Selasa, 04 April 2017

Cerita Pengalaman Melahirkan Pertama

Cerita Pengalaman Melahirkan Pertama. Sejak hari pertama anak saya lahir, saya sudah berangan-angan menulis cerita pengalaman melahirkan pertama saya. Selain agar bisa dibaca lagi sewaktu-waktu sebagai dokumentasi kenangan, siapa tau ada yang butuh membaca cerita semacam ini dalam rangka mempersiapkan diri untuk melahirkan pertama kali :)

Berdasarkan perhitungan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir), HPL (Hari Perkiraan Lahir) anak saya jatuh pada tanggal 9 Maret 2017. Tapi, karna banyaknya orang di sekitar saya yang bilang bahwa kebanyakan bayi laki-laki lahirnya maju dari HPL, maka saya mulai ambil cuti pada tanggal 20 Februari 2017, atau pada usia kehamilan 37 minggu.

Periksa terakhir di usia kehamilan 38 minggu Alhamdulillah posisi di janin sudah mulai masuk panggul berhasil melewati plasenta yang tadinya sempat agak menghalangi kepalanya, meskipun masih kurang turun. Itu artinya, Insya Allah terbuka kemungkinan untuk melahirkan normal. Saya harus lebih memperbanyak jalan saja agar posisi janin segera turun.

Sejak itu, setiap pagi saya jalan-jalan selama kurang lebih satu jam ditemani ibu saya, karna suami di Semarang kecuali saat weekend. Selain jalan-jalan pagi, saya juga memperbanyak sujud (posisi nungging), jalan di dalam rumah, dan aktivitas-aktivitas yang konon bisa membuat janin turun ke jalan lahir.

Saya sempat resah, kok belum juga ada tanda-tanda si adek akan segera lahir. Kontraksi palsu juga belum pernah sama sekali. Padahal tadinya saya yakin sekali dia akan lahir maju dari HPL.

Tanggal 6 Maret 2017 pagi, menjelang mas suami berangkat kembali ke Semarang untuk kerja, akhirnya tanda-tanda pertama itu datang. Saya mendapati lendir kecoklatan saat buang air kecil. Saya langsung laporan mas suami. Tapi dia tetap berangkat karna belum ada mules atau kontraksi sedikitpun. Hari itu keresahan saya berkali-lipat, mengira kontraksi akan segera datang. Ternyata hingga berganti hari, saya masih belum merasakan apa-apa.

Tanggal 7 Maret 2017 menjelang dhuhur, saya kembali terperangah karna mendapati lendir bercampur darah saat buabg air kecil. Jauh lebuh banyak dari hari sebelumnya. Saya kemudian diantar mbak ke bidan. Bu bidan hanya bilang, itu tandanya si bayi sudah akan segera lahir. Ditunggu saja. Lagi-lagi keresahan saya berlipat-ganda. Beberapa kali rasa mulas mulai saya rasakan, tapi kemudian hilang.

Makam harinya, saya mulai gak bisa tidur. Mulas mulai samar-samar hadir, tapi belum seberapa. Saya gak bisa tidur lebih karna resah. Esok harinya, tanggal 8 Maret 2017, lendir darah mulai intens keluar. Mulas pun semakin datang teratur. Awalnya setengah jam sekali. Ba'da dhuhur, mulasnya mulai lima belas menit sekali. Tapi saya masih tahan, masih aktivitas di rumah seperti biasa. Level mulasnya masih seperti saat menstruasi awal. Bahkan saya sempat membatin, 'Oh, jadi mulasnya seperti ini. Kalo cuma seperti ini sih saya tahan lah' =D

Saya belum tau bahwa level mulasnya akan terus bertambah. Ba'da ashar, mulasnya mulai bikin saya meringis. Ohya, mas suami mungkin sudah ada firasat. Tanpa saya minta, beliau memang sudah berencana pulang sore itu.

Menjelang magrib, mas suami datang. Bersamaan dengan mulas yang semakin aduhai. Di tengah kegelapan karna listrik padam, mas suami bergerak cepat mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat ke Puskesmas Nalumsari. Ba'da magrib, kami berangkat.

Sesampainya di puskesmas, saya di periksa dalam oleh seorang bidan. Sudah bukaan empat, katanya. Alhamdulillah. Saya masih kuat berjalan, meskipun mulai gemetar menahan rasa sakitnya. Perhitungan sok tau saya, si adek akan lahir sekitar jam satu malam. Ternyata salah besar =D

Memasuki tengah malam, mulasnya makin menjadi-jadi. Punggung seperti ditusuk dengan puluhan paku. Ibu dan mas suami secara bergantian menghibahkan badannya untuk saya peluk sekuat tenaga saat mulas datang. Sholawat dan berbagai kalimat thoyyibah berusaha terus saya ucapkan. Saat diperiksa dalam lagi, ternyata baru bukaan delapan. Saat saya tanya berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan sampai bukaan lengkap, bidannya menjawab kurang lebih dua jam. Saya mengerang tertahan. Gak bisa membayangkan harus merasakan sakit yang seperti itu dua jam lagi.

Tapi rasa sakit itu memang bukan untuk dibayangkan. Hehe. Yang teramat saya syukuri dalam proses melahirkan saya adalah, saya bisa ditemani oleh suami. Lebih bersyukur lagi, dia tegar sekali malam itu. Padahal saya tau persis hatinya gentar. Dialah orang yang menyuntikkan keyakinan bahwa saya mampu, saat saya sendiri sudah merasa hampir gak mampu.

Pukul tiga dini hari, bukaan saya dinyatakan lengkap. Dipandu oleh dua bidan dan ditemani oleh ibu dan mas suami di kanan-kiri saya, saya mulai mengejan. Inilah momen paling dramatis dalam hidup saya. Saya kira seperti cerita ibu, dan seperti yang saya lihat di sinetron-sinetron, mengejan cukup satu-dua kali, lalu bayi lahir. Qodarullah, bagian saya lebih dari itu.

Puluhan kali saya mengejan, si adek belum juga bisa lahir. Hampir dua jam. Tenaga saya sudah semakin menipis. Bu bidan memberi ultimatum, jika setengah jam lagi gak lahir, terpaksa saya harus dirujuk ke rumah sakit. Saya bahkan sempat minta divakum saja. Tapi bu bidan bilang mereka gak punya wewenang untuk itu. Lagipula vakum sangat gak dianjurkan.

Saya hampir menyerah. Tapi mas suami terus membisikkan keyakinan. Saya bisa. Saya kuat. Saya mampu. Adzan subuh berkumandang, saya kembali mengejan. Dan, Allahu Akbar! Gak berselang lama setelah adzan subuh usai, tangis seorang bayi pecah bersama tangis kami bertiga -- saya, mas suami dan ibu saya. Puluhan hamdallah kami langitkan. Puluhan ciuman mas suami kecupkan ke wajah saya. Subhanallah wal hamdulillah...

Foto pertama anak kami, sesaat setelah lahir
Oleh mas suami, bayi kami diadzani lalu ditahnik. Sedangkan saya masih harus dijahit, dan sempat mengalami perdarahan. Setelah tindakan penjahitan selesai, saya dipindahkan ke ruang perawatan, lalu diminta menyusukan bayi saya untuk pertama kalinya. Melihat bayi mungil itu, tangis saya kembali buncah. Akhirnya saya melihat sosok yang selama ini hanya saya rasakan tendangannya di perut saya. Dan bayi itu kami beri nama, Muttaqina Mafaza.

Beberapa saat setelah melahirkan

Kami baru diijinkan pulang 1x24 jam setelah persalinan. Beberapa jam setelah melahirkan saya sempat pingsan dua kali =D Ternyata Hb saya drop sekali setelah melahirkan, dan itu membuat produksi ASI saya agak terhambat.

