Selasa, 23 Agustus 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Kedua [9w6d]

Hai, Nak... Ibu nulis tentang kamu di sini :)
Ternyata gini ya rasanya hamil, apalagi hamil pertama kali. Masya Allah, luar biasa sekali. Kalau diibaratkan, seperti orang jatuh cinta menurut saya. Menanti-nanti waktu untuk bisa bertemu dengan yang tercinta, tapi ketika waktunya hampir tiba deg-degan setengah mati. Iya, hamil pertama kali juga seperti itu menurut saya rasanya. Saya selalu menanti-nanti jadwal periksa untuk bisa bertemu dengan si janin melalui layar USG, namun menjelang waktunya tiba saya merasa grogi. Hihi.

Baca: Catatan Kehamilan: Periksa Pertama [5w4d]

Jadwal periksa saya yang kedua seharusnya jatuh pada tanggal 11 Agustus 2016. Tapi berhubung tanggal 11 adalah hari kamis, dan hari kamis itu saya dan mas suami ingin sekali bisa datang ke Kajian Buka Puasa di Wisata Hati, akhirnya kami sepakat memajukan sehari jadwal periksa saya, yaitu pada tanggal 10 Agustus 2016. Pagi-pagi sekali saya telepon ke RSB Kusuma dengan niatan mendaftar, supaya mendapat nomor antrian yang agak awal. Tapi saya harus kecewa, karna ternyata dr. Retno -- yang dulu memeriksa saya pertama kali -- sedang cuti, dan cutinya selama satu bulan. Tentu gak mungkin sekali saya menunda jadwal periksa saya hingga satu bulan. Maka, setelah berbagai pertimbangan dan kegalauan, saya memutuskan untuk periksa di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang bersama dr. Julian.

Sesampainya di kantor, saya telepon ke RSISA, dan Alhamdulillah saya mendapat nomor urut pertama, yang jatuh sekitar Pukul 10.00. Karna saya bekerja di Yayasan yang merupakan induk dr RSISA, dan letaknya gedungnya berdekatan, jadi gak masalah buat saya ijin sebentar ditengah jam kerja. Cuma, dengan amat terpaksa saya harus rela gak ditemani mas suami, karna kami sekantor. Gak enak kalo ijin berdua barengan, nanti dikira kurang profesional :)

Setelah daftar ulang, dan menunggu beberapa saat, saya dipanggil ke ruang pemeriksaan. Anehnya, saya gak ditensi dan gak disuruh nimbang berat badan, langsung disuruh menghadap dokternya, ditanya-tanya pertanyaan standar orang hamil yang baru pertama periksa (di situ) -- semacam tanggal HPHT, dll -- lalu disuruh naik ke bed untuk USG. Saya milih manut saja, gak banyak protes, tapi di hati ngedumel. Meski saya kerja di Yayasan induk dari RSISA, saya harus objektif memaparkan kekurangannya jika memang ada.

Saat di USG, lagi-lagi saya speechless. Janinnya sudah mulai terlihat jelas, beda saat periksa pertama dulu. Saya kehilangan kata-kata. Bahkan tanya berapa ukurannya, bagaimana detak jantungnya, dll saja saya gak bisa. Kehilangan kata-kata. Duh Nak, kamu benar-benar bikin ibu grogi :') Dokternya juga gak inisiatif jelasin -_-, beliau cuma bilang ukurannya sesuai dengan usianya. Alhamdulillah. Tumbuhlah dengan sehat dan sempurna di perut Ibu hingga saatnya nanti kita bertemu ya, Nak :') Ohya, dr. Julian juga bilang janinnya gerak-gerak terus, jadi saat hasil USG-nya di print hasilnya gak bisa maksimal. Lho, janin belum empat bulan tuh gerak-gerak, ya? Kirain gerak-geraknya setelah masuk usia empat bulan.

Satu lagi yang saya gak suka, di ruangan periksa itu ada dua dokter KoAs yang juga mengikuti saat saya di USG, dan salah satunya adalah laki-laki. Aaarrrrgghh. Bodohnya saya, kenapa gak minta beliaunya keluar dulu. Saya juga agak dimarahi mas suami soal ini. Ohya, kalau dr. Juliannya, sebenernya enak sih diajak ngobrol. Ramah. Tapi gatau kenapa kok kurang sreg. Selain dikasih resep, saya juga disuruh test darah ke laboratorium, dan hasilnya disuruh bawa di pemeriksaan bulan berikutnya. Tapi, berhubung bulan berikutnya saya gak berniat periksa di situ lagi, jadi test darahnya saya urungkan dulu. Hehe. Resep juga saya tebus di luar karna antriannya panjaaaaang.
Ohya, selain periksa ke dokter, saya juga periksa ke Bidan dekat rumah orangtua saya di Jepara minggu lalu. Hehe. Kenapa gitu? Karena saya berniat Insya Allah ingin melahirkan di rumah bersalin milik bidan tersebut-- Bidan Indah namanya. Jadi saya ingin Bu Bidan Indah punya catatan rekam medik saya selama hamil. Bagaimana kesannya periksa di bidan? Menyenangkan. Hihi. Kalau periksa di dokter 'keistimewaannya' cuma di USG-nya, kalau di bidan kita diperiksa macem-macem. Lilang lengan, tinggi badan, cek darah, dll. Dinasehatin macem-macem juga. Terus Bu Bidan juga periksa perut saya dengan rabaan, dan beliau bilang janinnya sudah 'kelihatan'. Waktu itu usianya sudah masuk 10 minggu :) Dan yang paling istimewa sih: muraaaah. Hehe. Tapi vitaminnya gak saya minum, karna saya milih minum yang dari dokter aja.

Okesip, segitu dulu cerita tentang periksa kedua kehamilan saya, yang telat banget. Hehe. Semoga bermanfaat :)

Selasa, 02 Agustus 2016

Catatan Kehamilan: Ngidam, Mitos Atau Fakta?


