Tampilkan postingan dengan label Persiapan Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persiapan Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2016

#SaniRosaStory: Baju Akad Nikah

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan dulu, melalui berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk membuat baju yang akan saya dan Mas Suami pkai saat akad nikah -- alias tidak menyewa. Dan Alhamdulillah, keputusan kami didukung penuh oleh Bapak-Ibu mertua (saat itu masih calon) yang dengan senang hati menjadi donatur buat kami dengan membelikan bahannya (kainnya).


Waktu itu saya sempat mikir, 'Duh, kok hari gini baju akad nikah udah mau jadi sih, keburu bosen dong lihatnya'. Soalnya, berhubung yang jahit baju akad nikah saya adalah Ibu dan kakak perempuan saya (Mbak Nita), jadi ya ekspress -- bulan Maret udah jadi, tinggal nambah-nambahin pemanisnya aja. Eehh, ternyataaa... justru pemanisnya itu yang lamaaa. Gaun akad nikah saya akhirnya baru bener-bener jadi dan siap dipakai H-2 minggu acara. Nah, pelajarannya: jangan nunda-nunda kalau memang mau bikin baju akad nikah sendiri. Gak ada salahnya kasih spare waktu yang lumayan lama. Apalagi kalau kamu gak punya ibu atau kakak yang bisa jahit kayak saya. Haha.

Padahal pemanis gaun akad nikah saya gak banyak kok, karna memang dari awal niatnya bikin gaun akad nikah yang sederhana. Hanya saya tambahi renda plus payet. Payetnya pun dikiiitt, cuma di bagian dada dan lengan. Yang bikin agak lama itu karna kami (saya, Ibu dan Mbak Nita) sempat galau mau dikasih renda yang kayak apa. Galau sama harganya juga sih. Hihi. Satu lagi yang bikin lama adalah payetnya. Sebenernya saya dan Mbak Nita bisa pasang payet sendiri, cuma waktunya gak ada. Jadilah akhirnya saya serahkan ke tetangga yang biasa diserahi Ibu orderan payet. Nahh, si tetangga yang tadinya full-time mom ini ternyata sekaran kerja. Jadilah akhirnya saya harus sabar nunggu beliaunya ada waktu luang untuk memasangkan payet di gaun saya.

ini penampakan bagian pinggang. itu tuh akhirnya renda yang saya pilih :) payetnya juga kelihatan kan, dikiitt banget kan :D

Pemanis lainnya selain renda dan payet adalah kancing di bagian lengan itu :)

Bagian pergelangan tangan juga dikasih renda :)
Terus gimana dengan baju akad nikah Mas Suami? Dia juga sama seperti saya, beli bahan, lalu dijahitkan. Bedanya, kalau saya dijahitkan oleh Mbak Nita dan Ibuk sendiri, sedangkan Mas Suami dijahitkan ke penjahit langganan ayahnya (alias Bapak Mertua saya). Mas Suami memang dari awal bilang gak pengen pakai jas saat akad nikah. Dia pengen pake model basofi yang simpel gitu. Saya sempat agak senewen waktu itu gara-gara pas pertengahan Maret, si Mas tiba-tiba baru bilang bahwa kainnya belum jadi ditaruh ke penjahit. Hadeeehh, ya jelas saya panik lah! Kalau waktunya gak cukup terus mau pakai apa pas akad niakh? -_- Tapi Alhamdulillah kekhawatiran saya gak terjadi. Bajunya si Mas jadi juga sekitar H-2 minggu acara pernikahan kami. Sudah langganan sih soalnya =)) Alhamdulillah.

Bagian lengan dan kerah diberi bordir. Sayangnya, warna bordirnya kurang pas menurut saya.
Harusnya warna bordirnya agak tua lagi menurut saya. Hihi

Emm, kira-kira menghabiskan anggaran berapa untuk dua baju itu? Jujur saya gak hitung persisnya habis berapa sih. Untuk gambaran teman-teman, saya akan coba menjabarkannya, ya. Untuk gaun akad nikah, saya memakai 3 jenis kain: Broklat, satin velvet dan sifon. Broklatnya kalo gak salah sekitar enam puluh ribu saja per meter, sedangkan dulu belinya sekitar 2 meter saja. Satin velvet saya pakai yang empat puluh ribu per meter, dan butuhnya sekitar 4 meter. Sedangkan sifon kalo gak salah empat puluh ribu juga per meter, dan dulu beli 5 meter karna mau sekaligus bikin jilbab segiempatnya. Nah, silalakn dihitung sendiri berapa habisnya. Ongkos jahit alhamdulillah saya gak perlu mikir, dan ini lumayan bikin irit cukup siginifikan, ya. Untuk pemanisnya, rendanya per meter empat puluh ribu, sedangkan payetnya saya pakai payet jepang, tapi lupa harganya. Ongkos pasang payetnya cukup dua puluh ribu saja. Hehe. Kalau untuk baju akad nikahnya si Mas Suami, saya lupa nama bahannya, yang jelas per meter sekitar sembilan puluh ribu, dan butuh bahannnya sekitar 5 atau 6 meter -- saya lupa. Ongkos jahitnya kata si Mas sih tiga ratus ribu, sudah dibiknkan peci dan sudah plus bordir juga.

