Rabu, 02 Mei 2018

Ketika Faza Mengingatkan


Tadinya saya bingung mau ngasih judul apa untuk postingan kali ini. Karna sejujurnya, di postingan kali ini saya mau cerita setengah-setengah halu khas orangtua baru, sekaligus nulis milestone-nya Faza di usia setahun yang kelewatan saya tulis di sini dan di sini.

Sebagai orangtua, tentu saja saya (dan suami) sangat ingin menanamkan berbagai kebiasaan baik pada anak kami. Iya lah, kayaknya semua orangtua juga ingin melakukan hal yang sama kan?!

Kebiasaan baik yang ingin kami tanam paling dini pada Faza adalah kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan penanaman aqidah, karena kami muslim.

Nah, sejak Faza bayi, saya selalu membiasakannya untuk berdoa. Mau nenen, doa dulu. Mau tidur, doa dulu. Bangun tidur, doa juga. Mau keluar rumah, doa dulu. Naik kendaraan, doa juga. Dan seterusnya. Doanya tentu saja yang yang ngucapin, sembari tangannya Faza saya angkat ke posisi berdoa. Setelah selesai berdoa, tangannya saya usapin ke muka. Meski suami bilang, gerakan mengusapkan tangan ke muka setelah berdoa itu gak ada tuntunannya ya. Hehe.

Saat Faza masuk ke fase meniru -- lupa tepatnya umur berapa, hiks -- tiap ditanyain, "Faza kalo berdoa gimana?", pasti tangannya langsung diangkat, dilanjut dengan mengusapkan tangannya ke muka. Huhu, sumpah lucu sekalii. *biarin muji anak sendiri* 😋

Yang bikin kamu trenyuh, adakalanya saat kami lupa berdoa, sekarang justru Faza yang mengingatkan kami.

Misalnya saat mau pergi naik mobil. Saya asyik ngobrol sama ayahnya. Eh Fazanya angkat tangan ke posisi berdoa, sembari menggumam, "eh eh eh", seolah berdoa. Saya dan mas suami saling berpandangan. Malu sekaligus terharu. Malu karna lupa berdoa. Terharu karna Faza sudah bisa mengingatkan kami.

Selain berdoa, Faza juga sudah fasih menirukan gerakan takbiratul ihram. Yang ini kami gak mengajarkan secara langsung. Dia belajar sendiri karna sering melihat kami sholat.

Yang lumayan bikin jleb, setiap dengar suara adzan, pasti Faza langsung takbiratul ihram -- menandakan dia sudah paham bahwa adzan adalah tanda datangnya waktu sholat. Ini bikin saya dan ayahnya malu banget. Seasyik apapun Faza bermain, begitu dengar suara adzan pasti langsung takbiratul ihram. Seolah ngingetin ayah-ibunya untuk segera sholat. Huhu.

Kejadian kayak gitu terjadi berulangkali. Dan saya masih selalu terharu dibuatnya. Lalu saya mikir. Padahal baru berdoa yang kami ajarkan dan tanamkan. Kalau kami (saya dan ayahnya) bersungguh-sungguh menanamkan lebiiihhhh banyak lagi kebaikan pada diri Faza, maka secara gak langsung menyiapkan benteng untuk diri kami sendiri.

Sayangnya, orangtua kadang punya ego. Gak selamanya diingatkan oleh anak itu bisa diterima dengan hati lapang. Hari ini mungkin saya terharu ketika Faza mengingatkan kami untuk berdoa atau sholat, karna dia masih lucu

Tapi gimana dengan nanti? Ketika Faza mengingatkan kami saat usianya sudah remaja atau dewasa? Masihkah kami menerimanya dengan sukacita, atau justru tersinggung merasa ego kami diusik? 😔

Harusnya kita orangtua gak perlu tersinggung ya ketika anak mengingatkan, karna status sebagai orangtua gak menjadikan kita serta-merta gak mungkin salah, kan? Orangtua gak selamanya benar, begitu juga anak yang gak selalu salah.

Semoga saya selalu ingat tentang ini 😌






Rabu, 25 April 2018

Virgin Island: Keindahan Pulau yang Masih Perawan di Thailand

sumber: skyscrapercity.com

Seandainya sekarang punya tiket pesawat promo ke luar negeri, bakal ke negara mana kakimu akan melangkah? Dengan semakin gencarnya pariwisata dari berbagai daerah, sudah mulai mustahil untuk menemukan keindahan tanpa khawatir terganggu privasi. Hampir semua tempat selalu dipenuhi oleh wisatawan, bahkan sampai yang berada di daerah pelosok sekalipun.

Tapi kalau kamu masih tetap ngotot mau berangkat dengan tiket pesawat promo dari Traveloka, ada satu tempat yang wajib dikunjungi, Virgin Island. Sebuah pulau di Thailand yang dikenal dengan pantai, pasir putih, hingga laut biru yang sangat indah. Semuanya dinikmati dengan tenang, tanpa khawatir terganggu oleh pengunjung lain.

Yuk, berkenalan lebih dekat dengan alam Virgin Island dengan mengetahui beberapa fakta uniknya di bawah ini.

sumber:mashable.com

Cuma Untuk yang Menginginkan Privasi

Kalau kamu pengen pergi ke pantai untuk mejeng, sebaiknya jangan ke Virgin Island. Ini adalah pantai untuk yang mendambakan ketenteraman. Bahkan saking terjaga privasinya, katanya masyarakat Thailand pun juga jarang yang tahu tentang pantai indah ini. Nah loh?!