Pertanyaan yang hampir pasti ditanyakan ketika bertemu dengan seseorang yang tahu bahwa saya sedang hamil muda adalah, "Kamu ngidam apa?". Dan saya, pasti akan bingung menjawabnya. Bingung karna saya gak merasakan menginginkan sesuatu dengan teramat sangat -- yang konon merupakan ciri dari orang ngidam. Bingung kenapa hampir semua orang bertanya begitu, dan bingung apakah saya aneh karna hamil dan tidak ngidam?! Iya sih, saya menginginkan sesuatu. Tapi taraf pengennya sama saja seperti dulu-dulu sebelum saya hamil, bahkan sebelum saya menikah. Tiba-tiba kepikiran suatu makanan, pengen, berusaha mewujudkan, kalo dapat Alhamdulillah, enggak ya gak papa. Gak pernah yang tiba-tiba pengen sesuatu tengah malam, terus maksa suami mencarikan saat itu pula. Saya berkali-kali memang pengen mangga muda sih. Tapi bukan karna ngidam, melainkan memang sangat suka dengan mangga muda sejak masih gadis. Kebetulan saja musim mangga mudanya bertepatan dengan saya hamil muda, jadi banyak yang menghubung-hubungkan :D

Jadi, apakah saya aneh karna gak mengalami ngidam seperti wanita hamil kebanyakan? Ngidam itu fakta atau mitos sih sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat berputar-putar dalam otak saya.

Kemudian saya googling. Dari beberapa artikel yang saya baca, hampir semua mengatakan bahwa sejauh ini belum ada penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa ngidam merupakan sebuah fakta yang dialami oleh para ibu hamil. Ngidam itu biasanya gak lebih dari sebuah sugesti saja. Apalagi jika ketika hamil muda seseorang mengalami mual-mual hebat dan gak doyan makan, biasanya orang tersebut akan tersugesti untuk membayangkan makanan-makanan tertentu yang menurut bayangannya terasa enak -- meskipun saat sudah tersedia ternyata gak senikmat yang dibayangkan. Belum lagi tentang mitos jika ngidam tidak dituruti, maka si bayi kelak akan 'ngiler' alias terus-teruan mengeluarkan ludah. Sugesti dan mitos inilah yang akhirnya saling bersinergi membuat ngidam menjadi sesuatu yang seolah-olah penting sekali dan harus dituruti. Ini analisis pribadi saya saja sih. Hehe. Jika ada yang punya pendapat lain, dengan senang hati saya tunggu share-nya di kolom komentar, yah :)

Meski saya mengaku gak ngidam, tapi saya sering kok menginginkan sesuatu. Tapi apakah selalu saya tururti atau minta orang lain -- terutama suami -- untuk menuruti? Enggak! Saya berusaha pilih-pilih, mana keinginan yang boleh saya turuti, mana yang harus saya tahan. Sejak dulu, saya bertekad jika saatnya Allah mengijinkan saya hamil, saya gak pengen merepotkan orang lain -- terutama suami -- dengan keinginan-keinginan yang sekiranya gak memungkinkan untuk dituruti. Apalagi sampai menggunakan embel-embel "ini dedek bayi yang pengen", BIG NO buat saya. Saya gak pengen mengkambinghitamkan janin yang belum tau apa-apa demi kepentingan nafsu saya pribadi.

Jadi, saat menginginkan sesuatu, saya akan melihat beberapa faktor apakah keinginan tersebut boleh saya turuti atau gak perlu. Pertama, apakah sesuatu yang saya inginkan merupakan sesuatu yang mudah didapatkan? Kalau sekiranya susah, Insya Allah saya gak keberatan jika apa yang saya inginkan gak kesampaian. Kedua, meskipun keinginan saya mudah untuk dituruti, saya masih akan melihat satu hal lagi, yaitu kemanfaatannya. Saya harus sadar, dalam tubuh saya sedang ada sesosok jiwa lain yang tengah tumbuh, dan  ia masih lemah. Saya gak mau egois, memasukkan hal-hal yang sekiranya akan mengganggu dia atau gak bermanfaat buat dia. Jadi, kalo saya menginginkan -- misalnya -- buah-buahan, saya dan suami gak akan berpikir panjang untuk segera menuruti keinginan saya, karna kami tau Insya Allah buah bermanfaat buat si janin. Tapi jika yang saya inginkan adalah mie instan -- misalnya lagi -- saya akan sekuat tenaga melawan keinginan saya sendiri.

Apakah saya gak takut anak saya kelak akan 'ngiler'? Enggak, saya gak takut, karna saya gak percaya. Saya percaya bahwa Tuhan saya sesuai dengan apa yang saya persangkakan, jadi saya memilih berprasangka baik saja pada ketentuan-Nya. Lagipula, bukankah konon pendidikan anak itu dimulai sejak ia masih dalam kandungan? Jika sejak ia dalam kandungan ibunya gak belajar mengendalikan keinginan, takutnya ia juga belajar dan menyerap tentang hal itu :)

Ada satu hal lagi yang menguatkan tekad saya untuk gak selalu menuruti keinginan saat hamil dengan dalih ngidam. Yaitu sebuah tausiyah dari seorang guru saat bulan Ramadhan lalu, di sebuah majelis tarawih bersama. Saat itu saya belum tau bahwa saya hamil. Beliau menasehatkan agar kita banyak berdoa agar dikaruniai anak yang tidak merepotkan, salah satunya dengan ngidam macam-macam dan tidak masuk akal. "Tidak ada satu riwayat pun yang mengatakan bahwa ibunda para Nabi, Rasul dan para sahabat mengalami ngidam saat hamil. Maka, sebagai umatnya, seharusnya kita mewarisi hal itu. Jika kita ingin anak kita hebat sepert para Nabi dan sahabat, janganlah menjadikan mereka alasan untuk hawa nafsu kita", ucap beliau.

