Kamis, 19 Mei 2016

Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan


Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan


Alhamdulillahi Rabbil 'Alamiin...

Entah rasa syukur sebesar apa yang harus saya haturkan pada Allah atas segala karunia ini. Setelah sekian tahun bergelut dengan pertanyaan 'siapa jodohku' dan 'kapan aku menikah', akhirnya hari ini saya bisa melepaskan diri dari teror kegalauan tersebut. Jadi pengen teriak: YES, SAYA SUDAH NIKAH! Ehehehehe.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, bahwa setelah menikah kita akan merasakan ketenangan hati yang tidak akan kita rasakan saat masih sendiri. Dan, iya... Alhamdulillah saya merasakannya :) Meskipun saya tau, tau banget, bahwa pernikahan ini bukanlah akhir dari segala kegalauan. Akan ada kegalauan-kegalauan berikutnya yang mungkin akan saya rasakan. Tapi seenggaknya, saat ada kegalauan yang menerpa saya, ada seseorang yang bersedia menjadi tempat saya berbagi kegalauan tersebut, dan semoga bisa mengimbanginya dengan menyalurkan energi positifnya pada saya. AHSEK! =))

Seminggu pertama pernikahan, apa yang saya rasakan? Bersyukur, pasti. Bahagia, tentunya. Lebih dari itu, seminggu pertama pernikahan ini saya masih ada dalam fase berusaha menyadari bahwa sekarang sudah saatnya saya mempraktekkan ilmu-ilmu pernikahan, terutama kewajiban-kewajiban sebagai istri yang telah saya pelajari (meskipun tentu saja belum sepenuhnya). Sudah bukan lagi waktunya saya hanya 'sebatas' membaca. Apa gunanya ilmu tanpa amal?

Dan menyadari hal tersebuat butuh waktu dan proses. Hari pertama menikah, saat lapar saya asyik makan sendiri, sementara mas suami di kamar. Saya baru sadar baru setelah kakak ipar saya menegur, 'Lho, kok makan sendiri?! Kamu udah punya suami lhoo'. Wkwkwkw =)) Ya, menyadari kewajiban-kewajiban super sederhana seperti itu ternyata juga butuh kesungguhan dan pembiasaan. Apalagi kewajiban-kewajiban yang jauh lebih besar dari itu.

Yang coba saya tanamkan pertama kali di awal pernikahan ini adalah sebuah nasehat yang pernah saya baca dalam sebuah artikel. Bahwa seorang istri itu harus menjaga mata, hidung dan perut suaminya. Menjaga mata agar tak melihat sesuatu yang tak ia suka. Ini tantangan buat saya. Mas suami tipe orang yang suka kerapian. Sedangkan saya? Haha! Maka, saya harus mendidik diri saya sendiri untuk menciptakan keadaan rapi yang disukai oleh mas suami. Menjaga hidung agar ia tak sampai mencium sesuatu yang tak ia sukai dari diri saya. Dan menjaga perut dengan cara memperhatikan waktu makannya. Ya, saya mencoba memulai menjadi istri yang diridhoi suami dari hal yang menurut saya mampu saya usahakan.

Sekali lagi, apakah saya bahagia? Ya, tentu saja sangat bahagia. Meski pun tak serta-merta jadi lupa diri. Beberapa orang berkomentar menanggapi luapan kebahagiaan saya dan si mas. Ah, baru seminggu sih, baru indahnya aja yang kelihatan! Lantas, apakah kami jadi harus pasang kewaspadaan penuh 'menanti' ketidakindahan hadir, dan mengabaikan kebahagiaan kami? Saya mencoba belajar dari mereka. Bahwa komentar simpel pun adakalanya berpotensi mengusik kebahagiaan orang lain :)

Kami bahagia. Tapi di atas kebahagiaan ini, kami tengah membangun pondasi, yang semoga akan membuat bahtera kami tetap tangguh saat tiba saatnya badai dan angin menerpa.

Kepada seluruh sanak-saudara, sahabat baik, dan teman-teman yang telah hadir memberikan doa dan hadiah dalam acara walimah kami pada tanggal 7 Mei 2016 dan 14 Mei 2016, serta yang tak kuasa hadir tapi tetap menyempatkan mengirimkan doa, kami memgucapkan seluas-luasnya rasa terima kasih. Jazakumullahu khairan katsir...

Senin, 02 Mei 2016

Bismillah...


