Rabu, 25 Januari 2017

Catatan Kehamilan: USG 4 Dimensi Periksa Ke-Tujuh [28w]

Periksa kehamilan ke-tujuh mungkin menjadi salah satu jadwal periksa yang paling saya tunggu-tunggu selama kehamilan. Selain setelah mengalami 'tragedi' pendarahan, kali ini juga saya membuat janji untuk USG 4 dimensi. Gak sabar lihat wajah si adek :')

Di RSIA Kusuma Pradja Semarang, jika hendak melakukan USG 4 Dimensi harus membuat janji sebelumnya. Caranya tinggal bilang saja ke bagian pendaftaran untuk dicatat. Awalnya saya dan mas suami berencana USG 4 dimensinya awal Januari saja. Tapi ternyata setelah konsultasi dengan dr. Retno pada periksa kehamilan ke-enam, beliau bilang kalau usia kehamilan sudah terlalu besar malah gak maksimal hasilnya. USG 4 dimensi yang paling efektif katanya maksimal di usia kehamilan 28 minggu. Maka dari itu, akhirnya kami memutuskan untuk USG 4 dimensi pada tanggal 15 Desember 2016.

Seperti biasa, saya dan mas suami sampai di RSIA Kusuma Pradja Semarang sekitar Pukul 17.00. Kami menunggu hingga usai maghrib. Sayangnya, sore itu dr. Retno sedang cuti, sehingga hasil USG 4 dimensi, gak bisa langsung kami bawa kepada beliau untuk dikonsultasikan. Ohya, USG 4 dimensinya sendiri gak ditangani oleh dr. Retno, melainkan oleh dokter lain, yaitu dr. Subandini. Jadi terpaksa, saya dan mas suami harus datang lagi ke RSIA Kusuma pagi harinya (ijin kantor) untuk ketemu dr. Retno.

Proses USG 4 Dimensi

Saya dan mas suami yang sudah sejak kemarin deg-deg serr karna gak sabar pengen lihat wajah si adek saat USG 4 dimensi, terpaksa harus sedikit kecewa. Kenapa? Si Adek ternyata ingin benar-benar memberi kejutan pada ayah dan ibunya. Ia tak  berkenan menunjukkan wajahnya :') dr. Dini sampai sempat dibuat gemas. "Ayo to dek, muncul lah sebentar!" katanya berulang kali merayu si adek =D Tentu saja saya dan mas suami juga turut merayu.

Apa daya, si adek gak bergeming. Wajahnya bersembunyi di balik plasenta. Dan, ya... dr. Dini menyatakan letak plasenta saya di bawah, meski tidak menutupi jalan lahir. Saya sempat diminta beberapa kali pindah posisi menjadi miring, dengan harapan si adek bisa kelihatan wajahnya. Dan, YES, berhasil! Meskipun cuma sebentaarrr sekali, dan cuma sebatas dahi hingga mulut. Lucunya, si adek kelihatan senyum-senyum -- seperti sengaja menggoda kami. Hihi. Gemesin. Ohya, dr. Dini juga bilang, si adek aktifnya luaarrrr biasa. Setelah dirunut, salah satu penyebabnya adalah saat itu saya sedang lapar =D Jadi, tips untuk teman-teman yang hendak USG 4 dimensi, sebaiknya makan dulu, yaaa... biar adek janinnya tenang.

Ituuu, hidung si adek kelihatan :D Sehat yaaa, nak...
Singkat cerita, USG 4 dimensi yang saya jalani bisa dibilang hampir gak menghasilkan apa-apa. Kecewa sih sedikit, tapi ya sudah, berarti Allah memang ingin saya dan mas suami lebih membumbungkan tawakal :')

Konsultasi Hasil USG 4 Dimensi

Pagi harinya, Jum'at 16 Desember 2016, saya dan mas suami kembali datang ke RSIA Kusuma Pradja untuk bertemu dr. Retno.

Saya menyodorkan laporan dari dr. Dini pada dr. Retno, sembari menceritakan apa saja yang terjadi saat USG 4 Dimensi, termasuk si adek yang geraknya luar biasa aktif. Pernyataan dr. Dini tentang plasenta letak rendah membuat dr. Retno tegas melarang saya bepergian jauh dulu, termasuk pulang kampung =((

Lalu tentang keaktifan adek, dr. Retno sempat mengungkapkan kekhawatirannya. Beliau bilang, kalau si adek geraknya terlalu aktif,  beliau takut tali pusarnya putus dan menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan, seperti yang terjadi pada beberapa kasus. Naudzubillah =((

"Ibu gak pernah ngemil, ya" tanya dr. Retno saat mencoba menganalisis gerakan adek yang jauh lebih aktif dari biasanya.

"Akhir-akhir ini gak pernah dok, kan kata dokter suruh mengurangi ngemil, karna bulan lalu dalam sebulan berat badan saya naik 5 Kg" jawab saya.

Baca: Periksa Keenam [27w] dan berbagai Drama yang Menyertainya


"Owalah, ya pantes! Berarti si adek memang tipenya gampang laper. Itu dia protes mungkin bu. Ya Allah, maaf ya dek. Ya sudah, sekarang ibu boleh ngemil lagi, tapi buah-buahan dan yang alami-alami seperti singkong rebus, kedelai rebus, dll"

Kami pun tertawa bersamaan. Ya Allah dek, kamu laper ya ternyata =D

Selain nyuruh ngemil lagi, dr. Retno juga menyarankan saya memakai korset hamil, agar perut saya gak terlalu banyak terguncang saat beraktivitas. Sabtunya, saya langsung beli. Harganya Rp 120.000,- kalau gak salah. Tapi jarang saya pakai, paling pas berangkat kerja aja pakainya, soalnya gak nyaman. Gerah.

Sekian dulu catatan kehamilan saya tentang USG 4 dimensi di umur kehamilan 28w. Semakin tua umur kehamilan, rasanya semakin menantang ternyata =D Doakan lancar dan sehat terus, yaaa :)

Minggu, 08 Januari 2017

Menyusun Daftar Perlengkapan Bayi Baru Lahir

Menyusun Daftar Perlengkapan Bayi Baru Lahir. Melahirkan adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap calon orangtua. Termasuk saya yang saat ini tengah hamil 31 minggu. Dalam waktu kurang lebih 9 minggu lagi, momen melahirkan yang saya tunggu-tunggu itu datang. Berbagai perasaan bercampur-baur. Bahagia, gak sabar, deg-degan, kepikiran macam-macam, dll.

Tapi kebahagiaan menyambut melahirkan tentu saja gak cukup hanya disambut dengan perasaan bahagia atau deg-degan saja. Ada banyak persiapan yang harus dilakukan sebelumnya. Karna melahirkan berarti juga menyambut kehadiran anggota keluarga baru yang sangat istimewa yaitu sang buah hati.

Baca:  Catatan Kehamilan

Semua orangtua pasti tau bahwa saat bayi lahir nanti, ia akan membutuhkan banyak perlengkapan yang harus kita siapkan dengan baik sejak sebelumnya. Tapi gak semua orangtua - terutama calon orangtua baru seperti saya - tau perlengkapan apa yang harus disiapkan. Saat pertama iseng datang ke Baby Shop, saya dan mas suami hanya bisa melongo dan celingak-celinguk di antara bermacam-macam perlengkapan bayi.

Belajar dari hal itu, saya dan mas suami akhirnya memutuskan untuk menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir yang harus kami beli. Selain agar gak bingung lagi saat datang ke Baby Shop, menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir rasanya juga akan cukup efektif untuk mencegah calon ibu seperti saya dari bahaya kekalapan. Hehe.