Sekian sharing dari Mom Wannabe sok tau. Perbedaan pendapat itu wajar, ya, teman... yuk, share pendapat kalian :)

Selasa, 19 Juli 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Pertama [5w4d]

Setelah melakukan uji dengan testpack pada tanggal 4 Juli 2016 dan ternyata hasilnya positif, saya gak langsung periksa ke dokter. Selain karena saat itu sudah mepet sekali dengan lebaran dan hampir semua dokter (Muslim) pasti sudah cuti, ada yang bilang kalau telatnya baru sebentar bisa saja waktu di USG belum terlihat janinnya. Saya gak tau sih itu benar atau tidak.

Beberapa hari setelah lebaran, saya sudah makin gak sabar untuk memeriksakan diri. Sempat bingung juga mau periksa di mana, dan dengan dokter siapa. Yang jelas, Mas Suami memberi syarat dokter kandungannya harus wanita, titik. Saya sempat meminta rekomendasi pada beberapa teman yang sudah memiliki anak tentang dokter kandungan mereka dulu. Dua diantaranya memberi rekomendasi untuk periksa pada dr.Prima saja. Sayangnya, dr.Prima bertugas di dua Rumah Sakit yang dua-duanya agak jauh jaraknya dari tempat tinggal saya. Belum lagi, aambi nomor antriannya konon harus pagi-pagi buta, karena pasiennya banyak sekali. Haduh, sepertinya saya gak sanggup.

Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk periksa pada dokter yang sama dengan kakak ipar saya yang telah ia pakai jasanya di dua kali kehamilan. Namanya dr. Retno Kusumaningrum, Sp.Og. di RSB Kusuma Pradja Semarang. Bismillah, saya mantap, karena track record yang saya dengan dari kakak ipar cukup bagus.

Pada tanggal 11 Juli 2016 hari Senin Pukul lima sore, kami pergi periksa. Kami? Iya, saya, suami dan kakak ipar yang juga mau periksa. Sebelumnya saya sudah daftar melalui telfon, dan dapat nomor antrian enam. Sekitar Pukul 19.00 nama saya dipanggil. Grogi sekali, karena ini pengalaman pertama.

Sesampainya di dalam ruang periksa, saya menceritakan bahwa saya telat datang bulan dan sudah melakukan testpack yang hasilnya positif. Oleh dokter Retno, saya dipersilakan untuk USG. Nah, di bagian ini saya sempat cemas dan khawatir. Dokter Retno sempat seperti bingung ketika melihat layar, lalu bertanya, "Habis pipis, ya?", Saya jawab iya. "Pipisnya kapan?" Lanjut beliau. "Sebelum berangkat ke sini, dok", jawab saya. "Lalu setelah itu gak minum?", tanya beliau lagi. "Enggak, dok", jawab saya. "Ah, pantesan USGnya gak bisa dalem", ucap beliau. Iya, minum saya memang tergolong sedikit sekali, dan saya baru tau kalo itu berpengaruh pada USG. Sampai di situ, kecemasan saya masih berlanjut, sementara Mas Suami tampak serius mengamati layar USG. Dokter Retno seperti mencari sesuatu. Sedangkan saya bertanya-tanya, mana janinnya? Kok gak ada gambar seperti foto-foto hasil USG seperti milik teman-teman yang biasanya saya lihat? Jangan-jangan hasil testpacknya salah?

"Oooh, ini dia!" ucap dokter Retno tiba-tiba. "Ini pak janinnya, masih kecil sekali. Selamat ya pak, istri Anda positif hamil", lanjut dokter Retno. Saat itulah kecemasan saya baru sirna, meskipun deg-degannya masih. Alhamdulillah, batin saya. Saat periksa pertama, usia kandungan saya 5 Minggu 4 hari. Ukuran janin masih kecil.

Dokter Retno juga sempat memaparkan apa saja yang gak boleh saya makan, yaitu makanan apapun yang mengandung pengawet, pewarna makanan, pemanis buatan. Gak boleh minum teh hingga menyusui (padahal saya hobi ngeteh), gak boleh makan nangka, nanas dan durian. Sedangkan untuk aktivitas, saya dikarang naik-turun tangga berkali-kali dalam sehari, dan saat naik motor, Mas Suami dihimbau untuk gak bikin saya kaget (rem mendadak misalnya). "Karena ini kehamilan pertama, kita sama-sama belum tau seberapa kuat kandungan Ibu", ucap dokter Retno.

Sebelum berangkat periksa, rasanya saya punya banyak sekali daftar pertanyaan, tapi entah kenapa saya tiba-tiba blank saat di depan dokter. Saking groginya =D Saya cuma inget tanya soal apakah saya tetep boleh pakai kosmetik dan mengungkapkan keluhan saya tentang punggung yang sakit sekali. Dan dokter Retno bilang gak masalah, setelah sebelumnya menanyakan apa merk kosmetik saya. Tapi beliau menyarankan krim malamnya jangan dipakai dulu. Sedangkan untuk sakit punggung, beliau bilang akan memberi saya tambahan kalsium.

Ohya, satu lagi himbauan dari dokter Retno. Soal berhubungan, beliau mengatakan boleh, asal jangan 'dikeluarkan' di dalam. Hihi.

Sehat yaa, Nak... tumbuhlah dengan sempurna di perut Ibu :*

Jumat, 15 Juli 2016

Catatan Kehamilan: Alhamdulillah, Saya Hamil :)

Ya, Alhamdulillah saya hamil. Sesuatu yang amat saya harapkan, sekaligus cukup surpraise bagi saya karna saya sudah sempat yakin bahwa bulan ini sang tamu bulanan masih akan tetap menyambangi saya. Cerita lengkap dan panjang-lebarnya sudah saya tulis di rosasusan.com.