Yah begitulah. Susah sekali sebenarnya menulis cerita ini agar benar-benar menggambarkan apa yang saya rasakan saat itu. Yang jelas, proses kelahiran benar-benar penuh keajaiban. Sakit memang. Sakit sekali bahkan. Bohong kalau bilang gak sakit. Tapi yang jelas saya percaya bahwa wanita telah Allah setting tubuhnya untuk mampu menanggung sakit luar biasa itu. Sejauh ini saya belum pernah dengar seorang wanita meninggal saat melahirkan yang sebabnya murni karna gak kuat menahan sakitnya.

Untuk para wanita yang sedang hamil dan hendak melahirkan, selamat berjuang. Percayalah, kalian bisa :)

Kamis, 16 Maret 2017

#BincangKeluarga: Bermain Gadget di Dekat Pasangan

Bermain gadget di dekat pasangan. Pernah? Ya pernah bangetttt lah! Hehe. Wajar dong, saya kan blogger *cieee*, jadi harus selalu update. Kan sayang kalau ketinggalan info job review. Xixixi.


Baca punya Ade:


Gadget itu seperti dua sisi mata pisau. Kalau digunakan dengan benar, maka gadget bisa menjadi sesuatu yang berguna dan menguntungkan. Contohnya untuk kita para blogger, gadget bisa menjadi sebuah alat untuk berkarya dan menjemput rizki #ish, ini lagi dibahas =D

Sedangkan jika gak digunakan dengan benar, gadget bisa menjadi sesuatu yang sangat membahayakan. Contohnya, jadi sarana mengeluh, mengumbar aib keluarga, atau sangat mungkin untuk menjadi sarana awal sebuah perselingkuhan. Naudzubillah.

Dulu sih sebelum nikah, saya bercita-cita untuk menyingkirkan gadget saat sedang bersama pasangan. Menghabiskan quality time yang cuma sedikit seyelah seharian kerja dengan ngobrol santai, atau bercengkrama mesra. Aiihhh.

Tapi apalah daya, nyatanya bermain gadget masih menjadi sesuatu yang sulit kami singkirkan. Gimana dong, seharian di kantor gak ngecek facebook, kalo sampai rumah masih gak ngecek lagi, bisa jadi manusia kurang update saya. Haha.

Bagaimana tanggapan mas suami saat saya bermain gadget di dekatnya? Tergantung situasi dan kondisinya sih. Dia bisa sangat bete jika saya bermain gadget di dekatnya ketika ia sedang mengajak saya mengobrol. Karna ketika saya bermain gadget, entah kenapa pendengaran dan pemahaman saya jadi turun drastis ke level terendah. Tapi beliau akan fine-fine saja, ketika saya 'permisi' dulu. Misalnya bilang, 'Mas, bentar ya, aku cek facebook dulu, siapa tau ada info penting' (padahal mah yang dibaca gak lebih dari status-status kurang penting. Haha).

Tapi bukan cuma saya yang pernah (atau sering) bermain gadget di dekat pasangan. Pasangan saya pun adakalanya bermain gadget di dekat saya. Dan lucunya, saya sering bete. Merasa diduakan dengan gadget *halah, lebay!* =D

Solusi atas ke-bete-an saya dan suami adalah dengan bermain gadget bersama. Saya dengan gadget saya, dan suami dengan gadgetnya sendiri. Haha. Iya, kami beberapa kali melakukan hal tersebut. Saat lagi sama-sama capek dan gak pengen ngobrol, kami gegoleran berdua di atas kasur, dan sibuk dengan gadget kami masing-masing. Saya sibuk mengecek berbagai media sosial, sedangkan suami sibuk menyelesaikan pertarungan game-nya. Haha.

Setelah merasa sama-sama cukup, kami meletakkan gadget kami dan kembali bercengkrama mesra. Semua senang, gak perlu saling bete lagi =D Mungkin bagi para pakar pernikahan, hal seperti itu harusnya sangat dipantang, ya? Tapi seperti gaya parenting yang gak bisa dipatok pakemnya untuk semua orang, rasanya soal ini pun kami tetap yang paling bisa mengukur dampak baik-buruknya.

Bagi saya dan mas suami, bermain gadget bersama pasangan merupakan salah satu quality time tersendiri bagi kami =D

Kamis, 02 Maret 2017

#BincangKeluarga: Baper Dengan Postingan Orang Lain di Media Sosial

Baper dengan postingan orang lain di media sosial. Pernah? Ya pernah bangeettttt lah, ahahaha.

Iya, jujur saya akui bahwa saya itu orangnya gampang sekali baper. Apa-apa dibawa perasaan. Dulu sebelum nikah, melihat teman memposting foto bersama pasangan halalnya, duh saya pasti langsung klojotan bapernya. Haha.

Terus setelah nikah berarti udah gak baperan lagi dong? Ya masih laaah. Tema bapernya aja yang ganti. Hihi. Apalagi sejak hamil. Hadehh, baper saya sering gak ketulungan.



Baca punya Ade:


Saat awal-awal masa kehamilan, saya sempat baper melihat postingan para ibu di media sosial, dan kebaperan tersebut bikin saya lumayan stress. Bikin saya ragu sama diri sendiri, bisakah saya jadi ibu yang baik kelak?

Emang postingan apa sih?

Yah, postingan-postingan semacam "Alhamdulillah, makannya dek xxx (nama anaknya) lahap sekali. Bahagianya bisa selalu membuatkan sendiri MPASI untuknya bla bla bla"

Atau foto seorang ibu yang sedang bermain bersama anaknya dengan caption "Senangnya bisa selalu mendampingi tumbuh kembang anak. Gak bisa bayangin kalo saya harus kerja kantoran, dan membiarkan anak diasuh orang lain".

Huaaa, pengen nangis kejer, sumpah. Secara, saya kerja kantoran dan belum ada rencana untuk resign meski sudah melahirkan nanti. Belum lagi soal MPASI, yang semakin saya pelajari, semakin bikin saya pusing. Gimana enggak, di grup MPASI di facebook, saya membaca sekian banyak ibu yang konsultasi tentang menu MPASI anaknya. Dan sebagian besar masih dinilai MASIH SALAH oleh admin. Subhanallah... kasih makan anak tuh apa iya sesusah itu???

Tapi lama-lama saya mikir. Terima kasih sebelumnya untuk tulisan-tulisan para Blogger yang mengantar saya pada pemikiran ini.

Buat apa sih baper dengan postingan orang lain di media sosial? Bukankah di media sosial, orang akan berlomba-lomba menampilkan sisi terbaik kehidupan mereka? Termasuk saya dong pastinya. Biasanya jarang-jarang masak buat suami, sekalinya masak pasti langsung difoto dan diupload ke media sosial. Biar lebih mantep, kasih caption, "bahagianya bisa masak buat suami bla bla bla". Haha. Itu cuma satu dari sekian buanyak contoh.

Mari kita akui saja, bahwa kita pasti akan berusaha menampilkan sisi terbaik kehidupan kita di media sosial. Dan itu sama sekali gak salah.

Ya buat apa orang tau sisi suram hidup kita? Masa' iya berantem sama suami di-share? Masa' iya emosi sama anak bilang-bilang?

