Minggu, 20 Maret 2016

Mau Memberi Souvenir Apa Saat Resepsi Pernikahan? 5 Hal Ini Bisa Membantu Menentukan Pilihan


Souvenir merupakan salah satu item yang gak boleh dilupakan saat menyelenggarakan sebuah hajatan, salah satunya pernikahan. Semakin meningkatnya kreativitas masyarakat, maka semakin banyak pula pilihan souvenir pernikahan. Pilihan yang diberikan oleh para vendor semakin beragam.

Semakin beragamnya pilihan, tentu membawa dampak plus dan minus tersendiri. Plusnya, kita jadi punya lebih banyak pilihan yang bisa kita sesuaikan dengan keinginan kita. Minusnya, tentu saja lumayan bikin galau saat menentukan pilihan. Iya, kan? Hehe.

Meskipun kelihatan sepele, memilih souvenir pernikahan bisa juga jadi sumber konflik, lho, kalau gak disikapi secara bijak. Kita pengennya apa, calon suami punya ide apa, belum lagi pihak orang tua juga punya keinginan yang berbeda. Nah, agar bisa menentukan pilihan tentang mau memberi souvenir apa di acara resepsi pernikahanmu untuk para tamu, alangkah baiknya kita tau point-point yang bisa dijadikan pertimbangan.

Lalu, pertimbangan apa saja sih yang bisa kita pakai saat hendak memilih souvenir pernikahan? Berikut beberapa di antaranya:

1. Asas Manfaat

Souvenir pernikahan, meskipun hanya salah satu bagian kecil dalam acara resepsi pernikahan, tetap saja membutuhkan alokasi dana, kan? Alangkah sayangnya jika kita mengalokasikan dana untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak memberikan manfaat apa-apa pada para tamu yang menerima souvenir dari kita.

Agar souvenir pernikahan tidak mubadzir, alangkah baiknya jika kita memilih sesuatu yang sekiranya akan bermanfaat bagi tamu yang menerima. Jadi, sepulangnya dari acara resepsi pernikahan, souvenir tersebut gak cuma akan tergeletak tanpa manfaat. Apa saja sih contoh souvenir yang bermanfaat? Banyak. Ada pisau, tempat tissue, dll.

2. Cari Sebanyak Mungkin Referensi

Sebelum memutuskan pilihan akan memberikan souvenir apa di resepsi pernikahan kita, ada baiknya sebelumnya kita mencari sebanyak mungkin referensi. Datangi toko-toko atau vendor penyedia souvenir pernikahan, ataupun online shop yang melayani pemesanan souvenir pernikahana yang saat ini menjamur jumlahnya.

Cari info sebanyak mungkin tentang barang apa saja yang mereka tawarkan sebagai souvenir pernikahan, dan jangan lupa tanya harganya. Dengan memiliki banyak referensi, kita akan memiliki lebih banyak pilihan dan bisa mempertimbangkan sesuai keinginan kita.

3. Unik dan Berkesan

Semua orang pasti menginginkan hari pernikahannya menjadi berkesan. Berkesan bagi kita sendiri, maupun orang-orang yang turut menyaksikan. Maka, memilih souvenir yang unik dan berkesan untuk mencapainya.

Pilihlah souvenir yang sekiranya belum banyak dipilih oleh orang lain, minimal teman-teman selingkunganmu. Jika teman-temanmu sebelumnya sudah ada yang memberikan gelas sebagai souvenir, maka sebaiknya jangan lagi memilih gelas sebagai souvenir pernikahanmu.

4. Sesuaikan dengan Tema Pernikahanmu

Jika kita mengusung tema tertentu dalam perhelatan pernikahan kita, alangkah baiknya menyesuaikan souvenir pernikahan kita dengan tema tersebut. Jika pernikahan kita bertema Islamic Wedding misalnya, alangkah kurang pas jika kita memilih magnet hiasan dengan bentuk pengantin Jawa sebagai souvenir. Hehe. Tentu saja akan lebih tepat jika kita memilih tasbih atau buku doa dzikir pagi dan petang sebagai souvenir.

5. Sesuaikan dengan Budget

Ini rasanya yang paling krusial. Sebesar apapun keinginan kita untuk memberikan souvenir yang terbaik dalam acara resepsi pernikahan kita, kita tap harus bijak. Kita tentu harus sadar bahwa kebutuhan dalam penyelenggaraan acara ini sangat banyak, dan semuanya membutuhkan budget yang tidak sedikit.

Maka, jangan lupa untuk menyesuaikan pilihan souvenir pernikahan dengan budget yang sudah kita siapkan. Jangan sampai budget kita tiba-tiba membengkak hanya karna lalai mengkalkulasi dana untuk pemilihan souvenir ini.

Yup, lima point di atas rasanya sudah sangat cukup untuk kita jadikan dasar dalam menentukan pilihan souvenir pernikahan kita. Setelah menentukan pilihan, saatnya kita menghela nafas sembari berdoa, semoga para tamu menerima souvenir pernikahan kita dengan sukacita, meskipun sederhana.

Minggu, 13 Maret 2016

Mempersiapkan Baju Untuk Akad Nikah


Akad nikah adalah prosesi yang paling utama dan paling inti dari serangkaian prosesi pernikahan yang biasa diselenggarakan. Maka, memikirkan detail akad nikah rasanya menjadi keharusan. Setelah memikirkan hal-hal yang pokok seperti wali, saksi, dan lain-lainnya, mempersiapkan baju untuk akad nikah pun tidak boleh luput dari perhatian. Pada saat akad nikah, pastilah banyak orang yang ingin menyaksikannya. Apa iya sang pengantin yang merupakan tokoh sentral dari acara tersebut, tak ingin berpenampilan yang baik?

Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih saat mempersiaokan baju untuk akad nikah. Jika ingin simpel, kita bisa tinggal datang ke vendor persewaan baju pengantin, dan memilih baju mana yang cocok untuk disewa dan dipakai saat akad nikah. Tapi, jika mengingat betapa momen akad nikah merupakan momen sakral dan amat bersejarah, tidak heran pula banyak orang yang memilih untuk memesan baju khusus untuk akad nikah, dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Nah, saya memilih opsi yang kedua :)

Ya, akhirnya saya memutuskan untuk mempersiapkan baju untuk akad nikah secara khusus. Bukan, khusus di sini artinya bukan berarti mewah. Sederhana saja, asalkan pantas dan sesuai dengan keinginan. Keputusan tersebut saya ambil setelah berdiskusi dengan si Mas. Ia setuju saya membuat baju untuk akad nikah sendiri -- tidak menyewa -- agar nilai historisnya akan tetap terjaga. Si Mas juga menginginkan bajunya dibuat sederhana, agar bisa tetap dipakai di lain momen, misalnya untuk datang ke kondangan.

Luar biasanya, alhamdulillah proses mempersiapkan baju untuk akad nikah ini benar-benar istimewa (menurut saya). Mengapa? Yang pertama, bapak-ibu si Mas ternyata dengan sukacita menawarkan diri untuk membelikan bahan kainnya. Padahal jujur saja tadinya sempat agak kepikiran tentang budget untuk membeli kain, yang pastilah lumayan besar. Rejeki dari arah yang tidak diduga-duga :)

Yang kedua, baju akad nikah saya dijahitkan langsung oleh dua wanita yang amat saya cintai, yaitu ibu dan kakak perempuan saya, yang memang pandai menjahit. Saya sudah amat sering dijahitkan baju oleh mereka. Tapi tentu saja dibuatkan baji untuk akad nikah rasanya jauh lebih istimewa :)

Yup, kesimpulannya, baju akad nikah saya nanti -- Insya Allah -- merupakan salah satu simbol kasih sayang dari kolaborasi orang-orang yang mencintai kami dan si Mas :')

Untuk model, saya mencari inspirasi dengan blogwalking ke beberapa blog. Salah satu yang menginspirasi adalah gaun akad nikah Puput Utami, namun saya ingin membuat yang jauh lebih simple dari itu. Awalnya saya ingin baju akad nilah saya berwarna putih tulang, dengan sedikit kombinasi payet berwarna kuning emas. Tapi karna satu dan lain hal, pemberian payet sedang saya pertimbangkan kembali jadi atau tidaknya. Hehe.

Penasaran sama baju akad nikah saya? Hehe

Alhamdulillah saat ini sudah setengah jadi. Ini dia tampilannya:


Doakan semuanya lancar ya, teman :)

Senin, 07 Maret 2016

Apa Ini Syndrom Pra-Nikah?

Beberapa hari ini perasaan saya luar biasa campur aduk. Mood saya amat labil. Lagi-lagi, kata teman saya, saya sedang mengalami syndrom pra-nikah. Aneh sekali, karna gak biasanya perasaan saya begini banget, kecuali jika sedang dalam masa PMS.

Saya gak tau saya harus gimana. Tapi saya ingat, katanya, menulis itu bisa menjadi sarana self-healing yang ampuh. Maka saya memutuskan menuliskannya di sini.

Saya seperti dihantu pikiran tentang 'berganti status' yang Insya Allah akan segera saya alami. Berganti status dari anak bungsu nan manjanya Bapak-Ibuk, menjadi seorang istri. Ada semacam perasaan gak rela.. mengingat nanti setelah jadi istri rasanya agak gak pantes lagi manja-manjaan sama Ibuk, gelendotan sama Ibuk, minta disuapin Ibuk, dipijitin Ibuk kalo lagi capek, atau dikelonin Ibuk kalo lagi gak enak badan.

Berganti status dari adik kesayangannya Mbak dan Mas, menjadi seorang istri. Saya memang bisa dibilang sangat dekat dengan dua kakak saya. Kakak perempuan saya -- meskipun kalo galaknya keluar serem banget -- seperti belahan jiwa saya. Tiap saya pulang, hampir selalu pasti kami pergi berdua -- meskipun sekedar menjemput anak pertamanya sekolah. Tiap saya pulang, ia selalu menumpahkan segala kecamuk pikiran dan perasaannya. Ya, saya bisa dibilang satu-satunya tempat curhat Mbak Saya. Beda sama saya yang punya beberapa alternatif tempat curhat. Bahkan Mas Ipar saya (suami kakak pertama saya) sangat mengerti akan hal ini. Ia yang dulu awal tau kedekatan kami sempet agak cemburu dan bete, kini bahkan seperti sengaja memberi kami kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua. Dengan kakak kedua yang biasa saya panggil Mas juga saya deket banget. Dia dari dulu manjain saya banget. Dulu, jaman masih tinggal serumah, ke mana-mana kami berdua. Waktu dia nikah, saya nangis berhari-hari seperti orang patah hati. Sering kirimin saya pulsa dan kasih uang jajan meskipun saya udah kerja. Buka, bukan soal nominalnya -- karna toh saya sudah punya gaji kan?! Tapi soal... apa ya... seneng aja pokoknya. Merasa masih 'dimanjakan' dengan pemberian-pemberian semacam itu. Dan siang ini saya tiba-tiba jadi amat sensi gara-gara Mas saya habis telfon dan bilang gak mau kasih saya uang makan lagi, karna bentar lagi saya nikah. Jleb! Saya ngrasa kakak saya merasa 'sudah harus' melepaskan saya sebagai adik tersayangnya. Dan asli, saya jadi mellow banget :(