Kalau dihitung-hitung habisnya lumayan banyak sih, ya. Tapi gak papa lah, Alhamdulillah sepadan sama kepuasan hati kami memakai baju tersebut di salah satu moment terpenting sepanjang hidup. Alhamdulillahnya lagi, kami semakin gak merasa rugi karna baju ini gak cuma kami pakai saat akad nikah. Baju tersebut kami pakai lagi saat acara mengantarkan pengantin (Saya dan Mas Suami dianatar oleh keluarga saya ke rumah orangtua Mas Suami) sekaligus acara ngunduh mantu sederhana di rumah Mas Suami. Seneng banget karna beberapa tamu ibu mertua memuji gaun yang saya pakai :)

ini nih penampakan finalnya di hari H :)
Semoga cerita saya bisa jadi salah satu bahan pertimbangan saat teman-teman sedang mempersiapkan pernikahan, ya. Hari pernikahan gak dipungkiri merupakan hari yang amat istimewa, jadi amat wajar kalo kita mengistimewakannya dengan mempersiapkan penampilan terbaik. Tapi ya tetap diingat, sebaiknya jangan berlebih-lebihan, ya :)

Jumat, 08 April 2016

5 Pertimbangan Saat Memilih Kartu Undangan Pernikahan


Satu lagi printilan nikah yang gak mungkin luput dari pikiran, bahkan dari awal sejak baru memutuskan akan menikah. Iya apa iya?! Hehe. Iya sih, undangan ini memang bisa dibilang elemen penting dalam terselenggaranya acara pesta pernikahan. Yaiya dong, kalau gak pake undangan berarti pesta pernikahan terus gimana ada orang yang mau datang? Kecuali kalo memang nikahnya mau sederhana aja, gak ngundang siapa-siapa selain keluarga. Itu beda soal, ya, undangan bisa di-skip dari checklist.

Seiring kemajuan teknologi yang luar biasa derasnya, harusnya undangan pernikahan sudah gak selalu harus dalam bentuk kartu, ya. Beberapa kali saya melihat beberapa pasangan memilih undangan berbentuk web untuk acara pesta pernikahan mereka. Kalau mau lebih irit, Facebook kan juga menyediakan fasilitas undangan event. Hehe. Mau lebih simple lagi? Pakai saja broadcast BBM. Haha.

Meskipun begitu, nyatanya, menurut pengamatan saya, undangan pernikahan dalam bentuk kartu undangan fisik tetap tak kehilangan kepopulerannya. Diakui atau tidak, kartu undangan tetap paling bersahabat untuk semua kalangan, terutama dari kalangan tua. Iya, kan?

Seperti halnya pemilihan souvenir yang pasti bikin kepala pening, memilih kartu undangan pernikahan pun dijamin gak bakal kalah bikin pening. Selain sekedar bentuknya yang bagus, ada hal-hal lain yang gak kalah penting yang harus diperhatikan. Apa saja itu? Nah, berikut ini adalah hal-hal yang saya jadikan pertimbangan saat memilih kartu undangan untuk acara pernikahan saya nanti, Insya Allah.

1. Menghindari penggunaan tulisan dengan huruf Hijaiyah, terutama yang terkandung dalam Al-Qur'an

Pernah lihat kartu undangan yang ada kalimat Bismillah-nya, dan ditulis dengan huruf Hijaiyah? Saya pernah, dan miris. Kira-kira kartu undangan pernikahan tersebut akan berakhir di mana, sih? Setahu saya, seringnya sih kartu undangan harus berakhir di tempat sampah. Iya sih, ada beberapa orangyang menyimpan atau mengoleksi kartu-kartu undangan yang pernah diterimanya. Tapi saya sih gak yakin jumlahnya lebih banyak dari orang yang membuang. Nah, coba kita pikir, misal di undangan itu ada kalimat Bismillah-nya, lalu setelah itu dibuang di tempat sampah, dosa gak sih? Saya belum tau landasan hukumnya secara jelas. Tapi kalau saya lebih milih menghindarinya.

2. Tentang pemilihan quote

Ini sepertinya sepele, ya. Tapi saya memilih untuk memperhatikannya. Pernah lihat kartu undangan yang ada qoute yang kata-kata 'terserak'-nya itu? Ada yang bilang, doa itu masih abu-abu sumbernya, alias shahih atau enggaknya. Saya gak berani pakai lah, kan sama aja mendakwahkan sesuatu yang belum jelas, kan? Amannya, saya memilih menyantumkan terjemah ayat Al-Qur'an aja. Berhubung Terjemah Surah Ar Rum sudah sangat sering dipakai, akhirnya saya pilih terjemah Qur'an Surah An Nur: 32 aja :)
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (TQS. An Nur: 32)
3. Design

Memperhatikan design undangan di sini maksudnya bukan memperhatikan yang gimana-gimana banget sih. di point ini saya cuma memperhatikan dua hal, di antaranya, designnya simpel/sederhana, warnanya soft (tidak mencolok). Sebenarnya pengen kartu undangan warna-warna shabby chic plus ada gambar-gamabr kartunnya gitu. Tapi setelah ditimbang-timbang lagi, kayaknya kurang pas kalau nanti kasih undangan dengan model seperti itu ke atasan di kantor. Hihi. Akhirnya saya memilih model  yang terlihat cukup dewasa.

4. Harga!

Haha, kenapa pakai tanda seru segala? Karna ini sebenarnya yang paling penting. Hehe. Ini tergsntung budget masing-masing orang sih ya. Mahal buat saya tentu saja belum tentu mahal untuk orang lain. Status sosial juga sepertinya menentukan. Kan gak mungkin pesta pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina kartu undangannya tiga ribu rupiah. Haha.