Saya jadi ingat salah satu teman yang hamil lagi, padahal anak pertamanya baru umur setahun. Di media sosial, dia kelihatan bahagia. Bilang, gak papa repot-repotnya sekarang, nanti anak-anak gedhe dia masih muda, tinggal santai perawatan di salon. Saya yang baru hamil anak pertama sempat baper. Duh, umur segini baru hamil anak pertama. Nanti anak-anak gedhe saya sudah tuwir dong -_-

Eh ternyata pas ketemu langsung, dia cerita, saat pertama kali tau dia hamil lagi, dia frustasi berat. Bahkan sempat ngamuk dan menyalahkan sang suami atas kehamilannya. Ealaahhh ee... kirain beneran bahagia sepenuh jiwa seperti yang terlihat di media sosial =D

Jadi, buat apa baper dengan postingan orang lain di media sosial, jika kita tau bahwa hidup mereka pastilah ga sesempurna yang ia tampilkan. Sama seperti hidup kita. Mari selalu ingat bahwa selalu ada hal-hal baik dalam hidup kita yang patut disyukuri, tanpa harus membandingkannya dengan hidup orang lain. *teorinya gampil banget. Haha.

Baper gak bakal bawa kita ke mana-mana. Ia hanya akan membawa kita menjadi seseorang yang hatinya gak tenang dan sulit bersyukur.

Kalian pernah baper juga gak dengan postingan orang lain di media sosial? Atau malah sering banget? =P

Kamis, 23 Februari 2017

#BincangKeluarga: Pekerjaan Rumah Tangga Yang Paling Disukai dan Dibenci

Pekerjaan Rumah Tangga Yang Paling Disuka dan Dibenci. Meskipun minggu lalu kita ngobrolin tentang pekerjaan domestik rumah tangga yang seharusnya gak sepenuhnya jadi tanggung jawab istri, tetap saja kita sebagai istri tetap gak akan bisa memisahkan diri dari yang namanya pekerjaan rumah tangga, ya. Yah, kecuali kalau kita istrinya Mas Anang -- misalnya. Haha.


Baca punya Ade:


Saya bisa dibilang merupakan satu dari sedikit perempuan yang gak lincah dan kurang terlatih soal pekerjaan rumah tangga. Salahkan ibu saya yang sukanya memborong semua pekerjaan dan membiarkan anak gadisnya ini cuma duduk manis sambil baca novel. Hihi.

Setelah nikah, nah lhooo... kena batunya deh. Masa iya tinggal di rumah mertua mau cuma duduk manis aja? Nyari mati itu sih. Hihi. Misal gak tinggal sama mertua pun, lebih gak mungkin lagi kan cuma ongkang-ongkang kaki?! Mau gak mau, suka gak suka, saya harus mulai membiasakan diri dengan berbagai pekerjaan rumah tangga.

Witing trisna jalaran saka kulina. Datangnya cinta (suka) karna terbiasa. Begitu kata peribahasa. Lalu, apakah ini juga akan berlaku juga pada pekerjaan rumah tangga? Apakah karna sudah terbiasa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga, saya jadi menyukai semua pekerjaan tersebut?

Sayangnya tidak =D

Tetap saja ada pekerjaan rumah tangga yang paling saya benci. Dan sebaliknya, pasti ada dong pekerjaan rumah tangga yang paling saya sukai.

Pekerjaan apakah itu?

Pekerjaan rumah tangga yang paling saya sukai

Kalau boleh jujur sih gak ada. Haha. Bohong ding.

Meskipun gak suka suka banget, ya seenggaknya ada lah satu yang disukai lebih dari yang lain.

Dan itu adalah memasak.

Iya, meskipun gak tergolong hobi banget, tapi saya suka masak. Seru. Meracik berbagai bahan menjadi satu hidangan yang lezat. Apalagi kalau setelah itu dipuji enak sama suami. Aaaaa, makin sukaaa.

Cuma konsekuensi dari memasak itu setelahnya harus mencuci banyak perabotan yang dipakai. Dan itu yang bikin lumayan males -_-

Tapi mencuci piring dan berbagai peralatan masak lainnya bukan pekerjaan rumah tangga yang paling saya benci sih. Bisa dibilang mencuci piring juga termasuk lumayan saya suka.

Masih ada pekerjaan rumah tangga lain yang paling saya benci. Dan itu adalah...

Ngepel!

Xixixixixi. Iya, saya benciiii banget sama pekerjaan ngepel lantai. Duh, mending disuruh nyuci piring bertumpuk-tumpuk deh daripada ngepel lantai rumah.

Sepanjang 26 tahun hidup saya di dunia, kayaknya frekuensi saya ngepel lantai bisa dihitung pakai jari tangan. Ahahaha. Buka aib biarin deh.

Gak tau kenapa, kalau mau ngepel tuh belum mulai aja badan rasanya udah langsung capek semua -_-Tapi kalau lantai udah kebangetan kotor ya dengan amat terpaksa saya ngepel juga sih.

Nahh, kalau kalian, apa sih pekerjaan rumah tangga yang paling disukai dan dibenci? Sebutkan di kolom komentar, yaaa. Pasti jawabannya beda-beda dan seru deh =D

Kamis, 16 Februari 2017

#BincangKeluarga: Semua Urusan Domestik Rumah Tangga Tanggung Jawab Istri. Oh Ya?

Semua Urusan Domestik Rumah Tangga Tanggung Jawab Istri. Oh Ya? Salah satu teman saya tanya setengah protes ke saya.

"Kenapa sih kalau suami ngerjain pekerjaan domestik rumah tangga, misal nyapu atau nyuci, pasti langsung banyak banget yang memuja-muji? Dianggap suami idaman lah, suami rajin lah, dll. Sedangkan kalau istri yang mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga, seolah dianggap hal yang wajar dan jarang yang mengapresiasi."

Baca punya Ade:


Saya gak bisa langsung menjawab saat itu. Iya juga, ya... pikir saya. Saya sering mendapati fakta seperti yang diutarakan oleh teman saya tersebut. Suami yang tadinya gak pernah nyapu halaman rumah, sekalinya nyapu langsung dipuji oleh para tetangga yang kebetulan melihat. Sedangkan istri yang setiap hari mengerjakannya, gak pernah sekalipun mendapat pujian. Memang sudah tugasnya kok. Memang sudah jadi kewajibannya kok.

Oh ya? Benarkah semua pekerjaan domestik rumah tangga itu hanya menjadi urusan istri?
Harusnya sih enggak, ya =((

Gak adil sekali jika semua pekerjaan domestik rumah tangga dibebankan pada istri saja. Terlebih lagi jika istri juga bekerja. Contohnya saya.

Saya gak bisa bayangin kalau suami saya gak bersedia berbagi pekerjaan domestik rumah tangga dengan saya. Mungkin tingkat kewarasan saya akan semakin merosot dari hari ke hari. Alhamdulillah, suami saya gak keberatan berbagi tugas dengan saya soal pekerjaan domestik. Sejak awal menikah hingga hari ini, mencuci baju menjadi urusan beliau. Kalau yang jemur sih gantian, siapa yang sempat saja. Mencuci piring juga beliau yang mengerjakan sejak saya hamil tua dan gak tahan berdiri lama-lama.

Kalau istri bekerja tapi suami gak mau berbagi pekerjaan domestik rumah tangga gimana? Gampang. Minta aja dicariin pembantu. Hehe.

Terus apa kalau istri di rumah (gak kerja di luar rumah), artinya sudah seharusnya semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi urusan istri?

Ya gak gitu juga dong. Apalagi jika sudah ada anak. Apalagi jika anaknya masih batita atau balita yang sedang sangat aktif sehingga butuh pengawasan penuh.

Saya belum pernah mengalami sendiri langsung. Tapi saya sudah sering melihat contoh nyata. Ada anak dua tahun di rumah itu hampir gak bisa ngapa-ngapain sama sekali saat si anak gak sedang tidur. Lengah dikit saja -- misal si ibu sambil ngawasi sambil nyetrika -- meleng dikit aja bisa-bisa si anak sudah lari ke luar rumah. Terus jatuh dan kepalanya benjol. Terus saat suami pulang, ia memarahi istrinya, menganggap istrinya gak bisa jaga anak. Hallooooo! -_____-

Ayolah, istri itu konon memang sosok yang pandai multitasking. Tapi ia tetaplah punya keterbatasan dan butuh bantuan.