Jujur, saat perasaan saya gak menentu gini, pihak yang paling kasian adalah si Mas. Karena dia seriiiiing banget jadi 'korban' bad mood-nya saya. Saya tau dia sama sekali gak salah. Tapi gak tau kenapa kadang suka sebeeellll banget sama dia. Ya mungkin karna saya gak tau harus melimpahkan rasa jengkel saya ini pada siapa. Duh, ini jadi keliatan banget ya kalau manajemen emosi saya masih buruk banget :( Kadang saya mikir pengen ga usah bales chatt apapun si Mas dulu, atau nyuruh dia gak hubungin saya dulu -- karna ya itu, kasian dia kalo jadi 'korban' terus padahal dia gak salah apa-apa. Tapi ya gimana, ya... saya butuh dia sebagai pelampiasan kekesalan saya :D *bercanda*

Emm, satu nasehat sahabat saya: Banyakin istighfar!!! Iya, harusnya saya praktekkin itu :(

Yaudah saya cuma bisa berdoa, semoga Allah meluaskan kesabaran si Mas karna terus-terusan saya kambing-hitamkan di tengah situasi labil hati saya :')

Rabu, 02 Maret 2016

Mau Gak Diajak Hidup Susah?


Beberapa waktu lalu sempat ramai soal pembahasan 'mau gak wanita diajak hidup susah sama pasangannya'. Hihi, telat banget sih ya kalo saya baru mau bahas sekarang. Tapi tak apa, malah jadi antimainstream, kan? #ngeles

Di facebook, pembahasan soal ini sempat terbelah menjadi dua kubu *memang selalu gitu sih, ya!*. Kubu pertama mencemooh laki-laki yang menjadikan 'mau diajak susah' sebagai salah satu kriteria istri. Kubu ini menganggap laki-laki semacam itu tidak bertanggungjawab. Wanita dibesarkan oleh ayahnya, selalu berusaha dibahagiakan, dipenuhi kebutuhannya, disayang-sayang, eh lha kok dijadikan istri 'cuma' mau diajak susah. Plis deh! *itu kata mereka lho*

Lalu kubu kedua, mengatakan.. Laki-laki menjadikan itu sebagai 'jaga-jaga saja'. Kan hari esok gak ada yang tau. Laki-laki bisa jadi berusaha sangat kuat agar bisa menjamin segala kebutuhan keluarganya, tapi ternyata ada saja yang membuat mereka kekurangan a.k.a hidup susah. Nah, pada kondisi tak terduga seperti ini, mereka berharap sang istri siap dan tak lantas pergi meninggalkannya (baca: mau diajak hidup susah).

Saya teringat pada sepotong percakapan antara Cakra dan ibunya dalam novel Sabtu Bersama Bapak. Saat itu -- dalam rangka meyakinkan Cakra agar segera menikah -- si Ibu berkata, 'istri yang baik gak akan keberatan diajak hidup susah'. Lalu Cakra menjawab dengan santun, 'tapi laki-laki yang baik gak akan tega mengajak istrinya hidup susah, Bu'.

Nah! Ketemu, kan, jalan tengahnya?! Istri yang baik (meskipun kata 'baik' luaaasss sekali pemaknaannya) tentu gak akan keberatan setia pada suaminya dalam kondisi apapun, termasuk dalam kondisi susah. Sedangkan suami yang baik tentu akan berusaha sekuat yang dia bisa untuk memastikan keluarganya selalu falam kecukupan. Gitu, kan, seharusnya?

Ya menurut saya sangat wajar sih kalau laki-laki mensyaratkan 'mau diajak susah' sebagai salah satu kriteria istri. Pernah dengar kalimat 'wanita diuji saat suaminya tak punya apa-apa'? Nah, mungkin itu sebabnya. Sedangkan kenapa wanita sering mensyaratkan 'SETIA' sebagai kriteria, karna konon 'laki-laki diuji saat ia punya segalanya'.

Lagian kenapa kita harus gusar menganggap laki-laki itu gak adil kalo menggunakan 'mau gak diajak susah?' sebagai syarat. Kita sebenernya juga sering gak adil, kan? Kita sering mensyaratkan tentang kemapanan, kan? Nah, Insya Allah soal kemapanan akan saya curhatkan di postingan berbeda. Hihi

Minggu, 21 Februari 2016

Pre Marital Check Up, Pentingkah? (Part. 2)


Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya dengan senang hati saya menyetujui ajakan si Mas untuk melakukan pre marital check up.

Baca: Pre Marital Check Up, Pentingkah? Part. 1

Setelah sepakat untuk melakukan pre marital check up, kami mulai mencari info. Terutama tentang biaya, dan pemeriksaan apa saja yang ada dalam paket pre marital check up tersebut. Akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Rumah Sakit yang ada di bawah naungan lembaga tempat kami bekerja, yaitu Rumah Sakit Islam Sultan Agung. Iya sih, unsur subjektif punya peran besar dalam pengambilan keputusan ini. Hehe. Tapi tentu saja ada unsur pendukung lain, yaitu: ramah buat kantong :D

Yupp... Paket Pre marital check up di Rumah Sakit Islam Sultan Agung cukup Rp 200.000 saja per orang. Sedangkan di tempat lain, rata-rata minimal Rp 400.000 ke atas. Tapi tentu saja, harga berbanding lurus dengan fasilitas yang kita terima.


Paket pre marital check up yang kami ambil terdiri dari cek darah rutin, urine, HIV, obgyn untuk saya dan andrologi untuk si Mas. Ohya, tambahan satu lagi, kami juga mendapat fasilitas konsultasi rohani lengkap dengan handbook Bimbingan Pra Nikah.

Tanggal 13 Februari 2016 lalu, kami datang ke Rumah Sakit Islam Sultan Agung sekitar jam 09.00. Kami langsung menuju pendaftaran, dan pihak pendaftaran langsung menghubungi bagian yang menangani Pre Marital Check Up.

