Kamis, 22 Juni 2023

Mengapa Kami Memilih Kuttab Al-Fatih?

Setelah kegalauan tentang proses menyusui, disusul soal MP-ASI, lalu tentang sembelit berulang yang sungguh menguji kesabaran, dan ratusan kegalauan lainnya, tiba juga saatnya kami galau memilih sekolah untuk Faza. Hehe, kayaknya jadi orangtua emang rasanya akan galau terus soal anak sih ya.

Sebenarnya, obrolan tentang pilihan sekolah untuk Faza sudah sering sekali kami angkat dan diskusikan. Dan meski sejak awal kami sudah mengerucutkan pilihan, tetap saja saat masanya tiba, masih ada saja bongkar-pasang pertimbangan yang membuat kami galau.

Saat Faza masuk usia 4 tahun, kami mulai serius sekali memilih sekolah tingkat dasar untuk Faza. Kenapa 4 tahun? Karena salah satu sekolah yang menjadi opsi kami adalah Kuttab Al-Fatih, yang mana sudah bisa mulai masuk saat anak usia 5 tahun.

Apakah ada pilihan lain selain Kuttab Al-Fatih? Ya, ada. Yaitu SDIT Bina Insani, yang mana sekolah dengan basis seperti umumnya Sekola Dasar Islam Terpadu lainnya. Beda dengan Kuttab Al-Fatih yang bisa dibilang sangat 'unik dan berbeda' dengan sekolah dasar lain pada umumnya.

Jujur saja, perbedaan dan keunikan itulah yang membuat saya dan suami sempat ragu dan maju-mundur. Soal hal-hal yang sempat membuat kami maju-mundur ini, semoga lain waktu bisa saya ceritakan lebih panjang.

Namun setelah berbagai pertimbangan, istikharoh dan doa, dengan berbekal Bismillah, akhirnya kami mantap memasukkan Faza untuk belajar di Kuttab Al-Fatih.

Beberapa hal ini lah yang akhirnya membuat kami mantap:

Kurikulum Utama: Iman & Al Qur'an

Melihat berbagai kejadian yang mencerminkan kondisi generasi hari-hari ini, jujur kami resah. Kenapa ya, sekolah sepertinya makin banyak yang bagus dan keren, tapi kok gak berbanding lurus dengan kualitas generasi kita?

Emm, terutama jika dilihat dari kacamata Islam, ya. Kalau dari kacamata duniawi sih mungkin bisa dibilang generasi hari ini semakin cemerlang otak dan kemampuannya.

Keresahan kedua, saat mencoba merefleksikan diri dengan apa saja yang saya pelajari selama sekolah, rasa-rasanya kok pelajaran-pelajaran yang dulu saya hafalkan tiap hari di buku paket, banyak yang gak terpakai atau gak signifikan manfaatnya untuk bekal hidup, ya?

Keresahan berikutnya, tentang kurikulum sekolah di Indonesia, yang sering banget ganti, tiap pejabatnya ganti. Saya sering dengar guru kebingungan tiap harus adaptasi dengan kurikulum baru. Nah lho, kalo gurunya saja bingung, gimana muridnya?

Keresahan-keresahan tersebutlah yang mengantarkan kami untuk akhirnya mantap memilih Kuttab Al-Fatih.

Di Kuttab Al-Fatih, kurikulum utamanya hanya ada 2. Yaitu, Iman dan Al-Qur'an. Mata pelajarannya tiap hari ya terbagi menjadi dua, kelas iman dan kelas Al Qur'an.

Apapun yang dipelajari anak di kelas iman, akan dikaitkan dengan keimanan pada Allah. Misal, anak diajak belajar tentang tema tata surya, maka ustadz atau ustadzah akan menunjukkan ayat-ayat Al Qur'an tentang tata surya dan mengajak mentadabburinya, dengan bahasa ringan sesuai dengan usia anak di kelas tersebut.

Adab Sebelum Ilmu, Iman Sebelum Al Qur'an

Di Kuttab Al-Fatih, saya pribadi merasakan 'adab sebelum ilmu, iman sebelum Al Qur'an' ini benar-benar diterapkan, dan bukan sekedar slogan.

Adab adalah aspek yang sangat diperhatikan, melebihi aspek lainnya, termasuk aspek akademik. Mau sepintar apapun, kalau adabnya belum baik, maka sangat memungkinkan anak tersebut tidak bisa naik kelas.

Saat pertama kali bertemu ustadzah untuk menerima raport pertama Faza 6 bulan lalu, salah satu hal utama yang disampaikan ustadzah adalah ada adabnya yang belum baik, yaitu memotong pembicaraan ustadzah dan  asyik ngobrol sendiri saat ustadzah sedang memberikan pelajaran.

 Dan gak hanya santri (murid) yang ditekankan untuk mengutamakan adab. Para guru pun juga memperlakukan santri dengan adab sebagaimana seorang guru pada muridnya. Saya sering trenyuh melihat para ustadz dan ustadzah yang tampak sayang dan tulus sekali pada para santri. Begitu juga kami orangtua juga dihimbau untuk berinteraksi dengan adab yang baik, baik kepada ustadz dan ustadzahnya anak kita, pada sesama orangtua santri atau pada anak kita sendiri.

Di Kuttab, goal utama bukan soal seberapa banyak hafalan Al Qur'an. Yang lebih utama adalah iman sebelum Al Qur'an. Jadi penekanan utamanya adalah pada penanaman iman, adapun hafalan Al Qur'an, Insyaa Allah akan mengikuti.

Goal Utama: Akhirat

Kuttab Al-Fatih merupakan lembaga sekolah non-formal. Lulus dari Kuttab Al-Fatih gak akan dapat selembar ijazah yang diakui negara.

Jujur, hal ini sempat menjadi salah satu faktor yang bikin maju mundur. Gimana nanti kalo Faza gak punya ijazah SD? Gimana masa depannya? Bisa kerja gak ya? Dan lain sebagainya.

Sampai akhirnya saya dengar kajian ustadz Budi Ashari, dan ditampar dengan sebuah hadist.

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

"Barangsiapa yang memperlajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat" (HR. Abu Daud)
Sempet ada bantahan dari kepala saya sendiri. "tapi kan wajar sebagai manusia mikirin masa depan? mikirin dunia?"

Lalu, lagi-lagi saya kembali ingat sebuah hadist.

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ (HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih)
Dari situ lah hati kami Insyaa Allah mantap mengantarkan anak kami belajar di lembaga ini.

Sudah banyak sekali tanda-tanda akhir zaman yang bermunculan. Faza adalah termasuk generasi akhir zaman. Maka, menyekolahkan dia di Kuttab Al-Fatih ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar kami untuk membekalinya menghadapi akhir zaman yang pasti akan semakin berat jika dihadapi tanpa pondasi akidah dan keimanan yang kuat.

Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if dan syawahidnya atau penguatnya pun dho’if. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7: 139)

Sumber https://rumaysho.com/3335-jangan-lupakan-nasib-kalian-di-dunia.html

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Sumber https://rumaysho.com/7252-belajar-agama-hanya-untuk-mencari-dunia.html

Orangtua juga Ikut Belajar

Di Kuttab Al-Fatih, peran orangtua santri besar sekali porsinya. Jangan harap bisa berharap kita bisa lepas tangan dan menyerahkan tugas mendidik sepenuhnya pada guru dan sekolah.

Sejak awal mendaftar, komitmen orangtua sudah sangat diuji. Dari proses sebelum mendaftar, ada stadium general yang wajib dihadiri berdua -- ayah maupun ibu calon santri. Ada proses interview yang juga harus dihadiri berdua.

Setelah masuk, orangtua santri juga ada kewajiban menghadiri kajian bulanan. Jika ijin 3x atau lebih, sebelum menerima raport orangtua akan diminta menghadap salah satu ustadz untuk diingatkan. Dan jika hal yang sama terulang, Kuttab Al-Fatih akan mengembalikan anak pada orangtuanya, karena dianggap tidak bersedia bekerjasama dengan sekolah dalam mendidik anak. Begitu pun saat ambil raport, tidak boleh hanya ayah atau ibunya saja yang datang, melainkan harus berdua.

Ada juga lembar BBO (Belajar Bersama Orangtua) yang harus diisi oleh orangtua tiap pekannya. BBO berisi laporan orangtua tentang aktivitas belajar anak saat di rumah. Saat awal Faza masuk Kuttab Al-Fatih, qodarullah bersamaan dengan saya melahirkan anak kedua. Jujur saat itu saya sempat ingin menyerah dengan berbagai kewajiban orangtua ini karena merasa kewalahan (karna punya newborn), huhu. Tapi Alhamdulillah keinginan menyerah itu bisa saya pupus.

Oh ya, selain itu orangtua santri juga ada kewajiban untuk menyimak kajian online pekanan melalui aplikasi khusus orangtua santri Kuttab Al-Fatih, dan ada soal ujiannya setiap usai menyimak kajian.

Masyaa Allah, jadi gak cuma anak yang harus belajar, orangtua pun harus terus belajar juga.

Yah, itulah beberapa point yang membuat kami yakin dan mantap menyekolahkan anak kami di Kuttab Al-Fatih. Saya gak bilang Kuttab Al-Fatih pasti lebih baik dari sekolah lainnya. Isi pikiran saya di atas juga bisa jadi kontra dengan pikiran teman-teman yang lain.