Saya jadi inget cerita Teh Kiki Barkiah di buku 5 Guru Kecilku. Teh Kiki selalu bertanya pada sang suami, "apa tugas utama saya di rumah?". Dan sang suami menjawab bahwa tugas utamanya di rumah adalah menyusui anak mereka yang masih membutuhkan ASI. Jadi, ketika rumah berantakan dan Teh Kiki gak sempat beresin, sang suami akan memaklumi dan gak segan membantu. Yang penting tugas menyusui gak terbengkalai.

Jadi, jika masih saja ada suami yang menuntut istrinya menyelesaikan semua pekerjaan domestik rumah tangga seorang diri dan gak berkenan membantu, lalu menyalah-nyalahkan jika ada pekerjaan yang gak beres, mungkin ia perlu diikutsertakan dalam program konseling rumah tangga =D

Buat para istri, yuk jangan segan untuk mengkomunikasikan hal-hal yang mengganjal di hati pada suami. Jika pekerjaan domestik yang ada dirasa  terlalu membebani, ungkapkan. Jangan sampai kita jadi tertekan dan gak bahagia hanya karna kita enggan mengkomunikasikan. Mari jadi istri yang berbahagia menjalani peran kita ^_^

Kamis, 09 Februari 2017

#BincangKeluarga: Menjaga Penampilan di Hadapan Suami, Antara Ekspektasi VS Realita

Menjaga Penampilan di Hadapan Suami, Antara Ekspektasi VS Realita. Saya pernah dengar (atau baca, ya?) sebuah lelucon yang mengatakan bahwa daster adalah pakaian penghancur rumah tangga. Konon laki-laki (suami) itu cenderung gak suka istrinya memakai daster, sedangkan kebanyakan perempuan (istri) suka sekali memakai daster. Dan itu katanya menjadi salah satu pemicu perselingkuhan.

Duh, waktu tau soal itu, saya (yang saat itu belum menikah) langsung bertekad dalam hati: saya gak akan memakai daster di hadapan suami! Mau selalu pakai baju tidur yang seksi-seksi. Pokoknya BIG NO buat daster. Itu ekspektasi saya.

Realitanya hari ini gimana?




Pada akhirnya, saya harus mengakui bahwa saya perempuan biasa yang gak bisa menolak pesona dari daster =D Pernah dengar gak, daster itu semakin jelek dan buluk semakin nyamaaaannn banget dipakai? Itu benar sekali menurut saya! =D

Pernah sih sok-sokan saya berbaju lumayan 'rapi' waktu di rumah. Ehh mas suami malah tanya, "Lho, mau kemana kok pakai baju bagus?" -___-

Saya bilang, ya gak kemana-mana, kan biar gak sepet lihat saya pakai daster. Beliaunya bilang, "Ah, gak sepet kok. Kalau di rumah pakai baju rapi gitu malah kesannya sumpek". Xixixi. Lagian kalau saya pakai daster, mas suami rasanya lebih... ah, sudahlah, gak usah dibahas =D

Yup, daster adalah point pertama atas ekspektasi saya yang gak sesuai dengan realita yang terjadi hari ini.

Dan ekspektasi saya soal menjaga penampilan di hadapan suami masih sangat banyak. Soalnya, katanya kelemahan suami itu ada pada matanya, sedangkan kelemahan perempuan ada pada telinganya. Itulah sebabnya laki-laki paling lemah lihat paha perempuan, sedangkan kita mah lihat paha laki-laki kok blas gak ada tertarik-tertariknya, ya? Padahal kan sama-sama aurat. Tapi di sisi lain, cuma dengar kalimat 'kaulah segalanya bagiku' aja udah bikin kita perempuan melayang-layang =D

Dulu sebelum nikah, saya rajin facial muka sendiri di rumah. Facial sederhana aja sih. Pake peeling dan masker gitu. Luluran juga lumayan rajin. Seringnya, setiap melakukan hal tersebut saya sambil berekspektasi.  
Nanti kalau sudah nikah, saya akan tetap rajin rawat badan kayak gini, ah. Biar suami senang.

Realitanya?

Aduh mak, kalau pulang kerja rasanya kasur lebih menggoda. Sedangkan saat weekend, setumpuk setrikaan dan kamar yang berantakan sudah menanti sentuhan tangan untuk dibereskan. Mendadak susah sekali meluangkan waktu untuk sekedar luluran.

Ah, jangankan luluran. Ekspektasi yang lebih sederhana dari itu saja ternyata masih gak sesuai sama realita. Belajar dari pengalaman kakak saya yang diperintah oleh suaminya untuk selalu 'cantik', minimal pakai lipstik jika dihadapannya, saya pun dulu berekspektasi seperti itu.

Sayang, lagi-lagi realitanya gak sesuai. Karena apa? Mas suami gak suka lihat saya pakai lipstik, apalagi pakai make up macem-macem. Dia jauh lebih suka liat wajah polos saya katanya. Haha, yasudahlah.

Saya kadang mikir. Duh, saya kok gak 'nyunnah' banget, ya =(( Kan menjaga penampilan di hadapan suami itu sunnah, kan? Eh, atau wajib?

Pernah juga saya sampai minta maaf pada mas suami, karna saya belum bisa menjaga penampilan di hadapan beliau.

Mas suami cuma ketawa. Kata beliau, menjaga penampilan itu jangan diartikan sempit dengan cara selalu berpakaian bagus dan pakai make up saja. Yang paling utama itu justru menampilkan wajah yang selalu 'enak dilihat' -- yang mana artinya (bagi mas suami) adalah: gak cemberut, MESKIPUN LAGI PMS!

Haha, iya, soal 'meskipun lagi PMS' itu ditekankan sekali sama mas suami. Soale kalau lagi PMS saya seringnya kayak mak lampir =D

Yah, begitulah. Ekspektasi-ekspektasi sederhana tentang menjaga penampilan di hadapan suami, pada kenyataannya gak selalu mudah direalisasikan. Butuh niat dan tekad yang kuat.

Saya belum setahun nikah, jadi belum berani sesumbar bahwa suami saya gak masalah saya tampil sangat apa-adanya seperti saat ini. Saya tetap merasa butuh dan menyimpan ekspektasi untuk selalu menjaga badan dan penampilan untuk suami. Terutama setelah ada anak nanti, pastilah tantangannya lebih berat.

Kalau teman-teman gimana? Seperti apa ekspektasi VS realita soal menjaga penampilan di hadapan suami? Share ceritanya, ya :)

Jumat, 03 Februari 2017

Berbagai Keluhan Selama Kehamilan Pertama Saya


Berbagai Keluhan Selama Kehamilan. Kalau ditanya gimana rasanya hamil, saya akan jawab NIKMAT! Iya lah, hamil itu nikmat tak terkira. Gimana enggak nikmat jika di luar sana banyak teman yang masih berikhtiar untuk bisa merasakan hamil, saya sudah bisa merasakannya.

Salah satu mbak ipar saya pernah bilang, pokoknya pengen anak dua saja. Pas ditanya kenapa, jawabnya gak kuat lagi nanggung beratnya masa kehamilan. Hamil dua kali, dia hampir gak kuat ngapa-ngapain sama sekali selama 9 bulan. Tiduraaann terus. Teler.