Sementara menunggu Mbak Devi -- perawat yang dijanjikan akan mendampingi kami, kami dipersilakan menunggu di ruangan yang amat nyaman.


Tidak berselang lama, Mbak Devi datang dan mengantarkan kami ke ruang pengambilan sampel darah dan urine. Setelah darah dan urine kami telah diterima pihak lab, kami dijanjikan akan menerima hasil lab-nya dua jam kemudian.

Sementara menunggu hasil lab keluar, si Mas dipersilakan masuk ke poly Andrologi. Sementara saya seharusnya masuk ke poly obsgyn. Kenapa seharusnya? Iya, karna akhirnya batal.. Hehe. Hari itu, saya dijadwalkan bertemu dengan dokter spesialis obsgyn laki-laki, sementara si Mas kekeuh gak mengijinkan saya diperiksa oleh dokter laki-laki. Alhamdulillah, Rumah Sakit Islam Sultan Agung sangat mengapresiasi keinginan kami, dan membuatkan jadwal baru untuk saya dengan dokter spesialis obsgyn wanita.

Setelah keluar dari poly andrologi, kami kembali dipersilakan menunggu hasil lab di ruang tunggu yang nyaman tadi. Pada saat menunggu itu, kami didatangi oleh bagian kerohanian. Beliau menyerahkan buku Bimbingan Pra nikah dan memberikan beberapa nasehat tentang pernikahan. Usai sesi bimbingan kerohanian, hasil lab pun keluar. Alhamdulillah hasilnya semua Insya Allah baik dan sehat.

Pada tanggal 16 Februari 2016, saya masih harus lanjut periksa dengan dokter spesialis obsgyn. Lumayan drama sih untuk bagian ini. Hihi. Selain Agak ga tenang karna saya ijin di tengah jam kerja, kebetulan Mbak Devi yang kemarin nemenin kita dari awal kebetulan pas shift siang, jadi saya dilimpahkan ke perawat lain pengganti Mbak Devi. Sempet agak baper gara-gara saya disuruh nunggu, tapu tanpa dikasih kejelasan saya harus nunggu sampai jam berapa dan nunggu siapa. Ya tapi intinya saat itu kebetulan saya lagi PMS aja sih, jadi hawanya udah pengen nyakar-nyakar lantai aja. Haha

Setelah menunggu sekita satu jam lebih dikit, dan beberapa kali ngrecokin 'Mbak bagian Pendaftaran' -- ya soalnya saya gatau harus tanya ke siapa -- akhirnya saya disamperin sama Mbak Perawat pengganti Mbak Devi, dan diantar menuju poly obsgyn.

Di poly obsgyn saya sempet ditanya apa calon saya seorang TNI atau Polisi, saya reflek jawab bukan :D Lalu Bu Dokter heran, 'Kalo enggak, ngapain pake periksa pra nikah segala?'. Saya jawab enteng sih, 'Iseng aja, Dok' *sambil cengengesan'. Haha. Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa Pre Marital Check Up memang belum terlalu familiar di mata banyak orang. IMHO, sih.

Setelah di tanya tanggal berapa menstruasi terakhir saya, ada keluhan apa selama ini, dll.. Saya dipersilakan berbaring di rangjang untuk di USG. Otak saya sempet berfantasi, kalo tiba-tiba ternyata ada janin gimana, ya? Haha. *ngacho!*. Singjat cerita, dari hasil USG bisa disimpulkan oleh Bu Dokter Insya Allah semua normal dan sehat. Alhamdulillah.


Yepp... Begitulah cerita Pre Marital Check Up saya. Panjang, yaaa :D

Intinya, Pre Marital Check Up itu menurut saya bukan untuk tau kekurangan calon pasangan kita lalu berpikir ulang, melainkan untuk saling tau kondisi kita dan calon pasangan, lalu kembali memantapkan hati dan menerima segala kurang lebihnya.

Sekian, terima kasih, semoga bermanfaat :D

Sabtu, 13 Februari 2016

Pre Marital Check Up, Pentingkah?


Duluuu sekali, saat saya belum punya bayangan akan menikah dengan siapa (haha) saya berangan-angan ingin melakukan check up sebelum pernikahan, atau sering disebut dengan pre marital check up. Pikir saya waktu itu, agar apabila ternyata ada 'masalah' di badan saya, calon suami saya bisa tau sejak sebelum menikah, sehingga dia bisa menimbang apakah dia bisa menerima 'masalah' yang ada di badan saya tersebut. Jadi gak kaget setelah menikah, karna sudah tau sejak sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, keinginan itu mulai luntur. Selain yakin bahwa saya sehat (harus pede, kan? Hihi), saya juga mikirnya persiapan menjelang pernikahan itu pasti sudah menelan banyak biaya. Masa masih harus ditambah dengan pre marital check up? Mending buat tambahan bayar souvenir, ya :D

Namun, Qodarullah... Allah mempertemukan saya dengan si Mas yang ternyata menginginkan kita berdua melakukan pre marital check up. Awalnya saya masih menimbang-nimbang. Pre marital check up, pentingkah?

Saya pun akhirnya meminta pertimbangan pada mbah google, tentang pendapat beberapa orang mengenai penting atau tidaknya pre marital check up ini. Setelah membaca beberapa pendapat dan cerita dari orang-orang yang telah menjalaninya, menurut saya gak ada salahnya kami melakukan pre marital check up.

Apa pentingnya pre marital check up ini? Agar jika ternyata ada 'masalah' dalam diri kita atau pasangan kita, kita sudah tau sejak awal. Selain agar saling tau kondisi calon pasangan dan bisa saling menerima, kita juga bisa sama-sama mengusahakan penyembuhan atau perbaikan kondisi sejak sekarang. Apalagi jika berkaitan dengan reproduksi.