Berada di Taman Nasional

Salah satu alasan mengapa Virgin Island, atau juga dikenal dengan sebutan Koh Tachai – tetap terjaga kelestariaannya adalah karena merupakan kawasan Taman Nasional Thailand. Bahkan pantai ini nggak terus-terusan terbuka untuk publik. Berdasarkan kebijakan konservasi Thailand dan agar kelestariannya tetap terjaga, pulau ini hanya dibuka selama setengah tahun saja.

Pulau Kecil yang Bikin Jatuh Cinta Sejak Pandangan Pertama

Keindahan Virgin Island memang sangat memesona. Saking cantiknya, kamu bakal jatuh cinta sejak pandangan pertama. Sebuah pantai dengan pasir putih dan laut yang jerih, yang akan membuatmu terpana saat menginjakkan kaki pertama kalinya di tempat ini. Panjang pantainya juga hanya 800 meter, bisa kamu jelajahi seharian sambil berjalan kaki. Datanglah di musim panas agar petualanganmu betul-betul sempurna, ditemani langit yang biru cerah.

dumber:mashable.com

Berpetualang dan Belajar di Virgin Island

Bukan hanya menawarkan bersantai di pantai, bareng seorang guide, kamu bisa memelajari ekologi yang ada di Virgin Island. Jelajahi hutan yang ada di pulau ini dan temukan berbagai satwa menarik yang, mungkin, hanya bisa kamu temukan di tempat ini. Beberapa di antaranya adalah Siput Jamrud, dengan warna kehijauannya yang bikin gemas, sayang nggak boleh dibawa pulang. Selain itu ada juga kepiting pengembara, atau Umang-Umang, yang konon memang suka ‘traveling’ ke mana-mana sambil membawa rumah cangkangnya yang besar.

Snorkeling di Virgin Island

sumber:similandivingclub.com
 
Jauh-jauh menemukan Virgin Island sampai ke Thailand dengan tiket pesawat promo, jangan hanya jalan-jalan di tepi pantainya saja. Kamu harus nikmati panorama bawah lautnya yang memesona. Pasang perlengkapan snorkeling dan nikmati suasana kehidupan dalam air Virgin Island. Selain karang dan ikan dengan warna-warni menarik, bersiaplah bertemu dengan ikan pari, kepiting, siput laut yang cantik, dan masih banyak lagi lainnya.

Itulah cara terbaik untuk memanfaatkan tiket pesawat promo, yaitu dengan memilih Thailand dan menikmati indahnya Virgin Island di musim panas nan ceria. Segera rencanakan petualanganmu ke sana. Booking semua akomodasi jauh-jauh hari biar dapat harga yang lebih murah dan nyaman di kantong.

Selasa, 10 April 2018

#CeitaFaza: 13 Bulan, Cerita Tantrum Pertama

Credit: Pixabay.com
Kemarin pagi, saya dan mas suami melongo dan tercengang. Gimana enggak? Tanpa aba-aba dan pemanasan, Faza tiba-tiba TANTRUM.

Tantrum untuk pertama kalinya, di usia tepat 13 bulan. Oh, sungguh kebetulan yang sangat manis =D

Apa pemicunya?

Dia pengen mainan air di bawah kran air tempat wudhu subuh-subuh, gengs. Ya saya gak bolehin lah! Ohya, FYI, Faza ini anak rajin sejak lahir. Dia selalu bangun sebelum subuh.Errrr -_-

Jadi ceritanya, dia tadinya mainan mobil-mobilan di dekat saya yang lagi nyetrika bajunya. Ehh tiba-tiba dia ngesot ke belakang. Feeling saya langsung tau sih, dia pasti mau mainan air. Karna akhir-akhir ini dia emang lagi seneng banget main air di situ.

Terus saya angkat. Dan, jedeerrr tangisnya pecah! Nangis yang gak kayak biasanya dia nangis. Tangisa marah dan penuh kekecewaan. Halah. Bener-bener baru pertama dia nangis seheboh itu. Biasanya selalu kalem seperti ibunya 😂

Saya dan ayahnya beneran sempet melongo saling berpandangan. Kayaknya kami sama-sama sadar. Fase itu telah datang. Fase yang sudah berulang-kali kami diskusikan, karna merasa butuh banget mempersiapkan diri untuk itu. Dan sekarang sudah waktunya praktek! Omaigad.

Kami bisa dibilang kaget sekali karna gak nyangka fase ini akan datang secepat ini. Saya kira tantrum itu akan terjadi ketika usia anak sekitaran 2 tahun. Setelah baca-baca, katanya tantrum dimulai umur 14 bulan. Tetep kecepetan sebulan kan berarti. Huft.

Lalu apa yang kami lakukan untuk menenangkan Faza yang tantrum?

Yang pertama ayahnya berusaha mengambil alih dia dari gendongan saya, karna anaknya terus memberontak dan saya mulai kewalahan. Setelah dipegangi ayahnya, tangisnya malah makin menjadi.

Beberapa usaha yang dilakukan ayahnya mentah. Faza masih tetap menangis dan berteriak. Kami sempat saling berpandangan lagi. Beneran bingung, mak, kudu ngapain. Hahaha. Maklum, belum punya pengalaman.

Kalau yang kami pelajari selama ini kan kalo anak lagi tantrum katanya suruh dibiarin aja. Ditunggu sampe dia tenang sendiri. Tapi kayaknya kalo seumur Faza kok saya gak tega untuk membiarkan.

Saya berusaha mengalihkan perhatian Faza dengan hal-hal yang biasanya menarik buat dia.

Yang pertama, bola.

Mentah. Dilempar dengan marah sama anaknya. Hahaha.

Kedua, Hafidz Doll.