Karna ini kehamilan pertama saya, saya belum tau banyak harus gimana. Beruntung saya hidup di jaman internet. Berbagai artikel saya baca, yang efeknya malah bikin saya jadi bingung. Hihi. Orang-orang terdekat juga banyak memberikan nasehat. Ibuk dan kakak-kakak terutama. Yang utama, mereka wanti-wanti sekali agar saya menjaga dengan baik si janin, sekaligus mengingatkan bahwa ini adalah karunia besar. Berapa banyak di luar sana yang tengah berjuang untuk mendapatkan karunia tersebut, namun belum Allah perkenankan. Untuk yang tengah ada dalam kondisi tersebut, sungguh, saya berdoa setulus hati untuk kalian, semoga Allah segera memperkenankan doa dan ikhtiar kalian.

Ikhtiar pertama yang saya lakukan untuk si janin agar ia sehat adalah meminum susu untuk ibu hamil dan meminum sari kurma dan madu yang sebenarnya saya beli untuk persiapan program hamil selanjutnya jika bulan ini ternyata saya belum hamil. Masya Allah, ternyata Allah menggerakkan hati saya untuk membelinya karna maksud lain.

Apa yang saya rasakan? Kata kebanyakan orang, mual identik sekali dengan hamil muda. Alhamdulillah sampai saat ini saya belum (dan semoga seterusnya) merasakan. Beberapa hari kemarin punggung saya yg sempat nyeri luar biasa, dan kepala yang kadang agak pusing.

Kalau ditanya apa tipsnya agar bisa cepat hamil, saya gak tau... ini kuasa Allah. Ikhtiar memperbaiki pola makan dan mengonsumsi suplemen-suplemen tertentu sama sekali belum saya lakukan. Hanya satu sepertinya: berdoa. Selain berdoa untuk dirinya sendiri, saya juga meluangkan waktu untuk mendoakan teman-teman dan kerabat yang sampai saat ini belum dikaruniai keturunan, padahal sudah menginginkan. Karena saya ingat, doa diam-diam untuk orang lain akan diaminkan malaikat, dan kita didoakan dengan doa yang sama olehnya. Iya, kan? :)

Kamis, 23 Juni 2016

WHAT, Tinggal Sama Mertua???



Tau gak, selain pertanyaan 'kapan nikah?' untuk para single, dan pertanyaan 'sudah isi apa belum?' bagi para penganti baru, ada satu lagi pertanyaan basa-basi yang berbondong-bondong ditanyain pada seseorang yang hendak menikah. Pertanyaan apakah itu?

Nanti tinggal dimana setelah nikah?
  
Iya, saat hendak menikah, pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan setiap ketemu orang yang tau rencana pernikahan saya adalah pertanyaan di atas itu. Terus nanti setelah nikah rencana mau tinggal dimana?
  
Sebenarnya kadar sensitivitas pertanyaan tersebut ga setinggi pertanyaan 'kapan nikah?' dan 'sudah isi belum?' sih. Tapi, komentar-komentar di belakangnya yang mengikuti setelah saya memberi jawaban itu yang kadang lumayan mengganggu.

Setiap ada yang tanya akan tinggal dimana saya setelah menikah, saya jawab Insya Allah akan tinggal di rumah orangtua si mas dulu. Lalu mereka -- para si penanya -- memberikan respon bermacam-macam yang mungkin intinya kurang lebih sama. Dan -- sekali lagi -- lumayan mengganggu perasaan saya waktu itu. Ah, mungkin saya aja ya yang terlalu sensi.

Memangnya apa aja komentarnya?

Macam-macam. Ada yang bilang kenapa gak langsung belajar mandiri, ada yang bertanya sudah beneran siap mental apa belum tinggal sama mertua, ada yang dengan 'baik hati' memberi 'nasehat' bahwa tinggal mertua itu harus gini gitu gini gitu, ada juga yang langsung mringis dengan ekspresi seolah mau bilang: WHAT, tinggal sama mertua??!!

Kenapa komentar-komentar tersebut terasa mengganggu bagi saya? Yang sudah menikah pasti tau, bahwa hari-hari menjelang pernikahan merupakan hari dimana hati diwarnai berbagai macam perasaan. Tanpa dengar macam-macam komentar seperti di atas pun sebenernya hati sudah sangat sibuk menenangkan diri sendiri. Apalagi jika ditambah lagi!
Mendengar berbagai komentar tanggapan saat saya mengatakan akan tinggal sama mertua itu, sejujurnya saat itu saya menjadi resah luar biasa. Bertanya-tanya. Menerka-nerka. Kenapa memangnya jika tinggal dengan mertua? Ada apa sebenarnya? Semenakutkan apa tinggal sama mertua? Dan puluhan teror pertanyaan lain.

Oke, saya mungkin memang sudah punya sedikit gambaran tentang hubungan antara menantu wanita dan ibu mertua yang konon amat rawan konflik, tapi haruskan menambah beban pikiran saya dengan komentar semacam itu? Tapi saya tau, gak seharusnya saya membiarkan diri saya sebegitu terpengaruhnya sama komentar orang. Seharusnya saya tetap fokus untuk mempersiapkan diri menjadi istri dan menantu yang baik. Itu saja.


Satu lagi. Jika ada yang bertanya kenapa gak hidup mandiri saja dengan nada menyayangkan, Ah, Dear... Yang harus kita ingat adalah, setiap orang PASTI punya berbagai pertimbangan (yang gak kita tau) sebelum akhirnya mengambil keputusan. Jadi, jika saya dan si mas memutuskan untuk tinggal sama orangtua sementara waktu, adalah bukan lantaran kami tak ingin hidup mandiri sesegera mungkin setelah menikah. Melainkan karna pilihan tersebutlah yang kami rasa paling bijak.

Sepertinya, image mertua di mata kebanyakan orang Indonesia terutama wanita sudah terlanjur menyeramkan. Bisa jadi, itu justru salah satu pemantik konfliknya. Karna pikiran sudah terlanjur meng-image-kan buruk, maka apapun yang terlihat jadi buruk. Gitu kan, ya? Kalau kita punya niat untuk berusaha membangun hubungan yang baik dengan mertua, Insya Allah pastilah ada caranya. Kita yang muda, sudah selayaknya kita yang jauh lebih berusaha mengerti mereka (mertua). Bukan sebaliknya, menuntut mereka mengerti kita.