Ada yang segitunya. Ada juga yang masa kehamilannya lancar jaya kayak jalan tol. Gak mual, gak loyo. Tapi setau saya, setiap kehamilan pasti ada keluhannya masing-masing. Meskipun kadar keluhannya beda-beda. Keluhan di sini maksudnya bukan mengeluh meratapi, 'kok giniii sih!', melainkan kondisi-kondisi kurang nyaman yang gak biasa dirasakan ketika sedang gak dalam keadaan hamil.

Saat baru beberapa minggu ketauan hamil, saya sempat jumawa, ah hamil saya enak-enak aja kok. Gak seperti yang banyak dikeluhkan orang-orang. Eits, tapi kejumawaan saya segera luntur seiring berjalannya usia kehamilan dari minggu ke minggu. Satu per sayu keluhan kehamilan mulai saua rasakan.

Nah, berikut ini beberapa keluhan yang saya rasakan selama hamil:

1. Punggung bagian bawah sakit

Ini keluhan pertama yang saya rasakan. Punggung bagian bawah luar biasa sakit. Seperti setiap menjelang mens, hanya saya tingkat sakitnya jauh lebih tinggi.

Keluhan ini berakhir hanya beberapa hari setelah saya periksa kehamilan yang pertama. Oleh dokter saya diperkirakan kurang kalsium, jadi diberi suplemen kalsium untuk diminum setiap hari. Dan, voila... bye-bye punggung sakit.

2. Pusing setiap bangun tidur hingga jam 10-an pagi, pada trimester pertama

Alhamdulillah saya gak pernah mual selama trimester pertama kehamilan, seperti kebanyakan orang. Tapi bukan berarti saya gak merasakan morning sickness.

Morning sickness yang saya rasakan adalah pusing yang teramat sangat pada pagi hari. Meski hanya sampai sekitar jam 10-an pagi, dan setelahnya pusingnya akan hilang sendiri, keluhan ini sempat cukup mengganggu aktivitas pagi saya di kantor. Keluhan ini saya rasakan kira-kira sejak memasuki usia kehamilan 10 minggu, hingga memasuki trimester kedua.

3. Kaki bengkak

Kaki bengkak, konon merupakan keluhan yang umum terjadi pada sebagian wanita hamil. Tapi, kasus kaki bengkak saya agak istimewa. Pasalnya, kaki saya bengkak sejak usia kehamilan saya baru memasuki bulan ke-tiga. Padahal kebanyakan mengalaminya saat sudah memasuki trimester akhir.

Bisa dibilang, keluhan kaki bengkak inilah yang paling mengganggu aktivitas, meskipun Alhamdulillah saya masih tahan :) Hingga hari ini, saat usia kehamilan saya sudah memasuki usia 35 minggu, bengkaknya kaki saya semakin menjadi-jadi.

Saya sempat resah dengan keluhan ini. Tapi kata dokter, gak perlu terlalu dikhawatirkan selama tekanan darah saya normal (tidak tinggi) dan tidak ada kebocoran protein pada urine saya yang bisa diketahui melalui hasil test lab.

4. Perut bagian bawah sakit, dan sering BAK dalam kuantitas sedikit-sedikit

Keluhan ini hanya saya rasakan beberapa hari saja, pada trimester kedua. Gara-garanya saat tengah liburan di kampung halaman yang suhunya termasuk adem, sehingga saya 'lupa' minum. Efeknya ya itu, perut bagian bawah sakit, dan terus-terusan pengen BAK, tapi keluarnya sedikit-sedikit.

5. Pendarahan

Ini yang paling bikin sport jantung. Ketika pada suatu pagi, tiba-tiba saya melihat darah pada tissue yang saya pakai setelah BAK. Waktu itu saya segera dilarikan ke UGD oleh suami yang kebetulan bekerja satu instansi dengan saya.

Setelah di USG, ternyata penyebabnya adalah letak plasenta saya yang tergolong rendah. Setelah kejadian pendarahan tersebut, saya diwaniti-wanti untuk menjaga agar jangan sampai kecapekan agar pendarahan tersebut gak berulang.

6. Tangan kebas

Sejak trimester kedua, gak hanya kaki saya yang bengkak, tapi juga jari-jari tangan saya. Tapi biasanya hanya terjadi ketika bangun tidur, dan kembali normal ketika sudah dipakai beraktivitas (tangan saja yang kembali normal).

Namun akhir-akhir ini tangan saya gak hanya bengkak, tapi juga terasa kebas. Seperti mati rasa. Keluhan ini cukup mengganggu, terutama ketika dipakai beraktivitas. 

7. Kulit wajah berjerawat

Kalau yang ini sepertinya keluhan yang paling gak penting, tapi juga paling bikin galau. Hehe. Entah kenapa wajah saya yang dulunya jarang berjerawat, sejak hamil jadi akrab sekali dengan jerawat.

Konon hal itu wajar, karena dipengaruhi perubahan hormon saat hamil. Sudah beberapa cara saya coba untuk mengendalikan tumbuhnya jerawat di wajah saya, tapi belum ada yang benar-benar berhasil. Mungkin memang saya harus bersabar hingga melahirkan nanti untuk melakukan penumpasan jerawat dengan lebih maksimal.

Yup, tujuh point di atas merupakan keluhan yang saya rasakan selama kehamilan pertama ini. Saya menulis ini bukan bermaksud untuk mengeluh. Saya menulis dengan harapan, siapa tau ada teman-teman yang juga sedang hamil pertama seperti saya, dan bingung atau merasa ketakutan dengan beberapa keluhan yang dirasakan.

Soalnya saya dulu gitu. Ada keluhan dikit, langsung panik. Takut itu pertanda bahaya, dll. Jadi, bagi yang mengalami keluhan seperti tujuh point di atas, jangan panik. Karna sejauh ini semua keluhan si atas sudah saya konsultasikan dengan dokter, dan dokter bilang bukan sesuatu yang berbahaya :)

Yang jelas, setiap kehamilan itu 'istimewa'. Gak perlu minder karna merasa 'kok aku hamil banyak keluhan, gak kayak dia yang lancar jaya?!', dan gak perlu jumawa ketika dianugrahi kehamilan tanpa kendala hingga membuat mudah nge-judge orang lain manja.

Mari menjalani kehamilan dengan bahagia ^_^

Kamis, 02 Februari 2017

#BincangKeluarga: Periksa Hamil Pada Dokter Kandungan Laki-Laki, Yay or Nay??

Di kantor, salah satu teman saya sedang galau soal memilih dokter kandungan untuk istrinya yang juga sedang hamil anak pertama. Dan beliau memilih saya beserta suami sebagai tempat meminta pertimbangan. Mungkin karna saat ini saya juga sedang hamil, jadi pastilah sedang akrab dengan dokter kandungan.

Jadi, di beberapa bulan pertama kehamilan, dia periksa ke seorang dokter kandungan perempuan di sebuah rumah sakit. Tapi keluarga istrinya tiba-tiba mendesak teman saya untuk ganti dokter kandungan, gara-gara habis dengar cerita tentang track record si dokter perempuan tersebut.

Dia sempat tanya-tanya tentang dokter kandungan saya. Minta rekomendasi dokter-dokter kandungan yang saya tau juga. Tanya sana-sini. Eh, akhirnya mentok dipaksa untuk periksa ke dokter kandungan rekomendasi ibu mertuanya... yang mana adalah dokter kandungan laki-laki!

Galaunya adalah, karna si teman saya itu dari awal bilang kekeuh gak pengen istrinya periksa ke dokter kandungan laki-laki. Hihi.


Baca punya Ade:


Salah satu hal pertama yang terlintas dalam benak saya saat melihat dua garis merah di testpack adalah: mau periksa hamil ke mana??

Saya sempat tanya-tanya ke beberapa teman yang udah pernah hamil. Tentang ke mana mereka periksa hamil, dokter siapa, dan gimana dokternya, dll. Selain tanya-tanya, saya browsing juga tentang apa saja yang harus dipertimbangkan saat akan memilih dokter kandungan.