Kalau orang biasa seperti saya ini, ya gak perlu lah kayaknya mahal-mahal. Sekali lagi saya ingatkan, kartu undangan itu sebagian besar akan berakhir di tempat sampah. Sayang banget kalau budget yang kita alokasikan di pos ini lumayan besar. Lebih baik dibuat tambah budget konsumsi, lebih bermanfaat dan bisa dinikmati :)

5. Jumlah Eksemplar

Nah, lagi-lagi untuk menghindari kemubadziran, saya berusaha menghitung dengan cermat jumlah teman dan kerabat yang akan saya undang ke acara pesta pernikahan saya nanti. Tapi, tentu saja sebaiknya jangan pesan terlalu pas, dilebihkan sedikit. Hal itu saya lakukan untuk mengantisipasi siapa tau masih ada teman yang kelewat saya list, dan nanti tiba-tiba ingat.

Sekali lagi, point-point di atas tentu sangat subjektif sifatnya. Saya hanya membagi apa saja pertimbangan-pertimbangan yang saya pakai.

Kalau kamu, apa saja pertimbangan yang kira-kira akan kamu pakai (bagi yang belum menikah) dan yang telah kamu pakai (bagi yang sudah menikah) saat mentukan kartu undangan untuk pesta pernikahanmu? Share, yuk :)
 


Minggu, 13 Maret 2016

Mempersiapkan Baju Untuk Akad Nikah


Akad nikah adalah prosesi yang paling utama dan paling inti dari serangkaian prosesi pernikahan yang biasa diselenggarakan. Maka, memikirkan detail akad nikah rasanya menjadi keharusan. Setelah memikirkan hal-hal yang pokok seperti wali, saksi, dan lain-lainnya, mempersiapkan baju untuk akad nikah pun tidak boleh luput dari perhatian. Pada saat akad nikah, pastilah banyak orang yang ingin menyaksikannya. Apa iya sang pengantin yang merupakan tokoh sentral dari acara tersebut, tak ingin berpenampilan yang baik?

Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih saat mempersiaokan baju untuk akad nikah. Jika ingin simpel, kita bisa tinggal datang ke vendor persewaan baju pengantin, dan memilih baju mana yang cocok untuk disewa dan dipakai saat akad nikah. Tapi, jika mengingat betapa momen akad nikah merupakan momen sakral dan amat bersejarah, tidak heran pula banyak orang yang memilih untuk memesan baju khusus untuk akad nikah, dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Nah, saya memilih opsi yang kedua :)

Ya, akhirnya saya memutuskan untuk mempersiapkan baju untuk akad nikah secara khusus. Bukan, khusus di sini artinya bukan berarti mewah. Sederhana saja, asalkan pantas dan sesuai dengan keinginan. Keputusan tersebut saya ambil setelah berdiskusi dengan si Mas. Ia setuju saya membuat baju untuk akad nikah sendiri -- tidak menyewa -- agar nilai historisnya akan tetap terjaga. Si Mas juga menginginkan bajunya dibuat sederhana, agar bisa tetap dipakai di lain momen, misalnya untuk datang ke kondangan.

Luar biasanya, alhamdulillah proses mempersiapkan baju untuk akad nikah ini benar-benar istimewa (menurut saya). Mengapa? Yang pertama, bapak-ibu si Mas ternyata dengan sukacita menawarkan diri untuk membelikan bahan kainnya. Padahal jujur saja tadinya sempat agak kepikiran tentang budget untuk membeli kain, yang pastilah lumayan besar. Rejeki dari arah yang tidak diduga-duga :)

Yang kedua, baju akad nikah saya dijahitkan langsung oleh dua wanita yang amat saya cintai, yaitu ibu dan kakak perempuan saya, yang memang pandai menjahit. Saya sudah amat sering dijahitkan baju oleh mereka. Tapi tentu saja dibuatkan baji untuk akad nikah rasanya jauh lebih istimewa :)

Yup, kesimpulannya, baju akad nikah saya nanti -- Insya Allah -- merupakan salah satu simbol kasih sayang dari kolaborasi orang-orang yang mencintai kami dan si Mas :')

Untuk model, saya mencari inspirasi dengan blogwalking ke beberapa blog. Salah satu yang menginspirasi adalah gaun akad nikah Puput Utami, namun saya ingin membuat yang jauh lebih simple dari itu. Awalnya saya ingin baju akad nilah saya berwarna putih tulang, dengan sedikit kombinasi payet berwarna kuning emas. Tapi karna satu dan lain hal, pemberian payet sedang saya pertimbangkan kembali jadi atau tidaknya. Hehe.

Penasaran sama baju akad nikah saya? Hehe

Alhamdulillah saat ini sudah setengah jadi. Ini dia tampilannya:


Doakan semuanya lancar ya, teman :)

Minggu, 21 Februari 2016

Pre Marital Check Up, Pentingkah? (Part. 2)


Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya dengan senang hati saya menyetujui ajakan si Mas untuk melakukan pre marital check up.

Baca: Pre Marital Check Up, Pentingkah? Part. 1

Setelah sepakat untuk melakukan pre marital check up, kami mulai mencari info. Terutama tentang biaya, dan pemeriksaan apa saja yang ada dalam paket pre marital check up tersebut. Akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Rumah Sakit yang ada di bawah naungan lembaga tempat kami bekerja, yaitu Rumah Sakit Islam Sultan Agung. Iya sih, unsur subjektif punya peran besar dalam pengambilan keputusan ini. Hehe. Tapi tentu saja ada unsur pendukung lain, yaitu: ramah buat kantong :D

Yupp... Paket Pre marital check up di Rumah Sakit Islam Sultan Agung cukup Rp 200.000 saja per orang. Sedangkan di tempat lain, rata-rata minimal Rp 400.000 ke atas. Tapi tentu saja, harga berbanding lurus dengan fasilitas yang kita terima.