Wallahu a'lam bishawab. Kami hanya berikhtiar sebaik yang kami mampu dalam mendidik anak-anak kami. Semoga Allah menerima ikhtiar kami, dan memberikan kami keberkahan atasnya.

Senin, 06 Februari 2023

Ahsan, 0-6 Bulan

 Setiap anak punya cerita.

Gak peduli mau anak ke berapapun, ternyata tetap aja hampir setiap jengkal hal tentang masing-masing anak adalah hal baru.

Begitulah yang aku rasakan ketika mengurus Ahsan. Meski tentunya, mengurus anak kedua saya sudah lebih siap dan gak blank banget. Seenggaknya, saya sudah punya gambaran tentang gimana struggle-nya satu sampai dua minggu pertama menyusui, sudah lebih ngeh membaca berbagai macam arti tangisan bayi (dulu tiap Faza nangis aku nawarinnya neneeeenn terus, padahal nangis itu gak selalu artinya minta nenen, hehe).

Tapi ya tetap aja balik lagi, banyaaakkk sekali kejutan dan cerita tentang mengasuh Ahsan di 6 bulan pertama kehidupannya.

Ahsan

 

Selalu Begadang di 2 Bulan Pertama

Dulu tantangannya Faza adalah mengalami pengalaman baru sebagai ibu yang serba pertama, dan serba masih belajar. Alhamdulillahnya, aku dapat sekali banyak bantuan, terutama di 2 bulan pertama, karena aku melahirkan di rumah orangtuaku. Sempat begadang, itupun kalo gak salah hanya sebulanan pertama, dan gak tiap hari Faza ngajak begadang.

Sedangkan Ahsan, hampir setiap hari selama 2 bulan, ngajakin begadang 😭 Engga rewel sih seringnya (pernah juga rewel), tapi tetep aja ngebiarin anak bayik melek sendirian itu tetep ga akan bisa bikin kita tidur nyenyak kan?

Dulu Faza pagi-sore tidurnya bentar-bentar banget. Maunya neneeeen terus, sampai saya gak bisa ngapa-ngapain sama sekali. Nah, ahsan ini siangnya tiduuuurrr terus (meski tetep nenen 2 jam sekali). Malam, melek :(

Dia bisa tidur hampir selalu di atas jam 1 malam. Ini yang bikin saya beberapa kali sempat limbung baik secara fisik, maupun secara psikologis.

Mas Suami bantuin sih, kadang dia yang jagain, akunya tidur. Tapi ya tetep aja kalo cari nenen yang yang dicari ibunya kan?

Masuk RS di Usia 5 Bulan

Dulu saat Faza usia 5 bulan, saya masuk rumah sakit. Eh sekarang saat Ahsan usia 5 bulan, Ahsannya yang masuk RS. Sedih banget ya ternyata lihat anak harus dirawat di Rumah Sakit tuh. Lihat anak sakit di rumah juga sedih, tapi sampai harus dirawat tuh sakitnya another level :(

Lihat Ahsan harus ditusuk berkali-kali saat memasang infus dan saat infusnya lepas tuh... ah, gak bisa dijelasin rasanya.

Ahsan dirawat karena didiagnosa Bronco Pneumonia. Awalnya dia kami ajak ke Losari, Cirebon -- rumah kerabat. Sepulang dari sana, paginya tiba-tiba dia batuk, dan batuknya gak biasa. Seperti ada banyak sekali lendir di dadanya. Dua hari di rumah, kondisinya makin bikin gak tega. Nafasnya cepat sekali dan terlihat sesak. Disuruh nenen susah banget, karena saat nenen dia kesulitan nafas, dan ada restraksi dada (ada cekungan antara dada dan perut saat bernafas).

Alhamdulillah setelah 4 hari, Ahsan diijinkan pulang, meski kondisinya belum 100% baik.

Sampai hari ini, Ahsan masih sering grok-grok, seperti ada lendir di dada dan tenggorokannya. Jujur bikin saya lumayan worry :(

Lulus ASI Eksklusif Tanpa Drama

 

Setelah dulu gagal memberikan ASi eksklusif untuk Faza, Alhamdulillah di anak kedua saya diberi kemudahan untuk memberi ASi eksklusif. Saya gak pernah berani membayangkan punya stok ASI se-freezer penuh, tapi qodarullah Allah ijinkan saya mampu untuk itu :')

Tumbuh Kembang Ahsan

BB Ahsan di usia 6 bulan 8,6 Kg. termasuk ideal. Semoga seperti itu terus. Aamiin.

Ahsan baru lancar tengkurep bolak balik usia 5 bulan, sedangkan tengkurep pertama kali usia 4 bulan. Tapi di usia 6 bulan 2 minggu, Alhamdulillah dia udah bisa ngangkat bokongnya (jadi posisi seperti mau merangkak gitu). Masyaa Allah, seneng banget... karna dulu Faza terlambat di fase ini. Pun dengan loncat-loncat. Dulu Faza gak ada fase suka loncat-loncat saat kami pegangi dia, sedangkan Ahsan sudah suka loncat-loncat di pangkuan ketika usia menjelang 6 bulan. Mungkin karena kondisi kaki Faza yang spesial.


Alhamdulillah akhirnya kesampaian nulis rekap tentang Ahsn 0-6 bulan. Meski seadanya dan gak sedetail Kakak dulu. Semoga Ahsan tidak menganggap ibu membeda-bedakan yaaa.


Minggu, 30 Oktober 2022

Proses Adaptasi Punya Adik Baru

Punya anak kedua di saat anak pertama saya usia 5 tahun awalnya bikin saya lumayan pesimis. Ah, pasti akan minim drama lah. Si kakak pasti gak akan ada cemburu-cemburuan, karena kan sudah besar. Apalagi kehadiran si adek ini sangat dia nanti-nantikan selama ini. Begitu pikir saya.

Eh ternyata, tidak seindah itu, ferguso! 😂

Saya seolah 'lupa' bahwa Kakak Faza hanyalah seorang anak berusia 5 tahun, yang terlihat sedewasa apapun, ya tetap saja anak 5 tahun.

5 tahun menjadi satu-satunya pusat dunia saya dan ayahnya, membuat si Kakak oleng ketika tiba-tiba ada anggota baru yang menyedot perhatian kami besar-besaran. Dulu, selama saya ada di radius pandangan dia, maka kapanpun dia butuh, saya siap grak selalu gercep memenuhinya. Setelah adiknya lahir, dia harus menerima berbagai jawaban yang mungkin membuat dia kaget.

"Sebentar ya kak, adek sedang nenen"

"Sebentar ya kak, ibu sendawa-in adek dulu"

"Nanti ya kak, ibu capeeekkk sekali"

Dan lain sebagainya.

Perubahan kondisi itu, membuat Kakak juga tiba-tiba 'berubah'. Saya dan ayahnya sempat merasa Faza benar-benar berubah dan bukan lagi Faza yang kami kenal.

Faza yang kami kenal, meski adakalanya membuat kami jengkel, tetaplah bagi kami anak yang manis. Anak yang cukup mudah diarahkan dan dinasehati. Begitu adiknya lahir, duaarrr! Faza berubah jadi anak yang seolah selalu ingin menguji kesabaran ayah ibunya. Apapun yang ayah ibu katakan, maka dia akan mencari cara gimana caranya untuk mengingkarinya.

Dia juga jadi gak kerasan sekali di rumah. Kapanpun ada kesempatan untuk keluar dari rumah, maka dia akan melakukannya. Tanpa pamit! 😭 Ini bikin kami shock sekali, karena kami paham betul Faza bukan tipe anak yang seperti itu sebelumnya.

Malangnya, kami tidak langsung menyadari bahwa perubahan itu merupakan akibat dan bagian dari proses adaptasi punya adik baru. Apalagi saat itu saya dan ayahnya juga sama-sama sedang beradaptasi juga dengan tambahan tanggung jawab baru. Belum lagi di sebulan pertama, si adek boboknya selalu di atas jam 12 malam, bahkan seringnya masuk jam 2 malam baru bisa tidur. Sedangkan siang hari, saya juga hampir gak pernah bisa tidur siang.

Lengkaplah sudah. Faza yang kebingungan menghadapi kondisi baru. Ayah-ibunya yang kebingungan menghadapi dia sekaligus kehabisan energi untuk menelaah dengan kepala dingin apa sebenarnya penyebab Faza tiba-tiba berubah.

Bisa ditebak, tiap hari isinya kami yang marah-marah ke Faza, dan Faza yang marah balik. Kami yang menangis, dan kami yang semakin marah. Duh ya Allah, kalau inget masa itu 2 bulan lalu, rasanya hari-hari gelap banget 😭

Pernah suatu malam, Faza gak pulang ke rumah sejak habis sholat magrib di masjid hingga menjelang pukul 8 malam. Saya resah sekali tentu saja, mencoba minta tolong ayahnya untuk memanggil Faza untuk pulang. Fyi, sebelumnya Faza hanya kami ijinkan main di luar rumah saat malam pada malam minggu saja. Sedangkan saat itu hari sekolah.