Saat menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir, saya dan mas suami tentu saja gak asal susun. Kami cari referensi, karna sama-sama masih sangat awam soal ini. Selain mencari referensi dengan browsing, kami juga tanya sana-sini, terutama bertanya pada teman-teman yang juga belum lama ini memiliki bayi.

Dan berikut adalah susunan daftar perlengkapan bayi baru lahir saya:

Pakaian dan macam-macamnya


1. Baju bayi new born

Perlengkapan bayi baru lahir yang pertama kali terpikir untuk dibeli pastilah baju, ya. Tapi perlu diperhitungkan baik-baik juga berapa jumlah baju yang harus dibeli. Supaya gak kekurangan, tapi juga gak kelebihan. Jika akan melahirkan saat musim penghujan, mungkin harus beli sedikit agak banyak, untuk antisipasi jika baju bayi belum kering setelah dicuci. Ada juga beberapa orang yang bilang, gak usah beli banyak-banyak, nkarna nanti pasti dapat banyak kado. Saya kurang setuju sih, karna setau saya jarang banget orang yang ngado baju bayi new born, seringnya baju bayi untuk 3 bulanan ke atas gitu.

Nah, baju bayi ini juga ternyata banyak macamnya. Ini nih daftar yang sudah dan masih akan saya beli:

Baju bayi new born lengan pendek

Baju bayi new born lengan pendek saya beli satu lusin (12 pcs). Pilihan merknya ada banyak. Dari mulai Fluffy, Nova, Libby, Arella, Baby Kermit, Little Owl, dll. Harganya pun bervariasi, meski untuk yang sama-sama berlabel SNI sepertinya selisihnya gak terpaut jauh.

Saya memilih merk Libby. Selain harganya pas dengan budget, berlabel SNI, bahannya adem, lembut dan nyaman. Kulit bayi kan lembut banget, ya? Kasian kalau bahannya gak lembut. Saya belinya 6 pcs polos tanpa motif, dengan harga 35.000 per pak (isi 3 Pcs), dan 6 pcs bermotif yang saya beli eceran. Harganya ada  yang 19.900/pcs (ukuran M), ada yang 15.600/pcs (new born). Untuk yang bermotif ini ceritanya agak kemahalan karna iseng masuk di Baby Shop yang agak 'wah'.

Lalu saya juga membeli baju bayi new born lengan panjang. Kan tetap ada saatnya si adek bayi nanti butuh kehangatan 8halah bahasanya*. Misalnya saat malam hari. Apalagi saat saya lahiran nanti Insya Allah, sepertinya masih akan turun hujan. Baju bayi new born lengan panjang saya beli 9 Pcs saja, dan terdiri dari 3 merk yang berbeda. Hehe. 1 pack (isi 3 pcs) merk libby dengan harga 40.000, 1 pack merk Arella harga 45.000 dan 1 pack merk baby Kermit harga 37.500. Kenapa pilih beda-beda merk? Iseng aja sih, biar punya semua =D

Selain lengan pendek dan lengan panjang, saya juga berencana akan membeli baju bayi new born tanpa lengan, sebanyak 1 lusin (12 Pcs). Kan siapa tau nanti pas siang-siang adek bayinya kepanasan, jadi nyamannya pakai baju tanpa lengan. Satu lagi yang akan saya beli adalah kaos singlet untuk daleman, sekitar 1 lusin dulu.

2. Popok kain bayi new born

Selama saya masih dalam masa cuti kerja, pengennya adek bayi gak langsung saya pakaikan diapers. Kasihan lah kulitnya masih lembut sekali. Maka dari itu, tentunya saya butuh beli popok kain bayi new born. Saya beli 2 lusin, 1 lusin merk Libby dengan harga 130.000 dan 1 lusin merk mamimu dengan harga 100.000.


3. Celana bayi

Meski bayi baru lahir setau saya akan lebih sering pakai popok, tapi saya tetap merasa butuh beli celana. tapi gak banyak. Sekedar buat jaga-jaga aja. Celana pendek model kaca mata saya beli 2 Pack (6 Pcs), masing-masing 1 Pack merk Libby, dan 1 Pack merk Little Owl dengan harga sama-sama 30.000/pack-nya. Sedangkan celana panjang saya cuma beli 3 Pcs. Hihi. Pikir saya, ah, bayi new born kayaknya celana panjang gak akan terlalu butuh.

Ohya, kenapa saya gak beli baju bayi new born yang sepasang atasan-bawahan? Karna ya itu tadi, adek bayi pasti nanti lebih sering pake popok. Beli baju sepasang atas-bawahnya nanti saja kalau sudah agak gedhe dan sudah mulai pakai diapers. Belum beli? Belum. Selain mikir 'siapa tau dapet kado' (hihi), juga karna mengefisienkan budget yang ada. Kebutuhan kan banyaaakk, jadi yang masih bisa ditunda, ya ditunda dulu saja.

4. Gurita

Mungkin gak semua orang ya sepakat memakaikan gurita pada bayi? Tapi saya tetap memilih untuk memakaikannya, Insya Allah. Manut sama mbah-mbahnya. Tapi saya gak beli banyak, hanya beli  1 lusin dengan harga 66.000.

5. Bedong bayi

Bedong menurut saya masih jadi keharusan sih. Biar adek bayi anget, dan setau saya dulu ponakan-ponakan jadi nyenyak tidurnya saat dipakaikan bedong. Meskipun ya jangan terus-terusan dibedongnya.

Saya berencana membeli 1 lusin. Tapi yang sudah terbeli saat ini baru 1/2 lusin alias 6 pcs. Bahannya kaos, adem dan lembut sekali, setipe sama bahan baju-bajunya, harganya 100.000/6 pcs. Yang 6 pcs kekurangannya saya berencana membeli bahan flanel, untuk dipakai malam hari, agar lebih hangat.

6. Sarung tangan dan kaki, serta topi bayi

Ini juga banyak artikel yang bilang gak usah dipakaikan sarung tangan dengan alasan bla bla bla ya. Tapi lagi-lagi saya memilih untuk mempertahankan kearifan lokal (baca: kebiasaan mbah-mbahnya). Saya hanya membeli 3 pasang (1 pack), merk Libby dengan harga 25.000.

Topi saya berencana membeli 3 pcs. Tapi saat ini belum beli satu pun. Hehe.

Perlengkapan Tidur

1. Kasur bayi dengan kelambu

Tadinya saya gak berniat beli kasur bayi. Mau beli kelambu (tudung saji) saja. Tapi saat harbolnas kemarin, kebetulan ketemu kasur bayi yang sudah jadi satu dengan kelambunya, dengan harga yang cukup terjangkau. Baiklah, akhirnya memutuskan beli. Harganya 160.000 termasuk ongkir.

2. Perlak karet

Karna adek bayi gak akan langsung pakai diapers, maka perlak adalah item yang wajib dibeli. Saya berencana beli dua, yang satu untuk ditinggal di rumah mbahnya di desa. Saat ini yang sudah terbeli baru satu, dengan harga 80.000 ukuran 90x60.

3. Selimut

Teman-teman sih bilang gak usah beli, karna pasti dapat banyak kado selimut (ge er). Tapi menurut saya tetap harus beli, meskipun satu. Setidaknya untuk dipakai saat adek bayi pulang dari tempat bersalin (entah di kliniknya bidan atau RS). Yang ini juga belum beli, jadi belum tau harganya.

Update: Akhirnya saya beli merk Dialogue. Tapi lupa harganya. Hehe.

4. Bantal guling

Bantal guling saat ini saya sudah punya dua. Insya Allah cukup. Yang satu sudah sepaket dengan kasur, yang satu lagi beli lagi di baby shop dengan harga 40.000. Bantalnya saya pilih yang tipe bantal anti-peyang.

kasur dan pompa ASI

Perlengkapan Mandi

1. Ember mandi bayi

Ini juga termasuk salah satu item wajib, ya. Belinya satu saja lah, buat apa banyak-banyak. Tapi saat ini belum beli. Hehe.