Paket pre marital check up yang kami ambil terdiri dari cek darah rutin, urine, HIV, obgyn untuk saya dan andrologi untuk si Mas. Ohya, tambahan satu lagi, kami juga mendapat fasilitas konsultasi rohani lengkap dengan handbook Bimbingan Pra Nikah.

Tanggal 13 Februari 2016 lalu, kami datang ke Rumah Sakit Islam Sultan Agung sekitar jam 09.00. Kami langsung menuju pendaftaran, dan pihak pendaftaran langsung menghubungi bagian yang menangani Pre Marital Check Up.

Sementara menunggu Mbak Devi -- perawat yang dijanjikan akan mendampingi kami, kami dipersilakan menunggu di ruangan yang amat nyaman.


Tidak berselang lama, Mbak Devi datang dan mengantarkan kami ke ruang pengambilan sampel darah dan urine. Setelah darah dan urine kami telah diterima pihak lab, kami dijanjikan akan menerima hasil lab-nya dua jam kemudian.

Sementara menunggu hasil lab keluar, si Mas dipersilakan masuk ke poly Andrologi. Sementara saya seharusnya masuk ke poly obsgyn. Kenapa seharusnya? Iya, karna akhirnya batal.. Hehe. Hari itu, saya dijadwalkan bertemu dengan dokter spesialis obsgyn laki-laki, sementara si Mas kekeuh gak mengijinkan saya diperiksa oleh dokter laki-laki. Alhamdulillah, Rumah Sakit Islam Sultan Agung sangat mengapresiasi keinginan kami, dan membuatkan jadwal baru untuk saya dengan dokter spesialis obsgyn wanita.

Setelah keluar dari poly andrologi, kami kembali dipersilakan menunggu hasil lab di ruang tunggu yang nyaman tadi. Pada saat menunggu itu, kami didatangi oleh bagian kerohanian. Beliau menyerahkan buku Bimbingan Pra nikah dan memberikan beberapa nasehat tentang pernikahan. Usai sesi bimbingan kerohanian, hasil lab pun keluar. Alhamdulillah hasilnya semua Insya Allah baik dan sehat.

Pada tanggal 16 Februari 2016, saya masih harus lanjut periksa dengan dokter spesialis obsgyn. Lumayan drama sih untuk bagian ini. Hihi. Selain Agak ga tenang karna saya ijin di tengah jam kerja, kebetulan Mbak Devi yang kemarin nemenin kita dari awal kebetulan pas shift siang, jadi saya dilimpahkan ke perawat lain pengganti Mbak Devi. Sempet agak baper gara-gara saya disuruh nunggu, tapu tanpa dikasih kejelasan saya harus nunggu sampai jam berapa dan nunggu siapa. Ya tapi intinya saat itu kebetulan saya lagi PMS aja sih, jadi hawanya udah pengen nyakar-nyakar lantai aja. Haha

Setelah menunggu sekita satu jam lebih dikit, dan beberapa kali ngrecokin 'Mbak bagian Pendaftaran' -- ya soalnya saya gatau harus tanya ke siapa -- akhirnya saya disamperin sama Mbak Perawat pengganti Mbak Devi, dan diantar menuju poly obsgyn.

Di poly obsgyn saya sempet ditanya apa calon saya seorang TNI atau Polisi, saya reflek jawab bukan :D Lalu Bu Dokter heran, 'Kalo enggak, ngapain pake periksa pra nikah segala?'. Saya jawab enteng sih, 'Iseng aja, Dok' *sambil cengengesan'. Haha. Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa Pre Marital Check Up memang belum terlalu familiar di mata banyak orang. IMHO, sih.

Setelah di tanya tanggal berapa menstruasi terakhir saya, ada keluhan apa selama ini, dll.. Saya dipersilakan berbaring di rangjang untuk di USG. Otak saya sempet berfantasi, kalo tiba-tiba ternyata ada janin gimana, ya? Haha. *ngacho!*. Singjat cerita, dari hasil USG bisa disimpulkan oleh Bu Dokter Insya Allah semua normal dan sehat. Alhamdulillah.


Yepp... Begitulah cerita Pre Marital Check Up saya. Panjang, yaaa :D

Intinya, Pre Marital Check Up itu menurut saya bukan untuk tau kekurangan calon pasangan kita lalu berpikir ulang, melainkan untuk saling tau kondisi kita dan calon pasangan, lalu kembali memantapkan hati dan menerima segala kurang lebihnya.

Sekian, terima kasih, semoga bermanfaat :D

Sabtu, 13 Februari 2016

Pre Marital Check Up, Pentingkah?


Duluuu sekali, saat saya belum punya bayangan akan menikah dengan siapa (haha) saya berangan-angan ingin melakukan check up sebelum pernikahan, atau sering disebut dengan pre marital check up. Pikir saya waktu itu, agar apabila ternyata ada 'masalah' di badan saya, calon suami saya bisa tau sejak sebelum menikah, sehingga dia bisa menimbang apakah dia bisa menerima 'masalah' yang ada di badan saya tersebut. Jadi gak kaget setelah menikah, karna sudah tau sejak sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, keinginan itu mulai luntur. Selain yakin bahwa saya sehat (harus pede, kan? Hihi), saya juga mikirnya persiapan menjelang pernikahan itu pasti sudah menelan banyak biaya. Masa masih harus ditambah dengan pre marital check up? Mending buat tambahan bayar souvenir, ya :D

Namun, Qodarullah... Allah mempertemukan saya dengan si Mas yang ternyata menginginkan kita berdua melakukan pre marital check up. Awalnya saya masih menimbang-nimbang. Pre marital check up, pentingkah?