Ayahnya menolak, karena sedang merasa capek. Capek mental terutama. Faza sudah berkali-kali melakukan hal yang serupa sejak adiknya lahir. Saya juga bisa menerima dan memaklumi penolakan ayahnya saat itu. Dia lelah fisik, lelah mental. Kalau dia manggil Faza untuk pulang saat itu, pasti gak akan  mulus-mulus saja. Seperti yang sudah-sudah, harus ada adu urat dulu, Faza menolak sambil marah, ayahnya ikut marah, lalu Faza manangis meraung-raung. 

Saya sendiri juga saat itu dalam kondisi yang gak memungkinkan untuk memanggil Faza, karena adeknya sedang kembung dan rewel tiap diletakkan di kasur. Selain itu, ayahnya juga minta saya untuk menunggu sampai Faza pulang sendiri.

Pikiran saya ke mana-mana. Gimana kalau Faza tetep gak pulang? Apa kata tetangga nanti lihat Faza seperti gak terurus? Dll. Alhasil, saya cuma bisa berurai air mata sambil gendong si adek. Bingung harus gimana ngadepi Faza. Hhh, begitulah. Cerita flashback gini aja rasanya inget banget gimana capeknya saat itu.

Alhamdulillahnya, Faza punya kemampuan mengungkapkan perasaan dengan cukup baik. Meskipun kadang caranya masih kurang tepat -- karna sekali lagi, dia tetaplah masih seorang anak 5 tahun.

Dia berkali-kali bilang, "ibu sekarang gak pernah urusin aku, urusinnya adek terus."

Kalimat itu menjadi semacam clue untuk kami. Ternyata segala ulahnya selama ini memanglah karena dia sedang 'cemburu'. Adakalanya, hati saya sebagai ibu serasa diremas-remas mendengar ungkapan hatinya.

Seperti suatu saat sepulang sekolah, saat ia marah tidak jelas dan saya mulai terpancing emosi, saya tanya dengan nada tinggi, "Kakak tu kenapa sih, kaaakk? Ibu harus gimana? Kok ibu salah terus di mata kakak?!"

Lalu dengan berurai airmata ia berkata, "aku tu kangen, Buuuu... aku kangen ngomong-ngomong sama ayah sama ibu lagi kayak dulu pas habis sholat magrib (kami sering quality time dengan bercanda dan ngobrol seusai sholat magrib memang), Tapi sekarang udah gak bisa lagi, kan sekarang sudah ada adek..."

Dia mengatakan itu dengan perasaan sedih yang tergambar jelas di wajahnya. Saya cuma bisa memeluk dan menjelaskan, bahwa kehadiran adek sama sekali bukan penghalang untuk kita bisa seperti dulu lagi.

Pernah juga suatu saat, saat saya dan ayahnya sedang tersenyum-senyum memandangi adeknya. Ternyata si kakak mencuri pandang dari kejauhan. Saat saya menyadari dan memanggilnya, dia bilang, "ayah ibu kok kalau lihat adek kayak seneng gitu ya, senyum-senyum terus... tapi kalau lihat kakak kok enggak". Duh Ya Allah...

Tapi Alhamdulillah semua itu sudah berlalu. Di usia adiknya yang kurang lebih 2 bulan, Kakak sudah mulai bisa beradaptasi dan menerima kehadiran adiknya, sejalan dengan saya dan ayahnya yang juga sudah mulai bisa menata diri dengan kondisi baru.

 

 

Proses Adaptasi Punya Adik Baru

 

Kakak Faza sekarang sudah kembali menjadi Kakak Faza yang kami kenal. Alhamdulillah...

Meskipun tentu saja bukan berarti tantangan sudah selesai. Setelah ini pasti akan ada tantangan-tantangan baru.

Semoga kami bisa terus bertumbuh bersama dan saling menguatkan. Aamiin.

Selasa, 18 Oktober 2022

Birth Story Anak Kedua

Setiap anak lahir dengan kisah kelahirannya masing-masing. Begitu juga anak-anak saya.

Baca: Cerita Kelahiran Faza

Dulu saya kira, melahirkan anak kedua pasti kesannya tidak akan semendalam anak pertama. Ternyata saya salah. Apalagi anak kedua saya lahir setelah melewati penantian, doa dan ikhtiar sekian lama.

Cerita Kelahiran Ahsan, Anak Kedua kami

Sejak kontrol di minggu ke 36 dengan dokter @drdewisrihandayanispog di klinik Klinik Ngesti Widodo, beliau bilang, adek janin BB-nya cukup besar. Usahakan agar adek lahir tidak sampai 40 minggu seperti kakaknya, karena khawatir BB-nya akan terlalu besar.

Dari situ, saya termotivasi untuk gimana caranya kontraksi muncul di kisaran usia kandungan 37-38 minggu. Berbagai usaha saya lakukan. Dari mulai berdoa (yang utama), ajak ngobrol adek janin, serta berbagai usaha lain.

Baca: Kilas Balik Trimester 3 & Persiapan Melahirkan

Di kelas privat dengan yang kedua dengan Bu Bidan Cahyaning di tanggal 13 Juli 2022 petang, saya cerita, seharian itu perut saya sering sekali kencang dan kontraksi palsu. Aku cerita juga bahwa gak bisa memenuhi target latihan harian yang beliau kasih.

Akhirnya pada sesi tersebut, beliau melakukan pemeriksaan dalam. Dan mayan kaget, karena beliau bilang udah mulai bukaan 1 😱 Lalu beliau minta salah satu bidan Ngesti Widodo (Bidan Terra) untuk kasih saya beberapa treatment untuk optimalisasi posisi janin. Saya juga ditawari untuk pijat perineum, dan aku iya-kan.

Paginya, Kamis 14 Juli 2022, saya mulai keluar lendir campur darah. Tapi saya gak kaget, karena sebelumnya sudah dikasih tau sama Bu Bidan, bahwa biasanya kalau habis periksa dalam dan pijat perineum, akan keluar darah.

Tapi ya tetap aja jadi mulai deg-degan. Akhirnya saya memutuskan untuk gak berangkat kerja. Padahal harusnya cutinya per tanggal 18 Juli 2022. Hehehe. Suami juga saya suruh ijin gak masuk.

Kontraksi mulai rutin datang, tapi masih tipis-tipis doang. Makin siang, bukannya makin kuat, eh malah ilang sama sekali 😂 Bikin galau banget.
 

Jum'at, 15 Juli 2022 masih sama seperti kamis. Pagi kontraksi rutin datang, tapi masih tipis, makin siang makin ilang. Berusaha untuk tetap tenang. Tetap happy. Sembari tetap ikhtiar main gymball, yoga, squat, dll.
 

Sabtu, 16 Juli 2022, jadwal kontrol dengan dokter Dewi. Diperiksa dalam, masih tetap bukaan 1. Taksiran BB janin sudah mencapai 3,6 yang mana akan terus nambah kalo gak segera lahir 😥 Ketuban juga udah mulai mepet, tapi masih bisa bertahan kurang lebih seminggu, kata beliau. Dicek posisi janin, ternyata kepalanya belum ngunci dan masih goyang (belum benar-benar optimal). Akhirnya beliau mengarahkan, Selasa 19 Juli 2022 kontrol ulang dengan beliau, kalo masih belum ada perkembangan, beliau menyarankan untuk ikut program induksi alami ala Ngesti Widodo hari Rabu tanggal 20 Juli 2022.
 

Ahad, 17 Juli 2022. Masih jalan-jalan ke Ambarawa. Masih makan nasi uduk di Taman Tirto Agung. Tapi yang spesial, di hari Ahad ini, Mas suami semangat ngajakin optimalisasi posisi janin bersama pasangan yang dulu diajari Bu Bidan. SLR, Rebozzo shifting dan rebozzo shaking. Kontraksi tipis-tipis masih terus muncul, datang dan pergi, tapi gak kunjung menguat. Malamnya, saya merasa ada yang 'aneh'.

Saya merasa CD yang saya pakai terasa lembab. Gak cuma lendir darah seperti beberapa hari ini, tapi disertai seperti rembesan air. DEG, jangan-jangan ketuban rembes? Aku langsung chatt ke nomor customer care-nya Ngesti Widodo, dan diminta untuk segera datang ke klinik aja. Tapi karena masih belum yakin, saya memutuskan untuk mantau lebih lanjut sampai besok paginya aja (keputusan yang ternyata agak 'berbahaya').

Senin, 18 Juli 2022. Mas suami berangkat kerja karena udah 2 hari ijin, sedangkan saya masih terus ngrasa lembab di pakaian dalam. Tidak lama kemudian, pihak Ngesti Widodo menghubungi, menyarankan untuk segera datang ke Klinik sesegera mungkin. Akhirnya saya chatt mas suami, minta dia segera pulang. Tekadku bulat, saya memang harus segera ke klinik.

Akhirnya sampai di Ngesti Widodo kurang lebih jam 13.00. Kami langsung disambut dan dilayani Bu Bidan Terra yang super duper ramah. Kami diarahkan untuk langsung rawat inap dan mengambil program layanan PC 37+ (induksi alami ala Ngesti Widodo). Kami iya-kan. Lalu dimulailah berbagai langkah persiapan persalinan.

