau gak diajak susah?' sebagai syarat. Kita sebenernya juga sering gak adil, kan? Kita sering mensyaratkan tentang kemapanan, kan? Nah, Insya Allah soal kemapanan akan saya curhatkan di postingan berbeda. Hihi

Minggu, 21 Februari 2016

Pre Marital Check Up, Pentingkah? (Part. 2)


Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya dengan senang hati saya menyetujui ajakan si Mas untuk melakukan pre marital check up.

Baca: Pre Marital Check Up, Pentingkah? Part. 1

Setelah sepakat untuk melakukan pre marital check up, kami mulai mencari info. Terutama tentang biaya, dan pemeriksaan apa saja yang ada dalam paket pre marital check up tersebut. Akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Rumah Sakit yang ada di bawah naungan lembaga tempat kami bekerja, yaitu Rumah Sakit Islam Sultan Agung. Iya sih, unsur subjektif punya peran besar dalam pengambilan keputusan ini. Hehe. Tapi tentu saja ada unsur pendukung lain, yaitu: ramah buat kantong :D

Yupp... Paket Pre marital check up di Rumah Sakit Islam Sultan Agung cukup Rp 200.000 saja per orang. Sedangkan di tempat lain, rata-rata minimal Rp 400.000 ke atas. Tapi tentu saja, harga berbanding lurus dengan fasilitas yang kita terima.


Paket pre marital check up yang kami ambil terdiri dari cek darah rutin, urine, HIV, obgyn untuk saya dan andrologi untuk si Mas. Ohya, tambahan satu lagi, kami juga mendapat fasilitas konsultasi rohani lengkap dengan handbook Bimbingan Pra Nikah.

Tanggal 13 Februari 2016 lalu, kami datang ke Rumah Sakit Islam Sultan Agung sekitar jam 09.00. Kami langsung menuju pendaftaran, dan pihak pendaftaran langsung menghubungi bagian yang menangani Pre Marital Check Up.

Sementara menunggu Mbak Devi -- perawat yang dijanjikan akan mendampingi kami, kami dipersilakan menunggu di ruangan yang amat nyaman.


Tidak berselang lama, Mbak Devi datang dan mengantarkan kami ke ruang pengambilan sampel darah dan urine. Setelah darah dan urine kami telah diterima pihak lab, kami dijanjikan akan menerima hasil lab-nya dua jam kemudian.

Sementara menunggu hasil lab keluar, si Mas dipersilakan masuk ke poly Andrologi. Sementara saya seharusnya masuk ke poly obsgyn. Kenapa seharusnya? Iya, karna akhirnya batal.. Hehe. Hari itu, saya dijadwalkan bertemu dengan dokter spesialis obsgyn laki-laki, sementara si Mas kekeuh gak mengijinkan saya diperiksa oleh dokter laki-laki. Alhamdulillah, Rumah Sakit Islam Sultan Agung sangat mengapresiasi keinginan kami, dan membuatkan jadwal baru untuk saya dengan dokter spesialis obsgyn wanita.

Setelah keluar dari poly andrologi, kami kembali dipersilakan menunggu hasil lab di ruang tunggu yang nyaman tadi. Pada saat menunggu itu, kami didatangi oleh bagian kerohanian. Beliau menyerahkan buku Bimbingan Pra nikah dan memberikan beberapa nasehat tentang pernikahan. Usai sesi bimbingan kerohanian, hasil lab pun keluar. Alhamdulillah hasilnya semua Insya Allah baik dan sehat.

Pada tanggal 16 Februari 2016, saya masih harus lanjut periksa dengan dokter spesialis obsgyn. Lumayan drama sih untuk bagian ini. Hihi. Selain Agak ga tenang karna saya ijin di tengah jam kerja, kebetulan Mbak Devi yang kemarin nemenin kita dari awal kebetulan pas shift siang, jadi saya dilimpahkan ke perawat lain pengganti Mbak Devi. Sempet agak baper gara-gara saya disuruh nunggu, tapu tanpa dikasih kejelasan saya harus nunggu sampai jam berapa dan nunggu siapa. Ya tapi intinya saat itu kebetulan saya lagi PMS aja sih, jadi hawanya udah pengen nyakar-nyakar lantai aja. Haha

Setelah menunggu sekita satu jam lebih dikit, dan beberapa kali ngrecokin 'Mbak bagian Pendaftaran' -- ya soalnya saya gatau harus tanya ke siapa -- akhirnya saya disamperin sama Mbak Perawat pengganti Mbak Devi, dan diantar menuju poly obsgyn.