2. Handuk dan washlap

Handuk menurut saya minimal punya dua. Cuma belum beli karna ada teman yang bilang gak usah beli dulu, karna beliau akan mengirimkannya untuk saya sebelum HPL. Hihi, Alhamdulillah :) Washlap juga paling gak punya tiga, ya. Biar bisa ganti-ganti.

3. Sabun, shampo, kapas, dll.

Kalau ini beli yang satu set termasuk bedak, minyak telon, lotion, minyak rambut, dll itu aja ya sepertinya. Masing bingung sih pakai merk apa yang ramah untuk kulit bayi dan gak pakai bahan macam-macam. Ada yang punya saran?

Update: Minyak telon pas Faza masih new born saya pakai merk Cito, beli di apotek. Itu konon ramah untuk kulit new born.

Kapas rencananya beli yang bola-bola saja. Ini berdasarkan saran dari Mbak Windi Teguh di salah satu tulisannya. Menurut beliau lebih irit dan praktis.

Feeding & Nursing

1. Breastpump alias pompa ASI

Pompa ASI merupakan salah satu perlengkapan 'perang'-nya ibu menyusui, ya. Terutama ibu bekerja yang bertekad tetap memberi ASI Eksklusif untuk buah hatinya. Maka, item ini adalah item pertama yang saya beli sebelum perlengkapan bayi baru lahir lainnya.

Baca: Resolusi 2017

Setelah membaca beberapa review teman Blogger soal beberapa merk pompa ASI, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Medela harmoni manual. Belinya waktu harbolnas, dapet harga kurang lebih 360.000.

2. Cooler Bag

Ini juga item yang wajib dimiliki ibu menyusui yang bekerja. Kalau gak ada cooler bag, ASI perahannya mau ditaruh mana? Saya memilih merk Gabag seri Ethnic, beli online, dengan harga 185.000 sudah termasuk ongkir.

3. Dot

Saya sempat ingin (sok) idealis ingin bilang NO pada dot. Takut adek bayinya bingung puting nanti :( Tapi setelah baca-baca pengalaman teman Bloger (Mbak Annisa), saya memutuskan, ah sudahlah, pakai dot saja, Bismillah. Saya bayangin kayaknya memberi ASIP memakai sendok, pipet atau soft cup feeder bukanlah hal yang mudah, apalagi yang melakukan adalah mbak pengasuh. Saya cuma bisa berdoa semoga nanti adek bayi gak bingung puting.

Maka dari itu, saya memutuskan akan membeli dot sebelum melahirkan, meskipun saat ini belum. Masih galau antara mau pilih pigeon peristaltic wide neck, tommee tippee atau avent. Ada saran? Untuk jumlah, saya berencana beli minimal 3 dulu.

Update: Akhirnya saya pake Pigeon peistaltic wide neck. Alhamdulillah pakai dot ini Faza gak bingung puting :)

4. Botol ASIP

Ini juga WAJIB punya, ya. Saya berencana beli 20 pcs. Menurut info dari kakak ipar, di baby shop di daerah Johar Semarang (nama tokonya Toko Glodok, di Jl. H. Agus Salim) harganya 2.500/pcs.

5. Sterilizer

Saya juga gak tau item ini termasuk yang wajib atau tidak sebenarnya. Kan ada yang men-sterilkan botol dengan cara direbus, ya? Tapi saya dan mas suami Insya Allah berencana beli. Pengennya yang fungsinya 3 in 1, merk baby safe. Sampai saat ini masih memantau harga di beberapa E-Commerce.

Update: Saya akhirnya beli sterilizer merk Baby Safe, harganya kurang lebih 300 ribu. Performanya Oke punya dan awet sampai sekarang (2 tahun).


Lain-Lain

1. Selendang/gendongan bayi

Katanya salah satu jenis kado yang paling umum itu selendang alias gedongan, ya. Tapi masa iya mau mengharpkan kado saja? Hehe. Paling gak saya harus beli satu lah. Saya sih naksir gendongan yang tipe baby wrap. Sepertinya nyaman sekali. Untuk harga masih memantau juga =D

2. Tas perlengkapan bayi

Kalau adek bayi sudah lahir nanti, ritual pulang kampung paling gak 1 bulan sekali haruslah tetap berjalan. Maka, tas perlengkapan bayi adalah wajib. Alhamdulillah sudah beli, merk Snooby dengan harga 144.000.

Sampai saat ini, daftar perlengkapan bayi baru lahir yang saya susun baru itu dulu. Kalau mau ngikuti nafsu sih masih banyak sekali yang terlewat. Tapi karna budget yang harus diefisienkan, saya dan mas suami konsen menyusun perlengkapan yang benar-benar sifatnya benar-benar mendesak dan tidak bisa ditunda.

Wow, ternyata menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir juga butuh pemikiran dan pertimbangan yang matang, ya. Tentu saja sembari terus berdoa agar saya dan si janin selalu diberikan kesehatan, keselamatan serta kemudahan saat saatnya melahirkan nanti. Aamiin.

Kalau ada yang sudah punya pengalaman menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir, boleh banget lho saya diberi saran-sarannya :)

Minggu, 25 Desember 2016

Henna di Hari Pernikahan

Memakai henna di hari pernikahan. Sejak kapan sih sebenarnya henna jadi trend, khususnya untuk pengantin perempuan di hari pernikahannya? Saya sendiri gak tau kapan persisnya. Yang jelas, pertama kali melihat langsung teman saya memakai henna saat menikah adalah saat saya masih semester pertengahan kuliah. Gak cuma tangannya yang dihenna, kakinya pun iya. Dan saat saya tanya berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk henna tersebut, kalau saya gak salah ingat biayanya adalah tujuh ratus ribu!

Sejak saat itu saya membatin, kayaknya saya gak akan berencana memakai henna saat menikah nanti. Duh, sayang uangnya. Hehe. Bayar mahal, terus bakal ilang begitu saja tanpa bekas. Lagian apa pentingnya sih? Kan gak mempengaruhi esensi dari pernikahan itu sendiri, kan?

Tapi itu dulu. Hati manusia mudah terbolak-balik, kan? Nyatanya beberapa bulan menjelang menikah, saya akhirnya kepincut juga pada foto-foto tangan ber-henna yang bertebaran di instagram. Apalagi saat melihat semakin banyak teman yang saat menikah memakai henna, makin pengenla, jelas!

Gayung serasa bersambut, ketika saya bertemu dengan seorang teman baru di tempat kajian yang punya ketrampilan meng-henna, bahkan sudah sering mendapatkan job henna untuk pernikahan. Saya sempat tanya-tanya. Biasanya dia pasang tarik sekitar tujuh puluh ribu per satu tangan, plus biaya transport tentunya. Ini yang bikin saya agak mikir. Dia tinggalnya di Semarang, sedangkan acara pernikahan saya di Jepara. Untuk jarak Semarang-Jepara yang cukup jauh, tentu saja butuh biaya transport yang juga lumayan. Hehe.

Saya lalu iseng-iseng googling henna pernikahan di Kota Jepara. Sayangnya, saat saya menghubungi salah satu nomor yang tertera di webnya, sama sekali gak ada respon :( Lalu saat saya sedang chit-chat dengan salah satu teman dekat saya sejak SMP, saya terbersit untuk tanya ke dia. Siapa tau dia punya rekomendasi. Dan benar saja, dia berjanji menanyakan nomor HP dari seorang peng-henna yang jasanya dipakai temannya yang baru menikah beberapa minggu sebelum saya.