Saya pun akhirnya meminta pertimbangan pada mbah google, tentang pendapat beberapa orang mengenai penting atau tidaknya pre marital check up ini. Setelah membaca beberapa pendapat dan cerita dari orang-orang yang telah menjalaninya, menurut saya gak ada salahnya kami melakukan pre marital check up.

Apa pentingnya pre marital check up ini? Agar jika ternyata ada 'masalah' dalam diri kita atau pasangan kita, kita sudah tau sejak awal. Selain agar saling tau kondisi calon pasangan dan bisa saling menerima, kita juga bisa sama-sama mengusahakan penyembuhan atau perbaikan kondisi sejak sekarang. Apalagi jika berkaitan dengan reproduksi.

Lalu kapan sebaiknya dilakukan pre marital check up? Dari hasil berselancar, pre marital check up ini konon idealnya dilakukan enam bulan sebelum pernikahan. Wow, lama banget, ya? Ya tujuannya itu tadi, agar ada waktu yang 'cukup' untuk mengobati jika memang ternyata ada masalah yang ditemui. Tapi, kalaupun gak bisa enam bulan sebelum pernikahan (karna banyak kan, ya, yang menikahnya mendadak, ga sampe enam bulan persiapannya), sebulan sebelum pernikahan pun Insya Allah tetep gak papa.

Nah, hari ini... Sabtu, 13 Februari 2016 ini, Insya Allah saya dan si Mas akan menjalani pre marital check up. Tentang di mana, berapa biayanya, dan cerita detail tentang rangkaian pre marital check up, Insya Allah akan saya bagi ceritanya di part ke-2.

Doakan pre marital check up kami lancar, dan kami dinyatakan sehat, ya :)

Aamiin.

Rabu, 27 Januari 2016

Perhatikan 3 Hal Ini Saat Menentukan Tanggal Pernikahan

Sumber
Menentukan Tanggal Pernikahan
Banyak orang bilang, masa-masa mempersiapkan pernikahan merupakan masa yang sangat rawan konflik, kalau nggak membekali diri dengan sebanyak-banyaknya sabar. Baik konflik antara si calon mempelai perempuan VS calon mempelai laki-laki, maupun konflik antar-keluarga kedua belah pihak.

Salah satu hal yang amat sensitif dan rawan konflik adalah saat menentukan tanggal pernikahan. Penentuan tanggal pernikahan ini biasanya nggak hanya soal kesepakatan antara pasangan yang akan menikah. Pengambilan keputusannya seringkali berdasarkan musyawarah antar-keluarga dari kedua belah pihak. Nahh, apa saja sih yang harus diperhatikan dalam menentukan tanggal pernikahan agar hal ini nggak menjadi sumber konflik yang bikin rencana pernikahan malah jadi runyam?

1. Jangan Egois!

Sudah bukan jadi rahasia lagi jika di Indonesia ini, khususnya di Jawa, ada beberapa orang yang menentukan tanggal pernikahan berdasarkan hitung-hitungan tertentu. Hitung-hitungan weton si kedua calon mempelai misalnya. Yang bikin repot, ketika pihak yang satu masih pakai hitung-hitungan, sedangkan yang satu sudah enggak sama sekali. Hihi. Kalau tidak saling memahami, bisa buyar semuanya.

Sebaiknya, dua keluarga saling bertenggangrasa dan memahami saat menentukan tanggal pernikahan. Kalau pihak calon besan percaya hitung-hitungan, dan memberi pengertia dirasa enggak memungkinkan, ya iya-kan saja dengan niat semata menyetujui tanggal yang diberikan si calon besan -- tanpa mempercayai apalah-apalah soal hitung-hitungannya.

Alhamdulillah, keluarga kami (saya dan si Mas) sudah nggak pakai hitung-hitungan, sih. Jadi lebih simple. Patokannya cuma satu: pas tanggal merah, atau weekend. Hehe. Selain memperhatikan kesanggupan kami, kami juga harus memperhatikan kesanggupan para saudara yang pasti ingin turut menghadiri pernikahan kami. Emm, ohya... Ibu si Mas juga sempat meminta agar pernikahannya enggak jatuh pada hari tertentu karna hari tersebut merupakan hari meninggalnya ayahanda beliau. Bukan karna beliau masih percaya gitu-gitu, tapi semata menghargai ibunda beliau.

Sekali lagi, jangan egois, dan saling memahami. Ini hajat bersama, bukan? :)

2. Perhatikan Kesiapan Mental, Finansial, Dll Pada Kedua Belah Pihak

Ini masih ada hubungannya dengan point pertama sih. Jangan egois. Jangan menentukan tanggal pernikahan dengan semena-mena, sedangkan kita tahu saat itu pihak si calon masih kurang siap -- secara finansial misalnya.

Kami juga sempat mengalami ini. Bulan yang disodorkan bapak saya pertama kali enggak disanggupi oleh orangtua si Mas, lantaran orangtua si Mas merasa agak terlalu cepat, dan masih kurang siap secara waktu (pada bulan itu banyak sekali saudara yang juga menikah) dan finansial. Lalu, tanggal kedua disepakati. Karna satu dan lain hal, pihak si Mas minta diajukan beberapa hari. Kali ini gantian keluarga saya nggak sanggup karna merasa nggak siap secara mental dan waktu. Setelah berunding ulang, keluarga pun sepakat untuk memajukan bulannya. Alhamdulillah.