Lalu kapan sebaiknya dilakukan pre marital check up? Dari hasil berselancar, pre marital check up ini konon idealnya dilakukan enam bulan sebelum pernikahan. Wow, lama banget, ya? Ya tujuannya itu tadi, agar ada waktu yang 'cukup' untuk mengobati jika memang ternyata ada masalah yang ditemui. Tapi, kalaupun gak bisa enam bulan sebelum pernikahan (karna banyak kan, ya, yang menikahnya mendadak, ga sampe enam bulan persiapannya), sebulan sebelum pernikahan pun Insya Allah tetep gak papa.

Nah, hari ini... Sabtu, 13 Februari 2016 ini, Insya Allah saya dan si Mas akan menjalani pre marital check up. Tentang di mana, berapa biayanya, dan cerita detail tentang rangkaian pre marital check up, Insya Allah akan saya bagi ceritanya di part ke-2.

Doakan pre marital check up kami lancar, dan kami dinyatakan sehat, ya :)

Aamiin.

Minggu, 07 Februari 2016

Apakah Ini Yang Disebut Pre Marriage Syndrome?

Dr. Tumblr

Mau menikah? Yakin?

Pertanyaan itu berputar-putar di benak saya semingguan lalu. Pertanyaan yang kemudian menjelma pikiran-pikiran negatif, prasangka, dan puncaknya menjadi sebuah ketakutan yang terasa mencengkeram. Ya, saya sempat amat merasa ketakutan. Hingga pada suatu pagi, saat saya terbangun dari tidur saya, lalu tiba-tiba menangis seketika... Tanpa saya tau sebabnya. Yang saya tau, saya takut.

Menikah berarti siap melepaskan dan meninggalkan segala atribut masa lalu. Sebagai anak bungus bapak-ibu yang amat wajar jika manja, misalnya. Tentu saja gak tepat jika atribut itu tetap saya kenakan. Menikah berarti harus siap memasuki kehidupan baru yang totally berbeda. Menikah berarti harus siap mempersembahkan sebaik-baik bakti pada seorang laki-laki yang belum lama kita kenal dan elum seluruhnya kita tau sifatnya. Bukankah banyak fakta yang menunjukkan bahwa sikap seorang laki-laki antara sebelum dan setelah menikah berbeda bagai bumi dan langit? Hari ini dia amat sempurna menunjukkan kesungguhannya... Bagaimana jika semua itu tak terbukti setelah menikah nanti? Bukankah tak boleh ada kata mundur? Bukankah ini amat menakutkan?

Saya kemudian meminta nasehat pada seorang sahabat tentang apa yang saya rasakan. Ia mengatakan, mungkin itu bagian dari Pre-Merried Syndrom atau Sindrom Pra-Nikah. Saya gak tau persis sih apakah benar apa yang saya rasakan itu merupakan Pre-Merried Syndrom jika dilihat secara teori keilmuan. Tapi konon, perasaan seperti itu sering menyerang orang yang hendak menikah.

Lalu sahabat saya menyarankan agar saya mengambil jeda sejenak. Jeda dari pikiran apapun soal persiapan pernikahan saya. Jeda dari buku-buku pernikahan yang tengah saya baca sebagai bekal mengarungi pernikahan kelak. Karna pikiran yang terus-menerus terpancang pada tema itu, mungkin akhirnya membuat merasa tertekan, lalu memantik berbagai perasaan negatif seperti di atas. Saya menyetujui ide sahabat saya tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk menonton film Ketika Mas Gagah Pergi malam harinya.

Esoknya, saya mencoba lebih rileks. Saya tonton beberapa film pendek di YouTube. Film-film sederhana, tapi inspiratif. Membuat saya tersipu, tersenyum, tertawa, juga menangis.

Saat pikiran saya mulai jernih, saya bisa kembali merenungi semuanya. Saya ingat pada cerita Kakak mentoring mingguan saya -- bernama Mbak Surya -- beberapa tahun lalu, saat ia baru saja menikah. Saat itu Mbak Surya cerita tentang prosesnya menuju pernikahan, hingga pernikahan berlangsung. Cerita yang sekaligus bermuatan nasehat.

Mbak Surya bercerita bahwa ia berkali-kali dihinggapi keraguan yang teramat sangat, juga ketakutan. Ia lalu bercerita pada guru ngajinya, dan mendapatkan sebuah nasehat -- yang harusnya saya pakai hari ini.

Guru ngaji Mbak Surya mengatakan bahwa was-was, ragu, takut, itu asalnya dari syetan. Tentu saja syetan akan berusaha menggoyahkan hati seseorang yang akan menikah.. Karna bukankah menikah adalah bagian dari ibadah? Kalau muncul rasa was-was, takut, cemas, dll... Langsung ngaji saja, biar hatinya tenang.

Ah, iya, ya... Ternyata masih sedangkal itu iman saya. Bahkan untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif pun saya masih kewalahan, padahal saya tau ilmunya. Tapi terjangan ketakutan luar biasa yang menimpa saya minggu lalu membuat saya semakin sadar untuk kembali meluruskan dan menancapkan niat sekuat-kuatnya.

Bahwa menikah merupakan cara yang Allah tentukan sebagai penyempurna separuh dien saya. Bahwa menikah merupakan sunnah Rasulullah, dan barangsiapa tak mencintai sunnahnya, maka bukanlah termasuk dari golongannya.

Doakan saya, ya, teman :)

Rabu, 27 Januari 2016

Perhatikan 3 Hal Ini Saat Menentukan Tanggal Pernikahan

Sumber
Menentukan Tanggal Pernikahan
Banyak orang bilang, masa-masa mempersiapkan pernikahan merupakan masa yang sangat rawan konflik, kalau nggak membekali diri dengan sebanyak-banyaknya sabar. Baik konflik antara si calon mempelai perempuan VS calon mempelai laki-laki, maupun konflik antar-keluarga kedua belah pihak.