Gagal. Hampir dibanting, tapi sigap saya tangkap. Enak aja, ibu belinya aja nyicil 10 kali, naaakk!

Ketiga, kipas angin. Dia suka banget muter-muter kipas angin.

Dan, YES berhasil. Dia langsung diem, asyik muter-muter kipas angin.

Saya dan ayahnya buang napas lega. HOSH! Sambil liatin Faza asyik mainin kipas angin.

Eeehh lha kok tiba-tiba mulut saya gatel. Saya bergumam, "Nak, kok nangis teriak-teriak kayak tadi kenapa to?"

Faza noleh, melihat saya. Lalu... JEDEERRR, NANGIS HISTERIS LAGI! 😂😂😭😭

Antara nyesel, geli dan merasa bodoh bercampur jadi satu. Mas suami jelas langsung ngomelin saya. Ibaratnya, kecewanya belum bener-bener ilang, eh udah diingetin lagi. Ya nangis lagi lah. Haha.

Tapi saya langsung mikir cepet. Dialihin apa lagi, karna kipas angin udah gak gak menarik lagi sekarang.

Aha, BUKU!

Saya sodorin buku yang jarang banget saya sodorin ke dia karna bukan boardbook, takut sobek. Hehe, maklum, saya over-protektif kalo sama buku. Dan Alhamdulillah berhasil. Dia langsung semangat sekaliii bolak-balik halaman bukunya sambil bergumam entah-apa.

Alhamdulillah.

Kali ini saya mengunci mulut biar ga ngomong macem-macem. Trauma ih, nanti Faza nangis lagi 😂

Yah, sekian. Cerita 13 bulan kali ini cukup tentang tantrum pertama saja. Haha.

Kalau kalian gimana mak ngadepin anak yang lagi tantrum? Ceritain dong 😊

Kamis, 05 April 2018

#BincangKeluarga: Dia Mars, Aku Venus

Menikah itu rumit, katanya. Rumit, tapi banyak yang pengen. Wkwkwk.

Iya sih, rumit. Bayangin aja. Dua orang dengan dua kepala beserta isinya, dengan jenis kelamin berbeda, lahir dan tumbuh bersama ayah-ibu yang berbeda, lalu menjalani sekian tahun kehidupan di circle masing-masing. Lalu tiba-tiba mereka harus hidup bersama sepanjang hayat. Bayangkan seberapa banyak perbedaan yang harus mereka sepakati?! Mendeskripsikannya saja rumit sekali. Haha.

Meminjam istilahnya Pakdhe John Gray, laki-laki itu dari Mars. Sedangkan Perempuan dari Venus. Jauh sekali, kan?! Makanya gak perlu heran -- terutama bagipasangan pengantin baru -- jika menjumpai banyaakkk perbedaan antara dia dan pasangan. Bukan berarti gak jodoh kok!


Baca punya Ade

Kalau banyaknya perbedaan seketika diartikan sebagai gak jodoh, ya bubar jalan. Perbedaan -- terutama karakter -- itu sebuah keniscayaan deh kayaknya dalam sebuah rumah tangga.

Termasuk rumah tangga saya sendiri. Saya dan paksu itu bumi-langit. Ya itu tadi. Dia Mars, Aku Venus. Kadang sebel, gak jarang juga saling emosi. Tapi hanya sesaat. Selebihnya, kita tertawakan bersama saja perbedaan antara kami berdua.

Hidup udah berat, cuy! Ngapain diisi dengan uring-uringan. sudah, tertawakan sajalah. Hahaha.

Biar kalian ikut tertawa, sini saya ceritain beberapa perbedaan antara saya dan suami.

Baca juga: Perbedaan Gaya Komunikasi Antara Suami dan Istri

Rapi VS Berantakan

Saya beberapa kali membaca dan mendengar cerita tentang pasangan baru. Kebanyakan, si istri mengeluhkan kebiasaan suaminya yang kalau naruh sesuatu brak bruk, sembarangan. Terutama handuk.

Saya? Sebaliknya. Saya tipe yang kalau naruh sesuatu sembarangan. Sedangkan suami sebaliknya. Semua ada tempatnya, dan beliau konsisten. Entah berapa puluh kali beliau melihat body lotion saya tidak pada tempatnya -- belum ditutup pula! Karna tiap saya selesai pakai, yasudah tinggalkan begitu saja. Lupa.

Baca juga: Lika-Liku Adaptasi di Masa Awal Pernikahan

Search Engine

Lalu ada yang bilang bahwa istri itu bak search engine bagi suami dan anak-anaknya. Kaos kaki lupa naruhnya, tanya ke istri. Jam tangan lupa nyimpannya, tanya ke istri, dst. Lagi-lagi, beda dengan saya dan suami.

Bagi saya, suami sayalah search enginenya =D

"Yah, potongan kuku di mana, ya?"

"Aduh, daleman jilbabku di mana ya yah kemarin?"

Dst 😂

Kalau bepergian...

Kalau yang dapet jatah packing saya, bisa dipastikan akan banyaakkk barang yang tertinggal. Kata mas suami, ingatan saya itu gak pernah bisa dipercaya 😂

Sedangkan kalau yang packing mas suami, bisa dipastikan lengkap kap kap. Saking lengkapnya, bawaan jadi seabrek. Mas suami penganut prinsip, gak papa repot bawa asal apa yang dibutuhin kebawa. Daripada bawaan dikit, tapi kerepotan saat butuh sesuatu.

Terus apalagi yaa?

Kalau mau dijembreng di sini semua sih gak akan ada habisnya. Yang jelas, kami itu berbeda, se-berbeda makhluk dari dua planet yang berjauhan. Mars dan Venus.