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sesungguhnya segala puji mutlak hanya untuk Allah
Sholawat dan salam semoga tertetapkan untuk penyampai risalah

 Ketika akad terucap, menyatukan jiwa-jiwa pencinta
Tak lagi sekedar mainan, pun kepuraan
Namun sebuah perjanjian, ikatan batin
Tulus menggapai tujuan suci, sakinah, mawaddah, warahmah

Pernikahan telah menuntun kapal itu berlabuh ke dermaga, dari kelelahan mengembara
Pernikahan telah meletakkan hati itu bersandar ke penyangga, dari kerapuhan akan hakikat penciptaan
Pernikahan telah mengokohkan pondasi itu, dengan segala kedayaan rasa
Pernikahan telah menyempurnakan separuh agama, mengejawantahkan asa bahagia
Pernikahan telah menafikan keakuan menjadi kekitaan

Suami telah memilihmu dari bidadari-bidadari dunia, sebagai perilaku adami
Suami telah memilihmu sebagai bidadari di syurga, dengan segala rahmat-Nya

Meski suami tak semulia Muhammad, tak setakwa Ibrahim, tak setabah Ayyub, pun tak segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi imam, mengikuti sunnah, membangun keturunan yang shalih

Istri telah memilihmu dari wajah-wajah pencinta
Istri telah memilihmu sebagai pasangan di syurga, dengan segala rahmat-Nya
Meski istri tak semulia Khadijah, tak setakwa A’isyah, tak setabah Fatimah, pun tak setegar Hajar, apalagi secantik Zulaikhah
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi istri sholihah, penjaga kehormatan keluarga

(diambil dari undangan pernikahan Mas Ahmad Nasirul Ulum & Mbak Firoh)

Selasa, 19 April 2016

Janji Allah Untuk Orang Yang Hendak Menikah

Janji Allah untuk orang yang hendak menikah. Dalam sebuah materi kajian tentang rizki yang pernah saya ikuti di Wisata Hati Semarang, Pak Ustadz menyampaikan sebuah cerita. Ia pernah didatangi oleh seorang pemuda yang mengeluhkan tentang rizkinya. Sang pemuda merasa, gajinya tidak terlalu kecil, tapi entah kenapa selalu amat mepet untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang sepertinya tidak seberapa.

Pak Ustadz hanya menanggapi cerita si pemuda dengan pertanyaan ringan, "Kamu sudah nikah belum?". Dan benar saja, ternyata si pemuda belum menikah. Solusi ang ditawarkan oleh Pak Ustadz pun sederhana. Pulang, dan menikahlah. Hihi.

Lho, apa korelasinya?

Sebagian besar dari kita pasti sudah pernah mendengar bahwa salah satu pembuka pintu rizki adalah dengan menikah. Kata Pak Ustadz di atas, sebelum menikah kita hanya berhak atas rizki diri kita sendiri. Sedangkan setelah menikah, akan ada pintu rizki lain yang terbuka -- rizki anak dan istri. Tidak percaya? Hal ini sudah dijanjikan Allah dengan amat jelas dalam Al-Qur'an. Tapi tetap saja syarat dan ketentuan berlaku, ya! Ikhtiar tetap saja menjadi salah satu kunci utamanya.
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. An Nuur: 32)
Saya juga beberapa kali membaca atau mendengar cerita pengalaman beberapa orang. Banyak yang bilang, setelah menikah itu ada saja rizkinya. Bahkan, dari sejak saat mempersiapkan pernikahanm  pun hal itu sudah bisa dirasakan. Ada saja rizki dari arah yang tidak kita duga-duga.

Nah, kalau yang ini saya baru saja merasakannya sendiri. Saya tergolong orang yang kurang pintar menabung. Sampai saat tiba waktunya saya mempersiapkan pernikahan, saya hampir tidak punya tabungan sama sekali. Sempat bingung dan resah. Nanti bayar souvenir pakai apa, bayar undangan gimana, dll. Tapi, Masya Allah... ada saja rizkinya. Tiba-tiba ada insentif cair, ada bonus blablabla cair. Alhamdulillah.
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Memang, ilmu matematikanya Allah itu tidak akan bisa kita jangkau hanya dengan akal pikiran. Terutama tentang menikah. Wajar memang jika resah memikirkan apakah akan bisa mencukupi kebutuhan hidup setelah berumahtangga atau tidak. Tapi kalau resah itu menjadikan kita terus menerus menunda pernikahan, rasanya ada yang perlu dibenahi dari tauhid kita. Tidakkah itu artinya kita meragukan janji Allah untuk orang yang hendak menikah?
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Seorang mujahid yang memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani)
Jadi, yuk nikah! Insya Allah janji-janji Allah akan tertunai untuk setiap niat baik kita :)

Selasa, 12 April 2016

Hal-Hal Yang Terjadi Pada Tubuh Saya Menjelang Pernikahan

Hari-hari menjelang pernikahan kata banyak orang merupakan hari-hari yang amat rawan stress. Ya wajar sih, karna menjelang pernikahan pasti banyak banget yang harus diurus dan dipikir. Gak cuma memikirkan tentang printilan yang berkaitan sama terselenggaranya acara, tapi juga kepikiran nanti gimana setelah nikah, bisa jadi istri yang baik gak, bisa adaptasi di keluarga baru gak, dll. Iya, kan?!