Salah satu hal yang amat sensitif dan rawan konflik adalah saat menentukan tanggal pernikahan. Penentuan tanggal pernikahan ini biasanya nggak hanya soal kesepakatan antara pasangan yang akan menikah. Pengambilan keputusannya seringkali berdasarkan musyawarah antar-keluarga dari kedua belah pihak. Nahh, apa saja sih yang harus diperhatikan dalam menentukan tanggal pernikahan agar hal ini nggak menjadi sumber konflik yang bikin rencana pernikahan malah jadi runyam?

1. Jangan Egois!

Sudah bukan jadi rahasia lagi jika di Indonesia ini, khususnya di Jawa, ada beberapa orang yang menentukan tanggal pernikahan berdasarkan hitung-hitungan tertentu. Hitung-hitungan weton si kedua calon mempelai misalnya. Yang bikin repot, ketika pihak yang satu masih pakai hitung-hitungan, sedangkan yang satu sudah enggak sama sekali. Hihi. Kalau tidak saling memahami, bisa buyar semuanya.

Sebaiknya, dua keluarga saling bertenggangrasa dan memahami saat menentukan tanggal pernikahan. Kalau pihak calon besan percaya hitung-hitungan, dan memberi pengertia dirasa enggak memungkinkan, ya iya-kan saja dengan niat semata menyetujui tanggal yang diberikan si calon besan -- tanpa mempercayai apalah-apalah soal hitung-hitungannya.

Alhamdulillah, keluarga kami (saya dan si Mas) sudah nggak pakai hitung-hitungan, sih. Jadi lebih simple. Patokannya cuma satu: pas tanggal merah, atau weekend. Hehe. Selain memperhatikan kesanggupan kami, kami juga harus memperhatikan kesanggupan para saudara yang pasti ingin turut menghadiri pernikahan kami. Emm, ohya... Ibu si Mas juga sempat meminta agar pernikahannya enggak jatuh pada hari tertentu karna hari tersebut merupakan hari meninggalnya ayahanda beliau. Bukan karna beliau masih percaya gitu-gitu, tapi semata menghargai ibunda beliau.

Sekali lagi, jangan egois, dan saling memahami. Ini hajat bersama, bukan? :)

2. Perhatikan Kesiapan Mental, Finansial, Dll Pada Kedua Belah Pihak

Ini masih ada hubungannya dengan point pertama sih. Jangan egois. Jangan menentukan tanggal pernikahan dengan semena-mena, sedangkan kita tahu saat itu pihak si calon masih kurang siap -- secara finansial misalnya.

Kami juga sempat mengalami ini. Bulan yang disodorkan bapak saya pertama kali enggak disanggupi oleh orangtua si Mas, lantaran orangtua si Mas merasa agak terlalu cepat, dan masih kurang siap secara waktu (pada bulan itu banyak sekali saudara yang juga menikah) dan finansial. Lalu, tanggal kedua disepakati. Karna satu dan lain hal, pihak si Mas minta diajukan beberapa hari. Kali ini gantian keluarga saya nggak sanggup karna merasa nggak siap secara mental dan waktu. Setelah berunding ulang, keluarga pun sepakat untuk memajukan bulannya. Alhamdulillah.

Beberapa teman sempat bertanya, kenapa enggak disegerakan, kenapa lama sekali, dll. Hmm... Jika bisa, kami pun ingin menyegerakan. Tapi tentang penentuan tanggal pernikahan, bukan semata-mata tentang kami mempelainya, bukan? Ini juga tentang kesanggupan dan kesiapan keluarga kami. *eits, numpang curcol :D*

3. SEPAKAT

Untuk moment yang amat sakral serta istimewa, alangkah baiknya jika tanggal yang ditentukan merupakan tanggal yang disepakati oleh kedua belah pihak dengan legowo. Jadi bukan pihak A memaksa pihak B, atau pihak X menerima dengan terpaksa keputusan pihak Y.

Kalau kedua belah pihak keluarga bersedia untuk tidak egois serta saling memperhatikan kesiapan satu sama lain, Insya Allah kata SEPAKAT akan dicapai. Enak deh pokoknya kalau sudah ada kata sepakat. Tanggal pernikahan saya dan si Mas (Insya Allah) mengalami sekiat tiga atau empat kali tarik-ulur dan maju-mundur. Tapi berhubung keluarga enggak egois dan saling memahami, Alhamdulillah mudah untuk mencapai kata sepakat.

Yups, semoga tiga hal tersebut membuat penentuan tanggal pernikahanmu jadi lebih 'aman' dari konflik ya, Guys. Ohya, satu lagi... INTInya tetap ada pada doa sih. Jangan lupa berdoa agar Allah memberikan kemudahan pada penentuan tanggal pernikahanmu, dan memberikan kelancaran hingga hari H jika tanggalnya sudah ditentukan. Aamiin :)

Rabu, 13 Januari 2016

Mempersiapkan Seserahan, Tiga Hal Ini Harus Kita Perhatikan!

Salah satu hal yang hampir tidak pernah lupa mempersiapkan Seserahan

Salah satu hal yang hampir tidak pernah lupa untuk dipersiapkan oleh siapapun yang hendak menikah adalah seserahan. Meskipun tidak ada dalam rukun nikah, namun kebiasaan membawa seserahan dalam prosesi pernikahan seolah sudah menjadi hal yang diwajibkan secara tidak langsung oleh mainset masyarakat Indonesia pada umumnya.