Tapi kalau kata Mas Suami, karna saya dari Venus sedangkan beliau dari Mars, maka kami janjian di bumi, biar bisa bersatu.

Janjian di bumi itu berarti kami harus sama-sama ada usaha biar yang tadinya beda jadi ada titik temu. Saya dari Venus harus usaha sampai bumi, begitupun dia yang dari Mars. Jadi gak boleh ada pihak yang cuma diem gak melakukan apa-apa, tapi cuma nuntut pasangan kita untuk menyesuaikan kita.

Kesimpulannya, nikah itu rumit kalau masing-masing pribadi kekeuh mempertahankan egonya sendiri tanpa mau berusaha saling mengerti dan menerima.

Ceritain perbedaan lucu antara kamu dan pasangan di kolom komentar dong 😊

Kriteria Baju Lebaran Untuk Ibu


 


Ternyata gini ya kalau sudah jadi ibu. Segala sesuatu harus memakai pertimbangan. Tidak terkecuali saat memilih hendak memilih baju lebaran, ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi.

Ramadhan aja belum, eh yang diomongin udah baju lebaran 😅 Ya gapapa dong. Kalau menurut saya malah mending mikirin baju lebaran sekarang. Pilihan masih banyak, harga masih wajar, jasa ekspedisi belum overload, dan yang terpenting nanti ramadhan udah gak ribet lagi mikirin baju lebaran. Hehe.

Kenapa setelah jadi ibu milih model baju lebaran harus ada kriteria tertentu?

Tentu dong. Demi peran sebagai ibu yang tetap bisa dijalankan dengan baik saat bersilaturahim di hari nan fitri nanti. Berikut ini adalah beberapa kriteria yang menurut saya harus terpenuhi.

1. Busui friendly


Ini wajib banget ya, khususnya untuk buibu yang masih menyusui. Kalo gak busui friendly terus gimanaa kalo si bocah pengen nenen kan?

Faza anak saya sebenernya udah cukup gedhe sih (setahun), jadi bisa sih sebenernya dikasih minum pakai botol. Tapi, tau sendirilah gimana bocah. Kalau nempel emaknya pasti nenen terasa jauh lebih menggoda 😅

Jadi ambil amannya, yasudah tetep kriteria busui friendly harus terpenuhi

2. Bahan yang comfy

Harga mati juga ya ini. Big no untuk baju sebagus apapun modelnya, tapi bahannya gak nyaman dan gak nyerah keringat. Bukannya jadi cantik dan anggun, bisa-bisa malah jadi cranky 😂

Ya gimana lagi. Ibu-ibu – terutama yang masih punya anak balita – kan pasti harus lari-larian ngejar si bocah yang jiwa eksplorasinya sedang membara.

Atau kalau saya, harus gendong Faza yang beratnya 10 Kg lebih. Apa kabar kalau saya pakai bahan yang gak nyerap keringat? Kecut dan kucel pastinya, sis!

3. Simple

Ini masih berhubungan erat dengan tugas mengejar atau menggendong bocah.

Dulu saat masih single atau pas anak belum lahir, model baju lebaran favorit saja adalah gamis lebaaarrr yang kalau ditiup angin melambai-lambai gitu. Halah.

Sekarang? Mikir ulang deh kayaknya kalau mau milih model gitu lagi. Gamis yang super lebar potongan bawahnya, kalau dipakai sambil gendong Faza entah kenapa sering bikin kesrimpet. Hiks. Apalagi kalau harus kesana kemari naik motor. Huaaa, ngeri bangettt nanti gamisnya masuk ke jeruji ban motor 😭

Soalnya saya udah pernah ngalami. Alhamdulillah saat itu masih diberi keselamatan.

Jadi enggak dulu deh pakai gamis lebar. Baju tunik modern sepertinya bisa jadi alternatif lain untuk dipakai di lebaran besok.

4. Anggun dan Elegan

Meskipun sudah jadi ibu – sebagian orang menyebut dengan istilah sudah laku, haha – bukan berarti kita jadi cuek bebek sama nilai estetika saat berpenampilan. Bolehlah sehari-hari cinta mati sama daster. Tapi saat momen spesial seperti lebaran, tetap harus tampil cantik dan elegan dong.

Kenapa kriteria ini juga saya masukkan?

Karna kalo gak hati-hati, kriteria bahan yang comfy di atas bisa menjebak. Bodo amat yang penting bahan comfy, terus lebaran pake gamis bahan kaos atau jersey yang lebih pas digunakan saat hendak belanja ke swalayan. Kan berabe!

Jadi memilih baju lebaran dengan bahan yang comfy juga tetap harus melihat juga modelnya kayak apa ya. Lagi-lagi, model baju tunik modern sepertinya bisa masuk ke dalam kriteria ini.

5. Syar’i

Yang ini jelas pasti dong ya. Kalau ada yang tanya syar’i itu yang seperti apa, saya akan jawab dengan sederhana, yaitu yang gak nerawang dan gak membentuk lekuk tubuh. Sekarang ini gak cuma gamis sih yang banyak menawarkan model syar’i. Baju tunik modern pun banyak yang syar’i kok.

Nah, 5 kriteria di atas merupakan garis besar yang harus terpenuhi saat memilih baju lebaran atau baju-baju untuk momen tertentu semenjak jadi ibu. Kalau buibu gimana, kriteria apa yang dipakai saat memilih baju lebaran? Share, yaa 😊

Jumat, 09 Maret 2018

#CeritaFaza: Faza Setahun!

Beberapa waktu lalu, mas suami nyeplos. "Udah lama gak baca cerita perkembangan Faza di blog".