Namanya Mbak Khadijah. Keturunan Arab, cantik banget. Ramah pula. Saya menghubunginya pertama kali lewat SMS, lalu selanjutnya kami bertukar Pin BBM. Dia memasang tarif enam puluh ribu per satu tangan. Dia juga minta tambahan transport lima puluh ribu. Meskipun sama-sama di Jepara, tapi rumah Mbak Khadijah di Jepara kota, sedangkan saya di pelosok. Hehe. Jadi saya cukup maklum. Finally, deal saya booking Mbak Khadijah di tanggal 6 Mei 2016 untuk meng-henna tangan saya. Yang butuh kontak jasa henna untuk pernikahan di Kota Jepara, hubungi saya ya =))

A photo posted by Rosa Susan (@rosalinasusanti) on

Beliaunya datang ba'da dhuhur waktu itu. Proses henna-nya gak terlalu lama, sekitar satu jam saja, lalu dilanjutkan prosespengeringan sekitar lima belas menit. Saya request model henna yang gak terlalu rumit waktu itu. Hasilnya cukup memuaskan buat saya pribadi, meski ada beberapa bagian yang sedikit kurang rapi.

Buat apa sih henna di hari pernikahan? Ya biar cantik aja sih. Hehe. Terutama saat di foto. Maklumlah, kan di hari pernikahan ceritanya kita adalah ratu, jadi harus istimewa dong tampilannya. Dengan catatan biayanya gak berlebihan aja sih kalau saya. Misal harga henna-nya tujuh ratus ribu saya kayaknya ogah =D

Tuu, jadi cantik kan (tangannya) =D

Kalau kamu gimana, mau pakai henna gak waktu nikah nanti?

Minggu, 18 Desember 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Keenam [27w] dan berbagai Drama yang Menyertainya

Alhamdulillah Ya Allah... Gak kerasa sekali sudah separuh lebih perjalanan kehamilan saya. Betapa bersyukurnya saya telah diijinkan untuk merasakan nikmat hamil ini.

Lagi-lagi, ini late post, tentang periksa kehamilan yang ke-enam pada tanggal 2 Desember 2016. Memasuki umur kehamilan 27 minggu ini, Alhamdulillah cenderung hampir gak ada keluhan. Em, kalaupun ada, paling migrain di pagi hari yang akan segera hilang dalam beberapa jam. Itupun Alhamdulillah udah gak saya rasakan beberapa hari terakhir.

Tapi, pada periksa kehamilan kali ini saya mendapat teguran sekaligus ultimatum oleh dokter. Gara-garanya, kami dibuat tercengang oleh angka timbangan yang menunjukkan kenaikan sebanyak 5 Kg sejak periksa kehamilan yang terakhir. Itu angka kenaikan yang berlebihan dalam sebulan, menurut dokter. Lalu dokter Retno bertanya apakah saya sering makan mie. Saya jawab tegas, tidak. Fiuhh, makan nyicip mie-nya mas suami dua sendok saja saya merasa bersalah sekali rasanya. Pertanyaan dokter berlanjut, apakah saya sering makan roti. Nah, kalo yang ini bikin saya meringis mengiyakan. Dalam sebulan ini, saya sering sekali makan roti. Gara-gara ibu mertua sempat masuk rumah sakit, rumah jadi kayak gudang roti dari para pembesuk. Ya siapa lagi yang menghabiskan kalau bukan kami yang sehat. Hehe. Setelah saya mengiyakan, dokter Retno tegas meminta saya berhenti ngemil roti, dan menghimbau untuk gak boleh ngemil selain buah.

Alhamdulillahnya, melalui pemeriksaan USG, berat badan adek bayi masih standar -- sesuai dengan umurnya. Tapi tetap saja dokter bilang kalau pola makan saya gak diatur mulai sekarang, bisa jadi di bulan-bulan terakhir berat badan adek bayi melonjak. Saat ini berat adek bayi sudah mencapai angka 1,02 Kg. Sehat. Lagi-lagi, Alhamdulillah. Ohya, soal keputihan, dokter tanya perkembangannya. Saya bilang tetap ada, tapi kuantitasnya sedikit. Menurut dokter retno, kalau sedikit dan gak berbau atau bikin gatal ya gak masalah.

Di akhir konsultasi, saya sempat bertanya kapan sebaiknya kalau mau USG 4D. Dokter Retno menyarankan akhir bulan Desember, atau awal Februari. Akhirnya, sebelum pulang saya mendaftar sekalian untuk USG 4D pada tanggal 22 Desember 2016, karna menurut petugas pendaftarannya kalau lebih dari tanggal itu usia kehamilan saya sudah terlalu tua untuk USG 4D. Takutnya jadi gak maksimal.

Konsultasi kami di periksa kehamilan ke-enam ini memang cenderung gak lama. Karna ya itu, Alhamdulillah saya hampir gak ada keluhan. Menjelang trimester ke-tiga ini, saya merasa enjoy. Mungkin karna badan saya sudah 'selesai' beradaptasi. Bengkak di kaki juga mulai berkurang.

Tapi, jalan cerita Allah memang sering sekali mengejutkan. Periksa kehamilan yang 'adem-ayem' tersebut, ternyata berlanjut dengan beberapa drama yang sama sekali gak terduga.

Drama Pertama

Rabu tanggal 7 Desember, saya masuk kerja seperti biasanya. Saya merasa sehat-sehat saja, sama sekali gak ada hal gak nyaman yang saya rasakan.

Sekitar pukul 10, saya ke dapur kantor untuk meminta tolong OB membelikan saya cemilan, karna lapar dan kebetulan lagi gak bawa persediaan cemilan dari rumah. Sekembalinya dari dapur, saya sekalian mampir toilet untuk pipis. Setelah pipis, saya terkejut melihat tissue yang saya gunakan untuk mengeringkan daerah kewanitaan berwarna merah. Saya coba sekali lagi, merah lagi. DEG, darah!

Jelas saya panik dan takut. Saya cari mas suami, ternyata gak ada di ruangannya. Akhirnya saya manggil mbak ipar yang juga kebetulan satu kantor. Sambil menangis, saya cerita bahwa saya pendarahan, dan memintanya mencari suami saya. Gak lama berselang, mas suami datang dengan wajah panik, dan langsung membawa saya ke UGD Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, ditemani mbak ipar juga.

Di UGD, seorang bidan mengecek detak jantung janin saya. Betapa lega ketika saya mendengar detak jantungnya masih sehat seperti biasa. Setelah ditensi, dll, saya dirujuk ke poly obsgyn untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Di poly obsgyn, saya diperiksa oleh dokter Yulice. Melalui USG, dokter mengatakan bahwa sebab pendarahan yang baru saja saya alami adalah karna letak plasenta saya rendah. Subhanallah :(

Sempat juga saya diperiksa 'dalam'. Alhamdulillah sudah gak ada tetesan darah. Tapi saya tetep harus waspada, karna kata dokter Yulice letak plasenta yang rendah bisa saja menyebabkan pendarahan lagi di lain waktu. Beliau meminta saya bedrest tiga hari, sekaligus menghimbau agar rencana mudik ke Jepara tanggal 10 Desember dibatalkan, setelah mas suami bertanya soal itu :(

Drama selanjutnya saya ceritakan di post yang berbeda, ya.. Sekaligus cerita tentang periksa kehamilan ke-tujuh.

Minggu, 11 Desember 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Kelima [22w6d]

Ini too late post banget. Soalnya periksanya aja sudah awal bulan lalu, dan bahkan sudah selesai periksa yang ke-enam. Hihi. Tapi saya tetep kekeuh pengen mencatat setiap tahapan periksa pada sebuah blogpost. Biar bisa di baca-baca lagi saat hamil kedua nanti 😁


Kalau pada periksa kehamilan ke-empat cukup banyak yang istimewa; di antaranya deg-degan sama hasil cek darah plus jenis kelaminnya si adek udah kelihatan, pada periksa kehamilan kali ini cenderung datar.