Biasanya, ada beberapa perbedaan dalam detail seserahan. Ada beberapa daerah yang punya ke-khas-an tentang apa saja yang dibawa sebagai seserahan. Seperti di daerah saya -- Jepara. Biasanya, jika calon mempelai laki-laki dan perempuan sama-sama berasal dari Jepara, maka sang laki-laki biasanya membawakan almari kayu jati dengan ukiran khas Jepara sebagai salah satu seserahan. Dan itu merupakan sesuatu yang dianggap prestis. Ada juga daerah-daerah yang mana tidak hanya pihak  laki-laki yang memberikan seserahan pada sang calon istri, namun juga sebaliknya -- sang calon istri pun memberikan seserahan untuk sang calon suami. Yah, Bhineka tunggal ika. Tidak ada budaya atau adat yang lebih buruk atau lebih baik dari yang lain. Tidak perlu membanding-bandingkan :)

From Pinterest

Meski begitu, ada sebuah sebuah unsur seserahan yang sepertinya sangat umum. Yaitu, perlengkapan atau kebutuhan-kebutuhan pokok untuk si mempelai wanita. Contohnya, baju, kosmetik, mukena, sepatu, dll.

Dalam mempersiapkan seserarahan tersebut, seorang lelaki kadang memilih untuk memberikan surpraise untuk sang calon istri. Biasanya, ia akan dibantu oleh ibu atau saudara perempuannya. Namun ada juga yang memilih untuk mengajak Sang Calon Istri untuk memilih sendiri barang-barang seserahan.

Kalau saya cenderung memilih yang kedua. Kenapa? Karna barang-barang tersebut nantinya saya yang memakai. Yang paling tahu mana yang paling sreg di hati saya, ya saya sendiri. Alangkah sayangnya jika saat membuka seserahan nanti, kita bukannya surpraise, malah justru merasa kecewa lantaran barang-barang yang diberikan sama sekali tidak sesuai dengan selera kita. Imho, ya :) Tentu saja tiap orang punya pilihan, sudut pandang dan pertimbangan masing-masing. Tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Lalu, apa saja yang harus kamu (calon mempelai) perhatikan saat diberi keleluasaan oleh calonmu untuk memilih barang-barang untuk seserahan sendiri?

1. Pilih Barang Yang Bermanfaat

Meskipun ini moment spesial, dan kita tidak harus memikirkan uangnya, tentu saja kita harus tetap bijak. Jangan sampai kita 'aji mumpung' meminta bermacam-macam barang yang akhirnya tidak bermanfaat sama sekali.

2. Jangan Hanya Sekedar Suka! Pilih yang Nyaman dan Cocok.

Saya pernah menemui langsung sebuah fakta, di mana saat memilih kosmetik untuk seserahan, ia memilih merk yang dia suka, tapi tidak cocok untuknya. Alhasil, kosmetik-kosmetik itu mubadzir belaka. Atau ada juga yang memilih sepatu yang 'indah di pandang' saja. Endingnya sama, sepatu itu tidak terpakai. Sayang sekali, bukan? Jadi, alangkah baiknya kalau kita tetap mengedepankan kenyamanan dan kecocokan. Agar seperti yang ada di point sebelumnya, barang-barang seserahan tersebut bisa benar-benar bermanfaat.

3. Ingat Budget!

Meskipun Sang Calon Suamimu memberikan keleluasaan untuk memilih barang-barang untu seserahan sendiri, tentu saja kita tetap tidak boleh lupa diri. Alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu menanyakan, berapa budgetnya. Hei, jangan lupa... Kebutuhan yang harus dianpikirkan tidak hanya barang seserahan saja. Kita tidak ingin, kan, saat sudah menjadi suami kita, kita justru harus melongo melihat dia punya banya utang hanya demi menuruti barang-barang seserahan yang kita minta? :)

Yah, pada akhirnya kita menyadari... Bahwa persiapan pernikahan merupakan ajang pemanasan yang cukup efektif baginkita sebelum 'terjun' ke dunia rumah tangga. Harus ada banyak kompromi, tidak boleh kehabisan stok sabar, tidak membiarkan ego berkuasa, dan tentu saja tidak lupa untuk terus berdoa.

Bagi kalian yang sedang mempersiapkan pernikahan, semoga diberi kelancaran hingga harinya tiba :)pa untuk dipersiapkan oleh siapapun yang hendak menikah adalah seserahan. Meskipun tidak ada dalam rukun nikah, namun kebiasaan membawa seserahan dalam prosesi pernikahan seolah sudah menjadi hal yang diwajibkan secara tidak langsung oleh mainset masyarakat Indonesia pada umumnya.

Biasanya, ada beberapa perbedaan dalam detail seserahan. Ada beberapa daerah yang punya ke-khas-an tentang apa saja yang dibawa sebagai seserahan. Seperti di daerah saya -- Jepara. Biasanya, jika calon mempelai laki-laki dan perempuan sama-sama berasal dari Jepara, maka sang laki-laki biasanya membawakan almari kayu jati dengan ukiran khas Jepara sebagai salah satu seserahan. Dan itu merupakan sesuatu yang dianggap prestis. Ada juga daerah-daerah yang mana tidak hanya pihak  laki-laki yang memberikan seserahan pada sang calon istri, namun juga sebaliknya -- sang calon istri pun memberikan seserahan untuk sang calon suami. Yah, Bhineka tunggal ika. Tidak ada budaya atau adat yang lebih buruk atau lebih baik dari yang lain. Tidak perlu membanding-bandingkan :)

Meski begitu, ada sebuah sebuah unsur seserahan yang sepertinya sangat umum. Yaitu, perlengkapan atau kebutuhan-kebutuhan pokok untuk si mempelai wanita. Contohnya, baju, kosmetik, mukena, sepatu, dll.