Pelajaran yang saya ambil adalah, ternyata berkomentar yang sepertinya biasa saja juga berpotensi mengusik perasaan orang. Kita gak pernah benar-benar tau kondisi seseorang dan pertimbangan apa saja yang ia pakai untuk mengambil sebuah keputusan. Maka, marilah lebih bijak dan hati-hati mengomentari keputusan yang telah orang lain buat. Mengeluarkan komentar bernada dukungan, saya rasa salah satu sikap bijak :)

Senin, 13 Juni 2016

#SaniRosaStory: Baju Akad Nikah

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan dulu, melalui berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk membuat baju yang akan saya dan Mas Suami pkai saat akad nikah -- alias tidak menyewa. Dan Alhamdulillah, keputusan kami didukung penuh oleh Bapak-Ibu mertua (saat itu masih calon) yang dengan senang hati menjadi donatur buat kami dengan membelikan bahannya (kainnya).


Waktu itu saya sempat mikir, 'Duh, kok hari gini baju akad nikah udah mau jadi sih, keburu bosen dong lihatnya'. Soalnya, berhubung yang jahit baju akad nikah saya adalah Ibu dan kakak perempuan saya (Mbak Nita), jadi ya ekspress -- bulan Maret udah jadi, tinggal nambah-nambahin pemanisnya aja. Eehh, ternyataaa... justru pemanisnya itu yang lamaaa. Gaun akad nikah saya akhirnya baru bener-bener jadi dan siap dipakai H-2 minggu acara. Nah, pelajarannya: jangan nunda-nunda kalau memang mau bikin baju akad nikah sendiri. Gak ada salahnya kasih spare waktu yang lumayan lama. Apalagi kalau kamu gak punya ibu atau kakak yang bisa jahit kayak saya. Haha.

Padahal pemanis gaun akad nikah saya gak banyak kok, karna memang dari awal niatnya bikin gaun akad nikah yang sederhana. Hanya saya tambahi renda plus payet. Payetnya pun dikiiitt, cuma di bagian dada dan lengan. Yang bikin agak lama itu karna kami (saya, Ibu dan Mbak Nita) sempat galau mau dikasih renda yang kayak apa. Galau sama harganya juga sih. Hihi. Satu lagi yang bikin lama adalah payetnya. Sebenernya saya dan Mbak Nita bisa pasang payet sendiri, cuma waktunya gak ada. Jadilah akhirnya saya serahkan ke tetangga yang biasa diserahi Ibu orderan payet. Nahh, si tetangga yang tadinya full-time mom ini ternyata sekaran kerja. Jadilah akhirnya saya harus sabar nunggu beliaunya ada waktu luang untuk memasangkan payet di gaun saya.

ini penampakan bagian pinggang. itu tuh akhirnya renda yang saya pilih :) payetnya juga kelihatan kan, dikiitt banget kan :D

Pemanis lainnya selain renda dan payet adalah kancing di bagian lengan itu :)

Bagian pergelangan tangan juga dikasih renda :)
Terus gimana dengan baju akad nikah Mas Suami? Dia juga sama seperti saya, beli bahan, lalu dijahitkan. Bedanya, kalau saya dijahitkan oleh Mbak Nita dan Ibuk sendiri, sedangkan Mas Suami dijahitkan ke penjahit langganan ayahnya (alias Bapak Mertua saya). Mas Suami memang dari awal bilang gak pengen pakai jas saat akad nikah. Dia pengen pake model basofi yang simpel gitu. Saya sempat agak senewen waktu itu gara-gara pas pertengahan Maret, si Mas tiba-tiba baru bilang bahwa kainnya belum jadi ditaruh ke penjahit. Hadeeehh, ya jelas saya panik lah! Kalau waktunya gak cukup terus mau pakai apa pas akad niakh? -_- Tapi Alhamdulillah kekhawatiran saya gak terjadi. Bajunya si Mas jadi juga sekitar H-2 minggu acara pernikahan kami. Sudah langganan sih soalnya =)) Alhamdulillah.

Bagian lengan dan kerah diberi bordir. Sayangnya, warna bordirnya kurang pas menurut saya.
Harusnya warna bordirnya agak tua lagi menurut saya. Hihi

Emm, kira-kira menghabiskan anggaran berapa untuk dua baju itu? Jujur saya gak hitung persisnya habis berapa sih. Untuk gambaran teman-teman, saya akan coba menjabarkannya, ya. Untuk gaun akad nikah, saya memakai 3 jenis kain: Broklat, satin velvet dan sifon. Broklatnya kalo gak salah sekitar enam puluh ribu saja per meter, sedangkan dulu belinya sekitar 2 meter saja. Satin velvet saya pakai yang empat puluh ribu per meter, dan butuhnya sekitar 4 meter. Sedangkan sifon kalo gak salah empat puluh ribu juga per meter, dan dulu beli 5 meter karna mau sekaligus bikin jilbab segiempatnya. Nah, silalakn dihitung sendiri berapa habisnya. Ongkos jahit alhamdulillah saya gak perlu mikir, dan ini lumayan bikin irit cukup siginifikan, ya. Untuk pemanisnya, rendanya per meter empat puluh ribu, sedangkan payetnya saya pakai payet jepang, tapi lupa harganya. Ongkos pasang payetnya cukup dua puluh ribu saja. Hehe. Kalau untuk baju akad nikahnya si Mas Suami, saya lupa nama bahannya, yang jelas per meter sekitar sembilan puluh ribu, dan butuh bahannnya sekitar 5 atau 6 meter -- saya lupa. Ongkos jahitnya kata si Mas sih tiga ratus ribu, sudah dibiknkan peci dan sudah plus bordir juga.