Beberapa teman sempat bertanya, kenapa enggak disegerakan, kenapa lama sekali, dll. Hmm... Jika bisa, kami pun ingin menyegerakan. Tapi tentang penentuan tanggal pernikahan, bukan semata-mata tentang kami mempelainya, bukan? Ini juga tentang kesanggupan dan kesiapan keluarga kami. *eits, numpang curcol :D*

3. SEPAKAT

Untuk moment yang amat sakral serta istimewa, alangkah baiknya jika tanggal yang ditentukan merupakan tanggal yang disepakati oleh kedua belah pihak dengan legowo. Jadi bukan pihak A memaksa pihak B, atau pihak X menerima dengan terpaksa keputusan pihak Y.

Kalau kedua belah pihak keluarga bersedia untuk tidak egois serta saling memperhatikan kesiapan satu sama lain, Insya Allah kata SEPAKAT akan dicapai. Enak deh pokoknya kalau sudah ada kata sepakat. Tanggal pernikahan saya dan si Mas (Insya Allah) mengalami sekiat tiga atau empat kali tarik-ulur dan maju-mundur. Tapi berhubung keluarga enggak egois dan saling memahami, Alhamdulillah mudah untuk mencapai kata sepakat.

Yups, semoga tiga hal tersebut membuat penentuan tanggal pernikahanmu jadi lebih 'aman' dari konflik ya, Guys. Ohya, satu lagi... INTInya tetap ada pada doa sih. Jangan lupa berdoa agar Allah memberikan kemudahan pada penentuan tanggal pernikahanmu, dan memberikan kelancaran hingga hari H jika tanggalnya sudah ditentukan. Aamiin :)

Rabu, 13 Januari 2016

Mempersiapkan Seserahan, Tiga Hal Ini Harus Kita Perhatikan!

Salah satu hal yang hampir tidak pernah lupa mempersiapkan Seserahan

Salah satu hal yang hampir tidak pernah lupa untuk dipersiapkan oleh siapapun yang hendak menikah adalah seserahan. Meskipun tidak ada dalam rukun nikah, namun kebiasaan membawa seserahan dalam prosesi pernikahan seolah sudah menjadi hal yang diwajibkan secara tidak langsung oleh mainset masyarakat Indonesia pada umumnya.

Biasanya, ada beberapa perbedaan dalam detail seserahan. Ada beberapa daerah yang punya ke-khas-an tentang apa saja yang dibawa sebagai seserahan. Seperti di daerah saya -- Jepara. Biasanya, jika calon mempelai laki-laki dan perempuan sama-sama berasal dari Jepara, maka sang laki-laki biasanya membawakan almari kayu jati dengan ukiran khas Jepara sebagai salah satu seserahan. Dan itu merupakan sesuatu yang dianggap prestis. Ada juga daerah-daerah yang mana tidak hanya pihak  laki-laki yang memberikan seserahan pada sang calon istri, namun juga sebaliknya -- sang calon istri pun memberikan seserahan untuk sang calon suami. Yah, Bhineka tunggal ika. Tidak ada budaya atau adat yang lebih buruk atau lebih baik dari yang lain. Tidak perlu membanding-bandingkan :)

From Pinterest

Meski begitu, ada sebuah sebuah unsur seserahan yang sepertinya sangat umum. Yaitu, perlengkapan atau kebutuhan-kebutuhan pokok untuk si mempelai wanita. Contohnya, baju, kosmetik, mukena, sepatu, dll.

Dalam mempersiapkan seserarahan tersebut, seorang lelaki kadang memilih untuk memberikan surpraise untuk sang calon istri. Biasanya, ia akan dibantu oleh ibu atau saudara perempuannya. Namun ada juga yang memilih untuk mengajak Sang Calon Istri untuk memilih sendiri barang-barang seserahan.

Kalau saya cenderung memilih yang kedua. Kenapa? Karna barang-barang tersebut nantinya saya yang memakai. Yang paling tahu mana yang paling sreg di hati saya, ya saya sendiri. Alangkah sayangnya jika saat membuka seserahan nanti, kita bukannya surpraise, malah justru merasa kecewa lantaran barang-barang yang diberikan sama sekali tidak sesuai dengan selera kita. Imho, ya :) Tentu saja tiap orang punya pilihan, sudut pandang dan pertimbangan masing-masing. Tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Lalu, apa saja yang harus kamu (calon mempelai) perhatikan saat diberi keleluasaan oleh calonmu untuk memilih barang-barang untuk seserahan sendiri?

1. Pilih Barang Yang Bermanfaat

Meskipun ini moment spesial, dan kita tidak harus memikirkan uangnya, tentu saja kita harus tetap bijak. Jangan sampai kita 'aji mumpung' meminta bermacam-macam barang yang akhirnya tidak bermanfaat sama sekali.

2. Jangan Hanya Sekedar Suka! Pilih yang Nyaman dan Cocok.

Saya pernah menemui langsung sebuah fakta, di mana saat memilih kosmetik untuk seserahan, ia memilih merk yang dia suka, tapi tidak cocok untuknya. Alhasil, kosmetik-kosmetik itu mubadzir belaka. Atau ada juga yang memilih sepatu yang 'indah di pandang' saja. Endingnya sama, sepatu itu tidak terpakai. Sayang sekali, bukan? Jadi, alangkah baiknya kalau kita tetap mengedepankan kenyamanan dan kecocokan. Agar seperti yang ada di point sebelumnya, barang-barang seserahan tersebut bisa benar-benar bermanfaat.