Eh, ada sih yang istimewa. Berat badan saya sudah melampaui angka 50 Kg teman-temaaan. Tepatnya 51 Kg. Yeaayyy 😀 Kenapa ini istimewa sekali?? Karena belum pernah sekalipun berat badan saya melampaui angka 45 Kg sebelumnya.

pipisnya gak kelihatan ya kalo di foto. haha
Si Adek juga kasih kejutan periksa kehamilan kali ini. Sewaktu di USG, ternyata dia lagi pipis, dan kelihatan di layar USG. Hahaha. Saya baru tau kalau janin dalam kandungan itu juga sudah pipis segala 😀

Soal keluhan, masih sama. Kaki bengkak tiap pulang kerja. Tapi saya sudah mulai terbiasa. Toh setelah dibuat tiduran, Alhamdulillah bengkaknya ilang. Soal keputihan juga masih tetep bikin resah. Salahnya, saya gak teratur pakai obat yang diresepkan oleh Dokter. Seperti yang saya ceritakan di catatan kehamilan sebelumnya, obat untuk keputihan yang diresepkan itu bukan untuk diminum, melainkan dimasukkan langsung melalui lubang Ms. V menjelang tidur malam. Efeknya, pagi-pagi ketika bangun tidur, gak nyaman banget rasanya. Berminyak dan... argh, pokoknya gak nyaman. Makanya saya agak malas-malasan pakainya.

Oleh karena itu, di periksa kali ini mas suami meminta dokter untuk meresepkan ulang, dan memaksa saya untuk lebih teratur dari sebelumnya. Baiklah 😏

Emm, terus apalagi ya. Ohya, beratnya adek bayi di usia 22 week ini Alhamdulillah sudah setengah kilo lebih. kata dokter itungannya lumayan endut. Sehat terus ya, Nak...

Udah sih, itu saja sepertinya cerita periksa kehamilan kali ini. Mohon doa agar saya dan janin diberi kesehatan serta keselamatan selalu ya, teman-teman 😊

Selasa, 29 November 2016

Perbedaan Gaya Komunikasi Antara Suami dan Istri


Pernah gak sebel sama suami karena suatu hal, tapi kita memilih untuk diam -- berharap suami bisa paham perasaan kita tanpa kita harus mengungkapkannya secara langsung?

Saya sering =D

Pernah gak pengin sesuatu, tapi gengsi untuk bilang, lalu memilih mengirimkan kode pada suami? Misal, lagi pengin diajak piknik, lalu kita nge-share artikel tentang pentingnya mengajak istri piknik di FB, berharap suami paham bahwa itu merupakan kode -- tapi sayangnya bahkan di bacapun enggak.

Lagi-lagi, saya sering =D

Dan ending dari semua itu rata-rata selalu sama. Saya yang semakin uring-uringan dan termehek-mehek karna merasa suami sama sekali gak peka. Gak ngerti perasaan istrinya. Berkali-kali pula suami menekankan, bahwa ia tak tau maksud dan keinginan orang yang diam, karna dia bukan dukun.

Atas kasus hobi kirim kode dan gagal menangkap kode ini, istri seringkali menuduh suami gak peka, sedangkan suami menganggap istri gak jelas. Hehehe.

Lalu saat kita (istri) sedang ingin menumpahkan segala hal yang terasa memenuhi hati dan pikiran. Pernah gak bukannya lega, kita malah dibikin bete karna suami menanggapi dengan berbagai nasehat dan solusi atas apa yang kita ungkapkan, sedangkan kita menganggap semua itu bukanlah solusi yang tepat. Lalu di akhir pembicaraan, dengan sewot kita menutupnya dengan satu pernyataan, 'kamu tu gak ngerti!'. =D

Pada saat yang lain, adakalanya suami tampak jauh lebih pendiam. Insting kita sebagai istri seringkali tau bahwa ia sedang menanggung sebuah beban pikiran. Lalu dengan segenap cinta kita menawarkan telinga untuk mendengarkan segala ceritanya -- seperti kita juga selalu menginginkan hal yang sama saat sedang ada masalah, tapi suami dengan cool-nya menjawab, 'gak ada apa-apa kok'. Kemudian kita terluka. Merasa ia tak percaya pada kita karna enggan berbagi masalahnya.

Pernah mengalami itu semua?

Meski belum lama berumah-tangga, saya sepertinya sudah pernah mencicipi itu semua. Pernah suatu hari, saya menyodorkan buku tentang pernikahan pada suami. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ketika perempuan (istri) sedang bercerita tentang masalah-masalahnya, ia sebenarnya hanya butuh didengarkan. Karena hanya dengan mendengarkan dengan baik, istri merasa sudah dibantu untuk menyelesaikan 75% masalahnya.

"Tuuu mas, jadi kalo aku lagi curhat mas jangan motong dengan nasehat-nasehat atau tawaran solusi, karna itu malah bikin aku bete!" begitu ucap saya.

Tapi saya kecele saat di sub-bab berikutnya dijelaskan bahwa seorang lelaki cenderung fokus untuk merenung dan mencari jalan keluar saat sedang ada masalah, bukan dengan bercerita. Saya malu pada diri sendiri, berarti saat suami gak mau cerita, bukan berarti dia gak percaya sama saya, tapi memang begitulah caranya menghadapi masalah.
Saya jadi ingat kata Ustadz Salim A Fillah dalam sebuah seminar pra-nikah yang saya tonton di Youtube. Beliau mengacu pada buku "Men Are From Mars, Women Are From Venus" karya John Gray. Bahwa laki-laki dan perempuan tumbuh dengan kemampuan linguistik yang jauh berbeda. Perempuan punya linguistik dan kepekaan perasaan luar biasa, sehingga membuatnya mampu (dan suka) mengungkapkan sesuatu secara terselubung, atau istilah masa kininya kode. Sedangkan kemampuan linguistik laki-laki gak cukup berkembang untuk bisa menangkap maksud-maksud terselubung yang dilemparkan perempuan.

Salahnya saya, bukannya menggunakan pengetahuan tersebut sebagai bekal memahami suami, saya malah menggunakannya sebagai 'senjata' untuk menuntut suami memahami saya.

Berulang-kali saya sewot karna suami gak juga paham saat saya mengirimkan kode, berulang-kali pula suami marah dan meminta saya ngomong dengan jelas tanpa perlu kode-kodean. Kalau dipikir-pikir, mengungkapkan sesuatu pakai kode memang bikin capek, kan? Tapi gimana ya, ada rasa gengsi yang gak bisa diungkapkan saat harus mengungkapkan sesuatu secara gamblang. Dan saya menggunakan teori 'laki-laki dari Mars, perempuan dari Venus' itu sebagai dalih pembenaran atas keengganan saya melakukan penyesuaian pola komunikasi dengan suami.

Tapi kemudian suami saya melontarkan teori yang bikin saya terdiam.

"Mas dari Mars, kamu dari Venus... tapi kita bertemu dan bersatu di Bumi. Jadi Ayok kita kesampingkan sifat-sifat bawaan kita dari Mars dan Venus, lalu sama-sama menggunakan sifat Bumi. Jadi bisa selaras." begitu katanya.

Ah, iya ya. Harusnya pengetahuan atas perbedaan yang saya, bukan saya gunakan sebagai senjata menuntut suami untuk memahami, tapi sebagai bekal agar bisa saling memahami dan menyesuaikan agar perbedaan  yang ada gak menjelma menjadi jarak yang semakin melebar.