Dan saya cuma bisa meringis sedih 😭
Jadi, daripada gak ditulis sama sekali dan akhirnya kenangan berlalu begitu saja, cerita Faza 7 bulan sampe setahun dirangkum di sini aja lah 😊

Faza udah setahun? Allahu akbar! Betapa waktu begitu cepat berlari. Don't grow too fast, naakk.

Karna rapelannya sudah terlalu lama, dan saya udah agak lupa momen-momen pertumbuhan Faza setiap bulannya, jadi saya cerita rangkuman secara umum aja.

MPASI

Salah satu hal yang sangat saya syukuri adalah Faza gampang sekali makannya. Plang plung. Gak picky eater. Semoga tetep gini seterusnya sampe gedhe. Aamiin.
Saya lebih sering masak MPASI-nya Faza sendiri. Meski bukan berarti gak pernah beli. Kalau pas bangun kesiangan, dan waktunya terlalu mepet, yaudah beli bubur bayi organik di pinggir jalan yang bertebaran itu. Yang jelas, sampe sekarang belum pernah Faza sehari full makannya bubur bayi kardusan itu. Beli bubur kardusan juga cuma sekali, dan lebih banyak yang terbuang.

Berhasil no gulgar?

Enggak! Hahahaha.

Tapi gak berhasil no gulgarnya bukan karna intervensi dari pihak eksternal sih. Murni keputusan saya sendiri. Jadi mulai usia 11 bulan, udah mulai saya kasih garam dan gula dikit-dikit.

PERTUMBUHAN

Pertumbuhan berat badan dan tinggi badan Faza Alhamdulillah optimal.
Bahkan pada umur 9 bulan, lonjakan berat badan Faza sempat banyak sekali. Sekilo lebih. Dan ini sempat bikin saya cukup khawatir Faza nanti obesitas.

Karenanya, saya sempat mengurangi secara cukup signifikan porsi lemak tambahan pada menu MPASI-nya. Akibatnya? Sembelit!

Jadi, saya salah sangka karna mengira tujuan ngasih lemak tambahan itu cuma untuk booster berat badan. Lemak tambahan penting sekali untuk bayi, karna juga punya andil besar dalam pembentukan otak dan kelancaran BAB ternyata.

Soal sembelit ini sempat bikin saya galau sekali. Faza bisa sampai 5 hari gak BAB, dan sekalinya BAB pasti nangis-nangis 😭 Padahal bisa dibilang saya udah perhatikan banget pola makan Faza biar gimana caranya gak sembelit. Mau gak mau kami bantu dengan Microlax, dan memberi suplemen Lacto-B atas saran dokter.

Sekarang Alhamdulillah sekarang sudah lancar. Ternyata Faza cuma butuh dibiasakan. Jadi tiap hari, sama budhe Faza diposisikan BAB sama budhenya. Dan ya keluar 😅 Dasar anak bayi ya. Mana mereka tau hasrat BAB itu harus segera ditunaikan. Lha wong ibunya aja kadang masih sering nahan kalo lagi males 😂

PERKEMBANGAN

Nah, ini bagian paling emosional untuk diceritakan bagi saya.

Jadi lumayan bingung juga mulainya dari mana 😄

Emm, kalau menurut KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan), perkembangan Faza masih tergolong sesuai. Hanya saja, pada beberapa aspek, ada tahap perkembangan yang bisa dibilang terlambat.

Yang utama adalah soal merangkak. Faza belum bisa merangkak sampai sekarang. Baru bisa merayap aja usia 11 bulan. Ada yang kaget?

Sayangnya, saya terlambat menyadari. Saya terlambat menyadari bahwa perkembangan motorik kasar Faza terlambat 😭 Harus saya akui, mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah saya yang kurang ngasih stimulasi, dan terlena memantau perkembangan Faza.

Beberapa cerita orang cukup menenangkan saya. Bahwa memang ada anak yang gak merangkak. Langsung jalan. Dan mereka baik-baik saja. Tapi sejujurnya, saya ingin sekali Faza melewati fase merangkak 😢

Apakah saya galau? Ya, sempat pastinya. Tapi tidak dengan sekarang. Saya memilih tetap percaya bahwa Faza pasti bisa, dan dia baik-baik saja. Tentu saja sambil terus berusaha melatih dan memberi stimulasi. Meski ada beberapa kendala, yang kayaknya bakal terlalu panjang kalau saya ceritakan.

Tapi, agak terlambatnya perkembangan motorik kasarnya Faza ngasih banyak sekali hikmah buat saya. Selain saya lebih konsen dan care, saya juga merasa ini cara Allah mengajari saya dan suami untuk mencintai anak apa-adanya. Menerima dia sepenuh cinta, meski dia tak selalu bisa persis seperti yang kami harapkan.

Yah begitulah. Alhamdulillah Faza sudah satu tahun bersama kami. Doakan kami menjadi orangtua yang amanah. Doakan kami menjadi tim solid yang sholih-mensholihkan. Aamiin.

Jumat, 02 Maret 2018

Kenapa Memilih Dipanggil Ibu?


Disclaimer: Tulisan ini berisi MURNI pendapat pribadi saya, tanpa bermaksud mengejek, merendahkan atau memojokkan panggilan Bunda, Mama, Mami, Umi atau yang lain. Tentu saja boleh gak setuju, tapi gak perlu debat 😊 Please, jangan ada baper di antara kita yaa 🙏

Pertanyaan lain yang sering ditanyakan oleh para penjenguk saat Faza lahir -- selain pertanyaan k*mpr*et soal 'Asinya udah keluar belum?', adalah pertanyaan tentang '(Faza) manggil (saya)-nya apa?'