Saya sebenarnya gak merasa bahwa saya stress sih. Biasa aja, santai. Emm, ya kadang kepikiran sih iya. Kadang mewek sendiri inget bentar lagi harus jadi istri yang nurut sama apa kata suami juga iya. Haha. Tapi, apa tanda bahwa saya sedang stress? Saya sih merasa enggak.

Konon, saat sedang stress, tubuh kita akan memperlihatkan beberapa respon. Dan beberapa ciri yang terjadi pada tubuh, yang disinyalir sebagai tanda-tanda stress ternyata saya rasakan. Hal-hal berikut inilah yang terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan:

Jerawatan
Dari awal masa puber (menstruasi pertama) sampai SMA, bisa dibilang saya jaraaaang banget jerawatan. Malah pernah pengen punya jerawat satu dua seperti teman-teman remaja saya yang lain. Bahkan, suatu hari saat muncul satu jerawat kecil di muka saya, dengan bangga saya memamerkannya. Hihi.

Setelah dewasa (yakin udah dewasa? :D), baru deh nyesel pernah punya keinginan seperti itu. Sekarang sih kalau muncul jerawat rasanya nyesek. Tapi saya masih cenderung jarang berjerawat. paling jerawatan kalau pas menjelang menstruasi, itu pun paling satu. Tapi beda dengan sebulan terakhir ini :( Jerawan saya amit-amit, banyak banget. Hiks. Cuma di dahi sih, dan kalau pakai jilba gak terlalu kelihatan. Tapi ya tetep aja sediiiih.

Apalagi, tiap ketemu orang pasti yang dikomentarin pertama kali selalu jerawat. "Lho, tumben jerawat kamu banyak?", "Kok jerawatmu banyak", dan di akhir kalimat pasti dibubuhi, "Waaahh, pasti gara-gara stress mau nikah nih!". Plis plis, pura-pura gak lihat jerawat saya bisa gak? :(

Selain berkomentar, orang-orang juga memberi saya tips untuk mengatasi jerawat tersebut, atau kadang saya yang minta tips terlebih dahulu. Dan akhirnya saya kebingungan sendiri tips mana yang harus saya coba lebih dulu. Haha. Pake jeruk nipis sudah, timun sudah, obat jerawat ina inu sudah, tapi belum ada yang menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tapi saya sadar diri sih, usaha yang saya lakukan belum maksimal. Saya masih kurang istiqomah menjalani tips-tips yang saya dapatkan. Padahal kan gak bisa ya dicoba sekali langsung CLINK berhasil. Emangnya sulap! -_-

Menstruasi Yang Kacau
Selama ini, Alhamdulillah saya dianugerahi Allah siklus menstruasi yang teratur. Saya hampir selalu bisa menghitung kapan saya akan kedatangan tamu dengan tepat. Yah, meleset sehari-dua hari sih kadang. Pokoknya masa suci saya seringnya adalah 21 hari.

Nahh, bulan ini, kalau menurut perhitungan saya, saya bakal dapet mens tanggal 16. Eeeeh, lha kok kemarin tanggal 10 si tamu tiba-tiba sudah muncul, dan bikin saya kaget. Maju 6 hari!
 
Dan gak cuma itu yang bikin saya merasa aneh pada tubuh saya sendiri. Biasanya saya menstruasi selalu lancar. Hari pertama sampai ke-tiga bahkan seringnya banjir. Tapi kali ini enggak :( Yang bikin saya sempat resah banget adalah, saya kedatangan tamu sore, cuma berupa flek coklat. Magrib keluar darah dikit. Tapi setelah itu, hingga pagi gak ada darah yang keluar lagi. Saya kan jadi panik, ada apaaa ini?! Saya sempet browsing -- lupa pakai kata kunci apa -- dan kalian tau hasilnya apa? itu tanda-tanda kehamilan!! Weehh, kalau hamil itu bisa lewat bluetooth sih mungkin saya bakal khawatir banget jangan-jangan saya beneran hamil :D

Lalu saya coba tanya lewat chatt ke seorang teman yang dokter, bidan dan perawat. Haha, biar mantep. Dan ketiganya bilang, gak papa, santai aja, itu mungkin efek kelelahan dan stress menjelang pernikahan! Alhamdulillah.