3. Ingat Budget!

Meskipun Sang Calon Suamimu memberikan keleluasaan untuk memilih barang-barang untu seserahan sendiri, tentu saja kita tetap tidak boleh lupa diri. Alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu menanyakan, berapa budgetnya. Hei, jangan lupa... Kebutuhan yang harus dianpikirkan tidak hanya barang seserahan saja. Kita tidak ingin, kan, saat sudah menjadi suami kita, kita justru harus melongo melihat dia punya banya utang hanya demi menuruti barang-barang seserahan yang kita minta? :)

Yah, pada akhirnya kita menyadari... Bahwa persiapan pernikahan merupakan ajang pemanasan yang cukup efektif baginkita sebelum 'terjun' ke dunia rumah tangga. Harus ada banyak kompromi, tidak boleh kehabisan stok sabar, tidak membiarkan ego berkuasa, dan tentu saja tidak lupa untuk terus berdoa.

Bagi kalian yang sedang mempersiapkan pernikahan, semoga diberi kelancaran hingga harinya tiba :)pa untuk dipersiapkan oleh siapapun yang hendak menikah adalah seserahan. Meskipun tidak ada dalam rukun nikah, namun kebiasaan membawa seserahan dalam prosesi pernikahan seolah sudah menjadi hal yang diwajibkan secara tidak langsung oleh mainset masyarakat Indonesia pada umumnya.

Biasanya, ada beberapa perbedaan dalam detail seserahan. Ada beberapa daerah yang punya ke-khas-an tentang apa saja yang dibawa sebagai seserahan. Seperti di daerah saya -- Jepara. Biasanya, jika calon mempelai laki-laki dan perempuan sama-sama berasal dari Jepara, maka sang laki-laki biasanya membawakan almari kayu jati dengan ukiran khas Jepara sebagai salah satu seserahan. Dan itu merupakan sesuatu yang dianggap prestis. Ada juga daerah-daerah yang mana tidak hanya pihak  laki-laki yang memberikan seserahan pada sang calon istri, namun juga sebaliknya -- sang calon istri pun memberikan seserahan untuk sang calon suami. Yah, Bhineka tunggal ika. Tidak ada budaya atau adat yang lebih buruk atau lebih baik dari yang lain. Tidak perlu membanding-bandingkan :)

Meski begitu, ada sebuah sebuah unsur seserahan yang sepertinya sangat umum. Yaitu, perlengkapan atau kebutuhan-kebutuhan pokok untuk si mempelai wanita. Contohnya, baju, kosmetik, mukena, sepatu, dll.

Dalam mempersiapkan seserarahan tersebut, seorang lelaki kadang memilih untuk memberikan surpraise untuk sang calon istri. Biasanya, ia akan dibantu oleh ibu atau saudara perempuannya. Namun ada juga yang memilih untuk mengajak Sang Calon Istri untuk memilih sendiri barang-barang seserahan.

Kalau saya cenderung memilih yang kedua. Kenapa? Karna barang-barang tersebut nantinya saya yang memakai. Yang paling tahu mana yang paling sreg di hati saya, ya saya sendiri. Alangkah sayangnya jika saat membuka seserahan nanti, kita bukannya surpraise, malah justru merasa kecewa lantaran barang-barang yang diberikan sama sekali tidak sesuai dengan selera kita. Imho, ya :) Tentu saja tiap orang punya pilihan, sudut pandang dan pertimbangan masing-masing. Tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Lalu, apa saja yang harus kamu (calon mempelai) perhatikan saat diberi keleluasaan oleh calonmu untuk memilih barang-barang untuk seserahan sendiri?

1. Pilih Barang Yang Bermanfaat

Meskipun ini moment spesial, dan kita tidak harus memikirkan uangnya, tentu saja kita harus tetap bijak. Jangan sampai kita 'aji mumpung' meminta bermacam-macam barang yang akhirnya tidak bermanfaat sama sekali.

2. Jangan Hanya Sekedar Suka! Pilih yang Nyaman dan Cocok.

Saya pernah menemui langsung sebuah fakta, di mana saat memilih kosmetik untuk seserahan, ia memilih merk yang dia suka, tapi tidak cocok untuknya. Alhasil, kosmetik-kosmetik itu mubadzir belaka. Atau ada juga yang memilih sepatu yang 'indah di pandang' saja. Endingnya sama, sepatu itu tidak terpakai. Sayang sekali, bukan? Jadi, alangkah baiknya kalau kita tetap mengedepankan kenyamanan dan kecocokan. Agar seperti yang ada di point sebelumnya, barang-barang seserahan tersebut bisa benar-benar bermanfaat.

3. Ingat Budget!

Meskipun Sang Calon Suamimu memberikan keleluasaan untuk memilih barang-barang untu seserahan sendiri, tentu saja kita tetap tidak boleh lupa diri. Alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu menanyakan, berapa budgetnya. Hei, jangan lupa... Kebutuhan yang harus dianpikirkan tidak hanya barang seserahan saja. Kita tidak ingin, kan, saat sudah menjadi suami kita, kita justru harus melongo melihat dia punya banya utang hanya demi menuruti barang-barang seserahan yang kita minta? :)

Yah, pada akhirnya, hal yang paling utama yang harus kita ingat adalah, setelah menikah nanti kita punya hak untuk meminta yang melebihi hanya sekedar barang-barang yang ada di seserahan. Jadi, tidak perlu kalap sampai semua-semua pengen dimasukkan list. Hehe.

Okay... Bagi kalian yang sedang mempersiapkan pernikahan, semoga diberi kelancaran hingga harinya tiba :)

Minggu, 27 Desember 2015

Tak Sebebas Merpati

Hari itu, hati saya sesekali terasa berdesir. Seperti ada kupu-kupu yang berputar-putar di perut. Tapi rasa itu perlahan-lahan mulai pudar saat saya mulai turut turun tangan membantu berbagai kesibukan rumah yang sebagian besar dibantu oleh saudara-saudara. Memasak beberapa menu, menyiapkan ruangan, dll. Mandi dan berdandan sengaja saya letakkan di urutan paling akhir menjelang injury time, karena saya tahu perasaan berdebar akan semakin terasa saat saya sudah berpenampilan sebagaimana mestinya.