Pertama Bidan Terra memantau kontraksi yang datang, selama 1 jam. Datang per berapa menit dan seberapa kuat. Ternyata sudah mulai rutin datang, hanya saja memang belum kuat. Setelah itu saya dipersilakan makan siang dulu, sembari suami mengisi berbagai formulir dan lembar persetujuan, sekaligus dijelaskan berbagai 'aturan main' yang harus disepakai oleh kami sebagai pasien dengan pihak Klinik Ngesti Widodo.

Sekitar jam 3 sore, aku diarahkan ke semacam ruang persiapan persalinan. Bu Bidan Cahyaning datang untuk periksa dalam. Bukaan 1 longgar menuju 2, kata beliau. Dan ternyata, fix ketubanku memang sudah rembes.

Karena ketuban sudah rembes, maka dilakukan rekam jantung janin, untuk memantau kondisi janin. Sebelum rekam jantung janin, bidan Terra kasih treatment SLR. Rekam jantung janin dilakukan kalo gak salah saat itu jam 4 sore. Dan aku ngrasa kontraksinya sudah mulai lebih kuat dan jarak waktunya agak lebih memendek.
 

Sekitar jam 5 sore, aku diajak pindah ke ruang VK. Kontraksi udah makin kerasa, tapi masih cincai laahh, masih sangat bisa saya tolerir dengan atur nafas. Masih bisa jumawa. Huehehe. Di sana dilakukan rekam jantung janin ulang. Agak deg-degan, apakah si adek baik-baik saja? Kenapa rekam jantung harus sampai 2x?



Awal-awal pindah ke ruang VK

 

Jam 6-7 malam kontraksi makin terasa. Tapi lagi-lagi masih bisa tahan. Masih di rebozzo sama bu bidan (duh kalo di rebozzo tuh pas kontraksi malah jadi nyaman banget, ga berasa sakit), masih makan malam, masih diajak mikir paksu bikin kalimat untuk ijin sekolahnya Faza 😂
 

Jam 8 malam, mulai deh kocar-kacir 😂 Masih berusaha atur nafas. Tapi makin kewalahan, terutama karena sensasi ingin ngejan mulai muncul 😭 dicek bubid, katanya pembukaan 6 menuju 7. Huhu, udah pesimis banget, ngira lahirnya akan di atas jam 12 malam.

Jam 9 malam, makin kocar-kacir. Oh ya, dari awal muncul kontraksi teratur, entah kenapa saya ngantuk sekali! Jadi di sela-sela kontraksi, saya sering ketiduran. Nah, pas bukaan 7 menuju 8 ini, saya bener-bener ngantuk parah sampai rasanya kayak ngawang-ngawang antara mimpi dan sadar. Akibatnya, pas kontraksi datang, saya sering 'lupa' atur nafas, dan kecolongan ngejan sebelum waktunya beberapa kali 😭

Yang bikin semangat dan tenang, selama proses pembukaan, Bu Bidan Tiwi dan Bu Bidan Syefa selalu setia mendampingi. Ada yang pijitin punggung tiap kontraksi datang, kalau gak salah si adek juga udah harus dibantu oksigen karena mulai stress di dalam akibat ketuban yang sudah makin menipis. Bidan Syefa juga beberapa kali bantu mengingatkan cara nafas yang benar, meski gak bisa saya praktekkan dengan sempurna.

Tapi minimal saya merasa 'diperhatikan' oleh tenaga medis yang siap menolong saya. Beda banget dengan saat melahirkan Faza dulu. Dibiarin aja berdua cuma sama suami, Bu Bidannya cuek bebek sampai akhirnya pembukaan lengkap.

Kurang lebih jam 9 lebih (entah lebih berapa tepatnya) Bu Bidan Cahyaning datang datang. Beliau memberikan aba-aba yang singkat, padat namun sangat jelas.

"Bu, bukaan sudah lengkap, siap-siap ngejan. Gak usah panik, gak usah bingung. Tarik nafas dalam, tahan lalu hembuskan dengan kuat" begitu kurang lebih.

Dua kali ngejan, saya ngejannya gak tertata alias sambil panik. Alhasil gak efektif. Lalu Bidan Naning mengulang instruksi. Dua kali ngejan, lahirnya si bayi kecil yang kami nanti-nantikan selama hampir 3 tahun, dengan berat badan lahir 3,47 Kg dan panjang badan 51 cm. Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Adek Ahsan bersama Kakak Plasenta

 

Foto pertama bersama Ibu :)


Foto pertama bersama Kakak

Foto pertama bersama Ayah

Kami beri nama ia Ahsan. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang baik hatinya, baik akhlaknya, dan baik nasibnya. Aamiin.


PS: Ditulis ketika usia Ahsan tepat 3 bulan.

Selasa, 13 September 2022

Kilas Balik Trimester 3 Kehamilan dan Persiapan Kelahiran Anak Kedua

 Si dedek bayi udah hampir 2 bulan usianya, eh cerita tentang trimester tiga kehamilannya baru dipost sekarang. Wkwkw. Gapapa lah yaaa, biar timeline-nya jelas dan lengkap saat dibaca lagi suatu saat nanti.

Trimester Tiga


Sejak awal, aku merasa kehamilan kedua ini Alhamdulillah jauh lebih ringan  dibanding kehamilan pertama dulu. Karena kaki gak bengkak parah.

Tapi ternyata, seringan-ringannya trimester tiga, ya tetep aja berat. Hehehe. Rasanya saat itu serba salah banget. Kebanyakan anteng, badan kaku dan sakit semua. Tapi dipake gerak juga cepet banget capeknya.

Apalagi aku memutuskan untuk ambil cuti kerjanya mepet sekali dengan HPL. Aku mulai cuti per tanggal 18 Juli 2022, sedangkan HPL-ku 27 Juli 2022. Wkwkw, sok kuat banget ya.

Alhasil, jelas aja kerjanya sama sekali udah gak bisa maksimal. Tiap jam setengah 2-an, aku hampir selalu ijin ke kabag-ku untuk istirahat di ruang arsip. Biasanya ketiduran sampai ashar.

Ohya, yang agak mengganggu di Trimester tiga ini, hampir tiap malam aku gak bisa tidur. Biasanya jam 11-an aku kebangun untuk buang air kecil, lalu gak bisa tidur sampai jam 3-an. Capek banget :(

Yang paling membahagiakan di Trimester 3 ini apalagi kalau bukan belanja, hehe. Meski belanja kebutuhan si adek bayi kali ini gak sebanyak kakaknya dulu, tapi tetep aja seneng. Bedanya kalau kakaknya dulu masih banyak yang beli langsung ke toko, untuk si adek ini full beli online. Udah gak ada tenaga mau belanja langsung ke toko -_-



persiapan-persalinan

Persiapan Persalinan

Dari awal hamil, aku sudah berangan-angan untuk mengambil cuti kerja semepet mungkin dengan HPL. Angan-angan itu akhirnya kesampaian. Permohonan  cutiku di ACC per tanggal 18 Juli 2022, sementara HPL-ku 27 Juli 2022.

Kenapa pengen cuti mepet? Karena belajar dari anak pertama dulu, aku cuti H-2 minggu, ternyata Faza lahirnya tepat banget sama HPL. Dan selama 2 mingu di rumah aku malah stress karena overthinking.

Tapi dulu karena aku belum banyak belajar tentang memberdayakan diri dalam  proses mempersiapkan persalinan. Beda dengan sekarang.

Aku kontrol bergantian antara ke Bidan Cahyaning dan ke dokter Dewi, Sp.OG (yang ternyata kakak kandungnya Bidan Cahyaning, hihi). Iya, sejak trimester 2 aku memutuskan untuk kontrolnya full di Ngesti Widodo, biar lebih sinkron aja.

dr Dewi bilang, berat si dedek janin cukup besar. Sehingga beliau menyarankan agar aku berupaya supaya si dedek lahirnya gak sampai usia 40 minggu kehamilan kayak si kakak. Huhu, ini bikin agak-agak deg-degan yaa jadinya. Tapi Alhamdulillah secara keseluruhan baik. Kondisi plasenta yang meskipun letak rendah seperti Kakak dulu, tapi gak menutupi jalan lahir.

Saat kontrol ke Klinik Ngesti Widodo di minggu ke 34 kehamilan, aku ngambil poli privat dengan Bidan Cahyaning. Di poli privat, diwajibkan datang bersama pasangan atau partner yang sekiranya bisa membantu dalam proses persiapan persalinan.

Karena di poli ini, kami akan diberi edukasi tentang apa saja sih yang harus dilakukan di minggu-minggu terakhir kehamilan, dalam rangka mempersiapkan persalinan. PR-nya ada untuk aku sendiri, ada juga yang untuk pasangan.

PR untuk aku di antaranya ada latihan nafas, jalan cepat 30 menit sehari, mainan gymball 3x sehari masing-masing 15 menit, dll. Sedangkan PR untuk suami harus membantu melakukan SLR, rebozzo haking dan rebozzo shifting. Apa itu? SLR, Rebozzo shaking dan rebozzo shifting merupakan salah satu teknik untuk mengoptimalisasi posisi janin. Googling sendiri yaa untuk lebih lengkapnya. Btw, ke-3 teknik itu nyaman bangettt buat bumil. Bikin relaks.

persiapan-persalinan

 

Apakah semua PR-nya bisa semua aku lakukan? Sayangnya, tidak :') Karena aku masih kerja, otomatis pulang kerja udah kehabisan energi. Pagi pun harus gerak cepat siapin sarapan dan siap-siap kerja. 