Berat Badan Bertambah
Saya gak tau sih ini salah satu tanda stress atau bukan. Yang jelas ini terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan. Berat badan saya yang biasanya alot banget kalau disuruh nambah, kali ini malah nambah beberapa kilogram. Parahnya lagi, kebaya resepsi yang dipesankan kakak perempuan saya dan baru jadi minggu lalu ternyata sesak saat saya coba! Huhu. Padahal dulu pas ngukur pertama kali gak ngepas banget gitu :(

Tapi Alhamdulillah masih bisa dipaksa masuk sih. Hehe.

Memang hari-hari menuju pernikahan adalah saat yang penuh dengan warna-warni, ya. Gak cuma yang bisa bikin senyum-senyum, tapi banyak juga yang bikin hati mendung. Kalau gak pinter-pinter me-manage emosi ya gini akhirnya, stress! Hal-hal yang terjadi pada tubuh saya menjelang pernikahan ini, membuat saya sadar bahwa saya harus semakin banyak istrighfar biar lebih tenang :)

Senin, 11 April 2016

#NasehatPernikahan1: Kalian Berdua Manusia


Minggu lalu, saya diminta menghadap pimpinan di kantor, terkait surat ijin cuti menikah atas nama saya.

Seperti biasa, beliau cerita beberapa hal yang temanya berhubungan dengan pernikahan. Lalu beliau juga meminta saya cerita tentang bagaimana mulanya hingga keputusan menikah ini kami ambil.

Di penghujung percakapan kami, beliau menyelipkan sebuah nasehat.

"Mbak Rosa manusia, pasangannya Mbak Rpsa juga manusia. Dan manusia pasti punya masa lalu. Jangan pernah menggugat ada siapa saja di masa lalu pasanganmu. Satu hal saja yang harus selalu dipegang dan diyakini: kini, dia milikmu. Sudah itu saja"

Sepemahaman saya, nasehat beliau adalah tentang mengendalikan rasa cemburu, terutama cemburu pada masa lalu.

Ah, bagaimana beliau bisa tau kalau saya pencemburu? :D

Jumat, 08 April 2016

5 Pertimbangan Saat Memilih Kartu Undangan Pernikahan


Satu lagi printilan nikah yang gak mungkin luput dari pikiran, bahkan dari awal sejak baru memutuskan akan menikah. Iya apa iya?! Hehe. Iya sih, undangan ini memang bisa dibilang elemen penting dalam terselenggaranya acara pesta pernikahan. Yaiya dong, kalau gak pake undangan berarti pesta pernikahan terus gimana ada orang yang mau datang? Kecuali kalo memang nikahnya mau sederhana aja, gak ngundang siapa-siapa selain keluarga. Itu beda soal, ya, undangan bisa di-skip dari checklist.

Seiring kemajuan teknologi yang luar biasa derasnya, harusnya undangan pernikahan sudah gak selalu harus dalam bentuk kartu, ya. Beberapa kali saya melihat beberapa pasangan memilih undangan berbentuk web untuk acara pesta pernikahan mereka. Kalau mau lebih irit, Facebook kan juga menyediakan fasilitas undangan event. Hehe. Mau lebih simple lagi? Pakai saja broadcast BBM. Haha.

Meskipun begitu, nyatanya, menurut pengamatan saya, undangan pernikahan dalam bentuk kartu undangan fisik tetap tak kehilangan kepopulerannya. Diakui atau tidak, kartu undangan tetap paling bersahabat untuk semua kalangan, terutama dari kalangan tua. Iya, kan?

Seperti halnya pemilihan souvenir yang pasti bikin kepala pening, memilih kartu undangan pernikahan pun dijamin gak bakal kalah bikin pening. Selain sekedar bentuknya yang bagus, ada hal-hal lain yang gak kalah penting yang harus diperhatikan. Apa saja itu? Nah, berikut ini adalah hal-hal yang saya jadikan pertimbangan saat memilih kartu undangan untuk acara pernikahan saya nanti, Insya Allah.

1. Menghindari penggunaan tulisan dengan huruf Hijaiyah, terutama yang terkandung dalam Al-Qur'an

Pernah lihat kartu undangan yang ada kalimat Bismillah-nya, dan ditulis dengan huruf Hijaiyah? Saya pernah, dan miris. Kira-kira kartu undangan pernikahan tersebut akan berakhir di mana, sih? Setahu saya, seringnya sih kartu undangan harus berakhir di tempat sampah. Iya sih, ada beberapa orangyang menyimpan atau mengoleksi kartu-kartu undangan yang pernah diterimanya. Tapi saya sih gak yakin jumlahnya lebih banyak dari orang yang membuang. Nah, coba kita pikir, misal di undangan itu ada kalimat Bismillah-nya, lalu setelah itu dibuang di tempat sampah, dosa gak sih? Saya belum tau landasan hukumnya secara jelas. Tapi kalau saya lebih milih menghindarinya.