Pernah gak punya pengalaman soal perbedaan komunikasi dengan pasangan? Share, yuk :)

Rabu, 23 November 2016

Lika-Liku Adaptasi di Masa-Masa Awal Pernikahan (Part. 2)



Di postingan sebelumnya saya bilang bahwa lika-liku adaptasi di masa awal pernikahan hanya terdiri dari penyesuaian kebiasaan yang bisa dibilang sepele. Sepertinya saya harus klarifikasi. Jujur saya akui, adaptasi di masa awal pernikahan ada kalanya terasa berat dan rumit. Tapi kembali lagi kuncinya tetap pada gimana sikap kita saat menghadapinya.



Lika-liku adaptasi akan semakin terasa dinamikanya jika setelah menikah kita harus tinggal di rumah mertua - karna satu dan lain hal. Bagaimanapun, saat tinggal di rumah mertua kita seperti punya 'beban mental' untuk menunjukkan pada mereka bahwa anaknya gak salah memilihkan menantu. Di sisi lain, kita harus tetap bisa menjadi diri sendiri agar tetap nyaman dan gak merasa teriksa.


Saya anak bungsu dari tiga bersaudara. Ibu kandung saya adalah sosok ibu yang terlalu baik, sehingga gak pernah memaksa anak bungsunya ini memegang segala macam pekerjaan rumah. Jadilah, saya tumbuh jadi gadis yang gak terbiasa dan gak lincah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Jujur saja bagian ini cukup saya sesali setelah menikah. Coba dari dulu saya membiasakan diri, pasti gak terlalu kaku setelah menikah. Jadi dulu saat masih tinggal di rumah, kegiatan sehari-hari saya: bangun subuh, sarapan sudah siap, kadang bantu nyapu ruang TV dan ruang tamu (itupun gak rutin), lalu berangkat sekolah atau kerja. Sore saat pulang sekolah atau kerja, mandi, makan malam, nonton TV, tidur. Saat mulai kerja di luar kota dan harus kost, kegiatan saya gak jauh beda -- lebih parah malah =D Bangun subuh, gegoleran di kasur sambil mainan gadget atau baca novel, mandi, sarapan, berangkat kerja. Pulang kerja sore, gegoleran di kasur, mandi, makan, ngrumpi sama temen-temen kost, tidur. Begitulah hidup saya di masa lalu.

Bisa bayangkan seperti apa lika-liku adaptasi yang harus saya lalui setelah menikah dan harus tinggal sama mertua? =D

Mertua saya dua-duanya rajin sekali. Bangun hampir selalu sebelum subuh. Saat habis sholat subuh saya turun (kamar saya dan suami di lantai dua, sedangkan mertua di bawah), ibu mertua saya sudah selesai nanak nasi, siap-siapin bahan masakan, beres-beres macem-macem. Lantai sudah kinclong, dan ternyata ibu mertua punya kebiasaan ngepel sebelum tidur, sedangkan menantunya yang cantik gak tau diri ini sudah bobok cantik di kamar. Bisa bayangkan betapa malunya saya? Gak usah ditanya seperti apa bingungnya saya di masa-masa awal menikah dulu -- ingung harus ngapain. Ini salah satu efek dari saya yang belum terbiasa dan terlatih mengerjakan aneka pekerjaan rumah tangga.


Alhamdulillah suami dan ibu mertua sabar membimbing saya =)) Perlahan-lahan saya mulai tau kalau pagi harus ngapain aja. Tapi, membiasakan diri untuk mengikuti pola bangun paginya mertua sungguh bukan hal mudah :( Mereka gak pernah menuntut dan memaksa saya untuk itu sih, tapi saya merasa butuh sendiri biar bisa lebih maksimal mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. Tapi apa daya, sampai sekarang usaha saya belum membuahkan hasil :(

Itu baru soal pola bangun tidur dan pekerjaan rumah tangga. Lika-liku lainnya saya rasakan soal lidah. Iya, lidah alias selera makan. Saya penggemar pedas. Lauk apapun kalau gak pedas rasanya hambar. Sedangkan keluarga suami terutama bapak-ibu mertua sama sekali bukan penggemar pedas. Di awal-awal masa pernikahan, ini cukup bikin saya galau. Hehe. Saya juga tipe orang yang kalau makan dengan lauk yang sama berturut-turut pasti langsung gak mood makan. Sedangkan ibu mertua tipe yang selama ada lauk yang belum habis, ya berarti makan itu lagi sampai lauk tersebut habis. Satu lagi yang lucu. Dari dulu saya sama sekali gak suka sayur lodeh. Dulu tiap ibu masak sayur lodeh, saya pasti ngambek gak mau makan. Sampai akhirnya beliau memilih untuk gak pernah masak sayur lodeh daripada saya ngambek. Sedangkan ibu mertua, saat belum tau saya gak suka sayur lodeh, dulu lumayan sering masak sayur tersebut. Berhubung masih baru banget jadi menantu, saya gak berani bilang gak suka. Ya sudah saya memaksa diri untuk tetap memakannya. Pernah juga saya disuruh masak sayur lodeh. Duh, gimana mau bisa kalao suka aja enggak, kan? Untung ada Mbah Google tempat saya bertanya =D Tapi dilema sayur lodeh sudah teratasi karna akhirnya mas suami membeberkan rahasia saya yang gak suka sayur lodeh. Hehe.

Itu cuma beberapa point tentang lika-liku adaptasi di masa-masa awal pernikahan. Di lapangan, tentu saja akan jauh lebih banyak dan beragam variasinya. Sekali lagi, bagi yang belum menikah, gak perlu takut apalagi parno. Lika-liku ini jika dihadapi dengan positif thinking akan menjadi salah satu fase pembelajaran yang luar biasa bagi kita. Terutama pelajaran tentang mengalahkan ego pribadi :) Saat sudah menikah, sudah bukan saatnya meletakkan ego pribadi di atas segala-galanya. Sudah bukan saatnya bilang 'Aku itu...", tapi harus mencari jalan tengah yang bisa membuat ego kita dan pasangan serta ego orang-orang di sekitar tak terkecuali mertua membaur menjadi satu perpaduan indah.

Yuk bagi cerita lagi bagi yang punya pengalaman lucu, menarik atau inspiratif tentang lika-liku adaptasi di masa-masa awal pernikahan :)

Jumat, 18 November 2016

Lika-Liku Adaptasi di Masa-Masa Awal Pernikahan (Part. 1)



Lika-Liku Adaptasi di Masa-Masa Awal Pernikahan. Bagi yang masih single dan sedang merencanakan pernikahan, bayangan awal masa pernikahan pastilah menjadi salah satu yang mendominasi pikiran. Masa-masa awal pernikahan adalah masa yang penuh bunga dan madu, begitu kata banyak orang. Gak salah sih, tapi juga gak sepenuhnya benar.

Baca juga: Cerita Tentang Seminggu Pertama Pernikahan

Memang di masa awal pernikahan gairah cinta masih amat menggelora. Dunia serasa milik berdua. Itulah potret yang sering kita tangkap saat melihat pengantin baru. Tapi bagi kita yang sudah menikah pasti tau, bahwa di balik itu juga ada dinamika dan lika-liku yang terkadang ingin kita simpan sendiri.

Dan lika-liku di masa-masa awal pernikahan itu bernama adaptasi.

Jangan dikira menikah dan hidup bersama dengan orang yang sangat kita cintai gak memerlukan adaptasi. Sayangnya cinta gak seampuh itu untuk mampu membuat dua orang atau lebih hidup bersama tanpa perlu adaptasi. Lha wong sama orangtua kandung yang hidup bersama sejak orok dan cintanya gak pernah kita ragukan saja kadang butuh adaptasi, kan?

Masa adaptasi di awal pernikahan, seringkali menguras perasaan. Gak perlu merasa parno bagi yang belum menikah. Yang menguras perasaan sebenarnya bukan hal-hal yang serem-serem kok. Kadang malah lebih sering hal-hal sepele. Contohnya...