Yang anehnya, saat saya menjawab 'Ibu', beberapa dari mereka lanjut tanya, 'Kok ibu?'

Bahkan ibu saya sendiri pun tanya begitu loh. Aneh kan? Aneh lah!

'Kok ibu?'

Lha emang kenapa kalo Ibu? Ada yang salah? 😂

Padahal saya manggil ibu kandung saya sendiri ya dengan panggilan ibu. Lalu kenapa beliau heran saat saya memutuskan untuk minta dipanggil ibu oleh anak saya? 😆

Baca juga: Belajar Parenting, Belajar Mendidik Diri Sendiri

Sebenarnya saya tau sih latar belakang kenapa ada beberapa orang yang heran saya pengen dipanggil ibu, termasuk ibu saya sendiri.

Faza lahir di kampung halaman saya, yang masih bisa dikategorikan sebagai desa. Cukup jauh dari kota kabupaten. Cukup jauh apa jauh banget ya lebih tepatnya, entahlah. Haha.

Kalau duluuu, di desa kebanyakan orang memakai panggilan emak. Atau beberapa memanggil ibu -- dan ini sudah termasuk yang paling modern. Sekarang? Panggilan emak sudah hampir punah 😂 Terutama di kalangan ibu muda. Mereka memilih untuk dipanggil bunda, mama, umi, bahkan ada juga yang mami.

Nah, tetangga-tetangga saya di kampung halaman sana beranggapan, saya (yang menurut mereka) sekarang berdomisili di kota (Semarang), pastilah akan memilih dipanggil bunda, mama atau umi. Makanya, saat tau saya memilih dipanggil ibu, mereka heran. Menurut mereka panggilan ibu itu ndeso 😅

Ibu saya sendiri sampe pernah meyakinkan diri dengan bertanya, "Kenapa to kok pengen dipanggil ibu? Gak pengen dipanggil bunda seperti yang lain?"

Saya jawab enteng. "Enggak ah. Kalo dipanggil bunda nanti jadi kayak guru PAUD, yang sekarang umumnya dipanggil bunda" 😁

Jujur, duluuu saya memang gak pernah kepikiran pengen dipanggil ibu sama anak-anak saya. Pilihan saya dulu ada 2: Bunda atau Umi. Tapi setelah hamil, saya gak tau kenapa berubah pikiran. Merasa 'gak aku banget' lah pokoknya.

Lagipula, dua kakak ipar saya dipanggil dengan sebutan itu. Yang satu bunda, yang satu umi. Saya pengennya anak-anak saya panggil mereka bunda dan umi juga, bukan budhe 😊 Makanya saya jadi cari panggilan lain.

Jadi, kenapa saya memilih dipanggil ibu?

Karna saya juga memanggil ibu saya dengan panggilan ibu. Karna setiap saya menyebut kata ibu, hati saya hangat. Karna bagi saya, sebutan 'ibu' selalu menggambarkan banyaaakkk kebaikan, kedamaian, kesederhanaan, kebersahajaan. Karna saya ingin saat kelak Faza sudah dewasa dan hidup jauh dari saya, Faza merasakan hal yang sama rasakan saat menyebut kata 'ibu' 😭 *kenapa jadi drama gini* 😂😂

Intinya, menurut saya panggilan ibu itu 'saya banget'. Simpel, sederhana dan romantis. *uhuk* 😂

Eniwei, jaman sekarang panggilan untuk ibu variatif bangettt ya. Kreatifnya orang sekarang superrrr banget lah pokoknya. Saking kreatif dan anti-mainstreamnya, banyak banget yang punya 'plesetan' untuk panggilan ibu ini.

Jadi gak cuma ibu yang umum sekarang. Umi, bunda, mama dan mami pun udah mulai dianggap terlalu umum. Berganti: Bubu, Ibun, Embun, Ami, Umami, dll embuh apa lagi 😂

Nah, kalau teman-teman, dipanggil apa sama ananda-ananda tercintanya? Share alasan kenapa memilih panggilan itu di kolom komentar yaa 😊

Sabtu, 20 Januari 2018

Babak Baru Pernikahan

Rasanya baru kemarin tangan saya dihenna menjelang acara pernikahan. Ehh, tau-tau udah memasuki tahun kedua pernikahan aja. *klise* 😂

Adik ipar saya bulan lalu nikah. Lihat pasangan pengantin baru, saya jadi kepikiran nulis ini.

Baca ini juga ya: Lika-Liku Adaptasi di Awal Pernikahan (Part 1)

Pengantin baru sih isinya manis doang yah. Iya sih tetep ada lah betenya, kadang malah terasa berat karna kan masa adaptasi dari lajang ke menikah. Tapi tetep aja kalo diinget sekarang, marahan pada masa-masa pengantin baru kok rasanya marah yang unyu dan menggemaskan ya 😂

Beda lah levelnya sama marahan setelah memasuki tahun kedua pernikahan. Tahun pertama menurut saya adalah tahun dimana gelora cinta sedang ada di puncak gelora. Iya lah, tahun pertama punya seseorang yang halal dipeluk kapanpun, selalu ada buat kita, mau ngapa-ngapain bebaaasss dan sah, baru tau rasanya yang 'enak-enak' *ups*, jelaasss dong masih sangat bergelora.

Baca juga yang ini:  Lika-Liku Adaptasi di Awal Pernikahan (Part 2)

Sementara memasuki tahun kedua pernikahan, pelan-pelan ada beberapa pergeseran. Saat berpegangan tangan sudah gak lagi semenggairahkan dulu karna... kan udah biasa ya, wong sudah setahun lebih. Lalu obrolan-obrolan soal: anggaran belanja, kebutuhan bulanan, biaya listrik, nabung buat beli rumah, dll mulai mendominasi. Saat inilah komitmen mulai diuji. Dan...