Jadi bisanya cuma prenatal yoga sendiri kalau pulang kerja (modal nonton youtube), mainan gymball kalau habis magrib atau pagi-pagi habis sholat subuh. Yang sama sekali gak pernah bisa melakukan adalah jalan cepat. Gak bisa nemu waktunya, hiks.

Sedangkan PR untuk suami juga gak bisa rutin melakukan tiap hari seperti yang disarankan. Akhirnya di kontrol berikutnya di minggu ke-37, di poli privat juga, Bidan Cahyaning meminta bidan asistennya untuk melakukan optimalisasi posisi janin padaku. Huhu, di moment ini, aku merasa pelayanannya Ngesti Widodo keren banget.

Pertama, optimalisasi posisi janin ini sama sekali gak ditarik biaya tambahan. Oh hanya pijat perineum yang bayar, tapi diminta persetujuan dulu kok sebelumnya, Terus karena aku periksanya sore, aku dikasih makan malam juga dulu, dan gak dikenakan biaya tambahan juga. Selain itu, bu bidannya (Bidan Terra namanya) juga super duper ramah dan lembut, Huhu.

Pokoknya tim Ngesti Widodo kayak bener-bener niat sekali dalam mempersiapkan kelahiran seorang manusia baru. Jadi aura semangat dan niat kuatnya juga ikut kasih pengaruh positif pada aku dan suami.

Nah, di kontrol minggu ke 37 inilah awal mula dimulainya proses persalinan yang amazing dan tidak akan terlupakan. Sudah terlalu panjang, jadi di post berikutnya aja yaaa :)

Kamis, 23 Juni 2022

Surat Cinta Untuk Anak Pertamaku

Assalamu'alaikum. Hai, Nak...

Hehe, akhir-akhir ini kamu sering protes yaa kalau ibu panggil 'nak'. Karena kamu merasa panggilan 'nak' itu untuk anak yang masih kecil, sedangkan kamu merasa sudah besar.

"Kakak bu, bukan nak..." begitu katamu. Ah iya ya... anak kesayangannya ibu sebentar lagi jadi kakak. Masyaa Allah tabarakallah.

Maafkan ibu yaa, yang sampai sekarang belum juga terbiasa manggil kamu dengan sebutan 'Kakak'. Masih sering keceplosan panggil nama langsung. Tapi ibu akan berusaha.

Akhirnya yaa, Kak... setelah ratusan doa yang kita langitkan bersama, Insyaa Allah sebentar lagi akan hadir seorang adik bayi di tengah-tengah kita. Seorang adik bayi yang pasti akan menjadi fasilitator untuk kita bertumbuh menjadi pribadi baru, yang semoga jauh lebih baik.

Dulu Kak, hati ibu serasa diremas-remas tiap mendengar kamu berdoa.

"Ya Allah, berikan Faza adek, biar Faza nggak kesepian. Adeknya Faza jangan lama-lama disimpan di langit ya Ya Allah..."

Harus ibu akui, doa-doamu itulah yang menjadi pemantik semangat ayah dan ibu untuk terus berikhtiar dan berdoa lebih kuat lagi agar Allah berkenan menitipkan amanah itu pada kita.

Dan Alhamdulillah, Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim, mengabulkan doa-doa kita.

Maka dari itu Kak, betapa ibu kaget ketika kemarin, kamu tiba-tiba berucap, "Aku harusnya nggak punya adek aja. Nanti kalau aku punya adek, pas lagi mainan, ibu suruh aku 'Zaaa, bikinin adek susu', terus 'Zaaa, jagain adeknya"

Deg!

Ya Allah, nak... maafkan ibu. Maafkan jika selama ini, usaha ibu untuk sounding ke kamu tentang peran seorang kakak, justru membuat kamu merasa terintimidasi oleh bayangan betapa beratnya peran itu bagimu.

Akhir-akhir ini, jujur saja ibu agak kewalahan menghadapi kamu. Ibu sampai merasa, yang dua mingguan ini ibu hadapi sama sekali bukanlah Faza yang ibu kenal. Emosimu sangat labil. Meledak-ledak. Dan sangat menguji kesabaran ayah-ibu, yang sayangnya masih lebih sering tidak sabarnya :'(

Tapi akhirnya ibu sedikit menemukan 'clue', nak. Tentang apa sebab dari labilnya kamu akhir-akhir ini. Mungkin ini akumulasi dari gejolak perasaanmu selama beberapa bulan terakhir ini, sejak kita tau di dalam perut ibu sedang tumbuh adek janin.

Seringkali sepulang ibu kerja, kamu sering minta ditemani mainan, dan sering pula ibu menjawab, "ya Allah, nak... punggungnya ibu sakit sekali, kan ibu sedang hamil..."

Tanpa ibu sadar, ibu terlalu sering menuntut kamu memahami ibu, memahami apa yang ibu rasakan. Dan di saat bersamaan, ibu seolah lupa bahwa kamu juga punya perasaan yang butuh dipahami.

Berkali-kali kamu mengungkapkan kekecewaanmu tentang ibu yang sekarang jarang sekali menemani kamu main karena alasan hamil. Tapi ibu bebal sekali tetap gak mau mengerti perasaanmu. Maafkan ibu ya, nak...

Akhirnya pelan-pelan ibu memahami, bahwa bukan cuma ayah dan ibu yang sedang kerepotan menghandle hati dan pikiran menjelang hadirnya anggota keluarga baru, tapi kamu pun juga merasakan hal yang sama.

Beberapa kali kamu tampak memikirkan sesuatu, lalu mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hangat hati ibu. Seperti kemarin, tiba-tiba kamu bilang, "Yaudah Bu, nanti kalau adek sudah lahir, kalau ayah capek cuci baju, Faza aja yang jemur. Nanti Faza bantu cuci botol susu adek juga."

Masyaa Allah, nak... Kepikiran sekali yaa sama peran baru sebagai kakak yang sebentar lagi akan kamu sandang?

Faza, anakku sayang... percaya sama Ibu, meski nanti sudah ada adek, sama sekali bukan berarti sayangnya ibu untuk kamu akan terbagi apalagi terkurangi. Sayangnya ibu justru akan berkali-lipat lebih besar sehingga tetap cukup dan rata untuk kalian berdua.

Jika nanti dalam perjalanannya kamu merasa ada sikap ayah atau ibu yang seolah berat sebelah, semoga kamu selalu punya hati yang lapang untuk memaafkan kami ya, Nak. Semoga kamu akan selalu paham bahwa itu bukan tolok ukur bahwa sayang kami ke kamu berkurang sejak ada adek.

Faza, anak pertamaku sayang... Ibu tau kamu tidak pernah memilih dilahirkan sebagai anak pertama.

Meski begitu, kamu mungkin akan menanggung beberapa konsekuensi atas sesuatu yang tidak pernah kamu pilih itu, nak. Konsekuensi yang mungkin adakalanya terasa berat.

Mungkin, ayah-ibu akan adakalanya secara tidak langsung 'menuntutmu' untuk bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adikmu. Atau membebankan tanggung jawab yang jauh lebih berat dari yang diterima adik-adikmu. Maafkan, ya nak.

Tidak apa-apa ya, nak. Karena menjadi anak pertama adalah takdir ya telah Allah gariskan untukmu, ayah-ibu yakin, Allah pun juga akan memberikan pundak yang kokoh untuk menanggung itu.

Yang pasti, meski kamu anak pertama, bukan berarti kamu harus selalu kuat, nak. Adakalanya kamu merasa lemah atau ingin menangis. Dan itu boleh. Sesekali merasa lemah justru menunjukkan sifat kemanusiawianmu. Karena sejatinya manusia memang lemah, dan justru itu kita selalu perlu meminta kekuatan dari Allah yang Maha kuat.

Dan, ingat satu hal ini, nak. Sampai kapanpun, sudah sejauh apapun langkahmu kelak, ibu akan selalu siap menjadi tempatmu pulang, saat kamu merasa butuh pelukan untuk menguatkan.

Dear Faza, anak pertamaku... frasa terima kasih rasanya tidak akan cukup untuk mewakili apa yang ingin ibu ungkapkan padamu.

Tapi apa daya, bahasa manusia terbatas, dan terima kasih memang rasanya masih jadi yang paling tepat.

Terima kasih ya, Nak. Terima kasih karena kamu adalah Guru Besar pertama dalam sejarah kehidupan ibu. Guru besar yang menemani ibu bermetamorfosis menjadi manusia baru.

Karena kamu, ibu jadi tau rasanya bertahan dari rasa sakit luar biasa lebih dari 12 jam -- yang ajaibnya langsung hilang begitu saja ketika kamu keluar.

Karena kamu, ibu jadi paham arti berjuang mati-matian untuk bisa memberimu ASI full selama 6 bulan, meski 24 jam hidup ibu rasanya jadi hanya tentang pumping pumping dan pumping.

Karena kamu, ibu jadi bisa sedikit mengalahkan ego untuk tetap bangkit dari rebahan ketika kamu mengeluh lapar. Padahal dulu, ibu akan selalu lebih memilih kelaparan daripada harus bergerak, sampai Mbahbuk harus mengalah menyuapi ibu demia tidak ingin melihat ibu telat makan.