Di poly obsgyn saya sempet ditanya apa calon saya seorang TNI atau Polisi, saya reflek jawab bukan :D Lalu Bu Dokter heran, 'Kalo enggak, ngapain pake periksa pra nikah segala?'. Saya jawab enteng sih, 'Iseng aja, Dok' *sambil cengengesan'. Haha. Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa Pre Marital Check Up memang belum terlalu familiar di mata banyak orang. IMHO, sih.

Setelah di tanya tanggal berapa menstruasi terakhir saya, ada keluhan apa selama ini, dll.. Saya dipersilakan berbaring di rangjang untuk di USG. Otak saya sempet berfantasi, kalo tiba-tiba ternyata ada janin gimana, ya? Haha. *ngacho!*. Singjat cerita, dari hasil USG bisa disimpulkan oleh Bu Dokter Insya Allah semua normal dan sehat. Alhamdulillah.


Yepp... Begitulah cerita Pre Marital Check Up saya. Panjang, yaaa :D

Intinya, Pre Marital Check Up itu menurut saya bukan untuk tau kekurangan calon pasangan kita lalu berpikir ulang, melainkan untuk saling tau kondisi kita dan calon pasangan, lalu kembali memantapkan hati dan menerima segala kurang lebihnya.

Sekian, terima kasih, semoga bermanfaat :D

Sabtu, 13 Februari 2016

Pre Marital Check Up, Pentingkah?


Duluuu sekali, saat saya belum punya bayangan akan menikah dengan siapa (haha) saya berangan-angan ingin melakukan check up sebelum pernikahan, atau sering disebut dengan pre marital check up. Pikir saya waktu itu, agar apabila ternyata ada 'masalah' di badan saya, calon suami saya bisa tau sejak sebelum menikah, sehingga dia bisa menimbang apakah dia bisa menerima 'masalah' yang ada di badan saya tersebut. Jadi gak kaget setelah menikah, karna sudah tau sejak sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, keinginan itu mulai luntur. Selain yakin bahwa saya sehat (harus pede, kan? Hihi), saya juga mikirnya persiapan menjelang pernikahan itu pasti sudah menelan banyak biaya. Masa masih harus ditambah dengan pre marital check up? Mending buat tambahan bayar souvenir, ya :D

Namun, Qodarullah... Allah mempertemukan saya dengan si Mas yang ternyata menginginkan kita berdua melakukan pre marital check up. Awalnya saya masih menimbang-nimbang. Pre marital check up, pentingkah?

Saya pun akhirnya meminta pertimbangan pada mbah google, tentang pendapat beberapa orang mengenai penting atau tidaknya pre marital check up ini. Setelah membaca beberapa pendapat dan cerita dari orang-orang yang telah menjalaninya, menurut saya gak ada salahnya kami melakukan pre marital check up.

Apa pentingnya pre marital check up ini? Agar jika ternyata ada 'masalah' dalam diri kita atau pasangan kita, kita sudah tau sejak awal. Selain agar saling tau kondisi calon pasangan dan bisa saling menerima, kita juga bisa sama-sama mengusahakan penyembuhan atau perbaikan kondisi sejak sekarang. Apalagi jika berkaitan dengan reproduksi.

Lalu kapan sebaiknya dilakukan pre marital check up? Dari hasil berselancar, pre marital check up ini konon idealnya dilakukan enam bulan sebelum pernikahan. Wow, lama banget, ya? Ya tujuannya itu tadi, agar ada waktu yang 'cukup' untuk mengobati jika memang ternyata ada masalah yang ditemui. Tapi, kalaupun gak bisa enam bulan sebelum pernikahan (karna banyak kan, ya, yang menikahnya mendadak, ga sampe enam bulan persiapannya), sebulan sebelum pernikahan pun Insya Allah tetep gak papa.

Nah, hari ini... Sabtu, 13 Februari 2016 ini, Insya Allah saya dan si Mas akan menjalani pre marital check up. Tentang di mana, berapa biayanya, dan cerita detail tentang rangkaian pre marital check up, Insya Allah akan saya bagi ceritanya di part ke-2.

Doakan pre marital check up kami lancar, dan kami dinyatakan sehat, ya :)

Aamiin.