Kita terbiasa selalu meletakkan barang ke tempat semula setelah digunakan, sedangkan pasangan kita terbiasa menaruh sembarangan.

Kita terbiasa memencet pasta gigi dari ujung bawah, sedangkan pasangan kita terbiasa memencetnya dari tengah.

Kita terbiasa dengan jam tidur yang teratur dan mengidamkan 'pillow talk' sebelum tidur, sedangkan pasangan kita terbiasa begadang dan menghabiskan waktu di depan komputer sebelum tidur.

Dan lain sebagainya...

Tuuu kan, apa saya bilang, cuma masalah-masalah sepele, kan? Saya bukannya gak punya gambaran tentang ini sih sebelum menikah. Saya melahap banyak buku-buku tentang pernikahan saat masih single, dan hal-hal di atas hampir selalu menjadi bagian dari isi buku. Tapi mengalaminya secara langsung ternyata tetep saja seru-seru gimanaaaa gitu. Meskipun lika-liku adaptasi di masa awal pernikahan kebanyakan hanya seputar masalah kebiasaan yang bisa dibilang sepele, tetep aja jangan dianggap remeh. Kalau kita gak punya kesiapan menghadapinya, lika-liku yang harusnya bisa terasa seru jika dihadapi dengan bekal kesiapan bisa menjadi sesuatu yang menguras air mata dan makan hati. Hehe.

Tapi sekali lagi, lika-liku adaptasi tersebut bisa kita transformasikan menjadi keseruan yang membuat suasana dengan pasangan jadi cair. Contohnya teman saya. Gara-gara suaminya yang kebiasaan menaruh handuk sembarangan setelah mandi, akhirnya teman saya memberlakukan sistem denda. Siapa di antara mereka yang lupa menaruh handuk ke tempatnya, harus bayar denda yang dimasukkan ke sebuah tempat khusus yang telah dipersiapkan. Apa cara itu efektif? Yup! Ternyata dengan sistem denda, si suami teman saya itu jadi termotivasi dan merasa malu kalo harus bayar denda, meski nominal gak seberapa. Yang bikin makin seru, ketika suatu saat teman sayalah yang lupa menaruh handuk. Derai tawa dan saling bully pun tak terelakkan =D

Saya sendiri pernah menangis tersedu-sedu pada suatu malam. Apa sebabnya? Malam itu saya punya kewajiban menyetrika baju yang sudah semakin menggunung, padahal saya sudah pengeeennn banget selonjoran di kasur sambil FB-an #halah. Kalau gak salah saat itu belum ada dua bulan saya menikah, jadi 'jiwa single' saya masih kental. Biasanya jam segitu saya sudah leyeh-leyeh di kasur sambil mainan HP, eehhh itu harus nyetrika dan kuantitasnya dobel karna yang saya setrika sekarang gak cuma baju saya, melainkan ditambah baju suami saya. Padahal dulu nyetrika baju sendiri saja selalu dadakan saat mau dipakai -_- Itulah sebabnya saya menyetrika sambil menangis saat itu. Kok nikah seberat ini, gitu pikir saya. Haha. Saat suami datang dan bertanya kenapa saya menangis, saya ngakunya kangen sama ibu. Buahahaha. Gak mungkin lah saya ngaku, jaim dikit lah =D

Yah, begitulah. Sesungguhnya di balik status-status berbunga-bungan serta postingan foto romantis pasangan pengantin baru yang mewarnai timeline FB kita, ada perjuangan untuk beradaptasi dibaliknya. Hihihi. Tapi ya gak usah dinyinyirin lah, jauh lebih bagus mereka mengumbar kebahagiaan di timeline, daripada mengumbar keluhan atau nyinyiran, hayoo??

Yang punya pengalaman serunya adaptasi dengan pasangan di awal pernikahan, share yuk :)

Selasa, 08 November 2016

Catatan Kehamilan: Periksa Keempat [19week]

Catatan kehamilan tentang periksa keempat nulisnya telat pakai banget. Sebulan! Haha. Bahkan kemarin saya barusan periksa kehamilan yang kelima =D Tapi gak papa, saya pengen tetep nulis lengkap dan berurutan :)

Periksa kehamilan yang keempat sebenarnya kami (saya dan Mas Suami) niati tanggal 4 Oktober, dengan jadwal tes laboratorium terlebih dahulu. Menurut info yang kami terima dari dokter Retno pada periksa kehamilan sebelumnya, hasil tes laboratorium bisa keluar satu-dua jam setelah dilakukan tes. Maka beliau merekomendasikan saya tes lab sore hari sembari menunggu beliau mulai praktek. Saya dan Mas Suami pun mengikuti anjuran tersebut.

Baca: Catatan Kehamilan Periksa Ketiga [14week]

Tanggal 4 Oktober 2016, sepulang dari kantor kami langsung menuju RSIA Kusuma Pradja. Setelah daftar untuk tes lab sekaligus periksa dengan dokter Retno, kami dipersilakan menuju lab RSIA Kusuma Pradja yang terletak di lantai dua. Saat bertemu dengan petugas lab dijelaskan bahwa ternyata untuk tes TORCH hasilnya gak bisa langsung jadi, melainkan baru bisa jadi sehari setelah tes, alias besok sore. Seperti yang saya ceritakan di catatan kehamilan sebelumnya, saya berkeinginan melakukan tes TORCH meskipun gak lengkap (karna mahal). Setelah diskusi sama suami, kami akhirnya sepakat periksanya besok sore aja, setelah hasil lab jadi, biar bisa sekalian ditunjukkan hasilnya pada dokter Retno. Jujur agak kecewa sore itu, soalnya sudah gak sabar pengen ketemu si adek melalui layar. Jadi sore itu akhirnya cuma diambil darah sama urine aja.

Sore hari berikutnya -- tanggal 5 Oktober -- kami datang lagi ke RSIA Kusuma. Hasil tes lab sudah jadi, an diambil di loket pendaftaran. Dag dig dug baca hasil lab-nya, terutama bagian TORCH-nya. Sekitar setengah tujuh malah, nama saya dipanggil. Setelah dokter Retno membuka hasil lab-nya, beliau bilang semua bagus. Untuk bagian tes TORCH-nya menunjukkan bahwa saya belum pernah terinfeksi virus tokso maupun rubella. Alhamdulillah, lega. Tapi kata dokter Retno itu malah artinya badan saya belum punya antibodi terhadap dua virus tersebut. Sedangkan untuk virus CMV-nya menunjukkan saya sudah pernah terinfeksi di masa lampau, dan itu artinya saya sudah punya antibodi terhadap virus tersebut. Pesen dokter Retno, positif thinking aja. Yang penting berusaha untuk selalu jaga kondisi. Yang lain-lain Alhamdulillah bagus semua, termasuk protein dalam urine, Alhamdulillah negatif. Doakan saya sehat selalu, ya :)


Soal keputihan, ini cukup bikin saya resah karna masih saja berlanjut. Meski gak berbau dan gak bikin gatal, tapi warnanya yang agak kekuningan bikin saya cukup galau. Lalu dokter Retno meresepkan sebuah obat, tapi tidak untuk diminum melainkan dimasukkan ke Ms. V. Bismillah, semoga dengan perantara obat tersebut keputihan saya sembuh. Aamiin. 

Nah, sekarang masuk ke bagian terfavorit sekaligus paling bikin grogi, yaitu USG. Pertama dokter Retno menunjukkan bagian-bagian tubuhnya si adek yang terlihat di layar. Alhamdulillah sudah terlihat dua tangannya dan dua kakinya. Telapak kakinya terlihat jelas sekali, Masya Allah... seneng :') Terus saya nyeletuk tanya, "jenis kelaminnya udah kelihatan belum, dok?". dokter Retno senyum, bilang belum. Beberapa saat menggerak-gerakkan alatnya lagi, tiba-tiba beliau senyum. "Eehh, sudah kelihatan ternyata kelaminnya!". Saya langsung semangat, "Cewek apa cowok, dok?". dokter Retno tersenyum. "Cowok, Insya Allah," jawabnya.