Kalau dihitung-hitung habisnya lumayan banyak sih, ya. Tapi gak papa lah, Alhamdulillah sepadan sama kepuasan hati kami memakai baju tersebut di salah satu moment terpenting sepanjang hidup. Alhamdulillahnya lagi, kami semakin gak merasa rugi karna baju ini gak cuma kami pakai saat akad nikah. Baju tersebut kami pakai lagi saat acara mengantarkan pengantin (Saya dan Mas Suami dianatar oleh keluarga saya ke rumah orangtua Mas Suami) sekaligus acara ngunduh mantu sederhana di rumah Mas Suami. Seneng banget karna beberapa tamu ibu mertua memuji gaun yang saya pakai :)

ini nih penampakan finalnya di hari H :)
Semoga cerita saya bisa jadi salah satu bahan pertimbangan saat teman-teman sedang mempersiapkan pernikahan, ya. Hari pernikahan gak dipungkiri merupakan hari yang amat istimewa, jadi amat wajar kalo kita mengistimewakannya dengan mempersiapkan penampilan terbaik. Tapi ya tetap diingat, sebaiknya jangan berlebih-lebihan, ya :)

Rabu, 08 Juni 2016

Keluargamu, Keluargaku


Salah satu hal yang paling berat dalam masa-masa awal pernikahan -- menurut saya -- adalah membuka hati seluas-luasnya untuk bisa menerima keluarga si Mas Suami, dan menganggapnya sebagai keluarga kita juga. Menerima dalam artian benar-benar menganggap mereka keluarga kita, menyayangi mereka seperti kita menyayangi keluarga kita sendiri. Sepertinya sepele, ya. Tapi bagi saya itu bukan hal yang mudah. Kalo sekedar menerima si Mas Suami setelah berbagai pembuktian cintanya buat kita, saya rasa itu bukan hal yang sulit (dengan ijin Allah), karena karakteristik hati manusia, terutama wanita, adalah mudah luluh. Tapi tentang menerima keluarganya, itu perkara lain. Bagian ini benar-benar menuntut perjuangan dan luasnya hati kita.

Kenapa begitu?

Karna sudah sekian puluh tahun otak dan pikiran kita hanya diisi oleh satu keluarga, yaitu keluarga kita sendiri, yang sudah kita kenal sejak kita lahir di dunia. Mereka mengenal segala seluk-beluk tentang kita, baik maupun buruk. Begitu juga sebaliknya, kita mengenal segala baik-buruk mereka. Hal-hal buruk atau kurang pas yang ada pada keluarga kita, seolah akan terlihat biasa di mata kita, karna sudah menjadi kewajaran. Kita akan dengan sangat mudah memaklumi apapun tentang keluarga kita sendiri.

Tapi gak akan semudah itu saat kita dihadapkan pada keluarga baru. Saat menikah dengan seseorang, otomatis kita harus juga akan memiliki keluarga baru. Sebuah keluarga yang sudah punya kebiasaan, kultur, dan baik-buruknya sendiri sebagaimana keluarga kita juga memilikinya. Bedanya, kita lebih banyak belum taunya. Ketidaktauan sekaligus waktu kenal yang relatif belum lama, membuat pemakluman kita cenderung belum terlalu luas. Misal, di keluarga Mas Suami punya kebiasaan 'X' yang di mata kita buruk. Kadang, kita langsung berpikir, 'Ih, kok gitu sih'. Padahal keluarga kita juga punya keburukan yang setara dengan 'X' itu, hanya saja sudah terasa biasa di mata kita.

Jika kita tidak menyadarinya sejak awal, rasanya hal ini bisa menjadi bom waktu. Kita wajib rasanya berusaha menerima sepenuh hati keluarga pasangan, dan sebaliknya pula pasangan pun harus berusaha menerima keluarga kita. Agar kita bisa sama-sama berkata: Keluargamu, keluargaku pula. Terutama kita sebagai wanita. Pasti sudah tau kan ilmu tentang bagaimana posisi kita sebagai wanita yang sudah menikah dan bagaimana posisi seorang laki-laki setelah menikah dari sudut pandang seoang anak. Laki-laki yang telah menikah tetap memiliki tanggung jawab penuh atas keluarganya, terutama ibunya. Sedangkan kita sebagai wanita, keluarga sudah menjadi yang nomor ke sekian setelah terpenuhinya hak suami.

Baca juga: Tips Membangun Hubungan Baik Dengan Mertua

Kalau kita sebagai istri gak bisa menganggap keluarga suami sebagai keluarga kita juga, pasti yang ada grundel terus tiap keluarga suami meminta bantuan ke suami kita. Begitu juga sebaliknya. Jika suami tidak bisa menerima keluarga kita, mungkin ia akan bersikap sangat tidak adil saat keluarga kita membutuhkan sesuatu dari kita.

Begitulah. Pernikahan memang tidak sederhana dan menuntut kedewasaan, karna di dalamnya gak cuma menampung dua kepala dan dua kepentingan, melainkan dua keluarga yang akan selalu saling bersinggungan. Setelah menikah, sudah bukan lagi saatnya untuk egois dan menempatkan kepentingan kita dan keluarga di atas segalanya, karena kita telah memiliki keluarga baru. Saya masih berusaha untuk ini. Berusaha menerima dan menyayangi keluarga Mas Suami seperti saya menyayangi keluarga saya sendiri. Mudah? Tentu saja tidak. Saya mengenal dan tinggal dengan keluarga saya sudah seperempat abad, sedangkan mengenal dan tinggal bersama keluarga Mas Suami baru satu bulan. Langkah pertama yang saya lakukan untuk menganggap keluarga Mas Suami sebagai keluarga saya juga adalah dengan mengenal mereka dengan baik perlahan-lahan, dan mengesampingkan segala ego agar bisa melihat segala sesuatu selama masa perkenalan dengan lebih jernih.

Kalian yang sudah menikah, gimana kisah awal mula menerima keluarga suami? Share, yuk :)

Rabu, 01 Juni 2016

#SaniRosaStory : Akad Nikah


Bismillah, mulai semangat nge-blog lagi... hap hap hap!!!