2. Tentang pemilihan quote

Ini sepertinya sepele, ya. Tapi saya memilih untuk memperhatikannya. Pernah lihat kartu undangan yang ada qoute yang kata-kata 'terserak'-nya itu? Ada yang bilang, doa itu masih abu-abu sumbernya, alias shahih atau enggaknya. Saya gak berani pakai lah, kan sama aja mendakwahkan sesuatu yang belum jelas, kan? Amannya, saya memilih menyantumkan terjemah ayat Al-Qur'an aja. Berhubung Terjemah Surah Ar Rum sudah sangat sering dipakai, akhirnya saya pilih terjemah Qur'an Surah An Nur: 32 aja :)
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (TQS. An Nur: 32)
3. Design

Memperhatikan design undangan di sini maksudnya bukan memperhatikan yang gimana-gimana banget sih. di point ini saya cuma memperhatikan dua hal, di antaranya, designnya simpel/sederhana, warnanya soft (tidak mencolok). Sebenarnya pengen kartu undangan warna-warna shabby chic plus ada gambar-gamabr kartunnya gitu. Tapi setelah ditimbang-timbang lagi, kayaknya kurang pas kalau nanti kasih undangan dengan model seperti itu ke atasan di kantor. Hihi. Akhirnya saya memilih model  yang terlihat cukup dewasa.

4. Harga!

Haha, kenapa pakai tanda seru segala? Karna ini sebenarnya yang paling penting. Hehe. Ini tergsntung budget masing-masing orang sih ya. Mahal buat saya tentu saja belum tentu mahal untuk orang lain. Status sosial juga sepertinya menentukan. Kan gak mungkin pesta pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina kartu undangannya tiga ribu rupiah. Haha.

Kalau orang biasa seperti saya ini, ya gak perlu lah kayaknya mahal-mahal. Sekali lagi saya ingatkan, kartu undangan itu sebagian besar akan berakhir di tempat sampah. Sayang banget kalau budget yang kita alokasikan di pos ini lumayan besar. Lebih baik dibuat tambah budget konsumsi, lebih bermanfaat dan bisa dinikmati :)

5. Jumlah Eksemplar

Nah, lagi-lagi untuk menghindari kemubadziran, saya berusaha menghitung dengan cermat jumlah teman dan kerabat yang akan saya undang ke acara pesta pernikahan saya nanti. Tapi, tentu saja sebaiknya jangan pesan terlalu pas, dilebihkan sedikit. Hal itu saya lakukan untuk mengantisipasi siapa tau masih ada teman yang kelewat saya list, dan nanti tiba-tiba ingat.

Sekali lagi, point-point di atas tentu sangat subjektif sifatnya. Saya hanya membagi apa saja pertimbangan-pertimbangan yang saya pakai.

Kalau kamu, apa saja pertimbangan yang kira-kira akan kamu pakai (bagi yang belum menikah) dan yang telah kamu pakai (bagi yang sudah menikah) saat mentukan kartu undangan untuk pesta pernikahanmu? Share, yuk :)
 


Minggu, 20 Maret 2016

Mau Memberi Souvenir Apa Saat Resepsi Pernikahan? 5 Hal Ini Bisa Membantu Menentukan Pilihan


Souvenir merupakan salah satu item yang gak boleh dilupakan saat menyelenggarakan sebuah hajatan, salah satunya pernikahan. Semakin meningkatnya kreativitas masyarakat, maka semakin banyak pula pilihan souvenir pernikahan. Pilihan yang diberikan oleh para vendor semakin beragam.

Semakin beragamnya pilihan, tentu membawa dampak plus dan minus tersendiri. Plusnya, kita jadi punya lebih banyak pilihan yang bisa kita sesuaikan dengan keinginan kita. Minusnya, tentu saja lumayan bikin galau saat menentukan pilihan. Iya, kan? Hehe.

Meskipun kelihatan sepele, memilih souvenir pernikahan bisa juga jadi sumber konflik, lho, kalau gak disikapi secara bijak. Kita pengennya apa, calon suami punya ide apa, belum lagi pihak orang tua juga punya keinginan yang berbeda. Nah, agar bisa menentukan pilihan tentang mau memberi souvenir apa di acara resepsi pernikahanmu untuk para tamu, alangkah baiknya kita tau point-point yang bisa dijadikan pertimbangan.

Lalu, pertimbangan apa saja sih yang bisa kita pakai saat hendak memilih souvenir pernikahan? Berikut beberapa di antaranya:

1. Asas Manfaat

Souvenir pernikahan, meskipun hanya salah satu bagian kecil dalam acara resepsi pernikahan, tetap saja membutuhkan alokasi dana, kan? Alangkah sayangnya jika kita mengalokasikan dana untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak memberikan manfaat apa-apa pada para tamu yang menerima souvenir dari kita.