Ya, karena kamu nak... kamu mendobrak zona nyaman yang selama berpuluh tahun ibu pertahankan.

Tapi apakah artinya ibu sudah banyak berkorban untukmu? Tidak, nak. Sama sekali tidak.

Kenapa ibu harus menyebutnya sebagai perngorbanan seolah ibu adalah 'korban'? Padahal kehadiranmu selain karena atas kehendak Allah juga karena ayah-ibu sendiri yang menginginkan.

Artinya, apapun yang ayah-ibu lakukan untukmu adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya ayah-ibu lakukan, sebagai tanggungjawab telah menjadi perantara hadirmu di dunia.

Sepertinya surat ibu sudah terlalu panjang. Semoga suatu hari kelak, entah masih ada ibu di dunia ataupun tidak, kamu punya kesempatan untuk membaca ini ya.

Sekali lagi, tanamkan di benakmu baik-baik, ibu sayang kamu tanpa syarat. Selama ibu ada di dunia, ibu berjanji akan berusaha untuk menjadi tempat paling nyaman untukmu beristirahat dari segala lelah dan bisingnya dunia.


Dari ibu yang penuh kekurangan,

tapi selalu ingin mencintaimu tanpa batasan.

Kamis, 19 Mei 2022

Hamil Kedua: Overview Trimester Kedua

 Ngebuttt nulisnya. Soalnya Insyaa Allah bentar lagi udah masuk trimester ketiga. Kan gak lucu ya kalau anaknya lahir, cerita tentang kehamilannya masih belum beres. Hehehe.

Trimester kedua di kehamilan kedua bisa dibilang lebih berwarna dan nano-nano rasanya.

Kenapa nano-nano? Karena beberapa keluhan khas ibu hamil mulai saya rasakan. Dari yang punggung bagian bawah sering pegel, apalagi kalau habis duduk seharian di kantor. Terus yang agak ganggu adalah sering terbangun tengah malam, lalu susah banget mau tidur lagi. Beberapa kali juga saya ngrasain sesak nafas dan ulu hati yang rasanya penuh sekali. Kayaknya ini efek asam lambung sih.

 

USG-Trimester-2

Oh ya, kalau di kehamilan pertama saya cenderung parnoan, terutama soal makan, di kehamilan kedua ini saya memutuskan untuk lebih santai. Dulu dikit-dikit khawatir, ini boleh gak yaaa buat ibu hamil, dll. Sampai mie instan pun gak berani makan sama sekali. Sekarang? Hajar aja! Haha. Tapi dengan satu prinsip: gak boleh berlebihan. Misal, makan mie instan boleh lah, maksimal sebulan sekali. Itu juga belum tentu.

Selain mie instan, saya juga masih minum kopi. Dan hampir tiap hari. wkwkwk. Soalnya saya baca gapapa kok minum kopi, asal maksimal sehari secangkir kecil. Saya malah seringnya cuma setengah cangkir. Soalnya kalau gak minum kopi, kepala saya pasti pusing sekali. Begitu minum kopi beberapa teguk, eh ilang pusingnya. Hihi.

Usia Kehamilan 16 Minggu

 Di usia kehamilan 16 minggu, saya gak nyangka ternyata dokter Kartika sudah bisa ngasih bocoran perkiraan jenis kelamin si dedek janin. Insyaa Allah sesuai dengan isi doanya Kakak Faza selama ini. Hihi.

Saya dan ayahnya sih masih tetap pada ikrar semula, apapun jenis kelaminnya, akan kami terima dengan penuh sukacita.

Di usia kehamilan ini pula, kami merencanakan untuk menyelenggarakan doa untuk 4 bulan usia kehamilan saya. Acara akan diadakan di masjid, bersama majelis pengajian ibu-ibu sekitar tempat tinggal kami. Semua sudah dipersiapkan dengan matang.

 

Buku 4 bulanan

Tapiii, qodarullah wa maa sya'a fa'ala. Kami hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.

H-3 acara pengajian 4 bulanan, tiba-tiba saya demam tinggi. Sempat muntah-muntah juga. Plus linu di seluruh tulang. Jujur agak parno karna konon katanya demam bisa berdampak pada janin. Akhirnya, sorenya mas suami membawa saya ke IGD.

Di IGD, saya di-swab. Dan yep, ternyata saya positif covid. Wkwkwkw. Saat itu memang kasus Omicron sedang membludak. Tapi dokter menenangkan, Insyaa Allah kalau sudah vaksin 1 dan 2, gejalanya gak akan terlalu berat.

Kemudian, saya diberi infus cairan vit. C di IGD. Setelah infus habis, saya dibolehkan pulang. Alhamdulillah sepulangnya dari IGD, demam saya sudah turun.

Btw, ini kali kedua saya dinyatakan positif covid. Dan Alhamdulillah yang kedua ini udah gak pake parno-parnoan lagi. Bedanya juga, kalau saat kena covid yang pertama, badan saya rasanya kayak dikerjain habis-habisan sama virus -- sehari seolah sehat, besok diare lagi, sehat lagi, ambruk lagi, gitu terus berkali-kali -- di covid yang kedua ini, Alhamdulillah progressnya sangat nyata dari hari ke hari. Hari pertama demam, hari kedua sudah gak demam, tapi ganti batuk. Hari ketiga batuk tiba-tiba hilang, terus ganti pilek. Di hari ke-5 saya swab ulang, dan sudah dinyatakan negatif. Alhamdulillah.

Mulai Periksa Ke Klinik Ngesti Widodo Ungaran

Belajar dari kehamilan pertama, saya ingin memilih tempat untuk persalinan dengan lebih serius. Di persalinan pertama dulu, saya bisa dibilang 'menggampangkan' sekali tentang ini. Milih di puskesmas karena biar yg nanganin cuma bidan dan sesedikit mungkin tim. Gak siap banget kalau harus melahirkan di Rumah Sakit.

Tapi saya lupa memperhatikan aspek lain. Di antaranya kelengkapan fasilitas. Dulu habis melahirkan saya sempat pendarahan, dan dari ciri-cirinya mengalami anemia yang lumayan lama pulihnya. Sempet 3 kali pingsan juga setelah melahirkan. Yakin deh, kalau di tempat persalinan yang lebih mumpuni, saya pasti udah ditransfusi, sehingga mungkin pulihnya lebih cepat.

Di kehamilan kedua ini, kami Insyaa Allah memilih Klinik Ngesti Widodo Ungaran sebagai tempat persalinan.

Selain karena testimoni dari beberapa teman dekat kami saat melahirkan di sana, setelah cari tau lebih dalam, suka banget dengan prinsip gentle birth yang diusung oleh Ngesti Widodo.

Pertama kali saya periksa ke klinik Ngesti Widodo adalah saat usia kehamilan saya 20 minggu. Pelayanannya super ramah dan penuh edukasi. Kayaknya soal pengalaman periksa hamil di Ngesti Widodo, nanti saya cerita di post berbeda aja deh, biar gak kepanjangan.

Prenatal Yoga

Sejak kenal Yoga dan dapat merasakan langsung dampak positifnya sejak rutin yoga promil, saya jadi suka banget sama yoga. Meski sukanya ya masih tahap kadang rajin kadang enggak, hehe. Tapi kalau disuruh milih jenis olahraga, saya mantap milih yoga.

Termasuk saat hamil ini. Saya cukup sering mempratekkan beberapa tutorial prenatal yoga di youtube. Dan Alhamdulillah, berbagai keluhan yang saya rasakan berkurang bangetttt tiap saya rajin yoga. Terutama pegal-pegal di area punggung hingga kaki.

PR di Trimester 2

PR utama dari dokter Kartika maupun Bu Bidan Cahyaning (pemilik Ngesti Widodo) sama sih. Minum minimal 2,5 liter per hari. Yang mana, ini masih berat banget buat saya, hiks.

Dokter Kartika berulang kali bilang, air ketuban saya sedikit. Tapi Bidan Cahyaning bilang, coba cari second opinion soal air ketuban ini.

Bidan Cahyaning juga wanti-wanti saya agar harus sudah mulai olahraga. Lalu ngasih PR tambahan agar saya mulai nungging sehari 2 kali masing-masing 5 menit, karena di usia kehamilan 26 minggu, kepala dedek janin masih di atas bagian kanan.

Pertama Kali Melewati Ramadan Saat Hamil

Saat hamil pertama dulu, saya ketauan hamil tepat di hari terakhir ramadan. Jadi bisa dibilang belum ada pengalaman atau bayangan gimana rasanya puasa saat hamil trimester 2. Jujur agak kepikiran dan grogi, 'kuat gak yaaa?'

Soalnya pernah ngrasain puasa saat menyusui aja rasanya Subhanalllah.... bener-bener lemes, gemeter, kayak mau pingsan 😭 Apalagi hamil, yang mana bayinya masih di badan saya? Gitu yang berkecamuk di pikiran saya

Tapi Masyaa Allah, ternyata sama sekali gak seberat yang saya pikirkan. Alhamdulillah saya kuat puasa, dan gak ngrasa berat-berat amat. Ya lapar dan haus sewajarnya orang puasa gitu. Cuma sempat kebablasan gak bisa bangun sahur 2x, jadi saya gak puasa. Gak berani kalau gak sahur.