Sesuai dengan niatan saya sejak sebelum nikah, saya pengen mendokumentasikan bagian per bagian dari acara hari pernikahan saya satu per satu. Semoga Allah memudahkan, dan memberi saya kesempatan untuk memenuhi niatan saya tersebut. Sama sekali niatnya bukan untuk pamer. Duh, apa yang bisa saya pamerin dari pernikahan saya yang amat amat sederhana sih? Gak ada rasanya. Niatan saya, selain biar nanti anak-anak saya bisa baca kisah bapak-ibunya, siapa tau dari apa yang saya tulis ada yang memberikan manfaat meski setitik bagi yang membaca. Aamiin :)

Akad nikah kami rencanakan berlangsung pada Pukul 08.30. Sengaja dibikin pagi, biar acara bisa selesai maksimal Pukul 14.00 (sudah sekaligus resepsi), agar kami bisa mengejar sholat dhuhur. Rombongan keluarga mempelai pria sudah datang sekitar pukul 08.00. Pagi sekali, dan sempat bikin grogi karna saya dan beberapa keluarga belum selesai di make up. Huhu.

Setelah berbagai kericuhan akibat grogi yang rasanya menjalar dari satu orang ke orang lain, akhirnya prosesi menuju akad nikah dimulai sekitar Pukul 08.30. Diawali dengan prosesi penyerahan calon mempelai pria yang diwakili oleh salah satu sesepuh keluarga si Mas pada keluarga saya, mempersilakan keluarga saya untuk mengambil alih si Mas untuk dinikahkan dengan saya. aiiihh, aiiihhh... pipi saya kok rasanya memerah nulis ini =D Lalu keluarga saya yang juga diwakili oleh seorang sanak family sekaligus guru ngaji saya waktu kecil, menerima penyerahan dari keluarga si Mas, sekaligus mengucapkan selamat datang di kediaman kami. Ohya, prosesi ini berlangsung di jalan depan rumah saya. Posisinya berhadapan gitu antara rombongan keluarga si Mas dan keluarga saya. Nah, setelah diterima oleh keluarga saya, si Mas kemudian diberi minum air zamzam oleh ibu saya dan dikalungi rangkaian bunga melati. Lalu disusul dengan penyerahan seserahan dari keluarga mempelai pria pada keluarga saya. Ohya, FYI, saat prosesi ini, saya hanya melihat dari depan pintu rumah yang jaraknya lumayan jauh.



Kemudian acara berpindah lokasi ke Masjid Baitul Makmur yang kami sepakati sebagai tempat akan dilangsungkannya acara akad nikah. Rombongan keluarga saya dan keluarga si Mas berjalan beriringan, diiringi tabuhan rebana dan lantunan sholawat. Lalu dengan langkah gemetar dan hati yang kebas saya menyusul dengan didampingi seorang saudara. Sebenernya awalnya saya berniat tetap di rumah saja saat akad nikah berlangsung. Tapi si Mas meminta pada saya untuk turut hadir di masjid, mendengarkan langsung ijab qabul antara Bapak dan dia, dan mendengarkan janji sighat taklik yang akan si Mas baca.

Sesampainya saya di masjid, si Mas sudah duduk tepat di depan bapak saya yang akan mengucapkan  ijab sendiri, dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Diawali dengan acara pembukaan, dilanjutkan lantunan ayat suci Al Qur'an oleh Pakdhe dan khotbah nikah oleh petugas KUA yang membacakannya dengan amat indah, tiba saatnya Bapak dan si Mas mengucapkan Ijab-Qabul. Masya Allah, menuliskannya saat ini saja rasanya hati saya bergetar. Suara Bapak terdengar agak bergetar. Saya gak tau seperti apa perasaan beliau, karna beliau bukan tipe orang yang bisa mengekspresikan perasaan dengan baik. Suara si Mas terdengar agak lirih, gak setegas dan selantang saat latihan sebelumnya =D Tapi Alhamdulillah, cukup sekali, dan saksi menyatakan SAH, disambung dengan doa keberkahan. Ohya, salah satu saksi nikah kami adalah orang yang di mata kami amat istimewa karna kesholihannya, Insya Allah. Beliau adalah Bapak H. Hasan Toha Putra :)

SAH! :D

Setelah saya dan si Mas SAH sebagai suami istri *cieeeee*, si Mas membacakan sighat taklik yang merupakan janjinya pada saya tentang bagaimana seharusnya dia mempergauli saya. Setelah itu, saya yang tadinya duduk di sebelah Ibu -- dibelakang si Mas, dipersilakan maju -- bersanding dengan si Mas, untuk mendengarkan nasehat pernikahan dari saudara sekaligus cendekiawan di desa saya. Kami sempat saling melirik, tapi cepet-cepet nunduk lagi. Maluuuu. Hihi, luar biasa rasanya saat itu. Saya sudah jadi istri orang ternyata :')

ini sudah SAH. Jalan dari Masjid menuju ke rumah :)

Usai prosesi sakral itu, pastilah lanjutannya adalah acara foto-foto. Foto bareng Bapak-Ibu saya dan Bapak-Ibu si Mas, foto bareng keluarga, bareng teman-teman, dll. Ohya, ada sebuah cerita yang cukup bikin saya geli-geli gimanaaaa gitu. Saat Ijab-Qobul berlangsung, saya menggenggam tangan ibu saya. Ia membalasnya dengan menggenggam tangan saya erat. Saya pikir ibu saya terharu luar biasa, murni dan fokus pada moment luar biasa sakral itu. Ternyataaaa... tangan dingin ibu saya itu disebabkan oleh -- salah satunya -- resah memikirkan apakah salah satu sajian resepsi akan bisa disajikan tepat waktu, karna ada beberapa hal yang bikin sajian tersebut ditunda proses memasaknya. Owalaaaahhh, Ibuuuu... =D

Karna sudah terlalu panjang, tentang baju yang kami pakai pada acara akad nikah ini Insya Allah akan saya ceritakan pada postingan selanjutnya :)

Kamis, 19 Mei 2016

Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan


Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan


Alhamdulillahi Rabbil 'Alamiin...