Agar souvenir pernikahan tidak mubadzir, alangkah baiknya jika kita memilih sesuatu yang sekiranya akan bermanfaat bagi tamu yang menerima. Jadi, sepulangnya dari acara resepsi pernikahan, souvenir tersebut gak cuma akan tergeletak tanpa manfaat. Apa saja sih contoh souvenir yang bermanfaat? Banyak. Ada pisau, tempat tissue, dll.

2. Cari Sebanyak Mungkin Referensi

Sebelum memutuskan pilihan akan memberikan souvenir apa di resepsi pernikahan kita, ada baiknya sebelumnya kita mencari sebanyak mungkin referensi. Datangi toko-toko atau vendor penyedia souvenir pernikahan, ataupun online shop yang melayani pemesanan souvenir pernikahana yang saat ini menjamur jumlahnya.

Cari info sebanyak mungkin tentang barang apa saja yang mereka tawarkan sebagai souvenir pernikahan, dan jangan lupa tanya harganya. Dengan memiliki banyak referensi, kita akan memiliki lebih banyak pilihan dan bisa mempertimbangkan sesuai keinginan kita.

3. Unik dan Berkesan

Semua orang pasti menginginkan hari pernikahannya menjadi berkesan. Berkesan bagi kita sendiri, maupun orang-orang yang turut menyaksikan. Maka, memilih souvenir yang unik dan berkesan untuk mencapainya.

Pilihlah souvenir yang sekiranya belum banyak dipilih oleh orang lain, minimal teman-teman selingkunganmu. Jika teman-temanmu sebelumnya sudah ada yang memberikan gelas sebagai souvenir, maka sebaiknya jangan lagi memilih gelas sebagai souvenir pernikahanmu.

4. Sesuaikan dengan Tema Pernikahanmu

Jika kita mengusung tema tertentu dalam perhelatan pernikahan kita, alangkah baiknya menyesuaikan souvenir pernikahan kita dengan tema tersebut. Jika pernikahan kita bertema Islamic Wedding misalnya, alangkah kurang pas jika kita memilih magnet hiasan dengan bentuk pengantin Jawa sebagai souvenir. Hehe. Tentu saja akan lebih tepat jika kita memilih tasbih atau buku doa dzikir pagi dan petang sebagai souvenir.

5. Sesuaikan dengan Budget

Ini rasanya yang paling krusial. Sebesar apapun keinginan kita untuk memberikan souvenir yang terbaik dalam acara resepsi pernikahan kita, kita tap harus bijak. Kita tentu harus sadar bahwa kebutuhan dalam penyelenggaraan acara ini sangat banyak, dan semuanya membutuhkan budget yang tidak sedikit.

Maka, jangan lupa untuk menyesuaikan pilihan souvenir pernikahan dengan budget yang sudah kita siapkan. Jangan sampai budget kita tiba-tiba membengkak hanya karna lalai mengkalkulasi dana untuk pemilihan souvenir ini.

Yup, lima point di atas rasanya sudah sangat cukup untuk kita jadikan dasar dalam menentukan pilihan souvenir pernikahan kita. Setelah menentukan pilihan, saatnya kita menghela nafas sembari berdoa, semoga para tamu menerima souvenir pernikahan kita dengan sukacita, meskipun sederhana.

Minggu, 13 Maret 2016

Mempersiapkan Baju Untuk Akad Nikah


Akad nikah adalah prosesi yang paling utama dan paling inti dari serangkaian prosesi pernikahan yang biasa diselenggarakan. Maka, memikirkan detail akad nikah rasanya menjadi keharusan. Setelah memikirkan hal-hal yang pokok seperti wali, saksi, dan lain-lainnya, mempersiapkan baju untuk akad nikah pun tidak boleh luput dari perhatian. Pada saat akad nikah, pastilah banyak orang yang ingin menyaksikannya. Apa iya sang pengantin yang merupakan tokoh sentral dari acara tersebut, tak ingin berpenampilan yang baik?

Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih saat mempersiaokan baju untuk akad nikah. Jika ingin simpel, kita bisa tinggal datang ke vendor persewaan baju pengantin, dan memilih baju mana yang cocok untuk disewa dan dipakai saat akad nikah. Tapi, jika mengingat betapa momen akad nikah merupakan momen sakral dan amat bersejarah, tidak heran pula banyak orang yang memilih untuk memesan baju khusus untuk akad nikah, dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Nah, saya memilih opsi yang kedua :)

Ya, akhirnya saya memutuskan untuk mempersiapkan baju untuk akad nikah secara khusus. Bukan, khusus di sini artinya bukan berarti mewah. Sederhana saja, asalkan pantas dan sesuai dengan keinginan. Keputusan tersebut saya ambil setelah berdiskusi dengan si Mas. Ia setuju saya membuat baju untuk akad nikah sendiri -- tidak menyewa -- agar nilai historisnya akan tetap terjaga. Si Mas juga menginginkan bajunya dibuat sederhana, agar bisa tetap dipakai di lain momen, misalnya untuk datang ke kondangan.