Selamat datang di babak baru pernikahan 😍

Yup, saya merasakan sekali momen babak baru pernikahan menginjak tahun kedua menjalani bahtera ini. Apalagi saya dan suami -- yang Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah -- memasuki tahun kedua pernikahan sudah punya Faza. Jadi sudah bukan tentang aku dan kamu lagi. Tapi berubah jadi ada Faza diantara kita 😂😂😂

Yang paling terasa perbedaannya di babak baru ini adalah soal komunikasi. Hadirnya Faza -- tanpa sedikitpun bermaksud mendustakannya sebagai sebuah anugrah terindah -- gak bisa dipungkiri bikin kami jauh lebih capek dari tahun pertama pernikahan.

Sudah gak ada cerita pulang kerja leyeh-leyeh. Ada Faza yang harus ditemenin main karna sudah seharian kami tinggal. Setelah Faza tidur, saya dan mas suami mulai berjibaku dengan 'tugas' kami masing-masing. Nyuci baju, jemur, cuci botol ASIP, dot, breastpump, setrika baju Faza (yang gak tega kami laundry-kan), dll.

Gara-gara lebih capek banget itu, kami jadi lebih sering sensi di tahun kedua pernikahan ini. Yang satu ngomong apa, yang satu nangkepnya apa. Salah paham, lalu sensi-sensian. Capek kan bikin kita lebih bernafsu makan orang ya 😂 Apa-apa teraa ngeselin, semua jadi terlihat salah 😢

Tapi bukan berhati kami jadi pesimis, lantas merasa 'apakah sudah tak ada cinta di antara kita?'. BIG NO!

Justru di babak ini kami sadar, artinya kami bertumbuh, tidak stagnan. Pernikahan kami memasuki babak baru, yaitu pernikahan yang dewasa. Bukan lagi sekedar romantis-romantisan dan pamer ke media sosial. Tapi gimana caranya tetap bisa sesekali romantis di tengah berbagai kewajiban yang menumpuk di depan mata.

Baca juga: Memperbarui Cinta

Di babak baru pernikahan ini, Alhamdulillah saya merasa bahagia saya menjadi jauh lebih sederhana. Dulu, sering ngrengek ke suami diajak makan di resto-resto hits, baru saya merasa senang dan menganggap suami romantis.

Sekarang? Saya lagi nyetrika, lalu suami -- yang baru selesai jemur baju -- mengelus kepala sambil bilang, "kalo capek istirahat, yaa" itu aja sudah berbunga-bunga hati ini 💕💕💕

Yah, tapi kami tau jalan masih panjang. Baru memasuki tahun kedua. Semoga kami diberi kesempatan oleh Allah untuk terus menghitung tahun bersama, dan itu artinya akan masih ada banyaaakkk sekali babak baru dalam pernikahan kami.

Sharing dong manteman tentang suka-duka babak baru pernikahan kalian, biar saya bisa belajar 😉 Saya tunggu ceritanya di kolom komentar yah 😘

Jumat, 12 Januari 2018

Faza Kena Impetigo

Seminggu lalu, pagi-pagi bangun tidur di dengkul Faza ada luka lecet keciill. Saya cuek aja, mengira itu lecet karna digaruk Faza yang kukunya superrr tajam. Sore hari sepulang kerja, luka lecetnya makin lebar. Tapi saya masih cuek, mengira itu gara-gara kena gesekan lantai saat Faza tengkurep.

Pagi berikutnya, perasaan saya mulai gak enak. Lecetnya lama-lama mirip luka melepuh. Tapi mas suami yang soal positif thinkingnya superrrr, menenangkan saya. Insya Allah gak papa, kata dia.

Sore sepulang kerja, lukanya makin bikin hati saya jerih. Persis luka melepuh, dan keluar air di lukanya 😭 Mas suami mulai ikutan resah, lalu kami sepakat bawa Faza ke dokter.

Sayangnya, dokter anak rekomendasi teman saya malam itu gak datang ke klinik. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami bawa Faza ke Dokter Keluarga (Faskes 1 BPJS).

Dokternya -- yang notabene dokter umum -- mendiagnosa lukanya Faza itu karna kena serangga. Lalu Faza dikasih salep dan antibiotik minum yang mana DISURUH GERUS SENDIRI DAN NAKAR SENDIRI! *maaf capslock jebol*

Ya habis, heran soalnyaaa... baru tau ada klinik plus dokter yang nyuruh orangtua pasien gerus obat sendiri. Saya harus gerus pake apaaa? Pake ulekan sambel?? 😑😑

Sampe rumah, tanpa diskusi panjang saya dan mas suami sepakat lah gak kasih obatnya buat Faza. Ngeri ah. Salep pun enggak, karna salepnya ada simbol huruf K merah, yang kalo gak salah artinya itu merupakan obat keras, Zzzzzz 😪

Hari berikutnya, luka di dengkul kiri Faza makin menjadi-jadi. Di sekitar lukanya juga muncul bintik-bintik mirip sama cacar air -- yang mana saat pecah, dan airnya mengenaik bagian kulit lain, langsung bikin nular ke bagian tersebut.

Pengen nangis lihat bintik-bintiknya makin banyak, bahkan udah mulai merambat ke tangan 😭😭 Alhamdulillah, malamnya bisa ketemu sama dokter anak rekomendasi teman. Dan Alhamdulillahnya lagi, meski nunggu lumayan lama, gak sia-sia karna dokternya baik dan ramah 💗💗 Bhayy deh pokoknya sama dokter galak 😒

Pas lihat lukanya Faza, dokternya langsung bilang: Oh, ini sih IMPETIGO! Lebih tepatnya Impetigo Bulosa.