Minggu, 07 Februari 2016

Apakah Ini Yang Disebut Pre Marriage Syndrome?

Dr. Tumblr

Mau menikah? Yakin?

Pertanyaan itu berputar-putar di benak saya semingguan lalu. Pertanyaan yang kemudian menjelma pikiran-pikiran negatif, prasangka, dan puncaknya menjadi sebuah ketakutan yang terasa mencengkeram. Ya, saya sempat amat merasa ketakutan. Hingga pada suatu pagi, saat saya terbangun dari tidur saya, lalu tiba-tiba menangis seketika... Tanpa saya tau sebabnya. Yang saya tau, saya takut.

Menikah berarti siap melepaskan dan meninggalkan segala atribut masa lalu. Sebagai anak bungus bapak-ibu yang amat wajar jika manja, misalnya. Tentu saja gak tepat jika atribut itu tetap saya kenakan. Menikah berarti harus siap memasuki kehidupan baru yang totally berbeda. Menikah berarti harus siap mempersembahkan sebaik-baik bakti pada seorang laki-laki yang belum lama kita kenal dan elum seluruhnya kita tau sifatnya. Bukankah banyak fakta yang menunjukkan bahwa sikap seorang laki-laki antara sebelum dan setelah menikah berbeda bagai bumi dan langit? Hari ini dia amat sempurna menunjukkan kesungguhannya... Bagaimana jika semua itu tak terbukti setelah menikah nanti? Bukankah tak boleh ada kata mundur? Bukankah ini amat menakutkan?

Saya kemudian meminta nasehat pada seorang sahabat tentang apa yang saya rasakan. Ia mengatakan, mungkin itu bagian dari Pre-Merried Syndrom atau Sindrom Pra-Nikah. Saya gak tau persis sih apakah benar apa yang saya rasakan itu merupakan Pre-Merried Syndrom jika dilihat secara teori keilmuan. Tapi konon, perasaan seperti itu sering menyerang orang yang hendak menikah.

Lalu sahabat saya menyarankan agar saya mengambil jeda sejenak. Jeda dari pikiran apapun soal persiapan pernikahan saya. Jeda dari buku-buku pernikahan yang tengah saya baca sebagai bekal mengarungi pernikahan kelak. Karna pikiran yang terus-menerus terpancang pada tema itu, mungkin akhirnya membuat merasa tertekan, lalu memantik berbagai perasaan negatif seperti di atas. Saya menyetujui ide sahabat saya tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk menonton film Ketika Mas Gagah Pergi malam harinya.

Esoknya, saya mencoba lebih rileks. Saya tonton beberapa film pendek di YouTube. Film-film sederhana, tapi inspiratif. Membuat saya tersipu, tersenyum, tertawa, juga menangis.

Saat pikiran saya mulai jernih, saya bisa kembali merenungi semuanya. Saya ingat pada cerita Kakak mentoring mingguan saya -- bernama Mbak Surya -- beberapa tahun lalu, saat ia baru saja menikah. Saat itu Mbak Surya cerita tentang prosesnya menuju pernikahan, hingga pernikahan berlangsung. Cerita yang sekaligus bermuatan nasehat.

Mbak Surya bercerita bahwa ia berkali-kali dihinggapi keraguan yang teramat sangat, juga ketakutan. Ia lalu bercerita pada guru ngajinya, dan mendapatkan sebuah nasehat -- yang harusnya saya pakai hari ini.

Guru ngaji Mbak Surya mengatakan bahwa was-was, ragu, takut, itu asalnya dari syetan. Tentu saja syetan akan berusaha menggoyahkan hati seseorang yang akan menikah.. Karna bukankah menikah adalah bagian dari ibadah? Kalau muncul rasa was-was, takut, cemas, dll... Langsung ngaji saja, biar hatinya tenang.

Ah, iya, ya... Ternyata masih sedangkal itu iman saya. Bahkan untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif pun saya masih kewalahan, padahal saya tau ilmunya. Tapi terjangan ketakutan luar biasa yang menimpa saya minggu lalu membuat saya semakin sadar untuk kembali meluruskan dan menancapkan niat sekuat-kuatnya.

Bahwa menikah merupakan cara yang Allah tentukan sebagai penyempurna separuh dien saya. Bahwa menikah merupakan sunnah Rasulullah, dan barangsiapa tak mencintai sunnahnya, maka bukanlah termasuk dari golongannya.

Doakan saya, ya, teman :)