Luar biasanya, alhamdulillah proses mempersiapkan baju untuk akad nikah ini benar-benar istimewa (menurut saya). Mengapa? Yang pertama, bapak-ibu si Mas ternyata dengan sukacita menawarkan diri untuk membelikan bahan kainnya. Padahal jujur saja tadinya sempat agak kepikiran tentang budget untuk membeli kain, yang pastilah lumayan besar. Rejeki dari arah yang tidak diduga-duga :)

Yang kedua, baju akad nikah saya dijahitkan langsung oleh dua wanita yang amat saya cintai, yaitu ibu dan kakak perempuan saya, yang memang pandai menjahit. Saya sudah amat sering dijahitkan baju oleh mereka. Tapi tentu saja dibuatkan baji untuk akad nikah rasanya jauh lebih istimewa :)

Yup, kesimpulannya, baju akad nikah saya nanti -- Insya Allah -- merupakan salah satu simbol kasih sayang dari kolaborasi orang-orang yang mencintai kami dan si Mas :')

Untuk model, saya mencari inspirasi dengan blogwalking ke beberapa blog. Salah satu yang menginspirasi adalah gaun akad nikah Puput Utami, namun saya ingin membuat yang jauh lebih simple dari itu. Awalnya saya ingin baju akad nilah saya berwarna putih tulang, dengan sedikit kombinasi payet berwarna kuning emas. Tapi karna satu dan lain hal, pemberian payet sedang saya pertimbangkan kembali jadi atau tidaknya. Hehe.

Penasaran sama baju akad nikah saya? Hehe

Alhamdulillah saat ini sudah setengah jadi. Ini dia tampilannya:


Doakan semuanya lancar ya, teman :)

Senin, 07 Maret 2016

Apa Ini Syndrom Pra-Nikah?

Beberapa hari ini perasaan saya luar biasa campur aduk. Mood saya amat labil. Lagi-lagi, kata teman saya, saya sedang mengalami syndrom pra-nikah. Aneh sekali, karna gak biasanya perasaan saya begini banget, kecuali jika sedang dalam masa PMS.

Saya gak tau saya harus gimana. Tapi saya ingat, katanya, menulis itu bisa menjadi sarana self-healing yang ampuh. Maka saya memutuskan menuliskannya di sini.

Saya seperti dihantu pikiran tentang 'berganti status' yang Insya Allah akan segera saya alami. Berganti status dari anak bungsu nan manjanya Bapak-Ibuk, menjadi seorang istri. Ada semacam perasaan gak rela.. mengingat nanti setelah jadi istri rasanya agak gak pantes lagi manja-manjaan sama Ibuk, gelendotan sama Ibuk, minta disuapin Ibuk, dipijitin Ibuk kalo lagi capek, atau dikelonin Ibuk kalo lagi gak enak badan.

Berganti status dari adik kesayangannya Mbak dan Mas, menjadi seorang istri. Saya memang bisa dibilang sangat dekat dengan dua kakak saya. Kakak perempuan saya -- meskipun kalo galaknya keluar serem banget -- seperti belahan jiwa saya. Tiap saya pulang, hampir selalu pasti kami pergi berdua -- meskipun sekedar menjemput anak pertamanya sekolah. Tiap saya pulang, ia selalu menumpahkan segala kecamuk pikiran dan perasaannya. Ya, saya bisa dibilang satu-satunya tempat curhat Mbak Saya. Beda sama saya yang punya beberapa alternatif tempat curhat. Bahkan Mas Ipar saya (suami kakak pertama saya) sangat mengerti akan hal ini. Ia yang dulu awal tau kedekatan kami sempet agak cemburu dan bete, kini bahkan seperti sengaja memberi kami kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua. Dengan kakak kedua yang biasa saya panggil Mas juga saya deket banget. Dia dari dulu manjain saya banget. Dulu, jaman masih tinggal serumah, ke mana-mana kami berdua. Waktu dia nikah, saya nangis berhari-hari seperti orang patah hati. Sering kirimin saya pulsa dan kasih uang jajan meskipun saya udah kerja. Buka, bukan soal nominalnya -- karna toh saya sudah punya gaji kan?! Tapi soal... apa ya... seneng aja pokoknya. Merasa masih 'dimanjakan' dengan pemberian-pemberian semacam itu. Dan siang ini saya tiba-tiba jadi amat sensi gara-gara Mas saya habis telfon dan bilang gak mau kasih saya uang makan lagi, karna bentar lagi saya nikah. Jleb! Saya ngrasa kakak saya merasa 'sudah harus' melepaskan saya sebagai adik tersayangnya. Dan asli, saya jadi mellow banget :(