Tema ini juga sudah jadi bahan obrolan saya dengan mas suami, bahkan sebelum saya hamil. Hihi. Kalau saya pribadi sih pokoknya yang penting dokternya harus enak diajak ngobrol. Duh, jangan sampai deh saya periksa ke dokter kandungan yang kalau ditanya-tanya jawabannya jutek. Bisa naik darah nanti bumil. Haha.

Nah, kalau syarat dari saya cukup enak diajak ngobrol, beda dengan mas suami. Mas suami sudah sejak awal bilang, saya harus periksa hamil pada dokter kandungan perempuan. Beliau ga rela saya periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki.

Waktu saya tanya apa alasannya, beliau bilang ini soal ego laki-laki. Egonya gak rela ada laki-laki lain yang melihat bagian tubuh istrinya yang seharusnya cuma buat dia. Cemburu, nih yeeee.... Haha.

Tapi saya seneeeng sih dia bersikap seperti itu. Artinya dia benar-benar pengen 'jaga' saya. Bagi saua itu sweet banget :')

Lagian kata beliau, kalau ada dokter kandungan perempuan yang juga bagus, kenapa harus periksa pada dokter kandungan laki-laki sih?

Jadi, kalau saya ditanya periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki, yay or nay??

Saya, nay! Nay karna saya tau mas suami gak ridho. Jadi ini berkaitan sama taat saya pada suami.

Tapi tunggu dulu! Mas suami tetep punya toleransi kok. Kalau kondisi darurat dan memang harus ditangani sama dokter laki-laki, ya sudah gak papa. Keselamatan tetap jadi yang utama.

Contohnya mbak ipar saya. Beliau dari awal kehamilan selalu periksa pada dokter kandungan perempuan. Tapi pas hari H melahirkan ternyata si dokter perempuan gak ada di tempat, dan hanya ada dokter kandungan laki-laki. Yowis, mau gimana lagi??

Emm, berarti jawaban saya di atas perlu dilengkapi, ya. Periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki, yay or nay??

Nay, selama situasi dan kondisi masih serba memungkinkan. Kecuali dalam kondiai darurat.

Kalau teman-teman gimana? Periksa hamil pada dokter kandungan laki-laki, yay or nay?

Rabu, 25 Januari 2017

Catatan Kehamilan: USG 4 Dimensi Periksa Ke-Tujuh [28w]

Periksa kehamilan ke-tujuh mungkin menjadi salah satu jadwal periksa yang paling saya tunggu-tunggu selama kehamilan. Selain setelah mengalami 'tragedi' pendarahan, kali ini juga saya membuat janji untuk USG 4 dimensi. Gak sabar lihat wajah si adek :')

Di RSIA Kusuma Pradja Semarang, jika hendak melakukan USG 4 Dimensi harus membuat janji sebelumnya. Caranya tinggal bilang saja ke bagian pendaftaran untuk dicatat. Awalnya saya dan mas suami berencana USG 4 dimensinya awal Januari saja. Tapi ternyata setelah konsultasi dengan dr. Retno pada periksa kehamilan ke-enam, beliau bilang kalau usia kehamilan sudah terlalu besar malah gak maksimal hasilnya. USG 4 dimensi yang paling efektif katanya maksimal di usia kehamilan 28 minggu. Maka dari itu, akhirnya kami memutuskan untuk USG 4 dimensi pada tanggal 15 Desember 2016.

Seperti biasa, saya dan mas suami sampai di RSIA Kusuma Pradja Semarang sekitar Pukul 17.00. Kami menunggu hingga usai maghrib. Sayangnya, sore itu dr. Retno sedang cuti, sehingga hasil USG 4 dimensi, gak bisa langsung kami bawa kepada beliau untuk dikonsultasikan. Ohya, USG 4 dimensinya sendiri gak ditangani oleh dr. Retno, melainkan oleh dokter lain, yaitu dr. Subandini. Jadi terpaksa, saya dan mas suami harus datang lagi ke RSIA Kusuma pagi harinya (ijin kantor) untuk ketemu dr. Retno.

Proses USG 4 Dimensi

Saya dan mas suami yang sudah sejak kemarin deg-deg serr karna gak sabar pengen lihat wajah si adek saat USG 4 dimensi, terpaksa harus sedikit kecewa. Kenapa? Si Adek ternyata ingin benar-benar memberi kejutan pada ayah dan ibunya. Ia tak  berkenan menunjukkan wajahnya :') dr. Dini sampai sempat dibuat gemas. "Ayo to dek, muncul lah sebentar!" katanya berulang kali merayu si adek =D Tentu saja saya dan mas suami juga turut merayu.

Apa daya, si adek gak bergeming. Wajahnya bersembunyi di balik plasenta. Dan, ya... dr. Dini menyatakan letak plasenta saya di bawah, meski tidak menutupi jalan lahir. Saya sempat diminta beberapa kali pindah posisi menjadi miring, dengan harapan si adek bisa kelihatan wajahnya. Dan, YES, berhasil! Meskipun cuma sebentaarrr sekali, dan cuma sebatas dahi hingga mulut. Lucunya, si adek kelihatan senyum-senyum -- seperti sengaja menggoda kami. Hihi. Gemesin. Ohya, dr. Dini juga bilang, si adek aktifnya luaarrrr biasa. Setelah dirunut, salah satu penyebabnya adalah saat itu saya sedang lapar =D Jadi, tips untuk teman-teman yang hendak USG 4 dimensi, sebaiknya makan dulu, yaaa... biar adek janinnya tenang.

Ituuu, hidung si adek kelihatan :D Sehat yaaa, nak...
Singkat cerita, USG 4 dimensi yang saya jalani bisa dibilang hampir gak menghasilkan apa-apa. Kecewa sih sedikit, tapi ya sudah, berarti Allah memang ingin saya dan mas suami lebih membumbungkan tawakal :')

Konsultasi Hasil USG 4 Dimensi

Pagi harinya, Jum'at 16 Desember 2016, saya dan mas suami kembali datang ke RSIA Kusuma Pradja untuk bertemu dr. Retno.

Saya menyodorkan laporan dari dr. Dini pada dr. Retno, sembari menceritakan apa saja yang terjadi saat USG 4 Dimensi, termasuk si adek yang geraknya luar biasa aktif. Pernyataan dr. Dini tentang plasenta letak rendah membuat dr. Retno tegas melarang saya bepergian jauh dulu, termasuk pulang kampung =((

Lalu tentang keaktifan adek, dr. Retno sempat mengungkapkan kekhawatirannya. Beliau bilang, kalau si adek geraknya terlalu aktif,  beliau takut tali pusarnya putus dan menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan, seperti yang terjadi pada beberapa kasus. Naudzubillah =((

"Ibu gak pernah ngemil, ya" tanya dr. Retno saat mencoba menganalisis gerakan adek yang jauh lebih aktif dari biasanya.

"Akhir-akhir ini gak pernah dok, kan kata dokter suruh mengurangi ngemil, karna bulan lalu dalam sebulan berat badan saya naik 5 Kg" jawab saya.

Baca: Periksa Keenam [27w] dan berbagai Drama yang Menyertainya


"Owalah, ya pantes! Berarti si adek memang tipenya gampang laper. Itu dia protes mungkin bu. Ya Allah, maaf ya dek. Ya sudah, sekarang ibu boleh ngemil lagi, tapi buah-buahan dan yang alami-alami seperti singkong rebus, kedelai rebus, dll"

Kami pun tertawa bersamaan. Ya Allah dek, kamu laper ya ternyata =D

Selain nyuruh ngemil lagi, dr. Retno juga menyarankan saya memakai korset hamil, agar perut saya gak terlalu banyak terguncang saat beraktivitas. Sabtunya, saya langsung beli. Harganya Rp 120.000,- kalau gak salah. Tapi jarang saya pakai, paling pas berangkat kerja aja pakainya, soalnya gak nyaman. Gerah.