 Saat menulis ini, usia kehamilan saya sudah memasuki 28 minggu alias udah masuk trimester 3. JAdi ceritanya lanjut di post berikutnya yaa, Insyaa Allah.

Teriring doa untuk teman-teman yang juga sedang hamil, atau yang masih menjadi pejuang garis dua. Semoga Allah kasih kemudahan untuk segala urusan teman-teman. Aamiin.



Senin, 25 April 2022

Hamil Kedua: Overview Trimester Pertama

Masyaa Allah, masih gak nyangka akhirnya bisa nulis cerita tentang kehamilan kedua :')

Saat saya udah mulai pasrah dan adakalanya hopeless. Pernah di suatu siang di tengah ikhtiar program hamil, saat sedang beberes lemari, saya nangis tersedu-sedu ketika menemukan kaos kaki Faza saat bayi yang belum pernah dipakai sama sekali. Saya ingat sekali dulu saya bilang, nanti buat adeknya aja, soalnya Faza sudah ada beberapa kaos kaki lain. Sedih banget karena saya gak nyangka perjalanannya ternyata akan senaik-turun itu.

Cerita Trimester Pertama Kehamilan Kedua

Dulu hamil pertama nulis ceritanya sih tiap bulan alias tiap habis kontrol ke dokter. Sekarang, yah jangan ditanya. Hihi. Ini aja udah masuk pertengahan Trimester 2, eh baru mau nulis cerita saat trimester satu. Gapapa lah yaaa, yang penting tetap ada dokumentasinya.

Di kehamilan kedua ini, Alhamdulillah masih sama seperti kehamilan pertama. Sama sekali gak ada mual muntah. Gak ada sakit punggung yang banget-banget kayak pas hamil pertama juga. Jadi Alhamdulillah bisa dibilang sangat nyaman.

Cuma mood-nya memang yang jadi kayak roller coaster. Termasuk mood soal makan.  Sering banget ngrasa laper, tapi gak tau mau makan apa. Bukan karna gak ada makanan, melainkan makanan yang ada tuh gak ada yang sesuai mood. Terus akhirnya cranky sendiri. Huhu.

Jadi mudah tersinggung dan 'meledak' pada hal-hal sepele juga.

Tapi Alhamdulillahnya, fase super moody ini gak terlalu lama.

Di kehamilan kali ini, saya dan mas suami memutuskan untuk priksa di klinik dokter kandungan deket rumah aja, Namanya Dr. Kartika, yang dulu juga menjadi salah satu dokter yang saya datangi saat awal-awal promil.

Pertama kali saya datang setelah test pack menunjukkan dua garis yang garis keduanya sangat samar, usia kehamilan saya sekitar 5 minggu. Dan Alhamdulillah ketika pertama kali USG, sudah langsung kelihatan kantung janin dan janinnya.

 

USG Pertama


Dokter Kartika meminta kami datang dua minggu kemudian untuk evaluasi denyut jantung, karna di usia 5 minggu, denyut jantung belum terdeteksi. Saya diresepkan obat penguat kandungan (Microgest), promavit dan folic acid 1000mg.

Ternyata obat penguat ini harganya lumayan banget, bund. Hihi. Total periksa plus obat 1 juta lebih saat itu.

Saya agak kaget waktu mulai minum obat penguat kandungannya. Efeknya bikin super duper lemes banget, plus ngantuk! Padahal obatnya harus diminum sehari dua kali, pagi dan malam. Saya biasanya minum jam 8-nan pagi, dan sekitar jam 10-an saya pasti gak bisa kerja. Cuma bisa tersungkur lunglai di meja kerja. Haha. Alhamdulillah, atasan saya memaklumi.

Dua minggu kemudian, kami datang ke dokter Kartika lagi, dan Alhamdulillah detak jantung si dedek udah bisa terdeteksi. Masyaa Allah. Gak terungkapkan lagi betapa buncah dada kami saat itu, bisa kembali dengar detak jantung yang berasal dari dalam rongga perut saya.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmus sholihat...

 

USG saat UK 12 minggu (akhir trimester 1)

Saya juga saat itu cerita tentang efek obat penguat yang bikin saya gak bisa kerja kalau pagi. Akhirnya oleh dokter Kartika, dosisnya dikurangi menjadi sehari sekali saja. Karna Alhamdulillah saya juga gak ada riwayat keguguran.

Dua kali priksa ke dokter Kartika, Faza juga selalu ikut. Dia senang sekali tentu saja. Apalagi dokter Kartika juga sangat friendly ke anak-anak. Beliau selalu mengikutsertakan si calon Kakak tiap memeriksa si janin.

"Waahh, ini detak jantungnya adek nih kak, kakak denger gak?" semacam-semacam itu.

Ohya, biaya priksa+USG di klinik dokter kartika sebesar Rp 165.000,-. Sedangkan untuk vitamin-vitaminnya boleh ditebus di situ, boleh juga tidak. Ditebus separuh dari resep juga boleh. Fleksibel pokoknya.

Selain priksa ke dokter, saya juga memutuskan untuk priksa ke puskesmas. Biar masuk ke database pemerintah aja sih. Hehehe.

Kalau periksa ke puskesmas, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan jauh lebih detail. Tentang riwayat kehamilan sebelumnya, terutama. Terus pemeriksaannya juga. Diukur lingkar lengan, perut, dll.

Bayar gak? Enggak. Gratis. Dan Alhamdulillah, petugas puskesmas di daerah ini ramah-ramah.

Terus apalagi yaaa yang harus diceritakan di Trimester pertama ini. Saking lamanya tertunda, sampai udah pada lupa kan jadinyaa, hiks.

Udah dulu aja deh sepertinya, nanti saya edit kalau ternyata ada yang kelewatan diceritakan.

Jumat, 18 Maret 2022

Cerita Promil Anak Kedua (8): Jawaban Atas Doa dan Ikhtiar

Selama promil, saya banyak sekali nyimak perjuangan teman-teman pejuang gari dua lainnya. Kebanyakan saya simak melalui sosial media.

Di antara banyak kisah itu, sering sekali saya mendapati cerita tentang penantian sekian tahun, udah ikhtiar macem-macem dari A-Z, eh akhirnya positif hamil hanya dengan minum X -- yang mana rasanya sepele sekali dibanding puluhan ikhtiar lainnya yang pernah dilakukan.

Dari cerita-cerita semacam itu, saya akhirnya menarik kesimpulan. Promil itu bukan tentang ikhtiar apa yang ampuh atau manjur, tapi tentang ikhtiar mana yang Allah ridhoi sebagai perantara hamilnya kita.

Dan ternyata, hal ini juga terjadi pada saya.

Dari judul tulisan ini, pasti sudah bisa ditebak. Ya, akhirnya dengan ijin Allah, saya hamil. Justru setelah dua bulan memutuskan untuk rehat ke dokter seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmussholihat...

Saat menulis ini, usia kandungan saya sudah menginjak usia 20 minggu. Kenapa baru nulis sekarang? Pertama, memang diniatkan baru akan cerita saat usia kandungan sudah menginjak 4 bulan. Kedua, biasa, emang suka nunda-nunda, jadi baru kesampaian saat usia kandungan sudah 5 bulan. Hehehe.

Oke, Bismillah... saya akan cerita dari awal ya. Apapun yang saya ceritakan di sini, semoga saya dihindarkan dari sifat riya', dan semoga Allah menjaga niat saya, bahwa semata-mata niat saya ingin berbagi -- terutama untuk teman-teman sesama pejuang gari dua.

Setelah akhirnya memutuskan istirahat ke dokter, saya lanjut ikhtiar sendiri, seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Tapi ada satu yang kelewat. Yaitu baca surah Yasiin dan Al Waqi'ah setiap hari.

Selama istirahat ke dokter, Alhamdulillah mens saya sudah balik teratur lagi. Gak pernah flek lagi. Saya masih tetap berusaha menjalankan pola hidup sehat. Makan dijaga, olahraga teratur (olahraga saya hanya yoga yang link-nya sudah saya sertakan di postingan sebelumnya. Saya juga masih minum berbagai suplemen seperti yang saya cantumkan di postingan sebelumnya juga.

Tapi yang paling saya rasakan perbedaannya adalah ketenangan hati saya. Saya gak lagi kemrungsung tentang kapan ya saya hamil dll.

Hati saya cenderung lebih tentram dan pasrah. Sudahlah, ikut ketentuan Allah saja. Pas mens, yang biasanya sedih mellow ga karuan juga Alhamdulillah udah biasa aja. Ya tetep ada sedikiittt sedihnya sih, tapi kayak udah nerima aja gitu.

Bahkan, di salah satu periode mens saya, darahnya keluarnya jauh lebih sedikit dari biasanya. Yang biasanya saya mens 7 hari, itu di hari ke-4 darah udah hampir gak keluar lagi.

Saya sempat was-was. Apakah ini salah satu tanda bahwa tingkat kesuburan saya sudah mulai menurun? Apakah memang rejeki anak dari Allah buat kami hanya 1?

Tapi terus saya kembalikan lagi pada Allah. Kalau memang iya, ya sudah, saya harus menerima dengan sabar dan syukur. Jangan sampai hanya karena keinginan memiliki anak kedua, membuat kami jadi malah lupa mensyukuri nikmat berupa kehadiran Faza dalam hidup kami.