Jujur, saat perasaan saya gak menentu gini, pihak yang paling kasian adalah si Mas. Karena dia seriiiiing banget jadi 'korban' bad mood-nya saya. Saya tau dia sama sekali gak salah. Tapi gak tau kenapa kadang suka sebeeellll banget sama dia. Ya mungkin karna saya gak tau harus melimpahkan rasa jengkel saya ini pada siapa. Duh, ini jadi keliatan banget ya kalau manajemen emosi saya masih buruk banget :( Kadang saya mikir pengen ga usah bales chatt apapun si Mas dulu, atau nyuruh dia gak hubungin saya dulu -- karna ya itu, kasian dia kalo jadi 'korban' terus padahal dia gak salah apa-apa. Tapi ya gimana, ya... saya butuh dia sebagai pelampiasan kekesalan saya :D *bercanda*

Emm, satu nasehat sahabat saya: Banyakin istighfar!!! Iya, harusnya saya praktekkin itu :(

Yaudah saya cuma bisa berdoa, semoga Allah meluaskan kesabaran si Mas karna terus-terusan saya kambing-hitamkan di tengah situasi labil hati saya :')

Rabu, 02 Maret 2016

Mau Gak Diajak Hidup Susah?


Beberapa waktu lalu sempat ramai soal pembahasan 'mau gak wanita diajak hidup susah sama pasangannya'. Hihi, telat banget sih ya kalo saya baru mau bahas sekarang. Tapi tak apa, malah jadi antimainstream, kan? #ngeles

Di facebook, pembahasan soal ini sempat terbelah menjadi dua kubu *memang selalu gitu sih, ya!*. Kubu pertama mencemooh laki-laki yang menjadikan 'mau diajak susah' sebagai salah satu kriteria istri. Kubu ini menganggap laki-laki semacam itu tidak bertanggungjawab. Wanita dibesarkan oleh ayahnya, selalu berusaha dibahagiakan, dipenuhi kebutuhannya, disayang-sayang, eh lha kok dijadikan istri 'cuma' mau diajak susah. Plis deh! *itu kata mereka lho*

Lalu kubu kedua, mengatakan.. Laki-laki menjadikan itu sebagai 'jaga-jaga saja'. Kan hari esok gak ada yang tau. Laki-laki bisa jadi berusaha sangat kuat agar bisa menjamin segala kebutuhan keluarganya, tapi ternyata ada saja yang membuat mereka kekurangan a.k.a hidup susah. Nah, pada kondisi tak terduga seperti ini, mereka berharap sang istri siap dan tak lantas pergi meninggalkannya (baca: mau diajak hidup susah).

Saya teringat pada sepotong percakapan antara Cakra dan ibunya dalam novel Sabtu Bersama Bapak. Saat itu -- dalam rangka meyakinkan Cakra agar segera menikah -- si Ibu berkata, 'istri yang baik gak akan keberatan diajak hidup susah'. Lalu Cakra menjawab dengan santun, 'tapi laki-laki yang baik gak akan tega mengajak istrinya hidup susah, Bu'.

Nah! Ketemu, kan, jalan tengahnya?! Istri yang baik (meskipun kata 'baik' luaaasss sekali pemaknaannya) tentu gak akan keberatan setia pada suaminya dalam kondisi apapun, termasuk dalam kondisi susah. Sedangkan suami yang baik tentu akan berusaha sekuat yang dia bisa untuk memastikan keluarganya selalu falam kecukupan. Gitu, kan, seharusnya?

Ya menurut saya sangat wajar sih kalau laki-laki mensyaratkan 'mau diajak susah' sebagai salah satu kriteria istri. Pernah dengar kalimat 'wanita diuji saat suaminya tak punya apa-apa'? Nah, mungkin itu sebabnya. Sedangkan kenapa wanita sering mensyaratkan 'SETIA' sebagai kriteria, karna konon 'laki-laki diuji saat ia punya segalanya'.

Lagian kenapa kita harus gusar menganggap laki-laki itu gak adil kalo menggunakan 'mau gak diajak susah?' sebagai syarat. Kita sebenernya juga sering gak adil, kan? Kita sering mensyaratkan tentang kemapanan, kan? Nah, Insya Allah soal kemapanan akan saya curhatkan di postingan berbeda. Hihi