Sekian dulu catatan kehamilan saya tentang USG 4 dimensi di umur kehamilan 28w. Semakin tua umur kehamilan, rasanya semakin menantang ternyata =D Doakan lancar dan sehat terus, yaaa :)

Minggu, 08 Januari 2017

Menyusun Daftar Perlengkapan Bayi Baru Lahir

Menyusun Daftar Perlengkapan Bayi Baru Lahir. Melahirkan adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap calon orangtua. Termasuk saya yang saat ini tengah hamil 31 minggu. Dalam waktu kurang lebih 9 minggu lagi, momen melahirkan yang saya tunggu-tunggu itu datang. Berbagai perasaan bercampur-baur. Bahagia, gak sabar, deg-degan, kepikiran macam-macam, dll.

Tapi kebahagiaan menyambut melahirkan tentu saja gak cukup hanya disambut dengan perasaan bahagia atau deg-degan saja. Ada banyak persiapan yang harus dilakukan sebelumnya. Karna melahirkan berarti juga menyambut kehadiran anggota keluarga baru yang sangat istimewa yaitu sang buah hati.

Baca:  Catatan Kehamilan

Semua orangtua pasti tau bahwa saat bayi lahir nanti, ia akan membutuhkan banyak perlengkapan yang harus kita siapkan dengan baik sejak sebelumnya. Tapi gak semua orangtua - terutama calon orangtua baru seperti saya - tau perlengkapan apa yang harus disiapkan. Saat pertama iseng datang ke Baby Shop, saya dan mas suami hanya bisa melongo dan celingak-celinguk di antara bermacam-macam perlengkapan bayi.

Belajar dari hal itu, saya dan mas suami akhirnya memutuskan untuk menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir yang harus kami beli. Selain agar gak bingung lagi saat datang ke Baby Shop, menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir rasanya juga akan cukup efektif untuk mencegah calon ibu seperti saya dari bahaya kekalapan. Hehe.

Saat menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir, saya dan mas suami tentu saja gak asal susun. Kami cari referensi, karna sama-sama masih sangat awam soal ini. Selain mencari referensi dengan browsing, kami juga tanya sana-sini, terutama bertanya pada teman-teman yang juga belum lama ini memiliki bayi.

Dan berikut adalah susunan daftar perlengkapan bayi baru lahir saya:

Pakaian dan macam-macamnya


1. Baju bayi new born

Perlengkapan bayi baru lahir yang pertama kali terpikir untuk dibeli pastilah baju, ya. Tapi perlu diperhitungkan baik-baik juga berapa jumlah baju yang harus dibeli. Supaya gak kekurangan, tapi juga gak kelebihan. Jika akan melahirkan saat musim penghujan, mungkin harus beli sedikit agak banyak, untuk antisipasi jika baju bayi belum kering setelah dicuci. Ada juga beberapa orang yang bilang, gak usah beli banyak-banyak, nkarna nanti pasti dapat banyak kado. Saya kurang setuju sih, karna setau saya jarang banget orang yang ngado baju bayi new born, seringnya baju bayi untuk 3 bulanan ke atas gitu.

Nah, baju bayi ini juga ternyata banyak macamnya. Ini nih daftar yang sudah dan masih akan saya beli:

Baju bayi new born lengan pendek

Baju bayi new born lengan pendek saya beli satu lusin (12 pcs). Pilihan merknya ada banyak. Dari mulai Fluffy, Nova, Libby, Arella, Baby Kermit, Little Owl, dll. Harganya pun bervariasi, meski untuk yang sama-sama berlabel SNI sepertinya selisihnya gak terpaut jauh.

Saya memilih merk Libby. Selain harganya pas dengan budget, berlabel SNI, bahannya adem, lembut dan nyaman. Kulit bayi kan lembut banget, ya? Kasian kalau bahannya gak lembut. Saya belinya 6 pcs polos tanpa motif, dengan harga 35.000 per pak (isi 3 Pcs), dan 6 pcs bermotif yang saya beli eceran. Harganya ada  yang 19.900/pcs (ukuran M), ada yang 15.600/pcs (new born). Untuk yang bermotif ini ceritanya agak kemahalan karna iseng masuk di Baby Shop yang agak 'wah'.

Lalu saya juga membeli baju bayi new born lengan panjang. Kan tetap ada saatnya si adek bayi nanti butuh kehangatan 8halah bahasanya*. Misalnya saat malam hari. Apalagi saat saya lahiran nanti Insya Allah, sepertinya masih akan turun hujan. Baju bayi new born lengan panjang saya beli 9 Pcs saja, dan terdiri dari 3 merk yang berbeda. Hehe. 1 pack (isi 3 pcs) merk libby dengan harga 40.000, 1 pack merk Arella harga 45.000 dan 1 pack merk baby Kermit harga 37.500. Kenapa pilih beda-beda merk? Iseng aja sih, biar punya semua =D

Selain lengan pendek dan lengan panjang, saya juga berencana akan membeli baju bayi new born tanpa lengan, sebanyak 1 lusin (12 Pcs). Kan siapa tau nanti pas siang-siang adek bayinya kepanasan, jadi nyamannya pakai baju tanpa lengan. Satu lagi yang akan saya beli adalah kaos singlet untuk daleman, sekitar 1 lusin dulu.

2. Popok kain bayi new born

Selama saya masih dalam masa cuti kerja, pengennya adek bayi gak langsung saya pakaikan diapers. Kasihan lah kulitnya masih lembut sekali. Maka dari itu, tentunya saya butuh beli popok kain bayi new born. Saya beli 2 lusin, 1 lusin merk Libby dengan harga 130.000 dan 1 lusin merk mamimu dengan harga 100.000.


3. Celana bayi

Meski bayi baru lahir setau saya akan lebih sering pakai popok, tapi saya tetap merasa butuh beli celana. tapi gak banyak. Sekedar buat jaga-jaga aja. Celana pendek model kaca mata saya beli 2 Pack (6 Pcs), masing-masing 1 Pack merk Libby, dan 1 Pack merk Little Owl dengan harga sama-sama 30.000/pack-nya. Sedangkan celana panjang saya cuma beli 3 Pcs. Hihi. Pikir saya, ah, bayi new born kayaknya celana panjang gak akan terlalu butuh.

Ohya, kenapa saya gak beli baju bayi new born yang sepasang atasan-bawahan? Karna ya itu tadi, adek bayi pasti nanti lebih sering pake popok. Beli baju sepasang atas-bawahnya nanti saja kalau sudah agak gedhe dan sudah mulai pakai diapers. Belum beli? Belum. Selain mikir 'siapa tau dapet kado' (hihi), juga karna mengefisienkan budget yang ada. Kebutuhan kan banyaaakk, jadi yang masih bisa ditunda, ya ditunda dulu saja.

4. Gurita

Mungkin gak semua orang ya sepakat memakaikan gurita pada bayi? Tapi saya tetap memilih untuk memakaikannya, Insya Allah. Manut sama mbah-mbahnya. Tapi saya gak beli banyak, hanya beli  1 lusin dengan harga 66.000.

5. Bedong bayi

Bedong menurut saya masih jadi keharusan sih. Biar adek bayi anget, dan setau saya dulu ponakan-ponakan jadi nyenyak tidurnya saat dipakaikan bedong. Meskipun ya jangan terus-terusan dibedongnya.