Bulan November 2021, sekitar di atas tanggal 10, saya sudah mulai merasakan tanda-tanda menjelang mens seperti yang saya rasakan biasanya. Yaitu nyeri payudara. Cuma yang kali ini, nyerinya jauh lebih nyeri dibanding biasanya.

Hari berganti hari, kok mens saya gak kunjung datang. Tapi nyeri payudaranya semakin  hebat. Perasaan saya mulai gak karuan. Mulai ada rasa Ge Er, apakah saya hamil? Perasaan ini sebenernya ingin sekali saya tepis. Karena saya gak pengen patah hati lagi.

Saya bahkan cenderung mensugesti diri, ah paling besok mens. Gituu terus. Sampai akhirnya datang juga tanggal 20. Saya mulai gak bisa kontrol rasa Ge Er saya. Akhirnya saya bilang ke mas suami yang juga sudah ikut bertanya-tanya kok saya belum mens, untuk minta ijin beli test pack.

Soalnya sepanjang sejarah, meskipun hormon saya sedang kacau, gak pernah sekalipun saya telat mens. Pas hormon kacau, yang ada malah majunya jadi banyak banget kan. Awalnya mas suami bilang gak usah beli test pack dulu. Saya paham sih dia juga was-was seperti saya. Takut ternyata negatif seperti sebelum-sebelumnya, terus sayanya jadi mellow.

Tapi saya yakinkan lagi, Insyaa Allah saya ikhlas apapun hasilnya. Saya test pack biar pikirannya gak gelisah dan galau terus terusan aja. Kalau ternyata negatif, ya artinya hormonku memang belum benar-benar stabil lagi.

Akhirnya, beliau ACC. Pulang kerja kami mampir apotek untuk beli 5 buah test pack. Paginya saya cek. Tapi kali ini gak se deg-degan-an biasanya. Biasanya tiap test pack pasti saya gemetaran banget.

Hasilnya, terlihat garis satu. Saya langsung menghela nafas panjang. Saya letakkan test packnya beberapa saat. Kemudia saya ambil lagi, dan perhatikan lagi garisnya.

"Eh, lho... kok kayak ada garis kedua tapi samar banget ya? Atau hanya perasaanku aja karena saking Ge Ernya?"

Coba saya tunjukkan test pack itu ke mas suami. Mas suami kelihatan banget berusaha untuk stay cool. "Makanya kan ayah bilang jangan langsung test pack," gitu kata beliau. Beliau nyuruh test pack seminggu lagi. Tapi saya mana tahaaaan. Hahaha.

Paginya saya test pack lagi. Masih samar lagi. Pagi berikutnya saya test pack lagi. Tetep samar lagi.

 

cerita promil

 

Akhirnya suami gregetan dan nyuruh langsung daftar ke dokter aja biar sekalian jelas, daripada test pack test pack terus. Hihi.

Akhirnya kami pergi ke dokter. Kalau dihitung dari HPHT, saa datang ke dokter di minggu ke 4 menjelang 5 kalau gak salah.

Dan Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, dokter bilang memang sudah ada kantung rahimnya. Kami disuruh kembali dua minggu kemudian untuk observasi. Kemudian saya diresepkan obat penguat.

Begitulah cerita tentang jawaban atas doa dan ikhtiar saya dan suami. Sesungguhnya semuanya adalah karena Maha Rahman an Rahimnya Allah pada kami. Mohon doa semoga Allah memberi saya dan janin dalam kandungan saya kesehatan dan keselamatan.

Doa terbaik saya untuk teman-teman pejuang garis dua yang masih menanti. Jangan berputus asa dari Rahmat Allah, yaa. Big virtual hug :')


Kamis, 13 Januari 2022

Cerita Promil Anak Kedua (7): Istirahat Hati, Mental dan Dompet

Lanjut yuk ceritanya... Hehe.

Sesuai cerita sebelumnya, setelah penuh kegalauan berunding dengan suami, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dulu ke dokter. Keputusan itu kayaknya direstui oleh semesta, karena qodarullah, obat induksi sel telur yang diresepkan oleh dokter (beda dengan resep induksi sel telur sebelumnya) gak ada di beberapa apotik yang kami datangi, bahkan termasuk di farmasi rumah sakit tempat saya periksa sendiri.

Ya udah, pas.

Sebenernya ada perasaan sayang juga saat memutuskan berhenti ke dokter. Karena perjalanan sudah sejauh ini, terus harus berhenti di tengah jalan lagi. Takutnya nanti saat mau ke dokter lagi, prosesnya juga harus ngulang dari awal. Huhu.

Tapi mau lanjut, kok ya dompet dan mentalnya pengen istirahat banget!

Soal dompet sih jelas ya, gak usah dijelasin juga udah jelas.

Nah kalo soal mental, emang capek gimana sih? Gimana yaaa... hari-hari tuh rasanya jadi kayak gak pernah berhenti kepikiran, bulan ini bakal mens gak yaaa.... terus kerjaannya menghitung hari terus. Begitu mens, periksa lagi, kepikiran lagi. Pas HB sama suami juga jadi kurang bisa menikmati karena sambil mikir, ini bakal jadi gak yaaa ini bakal jadi gak yaaa... wkwkwkw.

Tapi meskipun akhirnya kami memutuskan untuk berhenti ke dokter, bukan berarti kami berhenti berikhtiar. Hanya saja, kami berikhtiar dengan cara lain.

Ikhtiar apa sajakah itu?

Ikhtiar Langit

Kalau Tiktok sering diidentikkan sebagai media sosial yang gak ada manfaatnya karena isinya cuma orang joget-joget, saya sama sekali gak setuju.

Tiktok sama seperti media sosial lainnya. Ada konten positif, ada pula yang negatif. Lagi-lagi kembali kepada pemakainya. Kenapa tiba-tiba ngomongin tiktok? Karena, saya mendapat banyak informasi bermanfaat mengenai promil dari platform ini. Salah satunya tentang promil ikhtiar langit.

Ada banyak versi promil dengan ikhtiar langit. Tapi intinya satu, yaitu merayu Allah melalui ibadah agar berkenan mendengarkan doa kita, karena anak itu sepenuhnya hak prerogatif Allah semata. Ini juga jadi moment di mana saya kembali merenungi, bahwa mungkin selama ini hati dan pikiran saya masih dominan tertumpu pada ikhtiar dunia yang saya lakukan. Secara gak sadar saya seolah 'lupa' bahwa sehebat apapun ikhtiar yang saya lakukan, ketentuannya tetap milik Allah.

Beberapa ikhtiar langit yang saya lakukan saat itu di antaranya:

1. Berusaha memperbaiki ibadah wajib secara umum, dan memperbanyak ibadan sunnah di antaranya sholat dhuha, sholat malam dan puasa sunnah. Saya juga sempat puasa sunnah daud meski hanya sebulan, karena saya sempat sakit dan setelahnya gak lanjut lagi. Lanjutnya puasa senin-kamis saja.

2. Membaca 'Laa ilaha illallah, Almalikul haqqul mubiin, Muhammadurrasulullah shodiqul wa'dil aamiin', sebanyak 40x setiap usai sholat subuh.

3. Membaca surah Maryam ayat 1-11 sesering mungkin. Kalau bisa setiap usah sholat wajib.

4. Mendengarkan Ruqyah promil di Youtube.yang terdiri dari Surah Ali Imran ayat 33-41 (7x).

 

bacaan ruqyah untuk promil

5. Sedekah diniatkan agar Allah berkenan menitipkan amanah seorang anak yang sholih/sholihah untuk kita.


Selain itu saya juga tetap ikhtiar secara jasmani dengan minum beberapa suplemen (beberapanya banyak banget sih, hihi). Di antaranya vitamin D, kapsul minyak zaitun, habbatussauda, plus saya akhirnya memantapkan diri beli suplemen yang harganya tergolong lumayan mahal. Yaitu Ovaboost dan FertileCM, produk dari fairhaven. Saya beli lewat agen resminya karena khawatir palsu kalo beli di seller lain dengan harga lebih murah.

 

suplemen untuk promil

 

Satu lagi, saya juga rutin ngikutin Yoga di channelnya Kak Naomi yang namanya "My Fit Daily Dose". Di channel tersebut ada playlist yang berjudul Yoga Promil. Kayaknya olahraga yang paling cocok buat saya adalah yoga. Selain gerakannya yang kalem dan gak bikin stress badan, gak terlalu bikin capek, saya juga ngrasain banget efeknya.

 

yoga untuk program hamil

 

Sejak rutin yoga, saya jarang banget ngrasain kaku-kaku di badan. Tidur juag lebih nyenyak. Pernah juga suatu hari, mens saya seperti kurang lancar. Di hari ke-4, darah yang keluar udah dikiittt banget dan berwarna coklat tua kehitaman. Saya agak worry karna itu juga salah satu tanda hormon saya belum stabil. Saya langsung ngikuti yoga yang untuk melancarkan menstruasi di channel Kak Naomi juga. Alhamdulillah, bi idznillah darah mens saya keluar lagi dengan lebih normal.

Tapi, yang paling utama dari semua ini, saya berusaha untuk berdamai dengan apapun ketentuan Allah. Tugas saya berikhtiar, adapun hasilnya, biarlah Allah yang menentukan.