Dalam mempersiapkan seserarahan tersebut, seorang lelaki kadang memilih untuk memberikan surpraise untuk sang calon istri. Biasanya, ia akan dibantu oleh ibu atau saudara perempuannya. Namun ada juga yang memilih untuk mengajak Sang Calon Istri untuk memilih sendiri barang-barang seserahan.

Kalau saya cenderung memilih yang kedua. Kenapa? Karna barang-barang tersebut nantinya saya yang memakai. Yang paling tahu mana yang paling sreg di hati saya, ya saya sendiri. Alangkah sayangnya jika saat membuka seserahan nanti, kita bukannya surpraise, malah justru merasa kecewa lantaran barang-barang yang diberikan sama sekali tidak sesuai dengan selera kita. Imho, ya :) Tentu saja tiap orang punya pilihan, sudut pandang dan pertimbangan masing-masing. Tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Lalu, apa saja yang harus kamu (calon mempelai) perhatikan saat diberi keleluasaan oleh calonmu untuk memilih barang-barang untuk seserahan sendiri?

1. Pilih Barang Yang Bermanfaat

Meskipun ini moment spesial, dan kita tidak harus memikirkan uangnya, tentu saja kita harus tetap bijak. Jangan sampai kita 'aji mumpung' meminta bermacam-macam barang yang akhirnya tidak bermanfaat sama sekali.

2. Jangan Hanya Sekedar Suka! Pilih yang Nyaman dan Cocok.

Saya pernah menemui langsung sebuah fakta, di mana saat memilih kosmetik untuk seserahan, ia memilih merk yang dia suka, tapi tidak cocok untuknya. Alhasil, kosmetik-kosmetik itu mubadzir belaka. Atau ada juga yang memilih sepatu yang 'indah di pandang' saja. Endingnya sama, sepatu itu tidak terpakai. Sayang sekali, bukan? Jadi, alangkah baiknya kalau kita tetap mengedepankan kenyamanan dan kecocokan. Agar seperti yang ada di point sebelumnya, barang-barang seserahan tersebut bisa benar-benar bermanfaat.

3. Ingat Budget!

Meskipun Sang Calon Suamimu memberikan keleluasaan untuk memilih barang-barang untu seserahan sendiri, tentu saja kita tetap tidak boleh lupa diri. Alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu menanyakan, berapa budgetnya. Hei, jangan lupa... Kebutuhan yang harus dianpikirkan tidak hanya barang seserahan saja. Kita tidak ingin, kan, saat sudah menjadi suami kita, kita justru harus melongo melihat dia punya banya utang hanya demi menuruti barang-barang seserahan yang kita minta? :)

Yah, pada akhirnya, hal yang paling utama yang harus kita ingat adalah, setelah menikah nanti kita punya hak untuk meminta yang melebihi hanya sekedar barang-barang yang ada di seserahan. Jadi, tidak perlu kalap sampai semua-semua pengen dimasukkan list. Hehe.

Okay... Bagi kalian yang sedang mempersiapkan pernikahan, semoga diberi kelancaran hingga harinya tiba :)

Minggu, 27 Desember 2015

Tak Sebebas Merpati

Hari itu, hati saya sesekali terasa berdesir. Seperti ada kupu-kupu yang berputar-putar di perut. Tapi rasa itu perlahan-lahan mulai pudar saat saya mulai turut turun tangan membantu berbagai kesibukan rumah yang sebagian besar dibantu oleh saudara-saudara. Memasak beberapa menu, menyiapkan ruangan, dll. Mandi dan berdandan sengaja saya letakkan di urutan paling akhir menjelang injury time, karena saya tahu perasaan berdebar akan semakin terasa saat saya sudah berpenampilan sebagaimana mestinya.

Ya, tanggal 14 Oktober 2015 Masehi, atau bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1 Muharram 1427... Akhirnya, dengan mengucap Bismillah kami sampai pada tahapan selanjutnya setelah proses ta'aruf sekedarnya dan proses perjuangan memantapkan hati, yaitu khitbah atau pertunangan. Tentang kenapa memilih tanggal 14 Oktober, keputusan sepenuhnya ditentukan oleh orangtua si Mas. Rombongan keluarga si Mas datang sekitar Pukul 10.00, yang terdiri dari Bapak dan Ibu si Mas, kakak-adik, dan tante-om si Mas.

Setelah prosesi semi-formal -- pihak laki-laki mengutarakan niat kedatangan lalu ditanggapi dengan jawaban dari keluarga saya -- Sang Ibu si Mas menyematkan cincin di jari manis tangan kanan saya. Sayangnya, cincinnya kebesaran. Hehe. Bukan salah cincinnya, tapi salah jari saya yang memang terlalu kecil.


Cincin tersebut sebagai simbol bahwa mulai detik itu, saya tak lagi sebebas merpati. Bahwa saya tak lagi boleh memberi ruang pada kebimbangan, dan harus lebih berhati-hati menjaga hati.

Seorang sahabat bertanya, bagaimana rasanya? Entahlah. Campur aduk. Saya cukup kesulitan untuk menceritakannya dengan baik. Bahagia? Pasti. Siapa wanita yang tidak bahagia ketika tahu ia begitu diinginkan oleh laki-laki yang (Insya Allah) baik untuk menjadi penggenap diennya? :) Meski di sebagiannya yang lain juga ada perasaan cemas dan takut. Cemas apakah proses-proses selanjutnya akan berjalan sesuai keinginan kami. Takut jika ternyata saya tidak bisa menjadi istri yang baik sebagaimana yang diharapkan si Mas nantinya.

Ohya, pada hari tersebut, keluarga kami belum menentukan hari pernikahan, karena alasan satu dan lain hal. Insya Allah tentang penentuan tanggal akan saya ceritakan pada post selanjutnya. Doakan segala sesuatunya berjalan lancar, ya :)