Ya, tanggal 14 Oktober 2015 Masehi, atau bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1 Muharram 1427... Akhirnya, dengan mengucap Bismillah kami sampai pada tahapan selanjutnya setelah proses ta'aruf sekedarnya dan proses perjuangan memantapkan hati, yaitu khitbah atau pertunangan. Tentang kenapa memilih tanggal 14 Oktober, keputusan sepenuhnya ditentukan oleh orangtua si Mas. Rombongan keluarga si Mas datang sekitar Pukul 10.00, yang terdiri dari Bapak dan Ibu si Mas, kakak-adik, dan tante-om si Mas.

Setelah prosesi semi-formal -- pihak laki-laki mengutarakan niat kedatangan lalu ditanggapi dengan jawaban dari keluarga saya -- Sang Ibu si Mas menyematkan cincin di jari manis tangan kanan saya. Sayangnya, cincinnya kebesaran. Hehe. Bukan salah cincinnya, tapi salah jari saya yang memang terlalu kecil.


Cincin tersebut sebagai simbol bahwa mulai detik itu, saya tak lagi sebebas merpati. Bahwa saya tak lagi boleh memberi ruang pada kebimbangan, dan harus lebih berhati-hati menjaga hati.

Seorang sahabat bertanya, bagaimana rasanya? Entahlah. Campur aduk. Saya cukup kesulitan untuk menceritakannya dengan baik. Bahagia? Pasti. Siapa wanita yang tidak bahagia ketika tahu ia begitu diinginkan oleh laki-laki yang (Insya Allah) baik untuk menjadi penggenap diennya? :) Meski di sebagiannya yang lain juga ada perasaan cemas dan takut. Cemas apakah proses-proses selanjutnya akan berjalan sesuai keinginan kami. Takut jika ternyata saya tidak bisa menjadi istri yang baik sebagaimana yang diharapkan si Mas nantinya.

Ohya, pada hari tersebut, keluarga kami belum menentukan hari pernikahan, karena alasan satu dan lain hal. Insya Allah tentang penentuan tanggal akan saya ceritakan pada post selanjutnya. Doakan segala sesuatunya berjalan lancar, ya :)

Rabu, 16 Desember 2015

Bagaimana Memantapkan Hati Untuk Menerima Pinangannya?


Dicintai dan diinginkan oleh seseorang, tentulah merupakan salah satu kebahagiaan. Apalagi jika ia juga merupakan orang yang kita cintai dan inginkan. Tapi bagaimana jika seseorang yang mencintai dan menginginkan tersebut adalah orang yang sebelumnya kita anggap sebagai teman biasa? Sedangkan ia menunjukkan kesungguhan yang teramat, dan kita pun menyadari bahwa ia merupakan laki-laki baik yang patut dipertimbangkan?

Ya, memantapkan hati memang bukan urusan sederhana bagi sebagian orang, termasuk bagi saya. Saat seorang teman datang menawarkan niat baik untuk meminang, dengan pembuktian yang terasa amat sungguh-sungguh sebelumnya.

Bagaimana memantapkan hati untuk menerima pinangannya? Sementara hati masih bertarung. Satu sisi amat menyadari bahwa ia laki-laki baik yang tidak patut ditolak. Sebelahnya lagi melawan dengan menyodorkan berbagai keragu-raguan tentang hal-hal remeh yang seolah menjelma menjadi besar. Ya, saya mengalami pergulatan itu. Pergulatan yang cukup menyiksa, karna saya tidak tau harus berpihak pada sisi hati yang mana.

Namun keragu-raguan tidak boleh dibiarkan merajai kita. Bisa jadi ia datangnya dari syetan, yang tengah berusaha menghalangi kita menuju kebaikan. Lalu bagaimana akhirnya saya mengakhiri pergulatan batin dan memantapkan diri untuk menerima pinangannya?

Sederhana saja. Dengan berdoa. Berdoa dengan amat sungguh-sungguh setelah istikharoh. Berdoa memohon pertolongan Allah untuk menentramkan hati kita jika perkara tersebut memang baik bagi urusan dunia dan agama kita. Dan sungguh luar biasa. Saat itu hati saya perlahan menjadi damai. Pergulatan batun yang sebelumnya selalu menghantui saya sedikit demi sedikit semakin samar gaduhnya.

Selain berdoa, tentu saja harus ada ikhtiar sebagai manusia yanh dikaruniai akal. Saat tengah menimbang untuk menerima pinangannya, coba hitung dengan otak matematis kita sebagai manusia. Bandingkan antara kelebihan dan kekurangannya yang bisa ditangkap mata kita. Meskipun ini akan cukup sulit dilakulan dengan objektif saat cinta sudah tumbuh. Karena kita semua pasti tahu, akan sangat sulit bagi orang yang sudah dilanda perasaan cinta untuk melihat semuanya dengan jernih. Semua keburukan bisa seketika menjelma menjadi kebaikan.

Begitupun sebaliknya. Saat ada laki-laki datang dan berniat untuk meminang, sedangkan perasaan cinta belum ada di hati, jangan serta-merta menolaknya.  Percayalah, cinta bisa diupayakan.

Jangan buru-buru menolak saat ada yang datang meminang. Karena bisa jadi ia merupakan laki-laki baik yang Allah kirimkan, dan akan kau sesali saat kau telah memutuskan untuk mengabaikannya :)