Huaaaa... mata saya berkaca-kaca. Hati saya buncah. Entah kenapa sejak awal hamil saya udah feeling banget si jabang bayi yang ada dalam perut saya adalah cowok. Padahal saya dan Mas Suami netral aja sih, gak ada keinginan yang condong banget ke cewek atau cowok. Apapun, asalkan sehat, selamat dan sempurna itu sudah lebih dari cukup bagi kami.

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang harus kami dustakan? :')

Senin, 24 Oktober 2016

Agar Tetap Bahagia Meski Tinggal Bersama Mertua


Setelah menikah, idealnya langsung tinggal terpisah dari orangtua, meskipun harus ngontrak. Begitu kata beberapa orang. Lebih ideal lagi kalau sudah punya rumah sendiri ya. Tapi itu kan kondisi idealnya. Sedangkan hidup seringkali memaksa kita untuk gak selalu ada di kondisi ideal tersebut.

Bagaimana jika ternyata suami kita adalah seorang anak tunggal atau anak bungsu, sedangkan orangtuanya sudah lanjut usia. Hanya suami kitalah yang diharapkan untuk bisa menemani mereka di hari senja. Apa iya kita sebagai istri akan tega memaksa tinggal terpisah dari orangtua suami alias mertua kita, demi bisa ada di kondisi ideal di atas? Apa kabar hati nurani?

Baca juga: WHAT, Tinggal Sama Mertua??!!

Sedangkan di sisi lain, tinggal bersama mertua merupakan momok yang menghantui banyak orang. Pasti sudah banyak yang tau atau pernah mendengar cerita tentang banyaknya kisah lika-liku tinggal bersama mertua. Sebagian kisah yang pernah saya dengar rasanya seperti menggambarkan bahwa mereka yang tinggal bersama mertua susah sekali bahagia. Padahal kebahagiaan itu hak semua orang. Apa iya hak berbahagia jadi gak bisa kita dapatkan saat tinggal bersama mertua? Harusnya tidak ya!

Dulu saya sempat berpikir begitu sih. Parno setengah mati saat tau bahwa setelah menikah kemungkinan besar saya harus tinggal dengan mertua. Merasa saya akan sulit bahagia. Tapi, dari hasil sharing dengan teman, membaca dan pengalaman pribadi #cieh, saya akhirnya menyimpulakn beberapa point agar kita tetap bahagia meski tinggal dengan mertua. Apa aja pointnya? Yuk, simak!

Luruskan Niat

Yang muslim pasti tau, bahwa surganya perempuan yang sudah menikah itu ada pada suami kita. Sedangkan surganya suami kita tetap berada pada ibunya -- yang berarti mertua kita. Maka dari itu, salah satu kewajiban seorang istri adalah mendukung dan membantu suami untuk meraih ridho ibunya dengan berbakti.

Nah, karna setelah menikah kita dan suami merupakan satu paket tak terpisahkan, maka saat kita berbakti pada mertua sama saja dengan membantu suami berbakti pada orangtuanya. Iya, kan? Maka, saat harus tinggal bersama mertua niatkanlah untuk membantu suami berbakti pada orangtuanya. Yakinlah bahwa keputusan tinggal bersama mertua tersebut merupakan ladang amal bagi kita. Anggap mertua seperti orangtua kita sendiri, agar gak ada perasaan terpaksa.

Tetaplah Jadi Diri Sendiri

Ini penting sekali! Jangan pernah coba-coba menjelma jadi orang lain karna tinggal bersama mertua. Biasanya hal ini terjadi saat masa-masa awal karna masih merasa harus jaim alias jaga image. Kalau kita terus-menerus jaim, hanya perasaan gak nyaman yang akan kita dapatkan.

Di rumah, saya gak pernah ngepel. Saya cerita terus terang pada ibu mertua tentang ini. Wallahu a'lam penilaian beliau bagaimana. Tapi saat memang ada waktu dan lantai memang butuh dipel, saya gak segan mencoba mengepel (meskipun kikuk karna gak terbiasa). Yang jelas, saya ngepel karna saya memang mau dan ingin. Bukan karna agar dipandang mertua begini dan begitu.

Berusaha menjadi lebih baik itu harus, tapi jangan sampai membuat kita gak menjadi diri sendiri. Berusahalah melakukan yang terbaik, tanpa menjelma jadi orang lain. 

Gak Perlu Semua Hal Dimasukkan ke Hati

Sebenarnya ini gak hanya berlaku bagi kita yang tinggal bersama mertua, ya. Hidup kita akan sangat gak tenang jika semua-mua kita masukkan ke hati. Mari belajar untuk menyaring mana yang perlu masuk ke hati, mana yang gak perlu. Karna memasukkan semua ke hati hanya akan membuat hidup kita tersiksa dan gak bahagia.

Apalagi dalam hubungan berkeluarga -- termasuk dalam hubungan dengan mertua. Mertua adalah seseorang yang belum terlalu kita kenal. Belum terlalu tau seluk-beluk diri kita, pun sebaliknya. Apalagi rentang umur yang jauh, pasti berimbas pada berbagai perbedaan cara berpikir, cara menanggapi sesuatu, dll. Jadi jika sekali waktu ada perbedaan pendapat atau gesekan, itu wajar sekali. Jangankan sama mertua, sama orangtua kandung sendiri pun kita sering bergesekan, kan? Maka...

Baca Juga: Tips Membangun Hubungan Baik Dengan Mertua

Jangan Mendramatisir

Yup... Maka, jangan mendramatisir saat terjadi permasalahan. Karna itu akan membuat masalah kecil jadi besar, percikan kecil jadi bara. Kalau suatu waktu terjadi sedikit beda pendapat, misalnya. Setelah saling mengungkapkan pendapat ya sudah, jangan didramatisir dengan cara update status di facebook lah, curhat ke sana-sini lah. Yakin, kita gak akan mendapatkan solusi, malah akan membuat semua semakin menjadi-jadi. Beda pendapat dengan siapapun itu sangat-sangat lumrah, kan? Atau saat ibu mertua mengkritik masakan kita. Jangan didramatisir dengan menganggap ibu mertua gak suka sama kita, cerewet, jahat,  kejam, tega, dan lain sebagainya. Cukup sadari saja bahwa lidah orang itu beda-beda. Selesai.

Lebih Baik Diam dan Mengalah

Diam lebih baik daripada emas. Mengalah itu bukan berarti kalah. Saat terjadi perbedaan pendapat dengan mertua, gak ada salahnya bagi kita sebagai menantu (anak) diam dan mengalah. Diam dan mengalah bukan berarti harus menyetujui pendapat beliau kok. Hanya saja jauh lebih baik bagi kita untuk menghindarkan diri dari debat. Bagaimanapun, mertua seringkali punya sisi egoisme sebagai orangtua yang kurang suka didebat pendapatnya. Ini lagi-lagi bukan gak hanya ada pada mertua sih menurut saya, orangtua kita sendiri pun kadang begini, kan?

Yang jelas, gak peduli apakah kita tinggal bersama mertua, tinggal di kontrakan atau langsung di rumah pribadi setelah menikah, kita semua tetap punya hak yang sama untuk bahagia. Dan yang paling menentukan hal itu adalah cara kita menyikapi keadaan dan mengelola hati. Gak usah kecil hati saat kita harus tinggal bersama mertua. Bisa jadi hal itu akan mendewasakan kita agar menjadi lebih tangguh menghadapi berbagai macam lika-liku berumah-tangga. Jadi, yuk bahagia! :)