Saya berencana membeli 1 lusin. Tapi yang sudah terbeli saat ini baru 1/2 lusin alias 6 pcs. Bahannya kaos, adem dan lembut sekali, setipe sama bahan baju-bajunya, harganya 100.000/6 pcs. Yang 6 pcs kekurangannya saya berencana membeli bahan flanel, untuk dipakai malam hari, agar lebih hangat.

6. Sarung tangan dan kaki, serta topi bayi

Ini juga banyak artikel yang bilang gak usah dipakaikan sarung tangan dengan alasan bla bla bla ya. Tapi lagi-lagi saya memilih untuk mempertahankan kearifan lokal (baca: kebiasaan mbah-mbahnya). Saya hanya membeli 3 pasang (1 pack), merk Libby dengan harga 25.000.

Topi saya berencana membeli 3 pcs. Tapi saat ini belum beli satu pun. Hehe.

Perlengkapan Tidur

1. Kasur bayi dengan kelambu

Tadinya saya gak berniat beli kasur bayi. Mau beli kelambu (tudung saji) saja. Tapi saat harbolnas kemarin, kebetulan ketemu kasur bayi yang sudah jadi satu dengan kelambunya, dengan harga yang cukup terjangkau. Baiklah, akhirnya memutuskan beli. Harganya 160.000 termasuk ongkir.

2. Perlak karet

Karna adek bayi gak akan langsung pakai diapers, maka perlak adalah item yang wajib dibeli. Saya berencana beli dua, yang satu untuk ditinggal di rumah mbahnya di desa. Saat ini yang sudah terbeli baru satu, dengan harga 80.000 ukuran 90x60.

3. Selimut

Teman-teman sih bilang gak usah beli, karna pasti dapat banyak kado selimut (ge er). Tapi menurut saya tetap harus beli, meskipun satu. Setidaknya untuk dipakai saat adek bayi pulang dari tempat bersalin (entah di kliniknya bidan atau RS). Yang ini juga belum beli, jadi belum tau harganya.

Update: Akhirnya saya beli merk Dialogue. Tapi lupa harganya. Hehe.

4. Bantal guling

Bantal guling saat ini saya sudah punya dua. Insya Allah cukup. Yang satu sudah sepaket dengan kasur, yang satu lagi beli lagi di baby shop dengan harga 40.000. Bantalnya saya pilih yang tipe bantal anti-peyang.

kasur dan pompa ASI

Perlengkapan Mandi

1. Ember mandi bayi

Ini juga termasuk salah satu item wajib, ya. Belinya satu saja lah, buat apa banyak-banyak. Tapi saat ini belum beli. Hehe.

2. Handuk dan washlap

Handuk menurut saya minimal punya dua. Cuma belum beli karna ada teman yang bilang gak usah beli dulu, karna beliau akan mengirimkannya untuk saya sebelum HPL. Hihi, Alhamdulillah :) Washlap juga paling gak punya tiga, ya. Biar bisa ganti-ganti.

3. Sabun, shampo, kapas, dll.

Kalau ini beli yang satu set termasuk bedak, minyak telon, lotion, minyak rambut, dll itu aja ya sepertinya. Masing bingung sih pakai merk apa yang ramah untuk kulit bayi dan gak pakai bahan macam-macam. Ada yang punya saran?

Update: Minyak telon pas Faza masih new born saya pakai merk Cito, beli di apotek. Itu konon ramah untuk kulit new born.

Kapas rencananya beli yang bola-bola saja. Ini berdasarkan saran dari Mbak Windi Teguh di salah satu tulisannya. Menurut beliau lebih irit dan praktis.

Feeding & Nursing

1. Breastpump alias pompa ASI

Pompa ASI merupakan salah satu perlengkapan 'perang'-nya ibu menyusui, ya. Terutama ibu bekerja yang bertekad tetap memberi ASI Eksklusif untuk buah hatinya. Maka, item ini adalah item pertama yang saya beli sebelum perlengkapan bayi baru lahir lainnya.

Baca: Resolusi 2017

Setelah membaca beberapa review teman Blogger soal beberapa merk pompa ASI, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Medela harmoni manual. Belinya waktu harbolnas, dapet harga kurang lebih 360.000.

2. Cooler Bag

Ini juga item yang wajib dimiliki ibu menyusui yang bekerja. Kalau gak ada cooler bag, ASI perahannya mau ditaruh mana? Saya memilih merk Gabag seri Ethnic, beli online, dengan harga 185.000 sudah termasuk ongkir.

3. Dot

Saya sempat ingin (sok) idealis ingin bilang NO pada dot. Takut adek bayinya bingung puting nanti :( Tapi setelah baca-baca pengalaman teman Bloger (Mbak Annisa), saya memutuskan, ah sudahlah, pakai dot saja, Bismillah. Saya bayangin kayaknya memberi ASIP memakai sendok, pipet atau soft cup feeder bukanlah hal yang mudah, apalagi yang melakukan adalah mbak pengasuh. Saya cuma bisa berdoa semoga nanti adek bayi gak bingung puting.

Maka dari itu, saya memutuskan akan membeli dot sebelum melahirkan, meskipun saat ini belum. Masih galau antara mau pilih pigeon peristaltic wide neck, tommee tippee atau avent. Ada saran? Untuk jumlah, saya berencana beli minimal 3 dulu.

Update: Akhirnya saya pake Pigeon peistaltic wide neck. Alhamdulillah pakai dot ini Faza gak bingung puting :)

4. Botol ASIP

Ini juga WAJIB punya, ya. Saya berencana beli 20 pcs. Menurut info dari kakak ipar, di baby shop di daerah Johar Semarang (nama tokonya Toko Glodok, di Jl. H. Agus Salim) harganya 2.500/pcs.

5. Sterilizer

Saya juga gak tau item ini termasuk yang wajib atau tidak sebenarnya. Kan ada yang men-sterilkan botol dengan cara direbus, ya? Tapi saya dan mas suami Insya Allah berencana beli. Pengennya yang fungsinya 3 in 1, merk baby safe. Sampai saat ini masih memantau harga di beberapa E-Commerce.

Update: Saya akhirnya beli sterilizer merk Baby Safe, harganya kurang lebih 300 ribu. Performanya Oke punya dan awet sampai sekarang (2 tahun).


Lain-Lain

1. Selendang/gendongan bayi

Katanya salah satu jenis kado yang paling umum itu selendang alias gedongan, ya. Tapi masa iya mau mengharpkan kado saja? Hehe. Paling gak saya harus beli satu lah. Saya sih naksir gendongan yang tipe baby wrap. Sepertinya nyaman sekali. Untuk harga masih memantau juga =D

2. Tas perlengkapan bayi

Kalau adek bayi sudah lahir nanti, ritual pulang kampung paling gak 1 bulan sekali haruslah tetap berjalan. Maka, tas perlengkapan bayi adalah wajib. Alhamdulillah sudah beli, merk Snooby dengan harga 144.000.

Sampai saat ini, daftar perlengkapan bayi baru lahir yang saya susun baru itu dulu. Kalau mau ngikuti nafsu sih masih banyak sekali yang terlewat. Tapi karna budget yang harus diefisienkan, saya dan mas suami konsen menyusun perlengkapan yang benar-benar sifatnya benar-benar mendesak dan tidak bisa ditunda.

Wow, ternyata menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir juga butuh pemikiran dan pertimbangan yang matang, ya. Tentu saja sembari terus berdoa agar saya dan si janin selalu diberikan kesehatan, keselamatan serta kemudahan saat saatnya melahirkan nanti. Aamiin.

Kalau ada yang sudah punya pengalaman menyusun daftar perlengkapan bayi baru lahir, boleh banget lho saya diberi saran-sarannya :)