Entah rasa syukur sebesar apa yang harus saya haturkan pada Allah atas segala karunia ini. Setelah sekian tahun bergelut dengan pertanyaan 'siapa jodohku' dan 'kapan aku menikah', akhirnya hari ini saya bisa melepaskan diri dari teror kegalauan tersebut. Jadi pengen teriak: YES, SAYA SUDAH NIKAH! Ehehehehe.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, bahwa setelah menikah kita akan merasakan ketenangan hati yang tidak akan kita rasakan saat masih sendiri. Dan, iya... Alhamdulillah saya merasakannya :) Meskipun saya tau, tau banget, bahwa pernikahan ini bukanlah akhir dari segala kegalauan. Akan ada kegalauan-kegalauan berikutnya yang mungkin akan saya rasakan. Tapi seenggaknya, saat ada kegalauan yang menerpa saya, ada seseorang yang bersedia menjadi tempat saya berbagi kegalauan tersebut, dan semoga bisa mengimbanginya dengan menyalurkan energi positifnya pada saya. AHSEK! =))

Seminggu pertama pernikahan, apa yang saya rasakan? Bersyukur, pasti. Bahagia, tentunya. Lebih dari itu, seminggu pertama pernikahan ini saya masih ada dalam fase berusaha menyadari bahwa sekarang sudah saatnya saya mempraktekkan ilmu-ilmu pernikahan, terutama kewajiban-kewajiban sebagai istri yang telah saya pelajari (meskipun tentu saja belum sepenuhnya). Sudah bukan lagi waktunya saya hanya 'sebatas' membaca. Apa gunanya ilmu tanpa amal?

Dan menyadari hal tersebuat butuh waktu dan proses. Hari pertama menikah, saat lapar saya asyik makan sendiri, sementara mas suami di kamar. Saya baru sadar baru setelah kakak ipar saya menegur, 'Lho, kok makan sendiri?! Kamu udah punya suami lhoo'. Wkwkwkw =)) Ya, menyadari kewajiban-kewajiban super sederhana seperti itu ternyata juga butuh kesungguhan dan pembiasaan. Apalagi kewajiban-kewajiban yang jauh lebih besar dari itu.

Yang coba saya tanamkan pertama kali di awal pernikahan ini adalah sebuah nasehat yang pernah saya baca dalam sebuah artikel. Bahwa seorang istri itu harus menjaga mata, hidung dan perut suaminya. Menjaga mata agar tak melihat sesuatu yang tak ia suka. Ini tantangan buat saya. Mas suami tipe orang yang suka kerapian. Sedangkan saya? Haha! Maka, saya harus mendidik diri saya sendiri untuk menciptakan keadaan rapi yang disukai oleh mas suami. Menjaga hidung agar ia tak sampai mencium sesuatu yang tak ia sukai dari diri saya. Dan menjaga perut dengan cara memperhatikan waktu makannya. Ya, saya mencoba memulai menjadi istri yang diridhoi suami dari hal yang menurut saya mampu saya usahakan.

Sekali lagi, apakah saya bahagia? Ya, tentu saja sangat bahagia. Meski pun tak serta-merta jadi lupa diri. Beberapa orang berkomentar menanggapi luapan kebahagiaan saya dan si mas. Ah, baru seminggu sih, baru indahnya aja yang kelihatan! Lantas, apakah kami jadi harus pasang kewaspadaan penuh 'menanti' ketidakindahan hadir, dan mengabaikan kebahagiaan kami? Saya mencoba belajar dari mereka. Bahwa komentar simpel pun adakalanya berpotensi mengusik kebahagiaan orang lain :)

Kami bahagia. Tapi di atas kebahagiaan ini, kami tengah membangun pondasi, yang semoga akan membuat bahtera kami tetap tangguh saat tiba saatnya badai dan angin menerpa.

Kepada seluruh sanak-saudara, sahabat baik, dan teman-teman yang telah hadir memberikan doa dan hadiah dalam acara walimah kami pada tanggal 7 Mei 2016 dan 14 Mei 2016, serta yang tak kuasa hadir tapi tetap menyempatkan mengirimkan doa, kami memgucapkan seluas-luasnya rasa terima kasih. Jazakumullahu khairan katsir...

Senin, 02 Mei 2016

Bismillah...


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sesungguhnya segala puji mutlak hanya untuk Allah
Sholawat dan salam semoga tertetapkan untuk penyampai risalah

 Ketika akad terucap, menyatukan jiwa-jiwa pencinta
Tak lagi sekedar mainan, pun kepuraan
Namun sebuah perjanjian, ikatan batin
Tulus menggapai tujuan suci, sakinah, mawaddah, warahmah

Pernikahan telah menuntun kapal itu berlabuh ke dermaga, dari kelelahan mengembara
Pernikahan telah meletakkan hati itu bersandar ke penyangga, dari kerapuhan akan hakikat penciptaan
Pernikahan telah mengokohkan pondasi itu, dengan segala kedayaan rasa
Pernikahan telah menyempurnakan separuh agama, mengejawantahkan asa bahagia
Pernikahan telah menafikan keakuan menjadi kekitaan

Suami telah memilihmu dari bidadari-bidadari dunia, sebagai perilaku adami
Suami telah memilihmu sebagai bidadari di syurga, dengan segala rahmat-Nya

Meski suami tak semulia Muhammad, tak setakwa Ibrahim, tak setabah Ayyub, pun tak segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi imam, mengikuti sunnah, membangun keturunan yang shalih

Istri telah memilihmu dari wajah-wajah pencinta
Istri telah memilihmu sebagai pasangan di syurga, dengan segala rahmat-Nya
Meski istri tak semulia Khadijah, tak setakwa A’isyah, tak setabah Fatimah, pun tak setegar Hajar, apalagi secantik Zulaikhah
Tapi hanya manusia keawaman, yang ingin menjadi istri sholihah, penjaga kehormatan keluarga

(diambil dari undangan pernikahan Mas Ahmad Nasirul Ulum & Mbak Firoh)