Ini setelah malemnya ke dokter, udah minum obat dan dikasih salep 1x

Saya gak kaget sama sekali, karna sebelumnya udah browsing dengan kata kunci "luka melepuh pada bayi", dan ketemunya sama, yaitu impetigo. Hehe, ibu jaman now banget yaaa 😁
Kata dokter, Impetigo ini disebabkan oleh bakteri -- yang mana memang tumbuh subur saat cuaca sedang labil gini. hujan-panas-hujan-panas. Untuk penjelasan lebih lengkap soal Impetigo, baca disini aja ya.

Sama dokter dikasih salep namanya sagestam, plus antibiotik minum (puyer). Satu lagi, disaranin mandinya pakai detol cair.

Alhamdulillah, selang dua hari luka Faza sudah mulai kering dan gak merembet ke mana-mana lagi. Sekarang lukanya udah tinggal bekas, dan bikin paha Faza gak mulus lagiii 😂

Buat teman-teman yang punya baby atau toodler, selalu jaga kebersihan dan jaga stamina yaaa kalau lagi musim kayak gini. Semoga sehat-sehat selalu semuanya. Aamiin.

Selasa, 09 Januari 2018

Memperbarui Cinta

Dulu sebelum nikah, saya sering mikir tentang pernikahan. Menikah, lalu melewati seumur hidup dengannya, apa gak bosen ya?

Hidup bareng se-atap (kecuali yang long distance marriage yah) sepanjang sisa hidup dengan orang yang sama, apa iya gelora cinta bisa terus menggelora?

Kalau sebelum nikah, ingat wajahnya aja sudah bisa bikin hati bergetar-getar, jangan-jangan setelah sekian tahun menikah jangan-jangan dirayu saja blas gak ada setrumnya?

Beneran loh, dulu mikirin itu kadang bikin hati goyah dan takut nikah. Tapi nikah kan perintah agama. Lagian banyak pake banget kan buktinya pasangan yang sampe jadi nenek-kakek aja tetep mesra? Yang tetep gak pengen pisah barang sebentar. Ada kok. Jadi ya buat apa takut.

Terus setelah nikah gimana?
Saya baru nikah dua tahun sih. Naudzubillah semoga gak bakal ada kata bosen. Tapi diakui atau tidak, adakalanya merasa, kok gini-gini aja ya. Datar. Gak ada lagi kemesraan-kemesraan kecil dan rutin seperti saat masa awal pernikahan yang bikin hari selalu terasa menggairahkan.

Sekarang sih focus utamanya udah berubah. Anak. Tapi justru itu yang bikin kita jadi sering lupa untuk merawat kualitas hubungan dengan pasangan.

Memperbarui Cinta
credit: wikipedia.org
Nah, saya jadi mikir. Mungkin perlu banget untuk pasangan-pasangan seperti kami ini untuk meluangkan waktu khusus untuk quality time hanya dengan pasangan. Misalnya dengan liburan berdua saja ke Bali.

Bali mah gak perlu lagi diragukan soal keindahan berbagai tempat wisatanya. Gak terkecuali tempat wisata romantis yang cocok untuk quality time bersama pasangan dalam rangka memperbarui cinta.

Kalau saya pribadi, tempat wisata romantis di Bali yang ingin saya kunjungi jika suatu saat nanti (saat Faza sudah cukup mandiri dan bisa ditinggal beberapa hari) ke sana bareng mas suami adalah Pantai Jimbaran.

Impian saya sederhana saja. Duduk berdua di tepi pantai sambil berbincang ringan hingga matahari terbenam, sambil makan jagung bakar atau seafood. Ah, baru bayangin aja pipi saya sudah bersemu merah 😂

Apakah impian saya terlalu sederhana? Gak masalah. Intinya ada pada quality time-nya, buka pada seberapa WAH segala fasilitasnya. Lagian, saya harus tetap sadar diri lah seberapa tebal dompet kami 😅

Tempat menginap pun gak perlu lah rasanya di hotel mewah atau resort mahal dan berkelas. Yang murah tapi tetap nyaman dan fasilitasnya oke pun pasti ada.

Hotel Yang Murah di Bali

Untuk sekelas Bali yang sudah terkenal seantero jagad sebagai destinasi wisata, pilihan hotel pasti sangat buanyaakk. Dari yang fasilitas biasa, hingga super mewah. Dari yang murah sampai super mahal.


Kalangan menengah seperti kita-kita ini, pasti pilih yang murah dong yaa. Tenang aja, tinggal booking saja melalui Airy Rooms. Airy Rooms yang merupakan jaringan hotel dan guest house terbesar di Indonesia, pastilah punya banyak sekali pilihan dengan berbagai variasi budget. Soal fasilitas pun gak perlu khawatir. Meski murah, hotel Airy Rooms memiliki 7 jaminan fasilitas. Pesennya pun mudah, bisa lewat Android, website maupun iOS. Bayar? Lewat Indomaret pun bisaa. Gampang bangett ya.


Fix lah, kalau beneran jadi liburan berdua, pesan lewat Airy Rooms aja 😊

Yakin deh, Insya Allah selepas liburan berdua saja dengan pasangan, hubungan akan terasa fresh dan hangat kembali.

Nah, adakah diantara teman-teman yang hubungannya dengan pasangan sedang terasa datar atau hampa? Ayo, rencanakan quality time berdua, agar gak semakin berlarut-larut dan membawa efek negatif lainnya.